
Di sisi lain …terlihat seseorang mengarahkan pistol ke arah Caroline. Di wajahnya tergambar dengan jelas senyum ketidaksukaannya kepada Caroline. “Sebentar lagi kau akan tiada dada …,” ucap orang tersebut seraya melepaskan tembakan pistol tersebut dan
Dorrr
Saat terdengar suara tembakan, dengan gerakan cepat Caroline langsung menggunakan tubuh wanita itu untuk menjadi tamengnya. Peluru itu menancap tepat pada kepala wanita itu, sehingga membuat wanita itu meninggal di tempat. Jefri yang melihat itu pun kaget bukan main, dengan cepat Jefri memeluk Caroline dan melihat sekitarnya.
"Cepat temukan pelakunya!!!" Tak lama kemudian segerombolan orang berpakaian hitam pun keluar dari berbagai penjuru gedung.
Mereka berlarian menuju tempat di mana arah peluru itu berasal. Di tempat pernikahan, Jefri masih memeluk Caroline dengan gemetar. Tidak dapat ia bayangkan jika peluru itu sampai mengenai kepala istrinya.
"Sayang …," panggil Caroline dengan lembut.
Caroline dapat merasakan detak jantung Jefri yang berdetak sangat kencang. Bahkan badan Jefri juga sampai gemetar, Caroline pun dengan perlahan mengusap punggung Jefri. Yang mana membuat Jefri sedikit lebih tenang.
Di pelaminan, terlihat Thasiko yang gemetar melihat kejadian di depan matanya. Bahkan Jose sudah berkali-kali menenangkan wanita yang saat ini sudah sah menjadi istrinya itu. Akan tetapi, Thasiko yang baru pertama kali melihat kejadian seperti ini masih gemetar ketakutan.
Sebagian dari para tamu yang datang, juga tidak jauh berbeda kondisinya dengan Thasiko. Pernikahan yang harusnya berakhir bahagia sekarang berubah menjadi kejadian berlumur darah. Bahkan tak sedikit dari para tamu wanita yang pingsan di acara pernikahan itu.
"Sayang … apa ada yang terluka?" tanya Jefri dengan melihat Caroline dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Tidak ada, Sayang … tenanglah, aku tidak terluka," ucap Caroline menenangkan suaminya, yang masih terlihat ketakutan.
Jefri membuka jas miliknya dan mengenakannya kepada Caroline. Jefri melakukan itu bukan tanpa alasan, melainkan karena jas yang Jefri gunakan ada jas anti peluru. Yang mana jas tersebut bisa melindungi istrinya untuk sementara.
Jefri mengeluarkan pistolnya yang berada di balik kantong jas miliknya, sebelum ia berikan kepada Caroline. “Sayang, kau berdiri di belakangku,” ucap Jefri yang masih terlihat waspada dengan keadaan sekitarnya.
__ADS_1
Dorrr
Belum sempat Caroline berpindah tempat, suara tembakan kembali terdengar dengan Jelas di telinga semua orang. Untung saja Jefri dengan sigap menarik Caroline, sehingga membuat lengan Jefri terluka. Jefri pun menembakan pelurunya ke arah orang yang melakukan tembakan itu.
Tak lama kemudian, suara tembakan itu disusul oleh oleh Jose dan Zail yang melihat tempat persembunyian musuh. Sementara itu, di tempat Jefri dan Caroline, pasutri yang satu ini memang tidak tahu tempat dan kondisi. Lihat saja sekarang Caroline masih dengan santainya mengikat kain di lengan Jefri.
“Sudah, sekarang kau bisa menembak,” ucap Caroline yang mana membuat Jefri tertegun.
“Sayang, apa kau tidak merasa takut?” tanya Jefri yang dijawab gelengan kepala oleh Caroline.
Jefri tidak ingin ambil pusing karena situasi yang semakin mencekam dan para musuhnya yang semakin banyak. Tak lama kemudian, Miko datang menghampiri Jefri yang masih terlihat waspada, sebelum suara tembakan kembali terdengar dan Jefri pun berkata, “Bawa nyonya keluar, bersama Thasiko, Aurel dan Zail,” ucap Jefri.
“Baik, Tuan-”
“Tapi, Sayang … ini bahaya,” ucap Jefri.
“Aku gak mau tau, pokoknya aku mau di sini,” ucap Caroline dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dadanya. Tak lama setelah Caroline mengatakan itu, suara tembakan kembali terdengar yang mana tembakan itu mengarah kepada Caroline.
Akan tetapi karena Caroline yang menggunakan jas anti peluru milik Jefri membuat peluru itu terpental. Melihat itu Carol yang mana berada di dekat Caroline dan Jefri dengan cepat menembak sang pelaku. “Lindungi Caroline!!” teriak Jefri saat ia menyadari yang menjadi target adalah Caroline. Tak lama kemudian Jefri kembali berkata, “Bawa semua para tamu ke tempat aman.”
Jose dan Zail, segera menarik istri mereka, membawanya ke tempat di mana Caroline berdiri. Jose, Zail, Miko dan Carzol pun melingkari ketiga wanita itu. Bukan hanya mereka, semua anak buah Jefri yang ada di sana juga ikut melingkari ketiga wanita itu. Tak sampai satu menit mereka melingkar, semua musuh kembali menyerang dari berbagai arah.
Akan tetapi, dengan cepat Jefri dapat mengalahkan mereka. Semua bawahan Jefri menyingkirkan semua musuh yang terluka dan membawanya ke markas Octagon untuk di introgasi. "Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Jefri.
"Aku baik-baik saja, Sayang … kau hebat," ucap Caroline mengacungkan jempolnya ke arah Jefri.
__ADS_1
Jefri yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya dan mengusap kepala Caroline dan bertanya, "Sayang … ayo jujur, kenapa kau tidak panik saat semua penembak itu datang? Sepertinya kau sudah mengetahuinya sebelumnya apa aku benar?"
Caroline menggigit bibir bawahnya dan bergelayut manja pada lengan Jefri dan berkata, "Sayang … janji jangan marah?"
Caroline menunjukan matanya yang berkilau seperti bayi, kepada Jefri. Akan tetapi, Jefri tidak mengiyakan apa yang Caroline katakan dan hanya mengangkat sebelah alisnya dan berkata, "Hmm … apa ada yang kau sembunyikan?"
Caroline menunjukan kepalanya dan berkata, "Dari awal aku sudah melihat jika ada orang yang mengikutiku, tapi aku tidak tau siapa target mereka jadi aku selalu berdiri di sisimu, jikalau target mereka dirimu."
Mendengar cerita Caroline, membuat Jefri menatap Caroline dengan tajam. Caroline melihat tanda-tanda kemarahan sang suami pun, berniat untuk kabur. Akan tetapi Jefri dengan cepat menarik tangan Caroline, dengan senyum getir Jefri pun berkata, "Sayang … kau sedang menyadari mereka dari awal dan tidak mengatakannya kepadaku? Ditambah dengan kau yang selalu menempel di sekitarku … apa kau tau itu berbahaya?"
Caroline merinding mendengar suara Jefri, dengan cepat Caroline memeluk Jefri. Saat Caroline merasakan jika hal itu tidak mempan, Caroline pun berinisiatif untuk mencium Jefri di depan umur. Jose, Miko, Carzol, dan Zail yang melihat itu kaget melihat keagresifan Caroline.
Jefri yang diberikan lampu hijau tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Jefri membalas ciuman Caroline yang mana semakin lama berubah menjadi *******. Setelah sekian lama berciuman, Caroline melepaskan ciuman itu dan dengan cepatnya Caroline berlari dari Jefri.
"Sial, aku terjebak," umpat Jefri saat merasakan adanya sesuatu yang tengah berdiri di balik celananya.
"Jefri …," teriakan Caroline terdengar sangat keras, sehingga membuat Jefri berlari kencang ke arah suara itu berasal.
"Sayang, ada apa? Kenapa kau berteriak?" ucap Jefri panik, saat ia sudah berdiri di belakang Caroline. Bukan hanya Jefri, tetapi Carzol, Jose dan Miko juga berada di sana.
"Thasiko pingsan," ucap Caroline yang mana membuat Jose kaget dan berjalan lebih dekat ke arah Caroline.
"Nonol, Nol, bangun …," ucap Jose panik. Tetapi tidak dengan yang lain mendengar panggilan Jose.
halo, apakah ada orang? sebelumnya Author minta maaf sama para pembaca karena berbulan bulan gak up novel tawanan Tuan Jefri. karena hp sama laptop author kecolongan udah 3 bulan lebih kayaknya. dan sekarang baru ketemu hp dan laptopnya. Belum lagi harus baca semua ceritanya karena udah lama jadi author rada lupa alurnya, seharusnya sekarang ini novel udah tamat. karena rencana bakal ngerjain 3 atau 4 bulan. Maaf ya, semuanya.
__ADS_1