Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
77.


__ADS_3

Di mansion


Miko terpaksa harus menuruti keinginan Caroline yang memintanya untuk mencium kucing.


Bahkan Jefri sampai harus pulang saat mendengar jika Caroline meminta Miko untuk mencium seekor kucing.


Mendengar jika Jefri pulang, membuat hati Miko merasa senang. Ia mengira jika Jefri pulang ke mansion untuk membantunya membujuk Caroline agar segera menghentikan drama yang terjadi saat ini.


Namun, perkiraannya salah saat Jefri pulang, bukannya menolong kawannya, Jefri malah mendukung Caroline.


Sejah tadi, Miko terus saja disuruh untuk mencium bibir kucing dan juga **********, kadang Miki juga diminta untuk mencium pantat kucing itu.


Bi Michu yang melihat itu sungguh merasa kasihan dengan Miko, tapi apalah daya. Itu adalah permintaan majikannya dan Bi Michu tidak bisa membantunya.


"Caroline, sudah ya. Kucing ini terlihat sudah lelah aku cium … ya? Lihat dia sudah seperti mabuk." Miko memperlihatkan kucing saat matanya tertutup.


Caroline hanya tersenyum. Ia sudah puas untuk mengerjai Miko dan berkata, "Baiklah … tapi kucing ini biarkan aku yang rawat."


"Iya-iya silahkan," ucap Miko dan langsung berlari meninggalkan mansion Jefri. Jefri tidak ingin Caroline akan berubah pikiran dan menjadikannya sebagai pelampiasan.


"Hahahaha …." Jefri tertawa terbahak-bahak.


***


Di sisi lain, kelima putra dan putri keluarga Al Zero, sedang bersenang-senang dengan acara bolos mereka.


Saat ini mereka sedang berada di taman bermain yang berada tidak jauh dari kawasan sekolah.


"Kak, apa tidak apa jika kita bolos seperti ini? Bagaimana jika mama dan papa marah?" ucap Zamar, takut jika nanti Jefri akan marah saat mengetahui mereka bolos.


"Tenang saja, jika nanti papa dan mama marah kita hadapi bersama." Zamar yang mendengar ucapan Axel hanya menganga, karena Axel terlihat sangat santai mengatakan hal itu.

__ADS_1


Zamar sangat tau bagaimana menyerahkannya jika Jefri sudah marah, ia teringat saat dirinya masih terkurung di markas Dragon Black.


Wajah dan hawa membunuh Jefri saja sudah membuat Zamar merinding.


Zamar kembali melihat ke arah Alex yang sedang duduk dengan membaca buku yang selalu ia bawa ke mana pun.


"Kak-"


"Sudah nikmati saja dulu, daripada kita ke mana mana selalu di awasi oleh papa dan mama, sekali-kali kita kembangkan tidak apa. Jika ketahuan kita akan menanggungnya bersama, papa tidak mungkin akan memberikan hukuman yang begitu kejam kepada anak-anaknya." Mendengar ucapan Alex, membuat Zamar bisa sedikit tenang.


Memang masuk akal apa yang dikatakan oleh Alex, tidak mungkin Jefri akan memberikan hukuman yang berat kepada anak-anak, walaupun itu anak kandung mau pun anak angkat. Mereka semua sudah melihat kasih Jefri kepada mereka semua dan mereka dapat merasakannya.


Zamar melihat bagaimana Aulia, Amar dan Axel yang asik bermain ayunan. Tiba-tiba saja mata Zamar tertuju ke arah pedagang manisan, membuatnya menjadi ingin mencicipi masing-masing dari manisan itu.


Namun, saat Zamar memasukan tangannya ke dalam saku celananya, ternyata dia tidak membawa yang dan seketika wajahnya menjadi cemberut.


Zamar melihat ke arah Alex yang sedang asik membaca buku. "Kak, apa kau membawa uang?" tanya Zamar.


Alex mengeluarkan uang pecahan £100 delapan lembar, jika dirupiahkan bisa mencapai empat belas juta delapan ratus. Karena itu adalah nominal uang jajan anak-anak Jefri perharinya.


"Tidak perlu banyak-banyak, Kak. Aku hanya perlu 2 lembar ini saja." Zamar mengembalikan sisa uang yang Alex berikan kembali kepada Alex.


Zamar berlari menuju pedagang manisan itu. Pedagang manisan itu melihat ada seorang anak yang berjalan menuju ke arahnya pun merasa senang.


"Adek … apa mau manisan?" tanya pedagang manisan itu dengan menyodorkan beberapa jenis manisan kepada Zamar.


"Bibi, aku ingin satu jenis satu ya," ucap Zamar. Begitu pedagang manisan itu memasukan setiap jenis manisan ke dalam paper bag.


"Ini sayang manisannya," ucap pedagang manisan itu memberikan paler bag yang berisikan berbagai jenis manisan.


Zamar pun memberikan uangnya tanpa meminta kembalian, padahal sisa uang yang Zamar berikan masih banyak.

__ADS_1


Saat Zamar ingin berjalan kembali ke tempat saudaranya. Tiba-tiba saja segerombolan orang berpakaian hitam berlari menuju Zamar.


"Tuan muda, huuu …," semua orang berpakaian hitam itu tidak lain adalah bodyguard Jefri.


"Tuan muda, ternyata kau di sini. Kenapa kalian bolos dan tidak memberitahu kamu! Di mana tuan muda yang lain dan juga Nona?" tanya bodyguard Jefri setelah ia mengatur nafasnya menjadi normal kembali.


"Itu …." Zamar menunjuk dengan Katik manisan yang ada di bibirnya, melihat semua anak-anak Jefri yang sedang bermain di taman bermain membuat mereka bernafas lega. Jika mereka tidak menemukan anak-anak Jefri sudah dipastikan hidup mereka yang akan menjadi gantinya.


"Mari tuan muda, saya antar menuju saudara Anda," ucap bodyguard Jefri. Namun, dari kejauhan terlihat Aulia yang sedang berlari menuju pria tampan yang bersandar di pohon.


Para bodyguard Jefri pus langsung gercap untuk melindungi nona mereka. Mereka akan selalu waspada terhadap orang-orang yang asing dengan anak-anak tuan mudanya.


"Kakak tampan …," ucap Aulia dengan sikap wanita genitnya yang sangat suka menggoda pria tampan.


Pria berusia 13 tahun itu melihat ke bawah lebih tepatnya ke arah Aulia yang sedang memanggilnya dengan sikap genitnya.


Pria itu terlihat cuek dan mainkan salah satu alisnya. Terlihat pria itu malas menanggapi sikap Aulia dan kembali fokus dengan ponselnya dan bersandar pada pohon besar.


"Ihhh … Kakak jahat, aku kan lagi ngomong sama kakak!" Protes Aulia karena merasa diabaikan oleh pria itu.


Pria itu terlihat memutar bola matanya ia merasa jengah dengan sikap Aulia. "Bocah, aku tidak mengenalmu sebaiknya kau pergi. Aku hanya ingin tenang sekali ini saja," ucap pria itu.


Para bodyguard Jefri yang sudah berada di dekat Aulia pun mulai maju mendengar perkataan pria itu. Tidak ada yang bisa menyakiti anak-anak Jefri walau hanya dengan perkataan.


Namun, Aulia berbalik dan berkata, "Bisakah kalian pergi, aku hanya ingin. Bicara dengan kakak tampan! Kalian akan menggangguku!" Protes Aulia lagi ia merasa tak suka dengan pengawasan daddynya yang sangat ketat.


"Tapi Non-"


"Kalian menjauh atau aku lapor mommy!" Ancam Aulia yang sudah mengangkat handphone miliknya dan bersiap akan menelpon Caroline.


Mendengar ancaman sang tuan putri membuat bodyguard Jefri pun mengalah, jika sudah Caroline marah bahkan Jefri pun akan kena dampaknya. Lebih baik mereka cari aman dari pada kena serang.

__ADS_1


"Baik Nona …," ucap bodyguard Jefri dan berjalan menjauh dari Aulia.


Namun, sebelum mereka berjalan menjauhi Aulia, Aulia sempat berkata, "awas jika karena kalian, kakak tampan ini menolakku aku akan menyuruh mommya memecat kalian!"


__ADS_2