
Caroline mendudukan bokongnya di ranjang empuk tempat Alex berbaring. Caroline menaruh telapak tangannya di dahi Alex.
Caroline mengerutkan dahinya saat ia tidak merasakan panas atau apapun di dahi Alex. “Apa yang terjadi dengan Anak ini? tidak biasanya Alex bangun siang,” gumam Caroline.
Caroline mengguncang lengan Alex dengan pelan sambil berkata, “Alex … ayu bangun sayang. Ini sudah hampir siang, Nak.”
Alex mulai mengerjapkan matanya saat merasakan tidurnya terganggu. Alex membuka matanya dan mendudukan badanya di atas kasur. “Kenapa wajahmu terlihat seperti itu, sayang … biasanya kau sangat semangat dan selalu bangun pagi. Ada apa dengan putra kesayangan mami harini, kenapa terlihat tidak ada tenaga? Hmm ….”
Alex masih belum sadar penuh, ia mengucek-ucekan matanya. dan saat kesadarannya mulai penuh, pandangan matanya langsung tertuju pada jam yang ada di dinding kamarnya.
“Apa? Jam 9!” pekiknya kaget saat melihat jam dinding yang indah berada di kamarnya.
Alex tanpa menyapa Caroline langsung turun dari kasur dan berlari menuju kamar mandi.
Caroline yang melihat kelakuan sang putra hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Tak sampai 5 menit Alex sudah selesai berpakaian dan keluar dari kamar. Alex memakan, sarapan yang ada di atas meja.
“Mi, Axel di mana, Mi?” tanya Alex dengan mulutnya yang masih penuh dengan roti isi.
“Axel sudah ke sekolah lebih dulu, tadi ia mengira kau sakit jadi dia berangkat lebih dulu bersama dengan paman Carzol,” ucap Karoline dengan penuh kelembutan.
Alex memakan sarapannya dengan cepat dan berkata, “Ayo, Ma, Alex sudah terlambat!”
Alex menggendong tasnya dan juga menggandeng tangan Caroline, keluar dari apartemen.
Mereka keluar dari apartemen Carzol, dan masuk ke dalam Taksi yang mana sudah Caroline pesan melalui aplikasi online.
Taksi melaju menuju sekolah Alex dan Axel. tak butuh waktu lama mereka pun sampai di sekolah. Alex berpamitan kepada sang mama.
__ADS_1
Alex berjalan dengan cepat masuk ke dalam kelas. Sesampainya di dalam kelas, Alex tidak melihat keberadaan sang adik yang berada di dalam kelas.
Alex menanyakan kepada teman sekelasnya, tetapi tidak ada yang mengetahuinya.
“Heh, paling juga dia menangis karena tidak memiliki seorang ayah. Dan sedang merenung di belakang sekolah, membayangkan nasibnya yang buruk. Hahhahah …,” tawa salah satu seorang anak yang mana memang selalu suka mencari masalah.
Ia tidak khawatir jika dikeluarkan dari sekolah, karena ayahnya adalah salah satu pemegang saham di sekolah itu.
Alex yang mendengar itu jelas tidak terima. Alex menggelapkan tangannya. Dan berjalan ke arah anak itu yang bernama Rizki.
Rizki yang melihat itu menjadi takut, ia berdiri dari bangkunya dan ingin lari, tetapi terlambat. Alex lebih dulu mencekal pergelangan tangan Rizki dan memukul wajah Rizki dengan keras.
Hal itu membuat wajah Rizki lebam dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
Sebenarnya Rizki bisa saja mengadu kepada ayahnya dan mengeluarkan Alex dan Axel. Tetapi itu percuma saja, karena pada akhirnya bukan Alex ataupun Axel yang dikeluarkan, melainkan Rizki yang dimarahi.
Karena hal itu Ayah Rizki tidak berani mencari masalah dengan mereka. walaupun sebenarnya ayah Rizki sebanding dengan Carzol. tetapi tetap saja ia tidak ingin merusak kerjasama yang memiliki banyak keuntungan karena anaknya.
Rizki mengangkat tangannya dan ingin membalas memukul Alex, tetapi ia mengurungkan niatnya. Rizki teringat akan apa yang dikatakan oleh ayahnya ‘Jangan pernah mencari masalah dengan Alex dan Axel jika kau tidak ingin keluarga kita jatuh miskin, sayang ….’
Rizki menurunkan tangannya dan berjalan keluar kelas dengan rasa kesal dan marah bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
Sedangkan Alex kembali mencari keberadaan sang Adik. setelah beberapa menit berlalu, Alex sudah mencari ke seluruh penjuru sekolah, tetapi ale tidak menemukannya.
Dan sekarang hanya satu tempat yang belum Alex periksa, yaitu taman belakang sekolah.
Alex segera berjalan menuju taman belakang sekolah. Saat sampai di taman belakang, Alex melihat Axel sedang berbincang dengan Jefri. dan itu membuat Alex teringat akan cerita Jefri semalam.
Alex dengan cepat menghampiri adiknya dan menarik tangan Axel. “Loh, Kak bukanya kau sedang sakit?” tanya Axel dengan menghentikan langkahnya begitu juga dengan Alex yang menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Tidak, aku hanya tertidur.” Alex kembali menarik tangan Axel tetapi, lagi-lagi Axel menghentikan langkahnya dan membuat Alex juga menghentikan langkahnya.
“Alex, jangan kasar dengan adikmu, sayang …,” ucap Jefri menghampiri kedua putranya saat melihat Alex yang dengan sangat erat menggenggam tangan sang adik.
“Bukan urusanmu! bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu, jangan pernah menemui aku dan Axel sebelum kau mendapatkan maaf dari mama,” ucap Alex dengan suara yang meninggi, dan tanpa melihat ke arah Jefri.
Axel yang melihat perlakuan kakaknya yang seperti itu kepada Jefri menjadi bingung. Axel yang tidak mengetahui apa-apa hanya bisa melihat ke arah kedua orang itu.
“Iya sayang … papa akan berusaha untuk membuat mama kalian mau memaafkan. Papa, tapi tolong biarkan papa melihat kalian,” ucap Jefri menyetarakan tingginya dengan Alex dan Axel.
“Jika papa tidak bisa mendapatkan maaf dari mama, maka Alex akan meminta mama untuk menikah dengan paman Carzol.” Ancam Alex yang mana membuat Jefri berdiri dan menatap tajam ke arah Alex ataupun Axel.
“Tidak, tidak ada seorang pun yang boleh menikahi Caroline kecuali aku, mama kalian hanya akan menjadi milik papa!” ucap Jefri dengan sangat tegas kepada putranya dan pergi meninggalkan Alex dan axel yang masih terpaku di sana.
Sedangkan Axel yang mendengar itu bingung apa yang sedang dibicarakan oleh kakak dan papanya.
Saat sedang berada di dalam kelas, Alex yang sedang memperhatikan guru yang sedang menjelaskan di depan dengan sangat fokos.
“Kak, apa yang terjadi? Kenapa papa harus minta maaf kepada mama?” tanya Axel yang masih bingung dengan pembicaraan sang kakak dan papanya.
“Itu urusan orang dewasa, kau tidak perlu tau,” ucap Alex tanpa melihat ke arah Axel.
“Apa ku pikir dirimu sudah dewasa lex? Kita ini kembar, dan hanya beda 20 menit. Jadi umur kita masih sama!” ucap Axel yang tak terima dirinya dikatakan masih anak-anak.
“Sama saja.” Axel melihat aura sang kakak bertambah dingin dan membuat Axel terdiam.
Axel tau apa akibatnya jika Axel meneruskan pembicaraannya. Bisa-bisa nanti Alex menyuruhnya keluar dan kena marah olehnya.
Axel kembali berbalik dan memperhatikan penjelasan guru di depannya. Tangannya kembali dengan cepat mencatat dan otaknya juga meresap apa yang diterangkan oleh guru di depan.
__ADS_1