Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
68.


__ADS_3

Mendengar penjelasan Jefri, hati Alex mulai luluh begitu juga dengan Axel. Namun, Alex dan Axel tidak menyampaikannya langsung.


“Kenapa hanya kau yang meminta maaf? Kenapa mama tidak?” tanya Alex dengan nada judes.


“Mama Juga minta maaf, Sayang … Mama tidak akan pernah mengulangi kesalahan mama lagi.” Caroline langsung berlari menghampiri kedua putranya dan mencium mereka. Caroline sudah mendengar percakapan mereka dari tadi di depan pintu.


Air mata Caroline berjatuhan, ia mencium pipi Alex dan Axel secara bergantian. Begitu juga dengan Alex dan Axel. Jefri melihat moment itu ikut bahagia melihat keluarganya yang kembali bersatu.


“Mama Janji tidak akan melupakan kita?” tanya Axel dengan wajah imutnya.


“Tidak, sayang … Kalian adalah buah hati mama, tidak mungkin mama akan meninggalkan kalian.” Caroline membawa kedua putranya itu ke dalam pelukannya.


***


Amar dan Zamar, saat ini sudah selesai melakukan operasi plastik, dan akan segera dibawa menuju kamar rawat mereka. Saat mereka sadar betapa senangnya mereka saat melihat adik tercinta mereka yaitu Aulia berada di samping mereka.


"Auli? Akhirnya, kau kembali," ucap Amar


"Kenapa badan banyak luka seperti ini?" tanya zamar kaget saat melihat adik tercinta mereka di lilit perban.


Amar pun mulai memperhatikan lebih detail lagi, dan ternyata benar adanya. Terdapat banyak perban dari tangan hingga kaki Aulia.


"Ini tidak apa-apa, Kak. Tadi ada om dan kakak baik yang menyelamatkanku. Dia bilang kalau aku harus memanggilnya Papa, apa benar?" tanya Aulia dengan wajah polosnya.


"Iya, Dek. Mereka sudah mengangkat Kakak menjadi anak mereka, jadi sekarang adek juga harus memanggil mereka seperti yang mereka katakan." ucap Amar dengan mengusap rambut Aulia.


Aulia tidak bertanya lebih lanjut lagi, ia hanya menganggukan kepalanya.


***


Satu bulan berlalu, semua keluarga Al Zero sudah bersatu. Selama satu bulan ini mereka hidup bahagia termasuk Amar, Zamar dan Aulia. Saat ini mereka sedang berlibur ke Korea sekeluarga.


Anak-anak sedang bermain di kolam renang, sedangkan di dalam kamar Jefri dan Caroline.


Terlihat Jefri sedang berada di dapur dan tampak panik. Bagaimana ia tidak merasa panik saat api kompor itu menjadi semakin besar.

__ADS_1


Caroline tidak mengizinkan Jefri untuk meminta bantuan dari pelayan sama sekali, itu membuatnya harus mengerjakan semuanya sendiri.


"Sayang … apa omeletnya sudah matang?" teriak Caroline dari arah ruang tamu.


"Sebentar lagi sayang … tunggu, y." Buru-buru Jefri langsung mengambil lap dan memasukkannya ke dalam air lalu melemparnya ke arah api yang menyala.


Setelahnya Jefri kembali berusaha untuk membuat omelet yang Caroline inginkan dengan mengikuti tutorial yang ada di YouTube.


Satu jam kemudian, omelet buatan Jefri jadi dan siap dihidangkan. Jefri dengan hiasan buah dan sayur di pinggiran piring, membawa omelet itu ke ruang tamu.


"Selesai …." Jefri terlihat gembira saat melihat dirinya yang berhasil membuat omelet.


"Kau ini kenapa lama sekali," ucap Caroline yang mulai terlihat marah dan mengerutkan keningnya, "aku tidak ingin makan itu lagi!"


Caroline tidak menatap Jefri ia menaikan salah satu kakinya ke kaki lainnya dan melipat kedua tangannya di dada. Caroline berkata, "Kali ini aku ingin memakan es krim Mixue dengan bentuk stroberi, harus mirip seperti strawberry!" Caroline terlihat mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya ke arah Jefri.


Jefri bagai tertimpa tangga mendengar permintaan Caroline. Jefri sudah berusaha sangat keras untuk bisa membuat omelet yang Caroline inginkan, tetapi sekarang Caroline meminta es krim Mixue dengan bentuk strawberry? Bagaimana Jefri bisa membuatnya dia saja tidak ahli memasak.


"Sayang … aku sudah berusaha membuat ini? Apa kau benar-benar tidak menginginkannya?" tanya Jefri dengan wajah memelas.


"Jangan … jangan aku akan buatkan," ucap Jefri dan langsung berlari menuju dapur.


Kali ini Jefri benar-benar dibuat bingung oleh Caroline, setelah beberapa jam berlalu percobaan Jefri tetap gagal. Akhirnya, Jefri pasrah dan secara diam-diam mengundang koki di Mixue untuk datang ke kamarnya melalui pintu belakang.


Jefri menyuruh koki itu untuk mengajarkan Jefri membuat es krim berbentuk strawberry.


"Papa, kenapa ada ko-"


Ucapan Axel terputus karena Jefri yang dengan cepat membekap mulut Axel agar tidak didengar oleh Caroline.


"Kenapa papa menutup mulutku!" ucap Axel dengan dahi yang mengerut.


"Jangan katakan pada mamamu ya sayang … jika di sini ada koki. Okey?" Jefri sangat berharap jika anaknya bisa diajak bekerja sama. Tapi melihat senyum di wajah Axel membuatnya ragu.


"Apa papa membohongi mama lagi?" tanya Axel dengan senyum licik.

__ADS_1


"Papa tidak membohongi mamamu, papa hanya ingin membuat Mamamu senang sayang." Jefri menunjukan senyuman paksa di bibirnya.


"Bisa saja, jika papa ingin Axel tutup mulut. Tapi, Pa di dunia ini tidak ada yang gratis loh," Axel menggunakan jari telunjuknya mengusap dagunya.


"Iya, iya … kamu mau apa?" tanya Jefri yang sudah tau bagaimana sikap anak keduanya ini. Sangat berbeda dengan Alex yang selalu bekerja keras dan tidak pernah meminta.


Jangan salah, di umur yang sudah akan mencapai 8 tahun, Alex sudah bisa menghasilkan uang dengan menggunakan bisnis skincare dan sepatu miliknya yang dikerjakan secara online.


"Aku ingin uang jajanku ditambahkan jadi 100 juta perminggu. Okey?" Axel menunjukan senyuman manis di bibirnya dan gigi putih yang terlihat imut dengan wajahnya.


"Okey …." Jefri menyetujui keinginan anaknya begitu saja.


Tentu saja Jefri memberikannya karena uang segitu bukan masalah baginya. Itu hanya sebagian kecil jika dibandingkan pendapatan Jefri per harinya.


***


"Ini Jefri ke mana sih, kenapa dia sangat lama?" Gumam Caroline mulai kesal karena menunggu.


"Sudahlah, daripada aku menunggu Jefri lebih baik aku beli sendiri di Mall," ucal Caroline dengan tangan yang menggandeng tasnya.


Karena hotel yang mereka tinggali itu berisi mall yang isinya lumayan lengkap, jadi membuat Caroline mudah berbelanja jika ingin sesuatu.


Saat sedang mencicipi berbagai hidangan, dari Korea Jepang dan lain sebagainya. Caroline merasa pusing.


Ia mendudukkan dirinya di kursi kayu yang ada di dekat pintu toko Mixue. Caroline melihat ke sana kemari, terlihat sangat banyak makanan yang ia inginkan, tetapi saat ini Caroline masih merasakan pusing yang sangat berat di kepalanya.


Setelah dirasa dirinya mulai membaik, Caroline pun kembali mencicipi berbagai makanan yang mengunggah seleranya.


Caroline juga tidak lupa membungkus makanan yang tadi dia makan untuk dibawa pulang, untuk anak-anak.


Tidak heran jika pengunjung yang lewat selalu memperhatikan Caroline, yang membawa sangat banyak barang di tangannya.


Tidak jarang dari pengunjung yang lewat menawarkan bantuan untuk Caroline, tetapi Caroline menolak karena merasa masih bisa untuk membawanya.


Saat Caroline akan naik eskalator, tiba-tiba kepala Caroline semakin sakit dan Caroline pingsan saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2