Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
52. Terdampar


__ADS_3

Tok tok tok


Alex terlihat mengetuk pintu kamar Axel. Setelah tadi Alex menjelaskan apa yang trjadi pada Caroline dan Jefri. Alex menjadi lebih banyak mengurung diri di kamar. bahkan ini sudah 3 jam lebih Axel tidak membuka pintu. membuat Alex merasa khawatir dengan Axel.


“Xel, buka pintunya. Tidak ada gunanya kau mengurung diri di kamar,” teriak Alex dari luar.


Sudah berapa kali Alex berusaha untuk membujuk sang adik tetapi tidak ada jawaban dari dalam.


“Tuan muda. Sebaiknya biarkan tuan muda ke dua menenangkan diri dulu, dia pasti syok mendengar kabar itu. Saya akan menyuruh seseorang untuk terus memantau dari CCTV,” uap Maid menghampiri Alex dan berkata dengan lembut kepadanya.


“Baiklah, Bi. Jika dia melakukan hal yang berbahaya beritahu saya.” Alex terlihat menundukan kepalanya, dan berjalan menjauh dari pintu kamar Axel.


Di sebuah pulau, yang tidak diketahui namanya.


Sepasang suami istri, terdampar di pantai, dengan posisi sang suami yang memeluk istrinya. Bahkan sampai membenamkan kepala istrinya di dada bidangnya untuk melindungi kepala istrinya dari benturan.


Yap, siapa lagi klo bukan Jefri dan Caroline. Didetik-detik terakhir, di mana Caroline sudah pasrah akan hidupnya, Jefri berenang ke arah Caroline dan memeluknya dengan erat. tetapi karena Arus yang cukup kuat membuat Coraline dan Jefri terhanyut oleh arus laut itu.


Jefri ter;ihat mengerjapkan matanya. dan Pandangannya tertuju pada Caroline yang berada dalam pelukannya. Jefri terlihat panik, dan segera mendudukan dirinya di pasir pantai itu.


Jefri terlihat merebahkan tubuh Caroline di pasir dan menekan-nekan dada Caroline. Sampai dari mulut Carolin keluar air, mengenai wajah Jefri.


“Sayang … sadar,” ucap Jefri menepuk-nepuk pipi Caroline.


Croline membuka matanya, dilihatnya wajah Jefri yang terlihat panik. Caroline tersenyum mengira itu hanyalah halusinasinya saja.


Sedangkan Jefri merasa bahagia karena Caroline membuka matanya dan membenamkan wajahnya di dada Jefri.


“Ternyata, sampai saat aku meninggal pun Hanya ada jefri yang terlintas di mataku. Sayangnya aku sudah tidak bisa bersamanya lagi,” Gumam Caroline dengan setetes air mata yang mengalir dari sudut matanya.


“Apa yang kau katakan! Aku masih berada di sisimu, dan kau akan selalu bisa melihatku,” ucap Jefri mengangkat wajahnya dan memposisikannya tepat di depan wajah Caroline.

__ADS_1


“Bukankah aku sudah meninggal?” tanya Caroline dengan wajah bodohnya.


“Aaaahhhh … sakittt,” teriak CArolin memegang telinganya yang di jewer Oleh Jefri.


“Apa kau sudah sadar sekarang?” tanya jefri dengan wajah garangnya.


“Ternyata aku masih hidup, toh.” Caroline meraba-raba kulitna dengan wajahnya yang terlihat seperti orang bodoh.


“Siapa yang mengijinkan kamu berfikir seperti itu!” Jefri terlihat memelototkan matanya ke arah Caroline.


“Dalam mimpi pun aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku, Bahkan dunia pun tidak akan bisa memisahkan kita, kau paham itu!” ucap Jefri tegas.


Caroline tidak menjawah dan hanya memajukan bibirnya dalam artian mengejek jefri yang banyak bicara.


pak


Jefri memukul kepala Caroline pelan, melihat tingkah istrinya yang bandel.


“Sudah, sekarang bagaimana caranya kita kembali!” ucap Caroline, melihat sekelilingnya.


“Apa kau tidak takut? Nanti ada binatang buas di dalam hutan itu?” Carolin menunjuk ke arah hutan lebat yang berada di belakang jefri.


“Tidak usah berpikir macam-macam sayang … suamimu ini sudah pernah tinggal di hutan selama 3 tahun jadi kau tidak perlu khawatir.” Jefri berjalan dengan santai masuk ke dalam hutan dengan kayu yang berada di tangannya.


Caroline terlihat menaikan sebelah alisnya bingung, “Untuk apa kau tinggal di hutan selama tiga tahun?” Caroline mulai berjalan mengejar Jefri masuk ke dalam hutan yang sangat lebat itu.


mendengar pertanyaan Caroline Jefri melotot dan langkahnya berhenti saat itu. Ada rasa takut dalam dirinya untuk menjelaskan hal itu kepada Caroline. Karena selama ini Caroline tidak pernah tau jika Jefri adalah seorang mafia.


“Kenapa? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?” tanya Caroline terlihat mulai curiga dengan Jefri karena raut wajah Jefri yang menggambarkan ada sesuatu yang tidak beres.


Jefri menelan salifanya, dan berkata, “Apa kau bisa berjanji kepadaku Jika kau tidak akan marah setelah aku mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


Mendengar itu Caroline memicingkan matanya ke arah Jefri, tetapi pada akhirnya Caroline menganggukan kepalanya.


Jefri dengan rasa takut di hatinya mulai menceritakan identitasnya kepada Caroline, “Sebenarnya aku bukan hanya seorang CEO, tetapi aku juga seorang mafia. Kakek menurunkan Dragon Black kepadaku, dan sebelum aku di lantikmenjadi ketua Dragon Black aku harus menjalani beberapa pelatihan dan salah satunya adalah Belatih bertahan hidup di dalam hutan.”


Jefri menundukan kepalanya. Dalam hatinya dia sangat takut jika Caroline akan marah terhadapnya.


Tetapi nyatanya tidak ada suara yang Jefri dengar membuatnya mengangkat kepalanya an melihat Caroline yang tersenyum dengan menganggukan kepalanya.


“Apa kau tidak marah jika aku adalah mafia?” tanya Jefri takut.


“Tidak,” Carolin menggelengkan kepalanya, “Lagi pula mafia itu bukanya juga pekerjaan? Untuk apa au marah?”


Mendengar hal itu membuat Jefri merasa senang dan memeluk Caroline dengan rasa bahagia yang meluap dalam hatinya.


“Selama ini aku mengira kau akan marah jika mengetahui aku adalah mafia, Tidak kusangka kau mengerti posisiku saat ini.”


“Sudah-sudah, lebih baik sekaran kita buat obor, ini sudah mau gelap, jika tidak ada api kita tidak akan bisa melihat jalan.” Caroline melihat ke aras yang mna matahari sudah mulai tenggelam.


“Baiklah ratuku …,” ucap Jefri menundukan kepalanya.


Sedangkan di sisi lain, Axel mulai keluar dari kamarnya karena bujukan Aurel. Zail meminta aurel untuk menemani Alex dan Axel di mansion karena bahaya untuk keselamatan Aurel.


“Sudah menangisnya, ya sayang … Bagaimana jika kita belanja?” Aurel dengan cepatnya mengeluarkan Black Car yang mana di berikan Zail kepadanya.


DI malam hari itu mereka mampir ke mall milik keluarga Al Zero yang mana menjadi Mall terbesar di benua eropa, yang didirikan oleh kakaknya. Tetapi terlihat dengan jelas, yang Antusias di sana hanya Aurel. Sedangkan Alex dan Axel terlihat lesu dan hanya mengikuti ke mana Aurel pergi dengan melihat aurel yang membawa banyak belanjaan. karena mereka pergi tanpa membawa pengawal ataupun para maid.


“Bibi, kita duduk di sana ya. nanti jika bibik sudah selesai bisa tinggal ari kita di sana.” Alex menunjuk sebuah kursi yang berada tak jauh dari tempat Aurel berbelanja.


“Okey! Tapi kalian tidak ingin membeli sesuatu?” tanya Aurel dan di jawab gelengan kepala oleh si kembar.


“Hmm … baiklah,” ucap Aurel dan kembali meilik pakaian di dalam toko itu.

__ADS_1


Di saat alex dan Axel duduk manis di atas kursi. Tiba-tiba saja seseorang membekap mereka dari belakang dengan sapu tangan yang sudah berisikan obat bius dan membuat mereka pingsan.


tetapi tidak sampai sana saja. mereka menukar Alex dan Axel dengan dua anak kembar yang memiliki paras yang sama dengan mereka.


__ADS_2