Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
100


__ADS_3

“Jefri …,” teriak Caroline yang merasa sangat kesal dengan suaminya. 


Bagaimana tidak kesal, sejak Caroline turun dari tempat tidurnya pagi ini, Jefri tidak henti-hentinya mengikuti Caroline. Bahkan saat Caroline berjalan sedikit cepat saja, Jefri selalu berkata, “Sayang, jangan lari!” 


Sampai-sampai saat akan menuruni tangga pun, Jefri memapah Caroline. Padahal Zail sendiri juga sudah mengatakan jika Caroline sudah baik-baik saja. Akan tetapi suami posesif Caroline ini selalu bertingkah berlebihan. 


“Sana kerja saja, cari uang yang banyak,” ucap Caroline sedikit mendorong tubuh Jefri. 


“Aku tidak perlu kerja, Sayang. Uangku akan tetap mengalir, jika kau mau, kau bisa memiliki semuanya.” Jefri mengeluarkan dompetnya dan memberikannya kepada Caroline. 


Melihat itu Caroline dengan cepat menerimanya dengan mata berbinar-binar dan segera membuka dompet itu dan mendapati banyaknya kartu unlimited didalamnya. Akan tetapi sedetik kemudian Caroline mengendalikan ekspresinya dan berkata, “Ehem … bisa saja kartu ini semuanya hanya kartu palsu, sekarang ‘kan banyak penipuan.”


“Jika kau tidak percaya, kau bisa mengeceknya di bank,” ucap Jefri dengan senyum manis di wajahnya. 


“Tidak-tidak, aku percaya denganmu. Tapi apa kau tidak takut jika aku menghabiskan semuanya?” tanya Caroline dengan mata yang memicing manatap Jefri. 


“Kau bisa menghabiskannya jika kau bisa …,” ucap Jefri seraya merangkul pinggang Caroline. 


“Ok, siapa takut,” ucap Caroline, merasa tertantang dengan ucapan Jefri. 


“Bi … Bi Michu,” panggil Caroline. 


“Iya, Nyonya,” ucap Bi Michu yang datang menghampiri Caroline. 


“Bi, habiskan semua isi kartu yang ada di dalam ini, jika Bibi ingin membeli apa pun Bibi bisa menggunakan kartu ini,” ucap Caroline. 


“Tapi Nyonya, setau saya kartu ini tidak akan ada habisnya. Bahkan jika nyonya membeli sebuah negara juga tidak akan habis,” ucap Bi Michu. Karena siapapun juga tau hanya satu keluarga  di dunia ini yang bisa mempunyai kartu unlimited tanpa batas dengan corak centang emas itu. 


Mendengar itu Caroline sampai melotot mendengarnya dan berbisik, “Bi, apa suamiku sekaya itu?” 

__ADS_1


“Iya, Nyonya bahkan jauh lebih kaya dari yang nyonya bayangkan,” ucap Bi Michu. 


“Sayang … jika kau ingin tau seberapa kaya suamimu ini, seharusnya kau bertanya padaku, tetapi dari pada kau bertanya seperti itu, lebih baik kau nikmati saja semuanya,” ucap Jefri seraya memeluk Caroline dari belakang. 


“Huh, sombong,” ucap Caroline seraya memalingkan wajahnya dari Jefri. 


 "Nih Bi, untuk Bibi, jika ingin berbelanja gunakan kartu ini saja,” ucap Carolinne memberikan black card yang ada di dompet Jefri kepada Bi Michu. 


“Tidak perlu, Nyonya saya tidak ingin membeli apa pun karena semua kebutuhan saya sudah ditanggung oleh Tuan,” ucap Bi Michu menolak dengan sopan. Karena memang semua pekerja yang berada dibawah naungan Jefri, selain mendapatkan gaji yang besar, keluarga mereka juga akan dipenuhi kebutuhannya oleh Jefri.  


“Tidak apa, Bi terima saja. Jika Caroline berkata begitu,  di sini Caroline adalah ratunya jadi turuti saja apa katanya,” ucap Jefri yang masih memeluk pinggang Caroline dengan dagunya yang berada di bahu Caroline.


“Tapi, Tuan di dalam kartu ini jumlah uangnya sangat banyak,” tolak Bi Michu karena Bi Michu sendiri tau jika kartu di dalam kartu Jefri tidak mungkin isinya sedikit. Paling sedikit di dalam kartu itu berisi 100 triliun karena Bi Michu sendiri yang mengurus semua keuangan pribadi milik Jefri, yang masuk dari semua keuntungan bisnis dan saham yang Jefri miliki. 


“Tiidak apa Bi … bukankah Bibi sendiri yang mengatakan jika uang Jefri tidak akan pernah habis?” ucap Caroline. 


“Baiklah, Nyonya terimakasih banyak,” ucap Bi Michu dan menerima kartu Black Card itu. 


“Baiklah, Sayang … aku tinggal dulu, ya.” Jefri mencium kening Caroline dengan mesranya dan Caroline hanya menganggukan kepalanya. Jefri pun pergi meninggalkan Caroline. 


“Bi, apa Jefri biasanya ke kantor memang menggunakan pakaian santai seperti itu?” ucap Caroline yang melihat Jefri akan mengikuti rapat dengan menggunakan pakaian santai. 


“Iya, Nyonya. Tuan memang sering kali ke kantor menggunakan pakaian santai,” jawab Bi Michu.


“Ck ck ck … memang benar, sultan memang bebas,” gumam Caroline. 


***


Siang harinya, Caroline berinisiatif untuk menjemput anak-anaknya untuk makan siang bersama. Namun, siapa sangka jika Ronald menunggunya di depan sekolah anak-anaknya dengan menggunakan kemeja dan celana panjang. Bahkan pria itu tak merasa jera dengan apa yang dilakukan Jefri beberapa hari lalu, sampai ia kembali mencari Caroline.  

__ADS_1


“Hallo cantik, lagi nunggu anak-anak ya,” ucap Ronald dengan merapatkan dirinya dengan Caroline. 


Namun, Caroline tidak menjawab dan menjauh dari Ronald. “Kenapa kau menjauh?” ucap Ronald yang berusaha menggapai pundak Caroline, tetapi Caroline melangkah menjauh.  


Melihat itu Ronald benar-benar dikuasai amarahnya dan dengan gerakan cepat Ronald meraih pinggang Caroline dan berkata, “Bagaimana jika kita makan aku yang traktir. Biar anak-anak nanti di jemput oleh sopirku, bagaimana?” 


Caroline mendorong tubuh Ronald dengan keras hingga membuat jarak di antara mereka. Namun, saat Caroline akan melampiaskan amarahnya, Caroline melihat sebuah pisau yang berada di balik lengan kemeja Ronald. Bahkan setelah Caroline mengamati lebih jelas lagi ternyata pisau itu bukan hanya ada di balik lengan kemejanya melainkan di kerah dan di balik kerah bajunya dan di balik sabuk pinggangnya. 


“Gawat aku tidak membawa pengawal sama sekali. Jika aku menyinggung kemungkinan nanti dia akan menyerangku, aku tidak bisa membahayakan diri karena di dalam perutku masih ada nyawa yang harus aku lindungi. Sebaiknya aku ikuti saja permainannya dulu,” batin Caroline. 


“Baiklah tapi aku yang memilih tempatnya,” ucap Caroline berusaha untuk bersikap setenang mungkin. 


30 menit mereka berkendara sampai mereka berhenti di restoran Mun, restoran tempat Jefri melakukan rapat. Saat Caroline masuk ke dalam restoran, Caroline melewati ruangan VVIP yang di tempati Jefri untuk mengadakan rapat. Ternyata semuanya berjalan sesuai rencana Caroline, Jefri melihat Caroline melewati ruangannya. “Jose, selidiki apa yang dilakukan istriku di restoran!” bisik Jefri karena masih dalam suasana rapat. 


Di sisi Caroline, Caroline mulai khawatir jika Jefri tidak melihatnya. “Ya tuhan … semoga Jefri melihatku, jika tidak bayiku dalam bahaya,” batin Caroline. 


15 menit berlalu dan Jefri masih khawatir karena Jose tak kunjung membawa kabar apa pun. “Tuan, gawat … nyonya dalam bahaya!” teriak Jose. Jose smpai lupa jika saat itu sedang ada rapat dalam ruangan. 


Semua petinggi perusahaan yang hadir berbisik, dan ruangan itu mulai riuh, sampai-sampai membuat amarah Jefri mencapai puncaknya. “Diam … jika ada yang menyebarkan hal ini aku akan menghabisnya saat itu juga!” Ancam Jefri yang mana membuat semua petinggi perusahaan dan juga mitra perusahaannya yang hadir saat itu bungkam. Siapa pun tau jika Jefri tidak pernah main-main dengan ucapanya dan tidak akan ada yang bisa menang melawannya. Hal itu membuat semua orang terdiam dan menganggunakan kepalanya. 


“Semuanya bubar, rapat akan dilanjutkan besok,” ucap Jefri dengan tegas.


Setelah semuanya pergi, Jefri pun berkata, “Jose, apa yang terjadi?” 


“Tuan, saya melihat nyonya ke sini dengan seorang pria, jika tidak salah pria itu adalah Ronald Orlando pewaris dari perusahaan Orlando. Saya juga melihat jika di balik lengan baju dan kerah leher pria itu terdapat pisau,” ucap Jose. Lalu Jose memperlihatkan rekaman CCTV dan berkat, “Tuan, ini rekaman CCTV yang sudah saya minta dari karyawan di sini.” 


Jefri memperhatikan rekaman CCTV itu dengan cermat dan sesekali Jefri memperbesar rekaman itu saat ia melihat sesuatu yang aneh. 


 

__ADS_1


“Dia tidak sendiri, masih banyak orang yang bersembunyi di restoran ini,” ucap Jefri. 


__ADS_2