
Mendengar ucapan Alex, membuat hati Jefri sebagai seorang ayah sangat tersakiti. Ayah siapa yang tidak sakit mendengar jika anaknya sendiri tidak mau mengakui ayahnya sendiri sebagai ayah.
Rasanya hati Jefri sangat teriris mendengar perkataan Alex yang sangat menusuk hatinya. Tapi Jefri sadar itu semua terjadi karena kesalahannya di masa lalu yang sudah ia lakukan kepada Caroline.
Jefri berusaha untuk menetralkan rasa sakitnya saat ini, dan berjongkok di depan Alex mensejajarkan tingginya dengan Alex yang sedang dikuasai oleh amarah.
“Alex, sayang … dengarkan penjelasan papa dulu sayang …,” ucapnya mencoba memegang bahu Alex. Tetapi Alex menjauh dari Jefri, ia tidak ingin orang yang menyakiti mamanya menyentuh dirinya. Di dalam dirinya sudah sangat marah saat mengetahui jika Jefri menjadikan mamanya sebagai budak.
“Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan! Aku sudah tau semuanya, apa yang papa lakukan kepada mama sampai mama memutuskan untuk meninggalkan.” Alex membalik badannya dan melangkahkan kakinya ingin keluar dari ruangan Jefri.
Tetapi Jefri dengan cepat menahan tangan sang putra, mana mungkin ia membiarkan putranya pulang sendirian di malam hari seperti ini. Ia khawatir jika nanti ada seseorang yang menyakiti Alex saat berada di jalan.
“Jangan pulang sendiri, Nak … ini sudah malam, sangat bahaya untukmu.” Alex hanya melirik sedikit ke belakang melihat Jefri dengan tatapan tajam.
“Jangan panggil aku Nak! Aku bukan Anakmu!” bentak Alex.
Jefri tidak sanggup lagi menahan rasa sakit di hatinya. Air mata yang sedari tadi ia tahan untuk tidak keluar akhirnya mengalir dengan perlahan dari sudut matanya.
“Dengarkan Papa, sayang … itu semua memang kesalahan Papa, tapi didalamnya masih terdapat kesalah pahaman sayang,” ucap Jefri, yang mana akhirnya Jefri menceritakan semua kejadian dari awal sampai akhir kepada Alex.
Setelah mendengar penjelasan dari Jefri, Alex merasa sedikit tenang dan berkata, “Tetap saja, itu kesalahanmu! Aku hanya akan memaafkanmu setelah mama juga memaafkanmu. Aku tidak bisa mengambil keputusan, Aku hanya akan mengikuti keputusan mama.”
Walaupun Alex sudah merasa sedikit tenang tetapi Alex tetap tidak bisa memaafkan Jefri sebelum Caroline memaafkannya.
Jefri menghembuskan nafasnya kasar dan berkata, “ Baiklah sayang … jika itu keputusanmu, Papa janji papa akan membuat mamamu memaafkan papa, karena papa juga sangat menyayanginya, papa akan melindungi kalian dengan nyawa papa sendiri.” Jefri tersenyum melihat ke arah Alex.
Alex melihat ada kesungguhan dalam setiap kata-kata sang papa, merasa sedikit senang, walau dia belum bisa memaafkan papanya sampai mamanya memaafkan papanya.
__ADS_1
“Terserah!” Aura dingin masih tetap melekat dalam ucapan Alex, yang mana dapat Jefri rasakan hal itu.
“Baiklah, boy tapi biarkan papa mengantarmu pulang, ya? Papa tidak tenang membiarkanmu pulang sendirian, di luar sana sangat berbahaya sayang ….” Jefri berusaha membuat Alex mengerti akan kekhawatiran yang ia rasakan.
Alex terlihat seperti sedang mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Jefri dan berkata, “Baiklah … tapi bukan berarti aku memaafkanmu, aku hanya akan memaafkanmu jika mama memaafkanmu juga!” ucap Alex tegas.
“Iya, boy ….” Alex langsung melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil.
Ia tentu tau di mana mobil Jefri karena saat Alex turun dari taksi Alex melihat mobil yang sama dengan yang Jefri gunakan di dalam berita yang Alex baca di internet.
Jefri tentu saja langsung mengejar putranya begitu saja. Dan saat sampai di parkiran Jefri dan Alex langsung naik ke dalam mobil bersamaan. Tetapi sebelum Jefri menjalankan mobilnya, ia sempat menghubungi Miko dan menyuruhnya untuk mengamankan jalan menuju Apartemen Carzol.
Jefri tentu tau di mana Caroline, karena dia sempat menaruhkan alat pelacak pada Handphone Caroline saat, Caroline berada di rumahnya.
tentu saja tidak hanya itu. Jefri juga menaruhkan alat yang mana terhubung kepada handphonenya. Handphonenya akan berbunyi dan mengeluarkan cahaya berwarna hijau jika Caroline dalam bahaya.
Jefri menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan suasana di dalam mobil saat ini terasa sangat canggung.
Jalanan saat ini sangat sepi karena Jefri yang memerintahkan Miko untuk mengamankan jalanan dari musuh-musuhnya yang berkeliaran, karena Jefri tidak ingin anaknya berada dalam bahaya.
“Hmm … Nak, apa kau ke apartemen papa tidak memberi tahu siapa pun?” Jefri berusaha untuk membuka pembicaraan dengan Alex.
“Tidak,” jawab Alex, singkat padat dan jelas.
“Lain kali kau tidak boleh melakukan hal itu lagi, ini sudah jam 1 malam, sangat bahaya bagimu berkeliaran di jam segini apa lagi tanpa ada orang yang menjagamu. Lain kali jika ingin keluar beritahu mamamu dulu. Itu akan lebih aman,” ucap Jefri menasehati putranya.
“Hmmm …,” Alex hanya menjawab dengan berdehem saja, tanpa menoleh ataupun mengatakan hal lainnya.
__ADS_1
Jefri bingung apalagi yang harus ia katakan, karena Jefri tidak pernah berbasa-basi dengan seseorang. Suasana hening kembali tercipta di dalam mobil itu, sampai akhirnya mereka sampai di apartemen Carzol.
Alex tanpa mengucapkan sepatah kata pun turun dari mobil Jefri dan melangkahkan kakinya menuju apartemen Carzol.
Jefri yang berada di dalam mobil hanya tersenyum melihat kepergian Alex dan bergumam, “Dia sangat mirip denganku, tidak salah jika dia adalah anakku, di masa depan nanti dia akan mewarisi semua yang aku punya aku yakin itu.”
Setelah mengatakan itu tiba-tiba saja Jefri teringat akan perkataan Alex saat di apartemennya.
“Maafkan aku Caroline, seandainya aku memeriksa identitasmu dulu, semua ini tidak akan terjadi. Kita pasti bisa hidup aman damai saat ini.Aku sangat mencintaimu Caroline aku tidak akan membiarkan lelaki lain mengambilmu dariku.” Tekadnya pada dirinya sendiri.
Jefri mengeluarkan handphonenya dan menelepon Jose yang mana sedang berada di Inggris.
[Hallo, Tuan, apa ada yang bisa saya lakukan?] tanya JOse di seberang panggilan.
[Kau periksa identitas Carzol dan juga latar belakangnya!] ucap Jefri tegas.
[Baik Tuan akan saya lakukan,] jawab Jose
[Dan jangan lupa untuk menjaga Caroline jangan sampai ia mengetahui keberadaan kalian, dan jangan sampai dia terluka!]
[Baik Tuan saya paham]
Setelah mendengar jawaban Jose, Jefri segera mematikan sambungan telephonenya secara sepihak dan langsung melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.
Ke esokan paginya Apartemen Carzol menjadi sangat ribut setelah Axel mengatakan jika Alex sang kakak tidak bangun-bangun sedari tadi apalagi juga.
Hal itu membuat Caroline panik karena mengira jika Alex sedang sakit. Saat Caroline masuk kedalam kamar anak-anaknya. Caroline melihat Alex yang tidur dengan lelap. Tetapi itu membuatnya dirundung rasa khawatir karena tidak biasanya Alex seperti ini.
__ADS_1