
Sinar matahari masuk ke dalam celah-celah jendela, hingga sinarnya mengganggu tidur sepasang kekasih yang sedang tertidur dengan lelapnya.
Caroline menggeliatkan tubuhnya saat merasa tidurnya terusik, badannya terasa sakit, bahkan seluruh tulangnya terasa ngilu. Caroline membuka matanya secara perlahan dan melihat dirinya tidur dalam pelukan Jefri.
'Aduhh … kenapa aku bisa sampai terlena akan sentuhannya … gagal sudah rencananya.'
Caroline secara perlahan melepaskan pelukan Jefri secara perlahan, dan berjalan menuju kamar mandi.
Lima belas menit berlalu, Caroline sudah keluar dari ruang ganti dengan memakai kemeja dan celana Sabrina, yang mana membuat Caroline sangat anggun.
Caroline melihat ke arah ranjang dan melihat Jefri yang sedang duduk tanpa menggunakan pakaian.
Jefri tersenyum ke arah Caroline, sedangkan Caroline masih marah dengan Jefri, memalingkan wajahnya.
"Sayang … apa kau masih marah denganku?" Jefri memeluk Caroline dari belakang.
Tetapi Caroline dengan cepat menepis tangan Jefri dan keluar dari kamar mereka. Jefri menghembuskan nafasnya kasar, "sepertinya hanya bisa mengikuti keinginannya saja."
Caroline sedang berada di kamar Alex dan Axel, membantu mereka bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Walau hidupnya saat ini sudah dipenuhi dengan kemegahan yang luar biasa, tetapi untuk masalah keluarganya, Caroline tidak mengizinkan orang lain yang melakukannya.
Bahkan Jefri pun sama, di mana yang biasanya Jefri selalu di urus oleh para maid-nya, sekarang Caroline yang turun tangan sendiri.
Mulai dari memilih baju saat pergi kantor dan juga makanan mereka, Caroline sendiri yang akan turun tangan, sangat berbeda dengan nyonya-nyonya dari kalangan atas lainnya.
Yang mana kebutuhan keluarga mereka akan dilakukan oleh para maid.
Jefri turun ke lantai bawah, tetapi tidak melihat keberadaan Caroline di sana.
"Bi, di mana Caroline?" tanya Jefri yang mana pandangannya masih melihat sekelilingnya untuk mencari Caroline.
"Nyonya berada di kamar tuan muda, Tuan," jawab Bi Michu, yang mana merupakan kepala pelayan di mansion Jefri.
Jefri langsung menuju kamar Alex dan Axel, Jefri menemukan Caroline sedang membantu Axel memakai seragam sekolahnya. Berbeda dengan Alex yang sudah sangat mandiri.
Alex sangat tidak suka jika dirinya diperlakukan seperti anak kecil, yang mana karakter tersebut diturunkan dari sang ayah.
"Sayang … jangan marah," ucap Jefri dengan bibirnya yang maju ke depan.
Bahkan Axel yang melihat kelakuan Jefri, hampir tertawa lepas.
"Jangan menyentuhku!" Caroline menepis tangan Jefri dan mendorongnya jauh darinya.
Jefri menghembuskan nafasnya kasar, "Baiklah … kau boleh bekerja di kantor, tetapi kau harus selalu dalam pengawasanku," ucap Jefri, yang terdengar tegas.
__ADS_1
Caroline tersenyum senang dan menganggukan kepalanya.
Melihat tingkah menggemaskan sang istri, Jefri mencium pipi kanan Caroline, dan berbisik, "Aku mencintaimu, sayang …."
"Papa, kau mengajarkan hal buruk kepada anak kecil!" ucap Alex yang masih berdiri di depan kaca, dan melihat semua yang dilakukan Jefri dari pantulan kaca.
"Ini hal baik, untukmu di masa depan. Kau bisa belajar dari Papa, cara menaklukan hati istrimu kelak," ucapnya tersenyum bangga.
"Auu …," ringis Jefri memegang pinggangnya yang di cubit oleh Caroline.
"Jangan dengarkan papamu, Lex." Caroline menatap tajam ke arah Jefri.
Jefri menghembuskan nafasnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Salah, lagi aku."
Hari ini adalah hari pertama Caroline masuk ke dalam perusahaan pusat Al Zero.
Caroline menganga melihat perusahaan milik sang suami yang begitu megahnya, gedung yang menjulang tinggi dan dinding kaca yang menjadi pembatas gedung tersebut.
Saat Caroline masuk ke dalam perusahaan seluruh pegawai, memandang Caroline dengan tatapan kagum. Tapi sebagian juga menatap Caroline dengan tatapan penuh nafsu karena Caroline yang memiliki body yang sangat bohay, sehingga menarik perhatian kaum hawa.
Salah satu HRD yang sudah di beritahu oleh Jefri bahwa ada pegawai baru yang akan datang hari ini. HRD tersebut dengan cepat datang ke arah Caroline dan bertanya, "Apa benar dengan Nona Caroline?"
"Iya, saya Caroline," jawab Caroline dengan tersenyum ramah.
Caroline masuk ke dalam perusahaan Al Zero dengan satu syarat yang dia berikan kepada Jefri.
Caroline hanya ingin menjalani kehidupan kantornya seperti karyawan lainnya. Dia tidak ingin di hormati atau memiliki teman yang mana hanya karena dia adalah istri dari Jefri Al Zero.
"Silahkan ikuti saya, Nona." HRD tersebut menuntun Caroline menuju tempatnya, yang sudah ditentukan.
Tak lama kemudian mereka sampai di ruangan manajer pemasaran.
Ya, awalnya Jefri ingin menaruh Caroline sebagai sekretaris CEO, tetapi Caroline menolak dan ingin memulai dari bawah.
Tetapi Jefri tidak mengizinkannya yang mana berakhir pada bagian Manajer pemasaran.
"Silahkan Nona, ini adalah ruangan Anda," ucap sang HRD dengan sopan dan ramah.
Caroline hanya membalas dengan senyuman dan menganggukan kepalanya.
Setelah HRD itu pergi Caroline menaruh bokongnya di atas kursi empuk yang sudah Jefri siapkan untuk Caroline.
Ya, saat Caroline meminta ingin menjadi manajer pemasaran, Jefri mengganti seluruh barang yang ada di sana dengan yang baru.
"Tidak bisakah, orang itu bersikap sewajarnya saja." Caroline merebahkan badannya di kursi dengan matanya yang melihat sekelilingnya.
__ADS_1
Siang hari. Jan istirahat.
Ting
Sebuah notifikasi pesan masuk dari handphone Caroline. Siapa lagi kalau bukan Jefri.
[Sayang … makan siang bareng yuk! Aku kan menyuruh seseorang menjemputmu.]
[Tidak, nanti ada yang lihat jika aku masuk ke dalam ruangan mu]
Caroline mematikan handphone miliknya karena, ia tau jika setelah ini Jefri pasti akan mengirimkan banyak pesan kepadanya.
Sedangkan di ruangan CEO
"Astaga … masih untung aku menyayanginya, jika tidak sudah aku keluar dia." Jefri menghembuskan kasar nafasnya.
Caroline sedang berjalan menuju kantin perusahaan. Dari arah lain, seseorang memandang Caroline dengan tatapan terkejut.
"Ini dia, aku akan membalaskan dendam Kakak." Wanita itu tidak lain adalah Martha, yang mana adalah adik Marcell.
Awalnya Mona ingin memasukan Marcell ke dalam perusahaan Al Zero, tetapi karena marcell saat ini sedang berada di rumah sakit, jadi Marthalah yang menggantikannya untuk sementara.
Martha tersenyum licik dan berjalan menuju Caroline. "Kakak … kita makan bersama, ya?"
Caroline tidak menjawab dan terus berjalan menuju kantin. Tanpa Martha sadari Caroline tersenyum tipis, inilah tujuan utama Carolin masuk ke dalam perusahaan Al Zero.
Caroline sangat mengetahui karakter dari ibu tirinya, dia tidak akan tinggal diam jika orang yang mereka benci berada di atas mereka.
Oleh sebab itu Caroline menebak jika Martha akan mencari kenalan orang dalam untuk memasukan salah satu putrinya ke dalam Al Zero group.
Dan tebakan Caroline bernar, Mona memasukan Martha ke dalam perusahaan untuk bisa menyaingi posisinya.
"Kak, apa kau marah kepadaku karena aku tidak bisa menghentikan ibu dan kakak menjualmu?" Martha menunjukan bakar aktingnya, tetapi bakatnya bahkan lebih buruk dari sang kakak yang itu Marcell.
Caroline masih tidak menanggapi semua omongan Martha.
"Kakak, aku tau saat ini kau sudah menjadi simpanan Om-om. Tetapi itu bukan kesalahan ibu dan kakak. Mereka juga terpaksa …," ucapnya dengan menangi buaya di depan Caroline.
Carolline masih terdiam dan akan melihat seberapa besar, kemampuan sepupunya ini dalam menjatuhkannya.
Orang-orang yang mendengar apa yang Martha katakan pun mulai berkumpul dan menjadikan Caroline dan Martha sebagai pusat perhatian di kantin.
Martha tersenyum tipis, melihat semua orang-orang mulai berkumpul dan memperhatikan mereka.
"Aku tau aku salah … aku minta maaf, kakak. Tapi aku juga ingin bertanya, kak." ucapnya tertunda, "Aku sebelumnya melihatmu di bermesraan bersama dengan dua lelaki yang berbeda dan waktu yang berbeda. Apa hubunganmu dengan mereka, Kak?"
__ADS_1
Martha tersenyum licik dengan samar, dan menunjukan foto Caroline dengan lelaki yang Martha sebut tadi.