Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
16. Jefri frustasi


__ADS_3

Wajah Jefri mulai memerah, hatinya mulai tidak tenang, seperti ribuan panah yang menusuk hatinya seperti itulah yang Jefri rasakan saat ini.


Baru saja Jefri mengakui perasaannya kepada dirinya sendiri, tetapi bagaikan diterjang ombak. Orang yang dicintainya menghilang seperti terbawa ombak.


[“Aku tidak mau tau, kalian harus menemukannya, di negara mana pun dia berada. Jika perlu cari di seluruh penjuru dunia!”] ucap Jefri dengan mukanya yang sudah merah padam.


Tut


Jefri menutup handphonenya. Dan melemparnya ke arah sofa. Jefri duduk dengan kedua sikunya yang bertumpu pada kedua lututnya masing-masing.


Jefri mengusap wajahnya kasar. Miko yang melihat hal itu mengangkat sebelah alisnya dan berkata, “Ada apa? Kenapa mukamu seperti itu?”


Dengan kepala yang tertunduk dan tangan yang berada di atas kepalanya Jefri menjawab, “Caroline … kabur.”


“Apa?! Kenapa bisa?” tanya Miko kaget.


Jefri tidak menjawab pertanyaan Miko. Pikiranya masih kalut dengan hilangnya Caroline.


“Lalu kau untuk apa hanya duduk diam saja, sebaiknya kita cek seluruh CCTV yang ada di negara ini untuk mencari ke mana perginya Caroline,” usul Miko.


Tanpa berkata sepatah kata pun, Jefri beranjak dari duduknya dan duduk di dekat Miko dengan membawa Laptop yang harganya ratusan juta.


Jefri mulai meretas semua keamanan yang ada di negara mereka, dan melihat seluruh rekaman CCTV yang ada.


Tak butuh waktu lama bagi seorang Jefri meretas CCTV yang ada di dalam kawasanya. Hanya dalam waktu 20 menit Jefri sudah berhasil dengan mudah masuk ke dalam keamanan yang ada di negara mereka.


Tapi sayangnya setelah sekian lama Jefri melihat rekaman CCTV itu, Jefri tidak menemukan keberadaan Caroline, Jefri hanya bisa melihat pergerakan Caroline sampai pada CCTV di belakang mansionnya di mana Caroline berhasil meloncati tembok tinggi milik mansion Jefri.


Setelah rekaman itu, Jefri tidak lagi menemukan bukti apa pun, ataupun rekaman yang menunjukan keberadaan Ceroline.


Bahkan rekaman CCTV yang ada di bandara pun Jefri tidak melihatnya. Jefri mengacak-acak rambutnya.


Bahkan Miko baru kali ini melihat sahabatnya ini sangat frustasi, tidak pernah ia melihat Jefri seperti ini bahkan Saat aurel dinyatakan koma jefri tidak sefrutasi ini.

__ADS_1


Singapore


Bandara Changi Airport


Caroline baru saja keluar dari bandara Changi Airport dan sedang mencari taksi. “Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa kembali ke kampung nenek dan kakek,” gumam Caroline dengan melihat sekelilingnya.


Caroline menghirup dalam-dalam udara di mana tempat ayahnya di besarkan. Kakek dan nenek Caroline berasal dari singapore, mereka bukan dari kota, mereka hanya tinggal di kampung kecil dengan perekonomian pas-pasan.


Tetapi walau dengan perekonomian yang pas-pasan, kakek dan nenek Caroline memiliki rumah di ibu kota Singapore. Walau tidak besar tetapi rumah itu cukup untuk tinggal satu keluarga. Dan setelah kakek, nenek Caroline meninggal, rumah itu diwariskan kepada Caroline.


Dan saat ini Caroline berencana ingin tinggal di rumah yang mana dulunya itu adalah rumah kakek dan nenek Caroline.


Tak lama kemudian sebuah mobil taksi berhenti di depan Caroline. Caroline masuk begitu saja, dengan tangannya yang membawa tas bag yang berisi uang.


Tak lama kemudian Caroline sampai di rumah lama milik kakek dan neneknya. Walau sudah lama dan tidak terawat, tetapi rumah itu masih terlihat sangat kokoh dan bagus.


Caroline berjalan masuk ke dalam rumah itu, begitu masuk, Caroline melihat begitu banyak foto kakek, nenek, ayah dan ibunya bersama di dalam foto itu. Ada juga foto lengkap yang bersama dengan dirinya.


Tiba-tiba saja air mata Caroline mengalir dari pelupuk matanya, Caroline mengambil salah satu dari foto yang ada di depannya. Caroline mengusap foto dirinya bersama dengan kakek, nenek, ayah dan ibunya.


"Ayah, ibu, nenek, kakek, aku rindu kalian, aku rindu pelukan kalian, kasih sayang kalian, aku rindu dengan manjaan yang selalu kalian berikan kepadaku, aku ingin bersama kalian seperti dulu, hisk … hisk …," ucap Caroline terisak tangis.


Caroline teringat dengan masa-masa di mana dirinya selalu dimanja dan dibelai dengan kasih sayang yang berlimpah di rumah ini, rumah ini adalah rumah terindah yang pernah dia miliki.


Dua Minggu berlalu


Inggris


Jefri merasa sangat frustasi karena tidak menemukan Caroline, Jefri bukan mempermasalahkan uang yang Caroline bawa, melainkan Jefri sudah bener-bener mengklaim Caroline menjadi miliknya, tetapi sekarang Caroline kabur. Dan itu benar-benar membuatnya kehilangan akal.


Sudah berbagai cara Jefri lakukan untuk menemukan Caroline, tetapi Jefri sama sekali tidak menemukan jejak Caroline. Caroline bagaikan ditelan bumi, yang menghilang begitu saja.


Saat ini Jefri sedang berada di ruangan CEO yang mana Jefri sedang duduk di atas kursi kekuasaan, dengan wajahnya yang terlihat sangat frustasi sedang manatap layar laptopnya. Mencari beberapa rekaman CCTV yang ada di sekitar toko atau apa pun yang ada kaitannya dengan Caroline.

__ADS_1


Tok tok tok


"Kau masih mencari Caroline?" tanya Miko dengan alisnya yang terangkat dan tangan yang masuk ke dalam saku celananya berjalan ke arah Jefri.


Jefri tidak menjawab ia masih terus memperhatikan layar laptopnya.


"Nih, makan dulu, setelah itu kau lanjut mencarinya," ucap Miko dengan meletakan makanan yang tersaji dengan mewah di atas meja Jefri.


Jefri mencium bau yang tidak sedap dari arah makanan itu dan dengan cepat menutup mulutnya.


"Apa yang kau bawa ini? Kenapa sangat bau sekali, bawa pergi!" ucap Jefri dengan suaranya yang tegas.


Miko mengerutkan alisnya mendengar apa yang dikatakan oleh Jefri. Tidak biasanya Jefri seperti ini, biasanya Jefri selalu makan apa saja yang dibawa oleh Miko, bukan tabiat Jefri jika itu membuang makanan.


Karena Jefri sama sekali tidak suka membuang-buang makanan. Karena Jefri tau bagaimana sulitnya dia dulu saat masih dalam keadaan krisis, bahkan makan saja tidak dapat ia beli, begitu juga dengan Jose dan Miko yang ikut merasakan krisis itu karena mereka selalu mengikuti Jefri ke mana pun Jefri pergi.


"Ini makanan yang biasanya kau makan, kenapa kau mengatakan ini bau? Ini tidak bau," ucap Miko sambil mengangkat hidangan itu dan mengendus-endusnya.


"Aku tidak mau, kau bawa keluar!" perintah Jefri dengan mengibaskan tangannya tanda menjauh.


Miko membawa hidangan itu keluar sampai di depan pintu hidangan itu diambil oleh sekretaris Jefri dan Miko kembali masuk ke dalam ruangan Jefri.


"Lalu kau ingin makan apa?" tanya Miko dengan pandangannya yang tertuju pada Jefri.


"Aku mau es cendol," ucap Jefri.


Miko yang mendengar kata itu mengerutkan dahinya dan berkata, "Es cendol?" tanya bingung. Baru pertama kali Miko mendengar kata-kata yang terasa aneh di telinganya.


"Iya, aku ingin makan es cendol, makanan seperti ini," ucap Jefri dengan menunjukan foto es cendol yang sudah ia telusuri dari google.


Miko melotot begitu Jefri memperlihatkan layar laptopnya. Miko tidak menyangka jika Jefri menelusuri makanan di google.


Jika dulu mana pernah seorang Jefri turun tangan untuk menelusuri google, semua pekerjaan itu dikerjakan oleh asisten ya.

__ADS_1


'Tidak biasanya Jefri seperti ini, Jefri lebih terlihat seperti ibu hamil yang sedang ngidam.' Batin Miko.


__ADS_2