
Aurel segera mematikan lampu senternya, dengan menahan nafasnya sebisa mungkin. Penjaga itu mlihar ke arah senter lampu itu, tetapi saat ia menghampiri tempt itu dia tidak melihhat apa pun.
Penjaga itu pun berbalik. Menuju ke arah jeruji besi di mana Alex dan Axel di kurung. penjaga yang menggunakan baju serba hitam itu pun memicingkan matanya. Menatap Alex dan Axel dengan tajam. Tetapi yangg di tatap pun acuh tak acuh.
sedangkan Aurel yang berada di balik tumpukan karuung yang berada di sudut ruuangan itu pun mengintip keluar di lihatnya keadaan sudah aman. Aurel segera keluar dari tumpukan karun itu. Aurel mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya walaupun gelap tetapi samar-samar Aurel dapat melihat benda yang ada di sekitarnya.
Aurel berjalan mengendap-ngendap ke arah di mana ia melihat adanya Alex dan Axel tadi.
Ting
suara benturan antara jeruji besi itu dengan dengan gelang emas yang Aurel gunakan.
“Siapa?” ucap Alex panik, karena tidak biasanya penjaga atau pengawal datang dalam kegelapan seperti ini tapa menggunakan obor atau pun senter.
“Suuttt … ini bibi,” ucap Aurel menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.
“Kenapa, Bibi bisa sampai sini?” tanya Alex saat mengetahi jika itu adalah Aurel.
“Sssttt … kecilkan suaramu!” Aurel melirrik ke arah pintu di mna tempat penjaga itu berjaga.
“Jangan baganyak bicara, panjang ceritanya. Ini bibi ada bawa minum, berikan pada Axel dulu. bibi cuman bawa satu.” ucap Aurel dengan suara yang sangat pelan.
Alex menganggukan kepalanya, dan mengambil minuman yang Aurel bawa. “Untuk saat ini bibi pulang dulu, bibi akann kembali dan membawa kalian pulang. Kalian bertahanlah.”
Aurel langsung pergi begitu saja, saat melihat jika di sekelillingnya masih aman.
Axel meminumkan minuman itu ke Axel yang mana sudah mengalami dehidrasi.
Saat Aurel sudah berada di depan mansion yang di masiki oleh Alex dan Axel palsu. Aurel langsuk masuk ke dalam mobil dan memerintahkan sopir untuk melaju menuju mansion Zail.
Sesampainya di mansion, Aurel langsung masuk ke dalam dan buru-buru menuju ruang kerja Zail.
Brakk
Zail kaget dan meliht ke arah pintu. Dilihatnya sang istri masuk ke dalam dengan raut wajah yang terlihat sangat panik.
“Ada apa, Sayang … kenapa kau sampai ngos-ngosan seperti itu?” Zail menghapiri Airel dan memegang kedua pundak Aurel, yang sedang mengatur nafanya.
__ADS_1
Aurel mengangkat kepalanya melihat Zail yang tingginya jauh berada diatasnya, dan memegang dadanya, lalu berkata, “A-a-aku, menemukan apa yang sebenarnya terjadi.” Aurel menundukan kepalanya, Nafasnya masih belum benar-bbenar normal.
“Tenang dulu, Sayang. Tarik nafas dulu, Ingat jangan terlalu lelah, ingat anak kita di dalam sini.” Zail mengusap perut Aurel dengan lembut.
“Tapi ini ada yang lebih penting lagi!” Aurel terlihat sangat panik.
“Apa sayang?” Zail mengusap rambut Aurel.
“Alex dan Axel ….” Aurel mengusap dadanya.
“Alex an Axel kenapa?” tanya Zail dengan menaikan sebelah alisnya.
“Alex dan Axel, mereka palsu!” ucap Aurel dengan suara yang tercekat.
“Hah? Bagaimana bisa Alex dan Axel palsu?” Zail di buat semakin bingung dengan Aurel.
Aurel menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan perlahan. Aurel mulai menceritakan apa yang baru saja ia lihat kepada Zail.
***
Malam pun tiba, di mansion Jefri Caroline meras cemas, karena Jefri yang belum memperlihatkan batang hidungnya. Padahal jam pulang kantor telah usai sedari tadi.
“Aku sedang menunggu Jefri pulang, sedari tadi aku tidak melihat batang hidungnya.” Carolin terlihat cemas dengan menggigit kuku jarinya.
Michu mengangkat sebelah alisnya dan berkata, “Bukankah tadi tuan sudah mengabari jika saat ini tuan akan lembur selama 2 hari.”
Caroline menoleh ke arah Michu dan berkata, “Benarkah? kepada siapa dia mengatakannya?”
“Tadi tuan menelepon telepon rumah, dan mengatakan jika beliau akan lembur selama dua hari. Dan menyuruh untuk mengatakan kepada Nyonya agar tidak menunggu beliau.” Michu menceritakan semua rangkaian ceritanya dan kembali berkata, “Sepertinya Selena tidak mengatakannya kepada Anda.”
Caroline menganggukan kepalanya dan kembali berkata, “Anak-anak di mana?”
“Tuan muda ada di dalam kamar, Nyonya,” ucap Michu.
“Hmmm aneh, mereka tidak biasanya tidur lebih awal.” Caroline melihat pergelangan tangannya yang mana terdapat jam tangan emas yang sangat serasi dengan kulit Carolin.
“Baiklah, aku akan tidur dengan mereka.” Caroline melangkahkan kakinya menuju kamar si kembar.
__ADS_1
cklek
Saat pintu kamar dibuka, Alex dan Axel terlihat kaget. Dan memasukan tablet ke bawah bantal.
“Kalian belum tidur sayang?” tanya Caroline berjalan menghampiri Alex dan Axel yang berad di atas ranjang.
“Belum, Mi.” Axel menggelengkan kepalanya dengan wajahnya yang terlihat cemberut.
“Kenapa dengan wajahmu Xel?” CAroline mengusap wajah putranya itu dan duduk di atas ranjang.
“Aku ingin masakan, Mami.” Axel memperlihatkan senyum yang menawan di wajahnya.
“Baiklah, akan Mami buatkan. Tapi kalian harus bantu Mami, Okey?” ucap Caroline menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf ‘O’
“Kenapa harus, kami bantu, Mi? Bukankah ada maid?” Axel memiringkan kepalanya dan mendapat senggolan dari Alex yang berada di sampingnya.
Namun Axel tidak mengerti, maksud dari senggolan Alex. Axel hanya melihatnya sekilas lalu kembali melihat ke arah Caroline. Alex semakin marah melihat Axel yang tidak mengerti akan kodenya.
‘Tidak biasanya mereka seperti ini? Alex dan Axel biasanya tidak perna mengandalkan pelayan. Lalu apa yang aku dengan barusan? Ah … mungkin mereka sedang malas saja.’ Batin Caroline.
“Apa kalian sedang malas hari ini? Tidak biasanya kalian mengandalkan para maid.” Caroline menaruh jari telunjuknya di dagu.
Mendengar hal itu membuat Axel tersadar akan kesalahan yang sudah ia lakukan. Dengan cepat Axel menganggukan kepalanya agar tidak membuat Caroline curiga.
“Baiklah, biarkan mami saja yang membuatnya … kalian tinggal duduk dan tunggu di meja makan.” Caroline menunjuk ke arah Alex dan Axel.
Alex dan Axel mengembangkan senyumnya saat merasa jika Caroline tidak curiga kepada mereka.
***
Di ruangan yang gelap dengan pencahayaan yang minim. Seorang pria dewasa, sedang berdiri di depan jendela besar yang ada di ruangan itu, kedua tangannya berada di belakang. Dengan tangan kiri yang menggenggam pergelangan tangan kanan.
“Marco, sepertinya rencana kita berjalan dengan lancar. Hanya tinggal menunggu kedua bocah itu memberikan laporan,” ucap Fahzan masuk ke dalam ruangan gelap itu dan memdudukan bokongnya di sofa yang cukup luas.
“Hmmm … pastikan mereka melakukannya dengan benar, aku tidak ingin terdapat sedikit saja kesalahan,” ucap Marco yang mana tatapan matanya seakan tidak lepas dari jendela besar itu.
“Okey.” Fahzan keluar dari ruangan itu, dengan santai.
__ADS_1
“Aku, akan membalas semua yang sudah kau lakukan dulu, Jefri. kau menghancurkan semua organisasiku!”