Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
50. Jalan-jalan


__ADS_3

Caroline sudah berpakaian rapi, dengan rambut yang digerai. Membuatnya terlihat anggun. 


"Sayang … kita jalan-jalan, yuk." Caroline terlihat mengedip-ngedipkan matanya dengan gaya centilnya ke arah Jefri. 


"Jika kau memang ingin jalan-jalan tidak usah seperti itu sayang … katakan saja." Jefri mencium kening Caroline. 


"Ayo!" Caroline menarik tangan Jefri. 


Saat berada di parkiran mereka menaiki mobil mewah milik Jefri. "Kita kemana sayang?" 


"Terserah. Intinya aku mau kita ke tempat yang indah, yang bisa melihat pemandangan alam," ucapnya dengan senyum yang mengembang dengan sangat alami. 


"Siap tuan putri," ucap Jefri mencium tangan Caroline dan menginjak pedal gasnya dengan sangat cepat. 


Caroline menikmati perjalanan mereka. Angin yang menerpa wajahnya sampai membuat rambutnya beterbangan. 


Bahkan Caroline sampai membuka cardigan yang ia gunakan untuk menutupi pundaknya yang terlihat jelas. 


"Sayang, pakai itu! Jangan di lepas," ucap Jefri melotot ke arah Caroline. 


"Tidak … angin ini sangat membuatku terbang, hihi …," Caroline cengengesan dengan mengibas-ngibaskan rambutnya.


Sampai akhir Jefri tak tahan melihat tubuh istrinya yang terbuka seperti itu, memperlihatkan bagian tubuh kekuasaannya. 


Kittttt


Jefri mengerem mobil dengan mendadak. "Jefri apa yang kau lakukan kau ingin kita mati saat ini juga!" Caroline menatap tajam ke arah Jefri yang berjalan memutar menuju pintu tempat dirinya duduk. 


Mobil yang digunakan Jefri adalah jenis mobil cabriolet, yang mana mobil itu tidak beratap dan biasa digunakan untuk mendongkrak level kekecean seseorang. 


 Dengan cekatan Jefri mengambil cardigan yang Caroline gunakan tadi dan memakaikannya kepada Caroline dengan kencang dan berkata, "jika kau berani melepaskannya lagi, maka aku akan membawamu kembali ke hotel dan melanjutkan aktifitas kita yang tertunda tadi pagi!" ucap Jefri melotot ke arah Caroline. 


Dan saat itu juga Caroline terdiam seketika. Dengan kepalanya yang mengangguk cepat. 


Jefri kembali melajukan mobilnya dengan cepat, menuju lokasi yang mana sudah lama tidak ia kunjungi. 


Saat sampai di lokasi, Jefri melihat ke arah Caroline, dan ternyata Caroline sedang tertidur pulas. 


Jefri mengusap pipi Caroline, dan bergumam, "sepertinya istriku semakin hari semakin cabi." 

__ADS_1


Jefri tersenyum dengan sangat manis, melihat Caroline yang tidur seperti anak kecil, dengan mengusap jempolnya. 


"Kau sangat lucu sayang. Sebaiknya aku abdikan momen ini," ucapnya dengan mengeluarkan handphone miliknya dan 


Ckrek


"Hihi," tawanya cekikikan saat melihat foto istrinya. 


"Sayang … bangun yuk, ini sudah sampai. Apa kau ingin melewatkan momen ini?" Jefri menoel-noel pipi chubby Caroline.


"Ummm …." Suara lenguhan Caroline terdengar dengan membolak balikan badannya. 


"Apa kita sudah sampai? Bagaimana dengan pemandangan yang aku inginkan?" Tanya Caroline melihat ke arah Jefri dengan matanya yang menggambarkan sebuah harapan. 


Jefri tidak menjawab tetapi Jefri turun dari mobil, Caroline heran melihat itu dan saat Caroline memutar pandangannya ke arah belakang Caroline melotot. 


"Apa ini bukan mimpi? Bagaimana bisa ada pemandangan seindah ini?" Caroline menganga melihat sekelilingnya yang mana merupakan pinggiran tebing yang dikelilingi dengan bunga mawar dan melati. 


Caroline turun dari mobil tanpa menggunakan alas kaki, saat kakinya menyentuh tanya alangkah bahagianya dirinya, ternyata tanah yang ia pijak dilapisi dengan rerumputan yang tebal, yang mana membuat kakinya merasa nyaman. 


"Wahhh … ini benar-benar luar biasa, ini semua berada di luar ekspektasiku." Caroline melihat sekelilingnya yang mana ternyata tempat ini berada di tebing dan sangat indah dengan bunga mawar melati dan gemitir yang mengelilinginya. 


Caroline menoleh ke arah Jefri dan wajahnya berbinar cerah saat melihat Jefri yang membawa rangkaian bunga dengan coklat di dalamnya. 


Caroline berlari menuju Jefri, air matanya berjatuhan saat melihat Jefri yang tersenyum kepadanya. 


'Kenapa hatiku terasa sakit? Saat melihatnya tersenyum ke arahku seperti itu? Rasanya seperti ini adalah saat-saat terakhir aku dan dia.' 


'Tidak, aku tidak boleh berfikir begitu, ini adalah momen terindah yang pernah aku alami.' 


Caroline menghapus air matanya dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Jefri. 


'Astaga … yang menyentuhku lebih dulu itu gunung dong,' barin Jefri yang mana sifat mesumnya mulai keluar. 


Tetapi saat Jefri merasakan air yang membasahi bajunya membuat Jefri melihat ke arah bawah dan menjauhkan wajah Caroline. 


Terlihat wajah Caroline yang sudah penuhi dengan air mata. Jefri pun bertanya, "sayang … kenapa kau menangis? Bukankah ini harusnya menjadi hari bahagianya?" 


Jefri dengan menggunakan jarinya membersihkan sisa-sisa air matanya.

__ADS_1


Caroline menganggukan kepalanya dan berkata, "iya ini memang hari yang membahagiakan, tetapi ini bukan air mata kesedihan. Ini air mata kebahagiaan," ucap Caroline mengusap sisa air matanya. 


"Sudah jangan nangis, ini ambil bunganya," ucap Jefri menyerahkan rangkaian bunga dan coklat yang ada di masing-masing tangannya. 


"Kau yang terbaik pak tua." 


Cup 


Caroline mengecup pipi Jefri dengan cepat dan berlari menjauh dari Jefri. "Heii … aku blm tua!" Teriak Jefri dan berlari mengejar Caroline. 


Caroline dan Jefri berlarian dengan penuh tawa yang menghiasi wajah mereka.  Tawa kebahagian yang seakan tidak akan pernah luntur dari wajahnya. 


Udara yang pagi itu menjadikan pemandangan di sekitarnya menjadi semakin indah dilihat. 


Tetapi ada satu hal yang tidak mereka ketahui. Di balik semak-semak belukar yang beratlda di dekat Jefri parkir mobil, seorang wanita paruh baya memperhatikan mereka dengan seksama. 


Wanita itu adalah wanita yang sama dengan yang memperhatikan mereka di saat acara pernikahan mereka. 


Sebuah senyuman terlihat secara sempurna mekar di sudut bibirnya. Entah itu senyuman yang mengartikan jika itu adalah senyum bahagia atau senyum jahat tidak ada yang tahu. 


Entah kenapa, Jefri yang biasanya sangat waspada dengan sekitarnya, sekarang menjadi sedikit lengah. Bahkan sedikit penjagaan pun tidak ada di sekitar mereka. 


Jika sebelum adanya Caroline, Jefri selalu mewaspadai setiap orang yang berpapasan dengannya. 


"Ayo, kejar aku jika kau bisa, hahah …," ucap Caroline melambaikan tangannya ke arah Jefri yang berada di belakangnya. 


Senyuman yang seakan tidak memiliki beban hidup bermunculan di wajahnya. Semua yang menjadi masalahnya seakan hilang. 


Jefri berlari mengejar Caroline tetapi saat Jefri melihat Caroline berlari ke arah pinggiran tebing, mata Jefri melotot dan berteriak, "Caroline berhenti!!!!" 


Jefri membuka telapak tangannya dan mengarahkan tangannya ke arah Caroline untuk berhenti, tetapi Caroline yang masih belum menyadari jika di belakangnya adalah tebing masih terus berlari dan 


"Aaaa …," teriak Caroline yang mana jatuh dari tebing yang sangat curam itu. 


"Carolinnnnn …." Jefri bergegas berlari ke arah Caroline. Mata merah, wajah merah dan jantung yang berdetak semakin cepat. 


Jefri tanpa pikir panjang langsung ikut menjatuhkan dirinya dari tebing itu, yang mana itu adalah tebing yang di bawahnya adalah laut yang sangat dalam. 


Caroline dan Jefri tenggelam terbawa ombak laut pasang itu. 

__ADS_1


__ADS_2