
"Katakan!" Jefri melihat ke arah pembatas kaca yang mana memperlihatkan. Negara Singapura dari atas sana.
"Carzol adalah kakak kandung nyonya, Dan saya yakin. Dari awal dia sudah mengetahui identitas nyonya dan apa hubungan mereka. Dan yang kedua, dia adalah seorang Hecker yang, dan untuk menutupi identitasnya sebagai Hecker yang handal dia menjadi seorang dokter kandungan." Jose menjelaskan secara singkat apa yang sudah ia dapat dari yang dia selidiki tentang Carzol.
"Kenapa bisa keluarga Atmaja memiliki seorang putra? Aku tidak pernah mendengar tentang ini?" Jefri mengerutkan keningnya.
"Dari informasi yang saya dapat. Carzol adalah anak pertama dari keluarga Atmaja, dan saat itu, nyonya dan tuan Atmaja sudah mengetahui rencana busuk dari saudara mereka yang memperebutkan tahta perusahaan Atmaja. Dan untuk melindungi Carzol yang, Carzol ditempatkan di panti asuhan. Dan mengumumkan jika nyonya Atmaja mengalami keguguran." Jose kembali mengarahkan pandangan matanya ke arah Jefri saat sudah selesai membaca informa Yang ada di tangannya yang mana berupa documen.
"Jika mereka melindungi Carzol, kenapa tidak dengan Caroline?" Jefri masih ada yang menjanggal dengan informasi yang di sampaikan oleh Jose.
"Karena saat itu, paman dan bibi nyonya, menemani nyonya Atmaja melahirkan. Sehingga membuat mereka tidak bisa menyembunyikan nyonya," terang Jose.
Jefri menganggukan kepalanya dan berkata "Sudah biarkan Carzol lepas, lagi pula dia adalah kakak ipar ku, dia tidak akan melakukan apa pun kepada Caroline."
Selama ini Carzol berada di rumah sakit yang mana masih dalam pengawasan Jefri dan akan selalu di panti oleh bawahan Jefri untuk melihat gerak-geriknya.
"Baik, Tuan." Jefri kembali ke ruangan di mana Caroline dan kedua putranya berada.
Dua bulan berlalu
Selama dua bulan ini Caroline sudah mulai bisa menerima kehadiran Jefri dalam hidupnya dan mungkin sudah mulai ada rasa dalam hatinya.
Dan mereka sudah sepakat untuk membuat acara pernikahan, di bulan depan.
Saat ini mereka tidak lagi tinggal di Singapura, mereka sudah kembali ke Inggris. Itu semua karena Jefri yang harus tetap menjalankan perusahaan pusat. Alex dan Axel juga pindah sekolah ke sekolah yang lebih bagus lagi.
Sedangkan Carzol, dari kejauhan dia masih tetap memantau kehidupan sang adik. Dan melihat adik satu-satunya yang hidup bahagia, Carzol memilih untuk tidak ikut campur lagi dalam rumah tangga mereka.
Ia takut akan lebih runyam jika memisahkan Caroline dan Jefri lagi. Asal Jefri bisa menjaga adiknya dengan selamat dan sehat, maka Carzol tidak akan bertindak.
"Selama kau bahagia, aku akan bahagia," gumam Carzol, yang memantau rumah tangga Caroline dan Jefri melalui CCTV Mension Jefri yang sudah ia retas.
__ADS_1
"Sayang sepertinya baju ini sangat cocok untukmu." Senyum Jefri mengembang, saat dia menemukan baju yang sangat ia suka jika Caroline memakainya di depan dirinya.
Blusss
"Taruh kembali! Dilihat banyak orang," ucap Caroline menarik pakai yang Jefri pegang dan menaruhnya kembali pada tempat semula.
Wajah Caroline sudah merah, seperti kepiting rebus.
"Kenapa di taruh lagi sayang … come on baby, itu sangat cocok untukmu," Jefri merengek seperti anak kecil.
"Di lihat banyak orang! Kau tidak lihat mereka semua melihatmu saat kau memegang pakaian kurang bahan itu." Caroline menatap Jefri dengan tajam.
"Ya sudah, tinggal usir mereka saja. Aku akan membooking mall ini untuk keluarga kita hari ini," ucap Jefri.
"Jangan lakukan itu!" Caroline menahan pergelangan tangan Jefri.
Dan Jefri hanya bisa menghembuskan nafasnya.
"Suruh, Papa kalian antar kalian ke toilet, ya! Mama masih ingin memilih baju untuk kita." Caroline mengelus kepala Axel.
Sepeninggalan Jefri, Alex dan Axel. Caroline bertemu dengan orang yang sangat tidak disangka-sangka.
"Waooo … apa kau sangat dimanjakan oleh pria tua itu? Sampai-sampai kau bisa berbelanja di mall besar ini?" Seringai Marcell yang bergelayut manja pada lengan seorang pria.
Marcell adalah sepupu Caroline, anak dari paman dan bibi yang sudah menjual Caroline kepada Jek.
Dan lelaki yang bersama dengannya itu adalah Arcel pengusaha sukses dalam bidang desain.
Marcell melihat jika Arcel memandang Caroline dengan kagum, yang mana membuat Marcell geram.
Tetapi sebisa mungkin Marcell menahan amarahnya. Dia saat ini lebih ingin mempermalukan Caroline di depan umum.
__ADS_1
"Caroline kenapa kau tidak kembali saja ke rumah keluarga kita, dan mencari pasangan yang lebih baik dari pria tua yang selalu membayarnya itu." Akting Marcell sangatlah bagus, ya … maklum namanya juga artis.
Semua orang mulai bergerombol di sekitar Caroline dan juga Marcell, memperhatikan perdebatan mereka.
Caroline tersenyum miring dan berkata, "Owh ya? Bagaimana kau yakin jika, aku menjadi simpanan pria tua?"
"Lalu dari mana kau mendapatkan uang untuk berbelanja di mall ini? Kau tidak bekerja, kau pasti menjadi simpanan pria tua. Kembalilah ke rumah kak." Dengan akting yang menunjukan rasa kasihan seperti pemeran printagonis di depan semua orang. Membuat orang-orang namanya di mata para fansnya menjadi bagus.
Dan dengan itu juga, Marcell dapat menjatuhkan dan membuat nama baik Caroline rusak.
"Waoo … kau benar, jika aku tidak bekerja lalu bagaimana aku bisa berbelanja di mall yang serba mahal ini?" Caroline dengan tenang dan anggun menghadapi Marcell.
"Dan … aku ingin bertanya kepadamu, Dik. Dari mana kau mengetahui, jika aku tidak berkerja saat ini, sedangkan kita sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah berbagi kabar." Tatapan mata Caroline yang mengintimidasi Marcell.
'Sial, bakat debatnya lebih mingkat pesat dari yang dulu.'
Marcell tergagap, memikirkan cara untuk melawan Caroline.
"Asal kau tau, saat ini aku berbelanja menggunakan uang pribadiku," Caroline menaikan sebelah alisnya, "kau lihat ini!"
Caroline menunjukan Card name miliknya, yang tercantumka nama perusahaan Vanosa Group. Semua orang tahu seberapa besar gaji karyawan di sana. Cleaning service di sana saja gajinya bisa mencapai 5400 ponds, yang mana jika dirupiahkan akan menjadi seratus juta.
Dan dalam Card name itu, dengan jelas posisi Caroline di sana adalah bagian administrasi. Dan bagi mereka itu sudah menjadi org yang tidak dapat di singgung.
Marcell seperti tertimpa batu. Di mana yang awalnya dia ingin mempermalukan Caroline, tetapi saat ini dia sendiri yang di permalukan.
"Maaf, Kak tapi sepertinya Marcell, mendapat informasi yang tidak sepenuhnya tadi orang lain. Mungkin karena itu dia mengatakan hal itu, sekali lagi saya minta maaf," ucap Arcel, yang mana mencoba untuk menyelamatkan nama baik tunangannya.
Sedangkan Marcell sudah sangat geram. Dia tidak menerima, jika Caroline mempermalukan dirinya seakan wajahnya saat ini sudah di coret-coret. Dan apa yang akan dia katakan kepada para fans-nya nanti.
Caroline tersenyum senang. Mulai saat ini dia tidak akan menjadi lemah, dan akan membalaskan semua dendam yang masih tersisa di hatinya menggunakan caranya sendiri, namun Caroline merasa aneh karena Marcell hanya terdiam saja. Dan itu bukanlah tabiatnya.
__ADS_1
Caroline tersenyum mengerti saat melihat jari-jari Marcel yang keluar darah.