Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
67.


__ADS_3

Jefri sudah kehabisan akal untuk mengusir ular besar itu. Karena tidak ada cara lain, Jefri Pun nekat menggunakan pistol untuk menyerang ular itu.


“Tuan, jangan … jika ular itu tidak kena, itu akan membahayakan nyawa tuan Miko!” teriak salah satu bawahan Jefri.


“Tidak ada cara lain, Jika aku tidak bertindak nyawa Miko juga akan melayang!” Pandangan Jefri masih tetap lurus ke depan tidak teralihkan walau ia berbicara dengan anak buahnya.


Jefri fokus dengan tangannya yang memegang pistol dengan matanya yang sebelah menyipit memperhatikan objek tembakannya.


Dorrr


Begitu Jefri melepaskan tembakannya semua orang yang ada di sana menutup matanya. Saat semua membuka mata mereka lega karena Jefri yang menembak tepat pada sasarannya.


Semuanya bernafas lega, melihat ular itu mulai melepaskan lilitannya dari Miko secara perlahan.


Saat ular itu sudah tidak sadarkan diri, Miko jatuh dengan badannya yang lemas. Jefri menangkap badan Miko dan menyuruh bawahannya untuk membawa Miko ke dalam mobil.


***


Sedangkan saat menjelang pagi tepatnya pukul 05.00 AM, Alex dan Axel kaget saat mereka turun ke lantai bawah terdapat dua orang anak yang memiliki wajah yang sama persis dengan mereka.


“Mamaaaaa …,” teriakan Axel memenuhi seluruh ruangan mansion bahkan beberapa maid yang sedang tidur dibuat terbangun oleh teriakannya.


“Ada apa Xel, jangan teriak begitu! Ini masih pagi, banyak orang sedang tidur, Sayang …,” ucap Caroline menghampiri Axel.


“Ma, Kenapa wajah mereka mirip denganku dan kak Alex?” ucap Axel yang dengan matanya menatap lebih intens ke arah mereka berdua.


“Apa mereka yang menyamar menjadi aku dan Axel saat kita sedang dikurung?” pertanyaan Alex lebih membuat perhatian Carolie tertuju ke arahnya. Begitu mata Caroline memandang mata Alex, Caroline dapat merasakan Hawa dingin yang keluar dari tubuh Alex.


“Sayang dengarkan dulu okey? Mami mengangkat mereka menjadi anak-anak Mami, yang mana artinya mereka juga saudara kalian. Tentang wajah mereka … hmm, Mami akan berusaha untuk mengembalikan wajah mereka seperti semula,” ucap Caroline sedikit gugup. Ia takut kedua anaknya tidak akan menyetujui keputusannya?

__ADS_1


Mendengar hal itu alex menatap Caroline dengan tajam, “Apa Mami tidak cukup memiliki aku dan Axel? Apa Mami da Papa tidak menyayangi kami lagi? Aku tidak masalah jika Mami mengadopsi anak lain, tapi Mami mengadopsi anak yang sudah berbuat jahat kepada anak kandungmu. Apa Mami sungguh tidak menyayangiku lagi?”


Alex bertanya kepada Caroline dengan suara yang terdengar gemetar hebat, tangannya mengepal erat.


Caroline kaget saat mendapati tanggapan Alex seperti itu, tidak pernah Caroline menyangka jika salah satu dari putranya akan semarah ini.


Belum sempat Caroline menjawab, Alex sudah melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


“Alex, tunggu mama Sayang … dengarkan penjelasan Mama.” teriak Caroline.


Caroline berusaha untuk membujuk Alex agar mau membuka pintu kamarnya tetapi percuma, Alex mengurung dirinya di dalam kamar. Melihat amarah besar pada putrana membuat hati Caroline sakit.


Caroline membuang nafasnya kasar dan kembali ke bawah untuk mengantarkan Amir dan Zamar ke rumah sakit untuk melakukan operasi mengembalikan wajah asli mereka.


Caroline melihat Axel masih berdiri di tempatnya, entah apa yang dirasakan oleh anak yang satu itu. Dia hanya terlihat berdiam diri di tempatnya tadi dan menatap Amar Zamar dengan tajam.


‘Apa perkataan kakak benar? Mama dan Papa tidak menyayangi kami lagi?’ Batin Axel yang sebenarnya masih bimbang apakah ia harus mempercayai kembarannya atau mempercayai mama dan papanya.


Melihat itu caroline tampak sedih, baru kali ini kedua putranya marah terhadap dirinya. “Ma … biarkan kami yang menjelaskan Pada Alex dan Axel, ya?” Zamar menghampiri Caroline, ia merasa bersalah karena menyebabkan pertengkaran terhadap ibu dan anak itu.


Caroline hanya menganggukan kepalanya, dan meminta sopir untuk mengantar Amar dan Zamar ke rumah sakit.


Tak lama kemudian, Jefri datang setelah ia mengantarkan Miko kerumah sakit.


Jefri mencari keberadaan Caroline, tetapi tidak menemukannya. Akhirnya, Jefri masuk ke dalam kamar dan melihat Caroline yang menangis di pojokan dengan kedua kakinya yang dilipat dan kepalanya yang masuk ke dalam sela-sela kakinya.


Jefri menghampiri Caroline dan memeluknya dari samping dan berkata, “Sayang, ada apa? kenapa kau menangis?”


Caroline pun mendongakan kepalanya, begitu ia melihat itu Jefri, Caroline langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Jefri. Caroline menangis sesegukan di dalam pelukan Jefri.

__ADS_1


“Ada apa, hemm, kenapa Istriku yang cantik dan imut ini bisa menangis?” ucap Jefri mensejajarkan wajahnya dengan Caroline.


“Apa aku salah mengadopsi Amar dan Zamar?” tanya Caroline menangis dan mendongakan wajahnya.


Jefri mengerutkan keningnya dan bertanya, “Ada apa, hmm?”


“Jawab dulu pertanyaanku!” Bentak Caroline yang mana membuat Jefri kaget.


‘Astaga … macan betina bangkit!’ Batinnya.


“Tidak, Sayang kau tidak salah. Ada apa kau menanyakan hal itu?” tanya Jefri dengan mengusap puncak kepala Caroline.


“Alex dam Axel marah, mereka salah paham dengan maksudku mengadopsi Amar dan Zamar … hisk,” ucap Caroline dengan air matanya yang tidak berhenti mengalir.


Jefri tidak bisa berkata apa-apa, ia berusaha untuk menenangkan Caroline sampai satu jam lamanya Caroline menangis.Akhirnya, Caroline tertidur pulas dalam pelukan Jefri.


Jefri perlahan menurunkan Caroline, dan menaruh kepala Caroline di atas bantal yang empuk, dengan sangat hati-hati.


Jefri berjalan menuju ruang kerjanya, ia memutar rekaman yang terjadi pagi tadi. Melihat rekaman itu, Jefri pun sama kagetnya dengan Caroline, ia tidak menyangka jika Alex dan Axel bisa semarah itu kepada mereka.


Jefri terlihat bengong, pandangannya kosong lurus kedepan, ia sedang memikirkan cara untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


Tak lama kemudian, Jefri melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya dan masuk ke dalam kamar kedua putra kandungnya.


“Sayang … boleh, Papa masuk?” tanya Jefri begitu ia berada di depan pintu kamar putranya.


Tetapi Jefri tidak mendapatkan jawaban dari dalam sana, Jefri mengeluarkan kunci cadangan kamar putranya dan membuka pintunya. Begitu ia masuk, Jefri mendapati Alex dan Axel dengan mata yang sebab berada di meja belajar masing-masing.


Jefri menghampiri Alex dan Axel yang mana duduk bersebelahan. “Sayang … papa hanya ingin menjelaskan, dan meluruskan kesalahpahaman ini,” ucap Jefri merangkul kedua pundak Alex dan Axel.

__ADS_1


“Papa dan mama itu, selalu sayang sama Alex dan Axel. Tidak pernah Papa dan mama tidak menyayangi kalian, Cuman … Papa dan mama minta maaf, saat kalian di kurung papa dan mama tidak menyadari hal itu. Karena Saat itu yang menjadi sasaran mereka bukan hanya kalian, tetapi mama kalian juga diculuk dan itu membuat papa tidak dapat memperhatikan kalian dengan jelas. Jadi Papa dan Mama minta maaf ya sayang?” ucap Jefri memberikan pengertian kepada kedua putranya.


__ADS_2