Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
90.


__ADS_3

"Sayang … aku bosen," ucap Caroline dengan memonyongkan bibirnya di kepada Jefri.


Jefri yang melihat tingkah sang istri pun menjadi gemas. Jefri berjalan menuju sofa yang diduduki oleh Caroline, Jefri mencubit pipi Caroline gemas melihat tingkah istrinya. Sesekali Jefri mencium kening Caroline, dan mengelus perut Caroline.


"Ingin apa, Sayang?" Jefri tersenyum dan mengusap rambut istrinya itu.


"Aku ingin makan, apa di sini ada cemilan?" tanya Caroline melihat ke arah Jefri.


"Baiklah … aku akan menyuruh Miko untuk membelikannya," ucap Jefri mengusap rambut istrinya dengan sayang.


Caroline menyandarkan kepalanya kepada bahu Jefri. Dengan tangannya yang bermain pada perut Jefri. Merasakan gerakan jari Caroline yang bermain pada bagian perut dan dadanya membuat Jefri berusaha menahan nafasnya.


"Sayang …," ucap Jefri dengan suaranya yang terdengar serak dan bergetar.


"Hemm …." Caroline mendongakan kepalanya dan kaget saat melihat wajah Jefri yang seperti sedang menahan hasratnya.


Caroline bisa melihat itu dari ekspresi Jefri. Jelas saja Caroline bisa melihatnya karena setiap Jefri akan menyerangnya wajah yang sama pasti akan tergambar di wajahnya. Caroline segera melepaskan pelukannya dan berlari keluar dari ruangan Jefri.


"Aku ingin berjalan-jalan sebentar!" teriak Caroline karena ia tau jika ia masih diam di dalam ruangan itu maka tidak akan lama ia akan menjadi santapan suaminya.


"Sayanggg …," teriak Jefri saat melihat punggung Caroline mulai menghilang dari pintunya. Jefri pun menghubungi pengawal bayangannya yang akan selalu menjaga Caroline tanpa Caroline menyadarinya.


Jefri melihat ke bawah dan terlihat sesuatu menonjol di balik celananya. Jefri pun akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk meredakan sesuatu yang mulai berdiri.


***


Caroline yang memang sudah mengetahui setiap sudut perusahaan Jefri pun merasa bosan. Caroline memilih untuk berjalan ke atap, ia ingin menghirup udara segar yang ada di sana. Tanpa dan semua penjaga bayangan Jefri juga mengikuti Caroline dengan bersembunyi di balik benda yang ada di sana.

__ADS_1


Ting


Terdengar suara handphone yang ia bawa berbunyi. Namun, saat Caroline melihat handphone siapa yang ia bawa, Caroline pun mengerutkan keningnya. Pasalnya yang ia bawa bukan handphone miliknya melainkan handphone milik Jefri.


Saat Caroline membuka pesan yang ada di handphone suaminya, Caroline pun semakin mengerutkan keningnya saat membaca isi pesannya yang dikirimkan Jose.


[Tuan, aku sudah membawa Marcel dan Mona ke markas] itulah pesan yang dibaca oleh Caroline.Setelah membaca isi pesan itu, Caroline pun segera berjalan menuju ruangan Jefri.


***


Caroline duduk di sofa dengan kakinya yang menyilang dan kedua tangannya yang di lipat di depan dadanya. Dengan handphone Jefri yang berada di atas meja.


Cklak


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan Jefri yang keluar dari kamar mandi dengan badannya yang basah dan handuk kecil yang dililitkan di pinggangnya. Jefri mengangkat sebelah alisnya, melihat Caroline yang duduk di sofa dan terlihat marah. Jefri berjalan menuju Caroline dan bertanya, "Sayang … ada apa?"


"Jelaskan!" perintah Caroline tanpa melihat Jefri sedikitpun.


"Sayang … dengarkan aku ya, jangan dipotong dulu," ucap Jefri memohon kepada Caroline. Ia takut jika Caroline akan salah paham kepadanya.


Caroline masih tetap menutup mulutnya tanpa berbicara sedikitpun. Bahkan Caroline tidak mengatakan apa pun kepada Jefri. Rasa kesal di hatinya membuat mulai memuncak saat mengetahui jika suaminya menutupi sesuatu darinya.


"Apa kamu ingat saat, Alex dan Axel diculik, Sayang?" tanya Jefri dengan lembut.


Namun, sangat disayangkan karena Caroline masih tetap diam. Jefri pun menghembuskan nafasnya kasar dan kembali berkata, "Marcell dan Mona juga salah satu orang yang terlibat dalam kasus ini. Aku tentu tidak bisa membiarkan mereka begitu saja. Karena mereka, Alex dan Axel memiliki insomnia dan rasa takut. Aku akan membalaskan dendam putraku."


Mendengar kisah yang Jefri katakan pun membuat Caroline mulai bereaksi dan tatapan matanya terlihat ada guratan kemarahan di sana. Caroline yang sudah tidak bisa menahannya pun bertanya, "Dari mana kau tau jika Alex dan Axel memiliki insomnia? Tidak biasanya mereka tidak bercerita kepadaku?"

__ADS_1


Dalam benaknya, sebenarnya sangat banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Namun, ia masih ingin menahan rasa gengsinya dan menahan diri untuk bertanya. Dengan memperlihatkan ekspresinya yang terlihat marah.


"Aku tidak sengaja menemukan mereka tidak tidur jam 3 malam," ucap Jefri berbohong. Ia tidak ingin istrinya tau jika ia membawa Alex dan Axel ke markasnya.


Namun, sepertinya Caroline tidak percaya dengan jawaban Jefri, bisa di lihat saat Caroline mulai memicingkan matanya dan menatap Jefri tajam. Jari yang mendapatkan tatapan itu pun hanya bisa pasrah iat sudah mencoba untuk menoleh ke arah lain manun, gelagatnya ketahuan oleh Caroline. Jefri pun menghembuskan nafasnya dan memilih untuk berkata jujur.


Jefri menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, tanpa ada yang disembunyikan. Mendengar cerita Jefri membuat Caroline marah. Bagaimana tidak, Jefri membawa putranya yang masih kanak-kanak ke markas.


"Kau tau mereka masih anak-anak? Kenapa kau membawanya ke markas! Bagaimana jika mental mereka rusak?" ucap Caroline khawatir dengan kedua putranya.


"Suttt … sudah ya … jangan khawatir. Mereka tidak akan melihat hal itu, mereka hanya bermain di ruanganku, tetapi sekarang mereka sedang meminta untuk diajarkan menggunakan senjata, karena mengetahui senjata yang aku punya," ucap Jefri dengan wajahnya yang terlihat sendu.


Mendengar itu membuat Caroline terlihat seperti sedang menimbang ucapan Jefri dan tak lama kemudian Caroline pun membuka suara. “Ajarkan saja …,” ucap Caroline yang mana membuat Jefri bingung.


Caroline yang tau jika suaminya bingung pun menjelaskan Alasanya. “Kau adalah seorang mafia, Sayang … mau kau keluar dari dunia mafia ataupun tidak. Kau akan tetap diincar oleh musuh-musuhmu. Karena ada beberapa keluarga yang sudah kau buat sakit hati. Jadi aku harap Alex dan Axel bisa melindungi diri mereka sendiri.” Mendengar itu Jefri hannya menganggukan kepalanya.


***


Waktu menunjukan pukul 11.00 pm.


Jefri dan Caroline sudah berada di depan gerbang sekolah putra-putri mereka. Banyak pasang mata yang menatap kagum dengan pasangan itu, yang satu ganteng dan yang satu sangat cantik dan bohay. Membuat bapak-bapak yang sedang menjemput anak-anak mereka menatap lapar ke arah Caroline.


Jefri yang menyadari hal itu pun merasa sangat tak suka, jika miliknya ditatap lapar oleh lelaki diluar sana. “Masuk, Sayang!” perintah Jefri.


Mendengar perkataan Jefri membuat Caroline mengerutkan keningnya, dan bertanya, “Kenapa?”


“Ak-”

__ADS_1


Belum selesai Jefri menyelesaikan kalimatnya, dia sudah dipotong oleh seorang pria yang terlihat sangat uda menghampiri Caroline dan Jefri. Bahkan sesekali pandangan pria itu ke arah dada Caroline. melihat hal itu tentu saja membuat Jefri sangat marah. Namun, Caroline menggenggam tangannya membuat Jefri tidak jadi membuka mulutnya.


__ADS_2