
15 menit berlalu. Akhirnya, Ronald keluar dari toilet. Baru saja Ronald hendak melangkah menuju wastafel, langkahnya tiba-tiba saja berhenti karena dihadang oleh Zaki.
Ronald menaikan salah satu luasnya bingung saat melihat Zaki yang berdiri di depannya. Dengan salah satu alisnya terangkat Ronald pun berkata, "Om mau apa, diam di depan saya?"
Zaki tersenyum meremehkan mendengar Ronald bertanya dengan nada yang terdengar meremehkan dirinya. Karena pakaiannya yang dipakai Zaki adalah pakaian biasa. "Jangan sombong anak muda … aku hanya ingin membuat kesepakatan denganmu."
"Kesepakatan?" beo Ronald, bingung dengan apa yang dikatakan pria yang tidak ia ketahui siapa namanya.
Zaki tersenyum dan berkata, "Kau menyukai keponakanku 'kan? Aku akan membantumu untuk mendapatkannya dan kau harus membantuku untuk menangkap suaminya, bagaimana?"
Mendengar itu membuat Ronald tertarik dengan topik pembicaraan ini. Namun, ada sesuatu yang tidak Ronald mengerti dan bertanya, "Kau bilang keponakan? Lalu kenapa kau ingin memisahkan mereka? Karena setauku sesama saudara tidak mungkin akan menyakiti, atau kau ingin menjebakku?"
"Hahaha … kau tidak perlu tau soal itu, kau hanya perlu menjawab ia dan tidak. Intinya aku tidak sedang menjebakmu ataupun mempermainkanmu," ucap Zaki dengan tertawa jenakan.
Ronald tampak menimbang ucapan Zaki. "Sepertinya pria ini tidak berbohong. Aku iyakan ajalah, aku ingin Caroline menjadi milikku apapun," batin Ronald.
"Okey aku setuju," ucap Ronald. Pikirannya sudah melayang kepada Caroline yang akan berada dalam pelukannya.
Zaki mendengar itu tersenyum senang. Ia sudah menebak jika pria ini akan menerima tawarannya. Zaki langsung saja meminta nomor telepon Ronald untuk bisa menghubungi pria itu kapan saja.
***
Di mansion keluarga Al Zero. Semuanya sedang sarapan dengan memakan masakan dari Jefri. Ya, pagi tadi saat Caroline terbangun, Caroline melanjutkan acara ngidamnya yang ingin memakan masakan Jefri.
Alhasil seluruh anggota keluarga Al Zero harus makan-makanan buatan Jefri. Terlihat dari masing-masing raut wajah mereka yang seperti terpaksa dan tidak suka dengan makanan itu. Terkecuali Caroline, wanita hamil itu terlihat seperti sangat menikmati hidangannya. Padahal yang lainnya merasa sangat asin dan tidak menyukainya.
Namun, karena paksaan sang ratu yang sedang hamil itu membuat, membuat mereka mau tak mau memakan masakan Jefri. Karena Jefri sudah memancarkan aura membunuhnya saat mereka ingin menolak keinginan ratunya. Itu tentu saja membuat mereka takut dan menuruti keinginan sang ratu, saat kelima bocah itu merasakan makanan Jefri semuanya ingin memuntahkannya.
__ADS_1
Namun, ditahan karena tatapan tajam yang Jefri berikan kepada mereka membuat mereka tidak bisa berbuat apa pun. "Jefri … kenapa kau lama sekali, kita sudah menunggumu," Jose dan Miko masuk ke dalam mansion yang mana sedari tadi sudah menunggu di mobil.
"Eh … Jose, Miko. Ternyata ada kalian. Ayo makan, tadi Jefri masak banyak," ucap Caroline dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
Moko dan Jose mendengar Jefri memasak kaget bukan main. Tidak pernah Jefri menyentuh yang namanya dapur, mereka tumbuh bersama dan baru kali ini mereka mendengar Jefri menyentuh dapur. Jose dan Miko duduk meja makan di samping Axel dan Alex.
Caroline ingin beranjak dari tempatnya untuk mengambilkan nasi untuk Jose dan Miko. Namun, di tahan oleh Jefri dan berkata, "Jangan Sayang … biarkan bibi yang mengambilkannya."
Caroline mengangguk dan berkata, "Bi tolong ambilkan untuk Jose dan Miko y."
Jose dan Miko masih diam, menatap semua makanan yang ada di atas meja ini. Menatap satu persatu makanan yang ada tidak ada makanan yang gosong sama sekali dan terlihat menggiurkan. Membuat Jose dan Miko ingin mencicipinya.
"Apakah seenak itu?" tanya Miko saat melihat Axel dan Alex yang makan dengan lahap apa lagi melihat Caroline yang makan sangat lahap.
Alex dan Axel tersenyum licik dan berkata, "Enak, sangat enak … om coba saja, pasti ketagihan. Nanti om harus janji untuk nambah lagi ya."
"Bu-"
Miko ingin menjawab ucapan Axel, tetapi dipotong oleh Aulia. Namun, belum selesai Aulia menuntaskan ucapannya, mulutnya sudah di bekap oleh Axel. Axel tersenyum dan kembali berkata, "Tidak apa-apa, Om. Apa Om janji akan tambah lagi?"
Miko tampak berfikir, mengingat cara makan Axel Alex dan Caroline membuat Miko yakin jika masakan Jefri enak. Miko pun menganggukan kepalanya. Jose merasa seperti ada yang tak beres pun hanya bisa diam, ia tidak ingin masuk ke dalam jebakan.
Bi Michu menyajikan makanannya pada piring Jose dan Miko, baru satu suap mereka masukan ke dalam mulut. Hal itu sudah membuat mereka ingin memuntahkannya. Akan tetapi, mereka merasakan hawa yang sangat mengerikan dari belakang mereka.
Saat mereka menoleh, mereka melihat Jefri yang sedang menatap tajam ke arah mereka. Hal itu terpaksa membuat mereka menelan makanan mereka, apa lagi saat mendengar ucapan Caroline dan membuat wajah Jose dan Miko menjadi pucat.
"Habiskan ya … jika ingin menambah katakan saja, itu masih banyak." Jose dan Miko hanya tersenyum kecut mendengar itu dan terpaksa mereka menghabiskan makanan yang rasanya sangat asin dan pahit itu. Di samping itu, Axel dan Alex tertawa cekikikan saat melihat wajah pucat kedua bawahan ayahnya.
__ADS_1
30 menit kemudian mereka selesai makan, bakan Miko harus menambah tiga kali. Karena selalu di awasi oleh Jefri. Jefri, Miko dan Jose pun berangkat ke kantor setelah acara makan mereka selesai.
***
Waktu menunjukan sebelah siang. Ronald sudah berdiri di gerbang sekolah adiknya. Bahkan ia menjemput adiknya dengan menggunakan jas mahal untuk bisa mengambil hati Caroline.
Ronald tidak tahu siapa Jefri sebenarnya, makanya dia berani menggoda Caroline. Ronald terus melihat ke arah jam tangannya dan tak lama kemudian terlihat mobil yang kemarin di naiki Caroline terparkir tepat di depan gerbang.
Saat Caroline turun dari mobil, pandangan Ronald tidak berhenti sampai situ. Ia benar-benar terpesona akan kecantikan Caroline. Saat Ronald tidak melihat adanya Jefri di dalam mobil, Ronald langsung saja mendekati Caroline.
"Haiii Nona," ucap Ronald dengan tatapan lapar menatap Caroline.
Caroline yang melihat tatapan itu terasa risih, dan menggeser kakinya beberapa langkah menjauh dari Ronald. "Hhh … ada apa ya, Tuan?"
Caroline berusaha untuk mengeluarkan senyum paksanya. Ia tidak bisa melawan lebih dulu karena Ronald hanya menyapanya. Mendengar suara Caroline membuat Ronald kini semakin terobsesi untuk memiliki Caroline.
"Ke mana perginya suamimu?" tanya Ronald basa-basi.
"Kerja," jawab Caroline singkat.
Namun, Ronald hanya menatap pada bagian dada Caroline. Walaupun tertutup semua, tetapi dapat dilihat jika dada Caroline sangat besar. Ada niatan Ronald ingin menyentuh dada Caroline, Ronald terlihat berpikir keras untuk bisa menyentuhnya.
Caroline semakin risih dengan Ronald pun,memilih masuk ke dalam mobil. Melihat itu Ronald pun tersenyum dan tangannya bergerak terarah pada benda kenyal Caroline.
Bhuggg
Bhuggg
__ADS_1
Bhugg