Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
64.


__ADS_3

Alex berlari menuju kamar Bi Michu. Karena selain Caroline dan Jefri, Bi Michu adalah orang yang dekat dengan Axel dan Alex.


Bi Michu kaget saat tiba-tiba saja Alex masuk dengan keras mendorong pintu, dan menangis di atas ranjangnya.


"Tuan muda, ada apa? Kenapa tuan muda menangis?" Bi Michu dengan lembut bertanya sang mengusap kepala Alex.


Tetapi Alex tidak menjawab, ia melipat kedua kakinya dan menundukan kepalanya.


Bi Michu tidak bertanya lebih jauh lagi, ia duduk di samping Alex dan memeluk badan Alex dari samping.


"Baiklah, bibi tidak akan bertanya lagi, jika, Tuan muda tidak ingin bercerita. Tuan muda bisa tidur di sini kalau mau, hanya saja maaf kamar bibi kecil." Bi Michu hanya mengelus kepala Axel dengan lembut.


Dan Alex pun merasakan kasih sayang yang diberikan oleh Bi Michu. Alex mendongak dan berkata, "Mama dan Papa tidak mengenali Alex …."


Alex melihat raut wajah Bi Michu yang tidak mengerti pun menjalankannya, "Mama dan papa tidak dapat membedakan mana Alex yang palsu dan yang asli. Bukankah itu artinya mereka tidak menyayangi Alex?"


Bi Michu semakin tidak mengerti dengan yang dikatakan oleh tuan mudanya dan berkata, "Tuan, coba Anda ceritakan lebih detail lagi." ucap Bi Michu.


Alex pun menceritakan sedetail mungkin apa yang terjadi. Dan Bi Michi kaget saat mendengar cerita dari Alex lalu ia berkata, "Tuan muda, Nyonya dan tuan bukanya tidak menyayangi tuan muda, mereka juga terlibat masalah belakangan ini, sampai-sampai tidak memperhatikan tuan muda."


Alex berusaha untuk menganggukan kepalanya dan mengerti akan perkataan Bi Michu. Tetapi masih ada rasa sakit di hatinya.


"Bi, Alex tidur di sini, ya?" ucap Alex dengan mata berbinar terang.


Bi Michu pun tersenyum dan mengusap kepala Alex. "iya Tuan muda …."


Di depan pintu kamar Bi Michu, Jefri mendengar semua yang dikatakan oleh Alex, dan itu juga membuatnya merasa bersalah. Karena memang belakangan ini ia kurang memperhatikan anak-anak.


"Maafkan papa, Nak," gumam Jefri merasa bersalah kepada putranya.


Di sisi lain, Caroline terbangun, dan tidak menemukan keberadaan Jefri. Caroline melihat sekelilingnya, saat ia menyadari jika ia sudah di mansion, Caroline merasa jauh lebih aman. Ia memutuskan untuk mandi karena badannya yang terasa lengket.


Beberapa saat kemudian, Caroline baru saja selesai dengan ritual mandi ya sedangkan Jefri memasuki kamar dengan raut wajah yang tidak bagus.

__ADS_1


Caroline melihat itu pun bertanya, "Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu seperti kertas lipat?"


“Sayang, apa kau sudah merasa baikan?” Jefri melihat ke arah Caroline dan berjalan menuju caroline yang sudah menggunakan pakaian tidurnya.


“Jawab dulu pertanyaanku, kenapa mukamu seperti kertas lipat begitu tadi?” tanya Caroline dengan mata yang menyipit.


Jefri membuang nafasnya kasar dan berkata, “Alex marah.”


“Marah?” Caroline menaikan sebelah alisnya.


“Selama ini yang bersama dengan kita adalah Alex dan Axel yang palsu. Selama ini mereka dikurung oleh Jek. Itu pun aku mengetahuinya dari Zail, saat ia sudah berhasil menyelamatkan mereka. Tapi … saat aku tadi menanyakan keadaan mereka, Alex marah. Dia kecewa karena kita tidak bisa membedakan mana yang asli dan palsu, dia mengira kita tidak menyayangi mereka.” Jefri merasa bersalah karena tidak bisa membedakan mana anaknya dan bukan.


“Apa? Kenapa bisa ada kejadian seperti ini?” pekik Caroline dengan menutup mulutnya.


“Aku juga baru tau, tadi saat aku ingin menyelamatkanmu dari Jek, Zail datang ke kantor dan menceritakan hal itu.” Wajah Jefri terlihat lesu saat menceritakan hal itu kepada Caroline.


“Sudah, jangan sedih. Nanti kita bicara dengan Alex.” Caroline memeluk Jefri dan mencium keningnya.


Zail yang sedang dalam perjalanan menuju mansion Jefri, saat ia melihat pesan singkat yang Jefri kirim, membuat Zail kesal dan memutar balik mobilnya menuju mansion.


***


“Bagaimana dengan Alex dan Axel? Tadi aku lihat Alex selalu murung,” ucap Aurel yang berada di pelukan Zail.


Saat ini Aurel dan Zail sedang menonton TV di ruang tamu dengan ditemani berbagai jenis cemilan yang ada di atas meja.


“Iya, aku juga melihat itu dari wajahnya. Sepertinya ada hal yang mengganggu pikirannya,” ucap Zail dengan mengusap kepala Aurel dengan lembut.


“Apa dia mengalami trauma?” tanya Aurel melihat wajah Zail.


“Sepertinya tidak, jika dia mengalami trauma ekspresinya tidak akan seperti itu,” Jawab Zail yang sangat mengetahui masalah psikologis. Karena ia adalah seorang dokter, tentu saja tahu akan hal itu.


Zail melihat wajah Aurel, yang mana terlihat sedang berpikir keras. Zail pun mengusap kasar wajah Aurel dan berkata, “Sudah jangan terlalu banyak berpikir, ada Jefri yang akan menangani hal itu.”

__ADS_1


Aurel menganggukan kepalanya dan bersandar di bahu Zail.


***


12.59 AM


Jefri membuka matanya. Ia melambaikan tangannya di depan wajah Caroline yang sedang tertidur pulas.


Setelah memastikan Caroline tertidur, Jefri turun dari ranjangnya dan mencium kening Caroline dengan pelan.


“Aku pergi dulu ya, sayang …,” ucap Jefri dan berjalan dengan sangat pelan keluar dari kamar agar tidak menimbulkan suara.


Jefri pergi ke kamar Axel, dan melihat putranya sedang tidur, ia tersenyum dan mencium keningnya. Sama seperti yang ia lakukan kepada Caroline.


Sedangkan di kamar Caroline, saat ia meraba tempat tidur di sampingnya. Ia tidak menemukan apa yang sedang ia cari. Caroline pun membuka matanya melihat ke arah samping, dan benar saja jefri tidak ada di sana.


Caroline berjalan keluar dari kamarnya dan saat ia berada di ruang tamu. Caroline melihat Jefri yang keluar dari mansion dengan menggunakan Jas kulit dan pakaian serba hitam.


“Kenapa dia keluar dengan menggunakan pakaian serba hitam begitu?” gumam Caroline, dengan suara kecil.


Saat Jefri sudah masuk ke dalam mobil, Caroline meminta sopir untuk mengeluarkan mobil, dan mengikuti mobil Jefri.


Caroline semakin curiga, Karena mobil Jefri masuk ke dalam semak-semak. Tak lama kemudian, mobil Jefri berhenti di sebuah gedung yang sangat luas dan bertingkat . bahkan di belakang gedung itu juga terdapat banyak rumah yang ukuranya lebih kecil dari yang ada di depan.


Caroline melihat Jefri turun dari mobilnya dan masuk ke dalam gedung itu, Caroline pun mengikuti Jefri yang masuk ke dalam gedung. Dilihatnya Jefri masuk ke dalam ruangan yang mana didalamnya terdapat dua orang bocah yang wajahnya mirip dengan Alex dan Axel. Caroline kaget dan menutup mulutnya saat melihat itu.


Jefri menatap tajam kedua bocah itu, dan berkata, “Beraninya kau meniru wajah putraku!”


Tress


Darah segar mengalir dari pipi mereka.


“Apa yang kau lakukan Jefri!”teriakan seseorang dari belakang membuat Jefri kaget dan menghentikan gerakan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2