
"Sayanggg …," ucap Jefri. Mendudukkan bokongnya tepat di samping Caroline dan menggesekan kepalanya di bahu Caroline.
Karena merasa terganggu Caroline menatap Jefri dengan tatapan tajam. "Kenapa kau menatapku seperti itu sayang … aku baru sampai lo."
"Awes kalau kau sampai mengizinkan anak-anak bermain ke wahana bermain." Ancam Caroline dengan memperagakan jari telunjuknya yang bergesekan dengan lehernya.
Gluk…
'Apa yang sudah Axel lakukan, jika begini aku bisa tidak dapat jatah nanti.' Batin Jefri.
"Kak, kenapa kau terlihat takut saat papa mengatakan harus mendapat izin mami?" tanya Amar, saat ini Amar, Zamar, Aulia dan Axel sedang berunding.
"Mami, pasti tidak akan mengizinkan kita ke wahana bermain …," ucap Axel.
"Kenapa?" tanya amar, Zamar dan Aulia serempak.
"Dulu, saat di Australia aku dan mami pernah mengajak mami ke taman bermain. Namun, saat itu ada kejadian anak kecil yang jatuh dari bianglala. Semenjak itu, mama tidak pernah mengizinkan aku dan kakak untuk main ke wahana mainan lagi." Alex menceritakan pengalamannya bersama Caroline dan Alex dengan wajahnya yang terlihat serius.
"Lalu sekarang bagaimana caranya untuk kita ke taman bermain?" tanya Zamar dengan wajahnya yang mulai terlihat sedih.
"Bagaimana jika kita buatkan makanan kesukaan mami?" ucap Aulia memberikan usulan.
"Bisa saja … tapi bagaimana jika mami tidak luluh juga?" tanya Amar.
"Kita mogok makan," ucap Axel dengan senyum di bibir mungil.
Mendengar itu semuanya setuju kecuali Aulia, "Tapi … aku-"
"Tidak ada tapi-tapi. Kakak ingin menaiki bianglala, Kicir-Kicir dan lain-lain." Zamar menatap tajam kepada adik bungsu mereka.
Selama ini Zamar tidak pernah bermain wahana permainan di pasar malam. Ia selalu mengikuti almarhum orang tuanya, jangan ini dan jangan itu.
"Ok," jawab Aulia dengan wajah lesunya.
***
Hari berganti malam dan saat ini Amar, Zamar, Aulia dan Axel sedang mengacaukan dapur.
Dapur mansion yang awalnya rapi menjadi berantakan, sayur tepung buah hampir semuanya berserakan di lantai.
__ADS_1
"Tuan muda, Nona muda bagaimana jika bibi saja yang buatkan, ya …," ucap Bi Michu.
Melihat penampilan para tuan muda dan nona mudanya saat ini, sangat membuatnya takut jika nanti Caroline atau pun Jefri akan marah kepadanya.
"Tidak, Bi kita ingin membuat makanan untuk mami, untuk membujuk mami," tolak Axel dengan cepat.
Mendengar itu Bi Michi pada pun mulai memutar otak, untuk membuat para tuan muda nona mudanya agar tidak membuat dapur berantakan.
"Bagaimana jika Bibi ajarkan kalian memasak?" tanya Bi Michu memberi usulan.
Amar, Zamar, Aulia dan Axel pun saling tatap satu sama lain dan sedetik kemudian mereka semua menganggukan kepalanya.
"Tuan muda dan nona muda ingin masak apa?" Bi Michu pun bernafas lega, dan mulai merapikan semuanya ke tempat semula.
"Hmmm … pancake, omelete, dan sandwich," jawab Axel dengan cepat. Karena hanya Axel yang tau makanan kesukaan Caroline.
"Baiklah sekarang kita siapkan dulu bahan-bahan, ok?" ucap Bi Michu dengan jari yang membentuk 'O'
Satu jam berlalu, akhirnya masakan yang dibuat oleh Amar, Zamar, Aulia dan Axel pun jadi.
"Fuhh … tidak kusangka hanya membuat makanan sampai sesulit ini," ucap Aulia menyeka keringat di keningnya.
"Kenapa semua pada melihat ke arahku?" tanya Aulia dengan wajahnya yang polos dan tangannya yang masih memegang sandwich.
"Kenapa malah kau yang mengeluh capek? Kau kan hanya duduk dan makan saja dari tadi," ucap Zamar. Karena sedari tadi Aulia hanya melihat saja apa yang dilakukan oleh kakak-kakaknya.
Aulia hanya akan bergerak jika ada makanan yang sudah selesai. Maka Aulia akan memakannya dengan alasan mencicipinya.
Mendengar ucapan dari kakaknya, Aulia hanya menggaruk tengkuknya dan menunjukan giginya yang putih. Axel dan Amar hanya memutar bola matanya jengah dengan tingkah Aulia.
"Bi, di mana troli untuk mengantar makanannya?" tanya Axel, tidak mungkin untuk mereka berempat membawa makanan itu ke meja dengan tangan. Karena semua makanan yang mereka buat sangat banyak jumlahnya. Lihat saja keluarga mereka yang jumlahnya banyak tentu saja makanannya sangat banyak.
Saat semua makanan itu dibawa masuk oleh Amar dan Zamar. Alex, Caroline dan Jefri mengerutkan dahinya.
"Kenapa kalian yang membawa makanan? Kenapa kalian membawa menu makanan untuk sarapan?" tanya Jefri saat melihat putranya membawa menu makanan untuk sarapan.
"Ini makanan kesukaan mami, kita buat khusus untuk mami," ucap Amar yang mana dihiasi senyuman yang sangat indah di wajahnya.
Aulia dan Axel membantu untuk menaruh semua makanan itu di atas meja.
__ADS_1
"Mami, mami harus makan yang banyak ya … ini buatan Aulia, Aulia yakin pasti enak." Aulia berbicara dengan suaranya yang cempreng seperti biasanya.
Mendengar ucapan Aulia semua kakak-kakaknya pun melihat ke arah Aulia. "Kau itu hanya duduk dan makan saja, yang buat itu kita bertiga," ucap Axel menatap sinis Aulia.
"Tapi kita juga ada di sana. Lia juga nanti kok Mi …," ucap Aulia dengan matanya yang mulai berkaca-kaca meminta pembelaan kepada Caroline.
"Iya, iya … Lia juga buat," ucap Caroline tersenyum dan mengusap rambut Aulia.
"Mi, boleh ya … kita ke wahana bermain," ucap Axel memulai fase merayunya.
Axel, Amar, Zamar dan Aulia menunjukan mata mereka yang seperti pupy eyes. Di mana mereka akan membuat Caroline merasa gemas, sehingga Caroline tidak dapat menolak mereka. Bahkan Alex sampai memeluk kaki Caroline untuk mendapatkan izin dari Caroline.
Caroline melihat mata keempat putra dan putrinya membuatnya dalam situasi yang sulit. Bagaimana tidak mata mereka seakan-akan membuat Caroline terhipnotis dengan mata imut itu.
Caroline berusaha untuk menolak dan berkata, "Tidak, sekali mami bilang tidak ya, tidak!"
"Tapi, Mi-"
"Tidak ada kata tapi, kamu ingat 'kan anak yang jatuh dari bianglala itu, Mami gak mau kalian seperti itu." Bentak Caroline.
"Tapi, Mi-"
Ucapan Axel terhenti karena Caroline yang mulai menatap Axel dengan tajam. Setelah Axel, Amar, Zamar dan Aulia menyajikan makanan mereka mulai duduk di atas kursi.
Namun, tangan mereka sama sekali tidak menyentuh makanan yang ada. mereka hanya menatap meja dengan tatapan kosong dan waja cemberut.
"Kenapa kalian tidak makan?" tanya Caroline yang sudah mulai melunak.
"Tidak, kita mogok makan sampai Mami izinkan kita ke wahana bermain." Axel melipat kedua tangannya di depan dada.
Caroline pun melihat ke arah Jefri, tetapi Jefri hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tau.
"Baiklah … tapi kalian harus pastikan kalau kalian itu aman dan tidak terluka," ucap Caroline memperingati.
"Yeyyy … bianglala …," teriak Axel, Amar, Zamar dan Aulia.
"Sekarang kalian harus makan!" Perintah Caroline dengan menunjuk makanan yang ada di depan Axel.
"Okey," ucap Axel dengan jarinya yang membentuk huruf 'O'
__ADS_1