
Begitu semua bodyguard Jefri menjauh, Aulia segera melancarkan aksi genitnya untuk menggoda lelaki incarannya.
Jangan salah sangka, walau Aulia masih kecil, tapi Aulia memiliki banyak tipu daya. Saat pertama kali bertemu dengan Jefri Aulia terlihat seperti anak yang polos dan lugu, bahkan Jefri sampai merasa kasihan dengannya. Namun siapa sangka setelah berbulan-bulan lamanya mereka tinggal bersama, mereka tau bagaimana sikap asli Aulia.
Gadis kecil ini memiliki seribu muka, kadang seperti malaikat kadang seperti orang bodoh dan kada kala juga bisa seperti harimau.
Banyak yang sudah tertidur dengan wajahnya itu, sampai-sampai ia bisa membuat Jefri dan Caroline memanjakan dirinya.
Walau begitu, Aulia tetap anak yang baik, dia rendah hati, tapi jika sudah bosan dan usil maka drama pun dimulai olehnya.
"Apa kakak tampan habis kena marah? Kenapa kakak terlihat sedih?" ucap Aulia dengan mata puppy eyesnya.
"Bukan urusanmu bocah, diamlah jika kau terus bicara kau akan membuatku dalam masalah!" ucap pria itu memperingati Aulia.
Aulia melihat sekelilingnya, tepi ja tidak menemukan hal aneh, membuat otaknya kembali bekerja.
"Apa kakak habis kabur dari rumah?" tanya Aulia dengan menunjukan wajah polosnya.
Pria itu terlihat sudah habis kesabarannya dengan tingkah Aulia. Mata pria itu tidak sengaja melihat beberapa pengawal Deddynya yang berlari ke arahnya.
Pria itu langsung saja lari dengan membawa Aulia di tangannya. Aulia tidak terlihat panik atau pun takut ia justru senang karena pria muda itu membawa dirinya kabur bersamanya.
Amar, Zamar, Axel dan Alex hanya menggelengkan kepalanya. Ia tau jika saudara mereka saat ini bukan dalam kondisi bahaya.
Tapi bodyguard Jefri tidak sama dengan tuan muda mereka, mereka justru panik dan ikut mengejar pria muda itu.
Adegan kejar mengejar pun terjadi. Pria itu terlihat sangat lincah, walau dengan menggendong Aulia dia tetap bisa melompati gedung dan tembok.
Sungguh keahlian yang luar biasa, kejadian itu menjadi pusat perhatian masyarakat yang melihatnya. Bahkan mereka ada yang merekam kejadian itu.
"Sial, kenapa aku harus membawamu, sih bocah,' umpatnya kesal, karena merasa Aulia adalah beban baginya.
"Karena Lia anak cantik, imut, baik dan tidak sombong yang sangat cocok untuk menjadi istri kakak tampan," ucap Aulia sedikit narsi. Bukan sedikit sih, terlalu narsis.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah menikah dengan bocah ingusan sepertimu, kau hanya akan menyusahkanku, seperti sekarang," ucap pria itu menambah kecepatan larinya. Karena bodyguard yang mengejar mereka semakin banyak.
Aulia mendongakan kepalanya dari balik dada pria itu, ia melihat kondisi saat ini dan melihat wajah pria tampan itu dan berkata, "Sepertinya kakak tidak kesulitan, aku tau kakak sangat ahli dalam melarikan diri."
"Diam kau bocah," umlat pria itu.
Kitttt
Suara sepatu pria itu bergesekan dengan tanah saat ia mengerem mendadak. Karena di depan sana terlihat bodyguard Jefri yang sedang menghadang dirinya.
Namun, pria itu mengira jika para bodyguard itu adalah dari keluarganya, pria itu membelok ke kanan, dengan mudahnya ia meloncati tembok dengan Aulia yang berpindah dengan digendong belakang.
***
"Sayang … kenapa anak-anak jam segini masih belum pulang? Apa terjadi sesuatu dengan mereka?" tanya Caroline kepada Jefri yang masih fokus dengan layar handphonenya.
"Sepertinya memang terjadi sesuatu sayang … tapi ini bukan hal besar hanya hal kecil. Kamu tunggu di mansion ya, aku akan menyusul anak-anak," ucap Jefri mencium kening Caroline dan berjalan dengan buru-buru menuju garasi mobil.
Melihat reaksi suaminya, membuat Caroline yakin, jika sesuatu terjadi dengan putra, putrinya. Hal itu tentunya membuat Caroline khawatir dan menenangkan dirinya dengan meminum banyak air.
***
Jefri melihat lokasi Aulia dan juga para bodyguardnya melalui handphonenya. Jika dilihat dari titik lokasi terkini, lokasi aulia dan juga bodyguardnya sedang kejar-kejaran. Itu membuat Jefri bingung serta penasaran dengan apa yang terjadi saat ini.
Sangat berbeda dengan lokasi Amar, Zamar, Axel dan Alex mereka saat ini sedang di taman bermain dengan dua bodyguard yang menjaga mereka.
Jefri memang memasang GPS di setiap badan keluarganya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan keluarganya sampai sampai ia memasang GPS.
***
"Kakak tampan, larinya pelan-pelan saja ya, kasian mereka tidak dapat mengejar kita. Kelihatannya nafas mereka kurang panjang seperti nafas kakak," ucap Aulia yang melihat bodyguard Jefri yang sudah mulai kehabisan nafas.
Bagaimana tidak kehabisan nafas, mereka sudah lari dengan jarak 10 kilo meter dari tempat awal.
__ADS_1
"Sebaiknya kau diam! Atau aku akan membuangnya ke sungai sekarang juga," ancam pria itu yang sudah muak dengan ocehan Aulia.
"Kakak tampanku yang galak, kakak pasti gak pernah punya pacar, ya …," ucal Aulia dengan jari telunjuknya mengarah ke wajah pria itu.
Pria itu tidak menjawab, wajahnya terlihat sangat fokus. Mungkin akan terlihat menyeramkan bagi beberapa orang. Namun, tidak dengan Aulia dia malah terlibat santai dan banyak ngoceh dalam pelukan pria itu.
"Hayo … kakak ngaku, kakak gak pernah punya pacar 'kan? Kakak gak pernah laku 'kan?" Aulia masih setia menunjuk wajah pria tampan itu.
"Bukan urusanmu bocah, kau ini sangat cerewet. Aku rasanya sangat ingin membuangnya," ucap pria itu yang sudah mulai geram dengan tingkah dan ucapan Aulia.
"Syukurlah … kakak belum punya pacar, aku akan mengatakan pada mama untuk menikahkanku dengan kakak tampan." Aulia semakin berani, ia mengelus wajah pria itu yang sedang terkuat fokus dengan jalanan.
Aulia melihat di depan sana ada mobil milik sang Deddy dan membuat akalnya kembali bekerja. "Kakak, masuk ke dalam mobil itu." tunjuk Aulia girang.
Pria itu mengerutkan keningnya. 'Mobil siapa itu? Haruskah aku mengikuti ucapan bocah ini?' ucapnya dalam hati.
"Sudah kakak nurut saja denganku," ucal Aulia sedikit memaksa.
Akhirnya pria itu pun masuk juga ke dalam mobil Jefri, dan menutup pintu mobil dengan cukup keras.
"Papa … aku membawakannya calon menantu," ucal Aulia dengan girangnya.
"Uhuk uhuk." Bukan hanya Jefri yang kaget mendengar ucapan putrinya. Namun pria itu juga tidak kalah kagetnya.
"Bocah kalau ngomong itu di jaga, jika kau berani berbicara asal lagi aku akan benar-benar membuangmu ke sungai!" Ancam pria itu.
"Berani kau membuang putriku, kau akan berhadapan denganku!" Suara berat dan menyeramkan itu membuat pria muda itu kaget dan melihat ke asal suara.
Pria itu memperhatikan wajah Jefri melalui sepion mobil dan berkata, "Sepertinya aku pernah melihat wajah jelek ini, tapi di mana ya?"
"Apa kau bilang? Je-lek?" Aura membunuh Jefri kembali bangkit dan itu membuat pria muda yang duduk di samping Aulia bergidik ngeri.
"Pa, kau kan memang jelek, umur Papa kan sudah tua, Lia kan masih muda dan cantik begitu juga dengan kakak ganteng Lia," ucal Aulia dengan sikap centilnya.
__ADS_1