Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
14. Berhasil Kabur


__ADS_3

Caroline masih berpikir dengan keras, bagaimana cara untuk bisa keluar dari kamar Jefri tanpa harus melewati pintu kamar.


Caroline berjalan ke arah ranjang dan seketika matanya tertuju pada jendela di kamar Jefri yang terbuka.


Caroline berjalan menuju jendela, melihat tinggi jendela itu. "Ini sangat tinggi, tidak mungkin aku turun dari sini," gumam Caroline. Melihat ke arah bawah.


Bagaimana tidak tinggi, kamar Jefri berada tepat di lantai empat dan sangat tidak memungkinkan bagi Caroline untuk loncat dari jendela ini, yang ada bukanya berhasil kabur dari mansion Jefri, Caroline malah masuk rumah sakit.


Caroline berpikir keras bagaimana cara untuk keluar dari kamar ini. Tapi sedetik kemudian Caroline mendengar suara pintu terbuka, dengan cepat Caroline bersembunyi di bawah ranjang dengan tangannya menarik tas bag berisikan uang yang Caroline ambil dari brankas jefri.


Seorang maid masuk ke dalam kamar, untuk membersihkan kamar Jefri. Maid tersebut membersihkan kamar Jefri tapi tidak dengan ranjangnya sehingga tidak melihat Caroline yang ada di bawah ranjang.


Dan saat maid itu keluar dari kamar Jefri, Caroline bernafas lega, dan keluar dari kolong ranjang.


Caroline melihat selimut yang ada di atas ranjang dan saat itu juga Caroline mendapatkan ide untuk keluar dari kamar Jefri.


Caroline melihat ke arah jendela dan mengukur ketinggian jendela hanya dengan melihatnya saja.


Kemudian Caroline kembali ke ranjang Jefri, Caroline melepas sprei yang ada di ranjang empuk Jefri dan mengikat selimut dan juga sprei yang Caroline lepas.


Karena Caroline merasa masih kurang, Caroline mencari sesuatu yang panjang dan kuat untuk menampung berat tubuhnya. Caroline melihat ke arah sekelilingnya Caroline tidak menemukan apa pun, dan hanya menemukan gorden yang menutupi jendela saja.


Caroline melepaskan gorden itu, dan kembali menyambungnya dengan ikatan sprei dan selimut. Setelah di jasanya cukup panjang Caroline mengikat sambungan kain itu ke besi yang ada di dekat jendela.


Dan turun menggunakan tali itu. "Semoga ini bisa menampungku," gumam Caroline dan mulai turun melalui jendela dengan tangannya yang berpegangan erat kepada ikatan beberapa kain itu.


Setelah Caroline berhasil menyentuh tanah Caroline langsung saja berlari menuju pintu keluar mansion.


"Astagaa … kenapa pengawalnya sangat banyak, ini lebih mirip dikatakan istana, sekarang aku harus bagaimana untuk mengalihkan perhatian para pengawal itu?" ucap Caroline yang bersembunyi di balik pohon besar.


Caroline mencari benda dan melemparnya ke arah berlawanan dari tempat Caroline berada.


Brrukk

__ADS_1


Saat para pengawal mendengar suara itu, para pengawal Jefri langsung berlari menuju arah suara. Sedangkan Caroline langsung berlari menuju arah pintu gerbang.


Tapi, tiba-tiba Caroline teringat jika pintu gerbang berisikan keamanan listrik. Caroline kembali berlari ke arah pohon besar tempatnya sembunyi.


"Sial, aku baru ingat jika gerbang di mansion ini memiliki keamanan listrik, bagaimana aku akan keluar dari sini?" gumam Caroline.


"Aku akan mencoba mencari pintu belakang saja," ucapnya dan kembali menelusuri mansion.


Sedangkan di sisi lain Jefri yang sedang berada di ruangan meeting tidak fokus dengan pembahasan meeting kali ini.


Bahkan Miko yang selama ini selalu berada di samping Jefri, selain Jose, bingung.


Tidak pernah Miko melihat sahabatnya ini tersenyum seperti itu.


"Ini momen sangat langka, Jefri sangat jarang tersenyum sebelumnya, aku harus mengambil momen ini," gumam Miko dan mengeluarkan handphonenya dari sakit celananya dan memfoto Jefri.


Crekk


Miko melotot, ia lupa untuk mengecilkan suara dan lampu flashnya. Dan hal itu membuat Jefri tersadar dan menatap tajam ke arah Miko.


Gluk


"Tidak-tidak aku akan menghapusnya," ucap Miko dan akan kembali memainkan jarinya di layar handphone miliknya.


Tetapi belum Miko menghapus foto itu, Jefri sudah merebut handphone milik Miko terlebih dahulu, lalu memasukannya ke dalam laci yang ada di meja kerjanya.


"Tidak ada, gajimu tetap dipotong 50% bulan ini," ucap Jefri dengan aura dingin dan suara beratnya.


"Tapi-"


"Lanjutkan meetingnya," ucap Jefri tegas.


Miko tidak bisa berbicara apa pun, Miko duduk dan mengikuti meeting dengan wajahnya yang lesu.

__ADS_1


Lain halnya dengan Jefri, walaupun mengikuti meeting, Jefri tetap tersenyum-senyum sendiri.


'Ahhh … aku rasanya sangat merindukan wanita itu, aku tidak akan melepaskannya aku akan menikahinya dan menjadikannya satu-satunya wanita yang ada di sisiku selain Aurel,' Batin Jefri. Walaupun pikiran Jefri tertuju pada Caroline, tetapi tidak ada yang mengetahui, jika pulpen yang ada di tangan Jefri saat ini adalah pulpen perekam suara.


Karena itu Jefri bisa santai dan tidak terlalu fokus dengan pembahasan meeting kali ini. Pikirannya selalu tertuju pada Caroline.


Setelah pagi tadi Jefri mengakui perasaannya jika ia mencintai Caroline, pikiran Jefri terus saja tertuju kepada Caroline. Jefri merasa seperti ada lem di hatinya yang menempelkan Caroline di hatinya.


Jefri langsung melihat ke arah Miko yang sedang fokus memperhatikan meeting kali ini.


Jefri mendekatkan bibirnya ke telinga Miko dan berbisik, "Nanti kau siapkan kebutuhan untuk menikah, dan tunggu aku di KUA."


Setelah mengatakan itu Jefri kembali membenarkan duduknya. Sedangkan Miko, Miko mengerutkan dahinya. "Kau sepertinya demam," ucap Miko dengan suara yang sangat kecil, tetapi masih bisa terdengar oleh Jefri.


"Aku tidak demam, kau ikuti saja perintahku. Atau kau ingin aku tidak memberikan gajimu?!" ancam Jefri dengan menatap tajam ke arah Miko.


Mendengar itu Miko akhirnya bungkam, Miko tidak berkata apa pun, dari pada gajinya tidak diberikan lebih baik Miko menutup mulutnya.


Jefri dan Miko kembali mengikuti meeting dengan tenang dan dengan suasana hati yang berbeda.


Sedangkan di sisi lain, Caroline sedang kesusahan untuk memanjat tembok pembatas mansion Jefri. Karena Caroline tidak menemukan pintu keluar lainnya, Caroline akhirnya hanya bisa memanjat tembok.


Dan saat ini Caroline sedang berada di atas tembok dan berusaha untuk turun. "Ini sangat tinggi, aaassstagaaa … apa iya aku harus meloncati tembok ini?" gumam Caroline melihat ke bawah.


Gluk


Demi bisa keluar dari neraka ini Caroline akhirnya berhasil melompati tembok dengan tangannya yang membawa tas bag berisi uang.


"Yeeesss … aauuwww …," pekik Caroline saat merasakan sakit pada bagian kakinya yang mana bekas cambukan Jefri masih belum sembuh betul.


"Tahan sebentar lagi, kita harus pergi jauh dulu dari sini, kaki," ucap Caroline berbicara dengan kakinya yang mana sudah pasti tidak akan menjawab.


Caroline berusaha untuk berjalan tanpa terlihat pincang, Caroline tidak ingin membuat orang-orang yang berada di sekitarnya memperhatikannya, itu akan berbahaya jika pengawal Jefri menanyai warga saat mereka mengetahuinya jika aku tidak ada di ruangan bawah tanah.

__ADS_1


Dengan buru-buru Caroline berlari menjauh dari mansion Jefri. Dan saat sampai di jalan raya Caroline menghentikan taksi dan taksi itu berjalan menuju ke bandara.


__ADS_2