Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
59


__ADS_3

Ternyata kau di sini Caroline,” ucap Marco dengan mulutnya yang masih berisikan makanan.


“Apa ini pacarmu?” tanya marco dengan tangannya yang mengambil makanan di atas meja.


Caroline melotot saat melihat Marco yang ada di sampingnya, ia takut jika Marco mengetahui tentang identitasnya yang mana sebenarnya adalah istri Jefri.


“Hmmm … bukan, dia ….” Caroline terlihat memejamkan matanya mencari jawaban yang tepat.


“Hmmm, sepertinya aku juga pernah melihat wajah ini. Tapi di mana, ya?” Marco memperhatikan Jefri dan berusaha untuk mengingat.


Caroline yang melihat Jefri ingin membuka mulutnya, dengan cepat ia membuka suara, “Dia adalah bodyguard yang aku sewa.”


Jefri melotot ke arah Caroline mendengar apa yang baru saja Carolline ucapkan.


‘Astaga … mulutku ini tidak bisa diajak kerjasama.’ Batin Caroline saat Caroline merasakan hawa membunuh sedang mengelilingi dirinya.


“Oooo,” Marco terlihat menganggukan kepalanya, “bukankah tadi kau mengatakan akan makan dengan pacarmu, ke mana dia?”


“Itu, dia tidak jadi datang. Ada masalah di kantornya.” Caroline memperlihatkan senyum paksanya. Karena di dalam hatinya masih ada rasa takut melihat wajah jefri yang mulai terlihat marah.


Marco menarik pergelangan tangan Caroline, membuat Caroline jatuh ke dalam pelukan Marco. “Maaf,” ucap Caroline dan menjauh dari Marco.


Tetapi tidak dengan Marco yang terlihat senang. Marco mendekatkan wajahnya ke telinga Caroline dan berbisik, “Ada apa dengan bodyguardmu? Wajahnya sangat menyeramkan.”


Caroline hanya menanggapi dengan senyuman saja, sesekali Caroline melirik ke arah jefri dan lagi-lagi Caroline melihat tatapan membunuh seakan ingin menelan seseorang saat itu juga. ‘Apa yang akan aku lakukan untuk membujuknya nanti. Mati aku.’ Umpat Caroline dalam hati.


Brakk


Jefri menggebrak meja makan mereka dan melenggang pergi meninggalkan mereka. Caroline melihat itu pun langsung mengejar Jefri yang meninggalkannya dalam keadaan marah.


“Sayang … tunggu,” teriak Caroline tetapi tidak dihiraukan oleh Jefri.

__ADS_1


Sampai akhirnya CAroline berhasil mengejar Jefri dan memeluknya dari belakang. “Sayang, maaf.” Carolin terlihat hanya memanyunkan bibirnya dan mendongakan wajahnya ke atas.


“Masuk!” Wajah Jefri terlihat marah, dan suaranya yang terdengar tegas.


Melihat Jefri yang sudah mulai marah membuat Caroline Takut dan hanya mematuhi apa yang Jefri katakan.


Saat Caroline sudah masuk ke dalam Marco menghampiri jefri dan berbisik, “Aku akan merebutnya darimu,” ucap Marco tersenyum mengejek ke arah Jefri dan melenggang pergi meninggalkan Jefri begitu saja.


Jefri menatap tajam Marco dan mengepalkan tangannya, Jefri mengeluarkan Handphone miliknya dan mengirim pesan ke arah Miko.


[Pecat orang bernama Marco dari divisi keuangan sekarang juga!] pesan Jefri kepada Miko.


***


Sedangkan di sisi lain, Zail sedang mencari tahu tentang yang dikatakan istrinya. Dengan melihat rekaman CCTV yang sempat Aurel lihat saat itu.


Zail saat ini sedang fokus pada layar laptopnya mencari tahu siapa pria yang ditemui oleh Alex dan Axel saat di sekolah.


Tetapi dari tadi Zail tidak menemukan apa pun. ia hanya menemukan Jika pria itu sering pergi ke rumah sakit.


“Sepertinya ini memang masalah yang genting. Aku harus mengikuti kemanapun perginya Axel dan Alex.”


“Sayang … apa kau menemukan sesuatu yang mencurigakan?” tanya Aurel menghampiri suaminya yang masih fokus pada layar laptopnya.


“Iya, kau tidak perlu memikirkannya. Biar aku saja yang menangani ini.” Zail mengusap kepala Aurel dan menuntunnya menuju kamar.


Ke esokan harinya. Tepat saat Aurel sedang berbelanja ke mall. Secara tidak sengaja Aurel melihat Alex dan Axel yang masuk ke dalam taksi. Aurel pun mengikuti Alex dan Axel menggunakan mobilnya.


Setelah Sekian lama Aurel mengikuti mereka, Aurel melihat mengerutkan keningnya saat melihat mobil yang Alex dan Axel naiki memasuki sebuah mansion yang berada jauh di dalam semak-semak.


“Apa yang mereka lakukan?” gumam Aurel.

__ADS_1


“Nona, apa kita akan tetap mengikuti mobil itu ke dalam?” tanya sang sopir yang mana saat ini posisi mereka sedang berada di luar mansion.


“Tidak, Pak. Bapak tunggu di sini dulu, saya akan masuk ke dalam.” Aurel mengambil dompet dan handphonenya, dan mulai masuk ke dalam mansion yang mana tidak dijaga terlalu ketat. Sehingga membuat Aurel dapat masuk dengan mudah.


Terapi semakin Aurel masuk ke dalam penjagaan semakin ketat. tidak seperti di gerbang mansion, yang mana tidak ada orang yang berjaga sama sekali. Saat Aurel berada sudah dekat dengan pintu manson, Aurel tidak bisa masuk, karena penjagaan yang semakin ketat.


Aurel bersembunyi di garasi mobil yang berada tidak jauh dari pintu masuk mansion. “Untuk apa Alex dan Axel ke sini?” gumam Aurel.


Samar-samar Aurel juga mendengar ada suara teriakan yang persis seperti suara Alex dan Axel. Aurel segera mengikuti suara itu. Tetapi itu adalah garasi mobil, Bagaimana bisa ada suara seseorang di sana.


Aurel terus berjalan sampai ke pojok garasi dan di sana Aurel menemukan sebuah tangga yang menuju ke bawah. “Apa di dalam sana ada ruangan bawah tanah?”


Aurel turun menggunakan tangga itu, Aurel mendapati ruangan yang sangat gelap. Yang mana hampir tidak ada pencahayaan sama sekali di dalamnya. Untungnya Aurel membawa handphonenya dan menggunakan senter handphone miliknya untuk menerangi jalan.


Saat Aurel mendengar suara derap kaki. Aurel dengan cepat bersembunyi dan mematikan senternya.


“Apa kalian tau kalian itu berisik?! Bisakah kalian diam!” ucap penjaga yang datang menghampiri Alex dan Axel dengan berkacak pinggang.


“Paman, Adikku lapar … aku mohon tolong beri kami makanan.” Alex bersimpuh di depan penjaga itu demi mendapatkan makanan.


“Untuk apa kalian makan. Lagi pula sebentar lagi juga kalian akan mati,” penjaga itu berucap dengan sangat enteng.


Alex yang mendengar itu mengepalkan erat kedua tangannya, jika bukan untuk adiknya dia tidak akan pernah memohon seperti ini.


“Aku mohon, aku akan melakukan apa pun asal kalian memberikan kami makanan.” Alex mencakupkan kedua tangannya. Alex tidak bisa hanya diam saja saat melihat kondisi Axel yang sangat memprihatinkan.


“Aku tidak membutuhkan apa pun dari kalian!” Bentak penjaga itu dan kembali ke posisinya yang berada di depan pintu menuju ruangan itu.


Mendengar itu Alex menjadi kelimpungan, Axel yang sudah lemah dan kehausan sedari kemarin, terlihat sangat lemas. Alex menghampiri Axel dan berkata, “Xel, kau harus bertahan Xel. Aku akan mencari cara agar kau bisa minum walau hanya sedikit.”


Aurel yang mendengar percakapan mereka. Menjadi penasaran siapa pemilik suara itu. Karena suara itu sangat mirip dengan suara Alex dan Axel.

__ADS_1


Aurel kembali menghidupkan lampu senternya dan mengarahkannya ke arah Alex dan Axel.


“Siapa di sana?!” teriak salah seorang penjaga yang melihat adanya cahaya senter di dalam ruangan.


__ADS_2