Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
70.


__ADS_3

Caroline menarik Jefri masuk ke dalam ruang ganti mereka dan berkata, “Buka pakaianmu!” perintah caroline.


Jefri tersenyum mendengar itu, “Ooo, jika permintaanmu untuk ini tidak perlu meminta sayang aku pasti akan melakukannya jika kau katakan.”


Saat Jefri ingin memeluk Caroline yang terlihat sedang mencari sesuatu di dalam lemari, Caroline berbalik dan menyerahkan kimono kepada Jefri. “Pakai itu.”


***


Sekolah


Alex, Axel, Amar, Zamar dn Aulia. Mereka satu sekolah, tetapi Alex dan Axel sudah lompat kelas karena kepintaran mereka yang melebihi rata-rata pada anak-anak umumnya, dan sekarang Alex dan Axel sedang berada di kelas 5. Hanya butuh waktu 4-5 bulan untuk mereka lompat kelas.


Amar dan Zamar berada di kelas 3 dan Aulia berada di kelas satu.


Berbeda dengan Alex dan Axel, walaupun Amar, Zamar dan Aulia adalah anak Caroline dan Jefri. Namun, semua penghuni sekolah ini memandang mereka sebelah mata, tak jarang mereka sering mendapatkan cacian dan hinaan dari teman sekelasnya.


“Anak kampung, lap sepatuku!” Seorang anak perempuan bernama Laura melemparkan sebuah lap ke wajah Aulia.


“Tapi, aku ingin ke kantin,” ucap Aulia.


“Bisa beli apa kau ke kantin, asal kau tau kantin di sini semuanya mahal dan kau hanya anak angkat tidak mungkin kau punya uang,” ucap Laura dengan sangat sombong dengan kedua tangannya yang dilipat.


“Cepat lap sepatuku!” bentak Laura.


“Apa yang kau lakukan pada adik kami!” Amar dan Zamar yang kebetulan lewat di depan kelas Aulia, melihat apa yang Laura lakukan pada adik mereka.


“Ooo, rupanya ada lagi anak kampung yang membela kawannya,” ucap Laura tersenyum licik dan tangannya dilipat di depan dadanya.


Amar dan Zamar membantu Aulia untuk berdiri, mereka tidak akan membiarkan adik mereka berlutut di depan orang jahat seperti ini.


“Semuanya … coba kalian lihat, bagaimana tiga bersaudara miskin ini saling membantu. Siapa saja di antara kalian, yang bisa membuat mereka mengelap sepatuku kalian akan mendapatkan imbalan dari Dedyku.” mendengar itu tentu saja membuat Amar dan Zamar marah.


Lagian siapa yang bisa melawan putri tunggal dari keluarga Erdato ini. Keluarga Erdato memiliki bisnis terkuat di London setelah keluarga Al Zero, walau status keluarga Erdato masih jauh di bawah keluarga Al Zero. tetapi tidak ada yang berani melawan mereka selain keluarga Al Zero.


Semua murid yang mendengar itu langsun berbondong-bondong berusaha untuk membuat Amar, Zamar dan Aulia untuk mengelap sepatu Laura. Bahkan mereka sampai memukul Amar dan Zamar.


Di kelas Axel dan Alex

__ADS_1


“Alex … Axel ….” Teriak teman sekelas mereka yang berlarian menghampiri Alex dan Axel.


“Ada apa, sih kau. Aku tidak setuli itu sampai ku harus berteriak,” ucap Alex dengan wajah dinginnya yang tidak pernah pergi dari ekspresinya.


“Itu ….” Anak laki-laki bernama Luki itu mengatur nafasnya, sebelum ia melanjutkan ucapannya, “itu, Amar, Zamar dan Aulia mereka dalam masalah. Laura menyuruh semua murid untuk bisa membuat Amar,Zamar dan Aulia untuk mengelap sepatunya.”


“Apa?” pekik Axel sedikit lebay dengan teriakannya yang keras.


Berbeda dengan Alex yang langsung berjalan menuju ruang kelas Aulia, disusul dengan Luki di belakangnya.


“Tunggu ….” Teriak Axel mengejar mereka.


“Jika kalian berani menyentuh saudaraku maka kalian akan berurusan denganku!” teriakan Alex membuat semua orang menoleh ke arah asal suara.


Begitu mereka melihat jika itu adalah Alex dan Axel semua pada menyingkir dan menjauhi Amar, Zamar dan Aulia. Alex dan Axel menghampiri ketiga saudaranya yang terduduk di lantai dan Axel membantu mereka untuk berdiri.


Alex menatap tajam ke arah Laura, dan itu membuat Laura ketakutan. Laura gugup harus mengatakan apa untuk tidak berurusan dengan Alex dan Axel. ‘Kenapa Alex dan Axel membelanya? Bukankah mereka hanya anak angkat?’


“Alex, Axel kenapa kalian membela mereka? Bukankah mereka hanya anak pungut. Untuk apa kalian membela mereka?” ucap Laura berusaha menutupi ketakutannya.


Plakkk


Alex menampar Laura dengan sangat keras, bahkan Laura sampai terduduk di lantai saking kuatnya tamparan Alex.


“Siapa yang kau sebut anak pungut! Di keluarga kami tidak ada satu pun yang namanya anak pungut,” ucap Alex dengan tegas.


“Jika kau tidak minta maaf kepada mereka sekarang juga, aku akan mengeluarkanmu dari sekolah ini!” ucap Alex.


“Jangan-jangan aku akan minta maaf.” Laura bersimpuh memohon di depan Alex.


‘Sial, awas saja aku kan membalas kalian lain kali. Jika bukan karena ancaman Alex aku tidak akan mau berlutut di depan anak kampung seperti kalian.’ Batin Laura.


“Amar, Zamar, Aulia aku mohon maafkan aku.” Laura menggeser badannya dan bersimpuh di depan Amar, Zamar dan Aulia.


“Tidak, apa-apa Aulia. aku tidak mempermasalahkan itu.” Aulia dengan berbaik hati memaafkan Laura dan membantu membangunkannya.


***

__ADS_1


Di perusahaan Al Zero, tepatnya di ruangan CEO. Seorang pria dengan perawakan wanita sedang duduk di kursi CEO, dengan Caroline yang duduk di sofa memainkan handphonenya.


Tok tok tok


Setelah mendengar suara ketukan pintu itu berhenti, pintu mulai terbuka dan memperlihatkan Miko dan Jose yang masuk ke dalam ruangan CEO.


Mereka mengerutkan keningnya, saat melihat seorang wanita duduk di kursi CEO. Apa lagi wanita itu terlihat Aneh, bagian dadanya terlihat bidang seperti seorang pria dan lengannya yang berotot.


“Carolin, di mana Jefri? Dan kenapa ada wanita yang duduk di kursi CEO?” tanya Miko.


“Ya itu, yang duduk di kursi itu kan Jefri, apa kalian tidak mengenalinya?” tanya Caroline dengan sebelah Alisnya yang terangkat.


“Apaa?” Teriak Miko dan Jose bersamaan.


“Itu, orang yang sedang duduk di kursi CEO itu Jefri?” tanya mereka lagi, mereka sangat syok saat melihat Jefri dengan penampilan seperti itu.


“Astaga Jefri … apa kau tidak kasihan dengan Carolin, Bagaimana dia akan memiliki anak lagi jika kau berubah wujud seperti ini,” ucap Miko menghampiri Jefri.


“Apa yang kau lakukan Jose!” Bentak Jefri.


“Aku tidak percaya jika kau ganti gender, aku akan melihatnya sendiri,” ucap Jose yang berusaha untuk mengangkat kaki Jefri.


Bhugg


“Bang**t, Aku masih tetap pria. Ini hanya riasan!” Bentak Jefri mendang Jose.


Miko melongo mendengar itu.


“Iya, aku merias Jefri jadi perempuan. Bagaimana hasilnya apa dia cantik?” Caroline tanpa ada raut wajah bersalah, tersenyum kepada Jose dan Miko.


“Upss … whahah.” Jose dan Miko tertawa terbahak-bahak. bahkan mereka sampai terjongkok di lantai.


“Apa hasil riasanku Jelek? Jika jelek aku akan merubahnya lagi,” ucap Caroline.


Mendengar ucapan itu Jefri langsung menatap tajam ke arah Jose dan Miko.


“Tidak … riasanmu sangat bagus.” Jose dan Miko berusaha untuk menahan tawa mereka jika tidak ingin terkena amukan Jefri.

__ADS_1


“Tuh … mereka sudah bilang jika riasanmu bagus, biarkan aku lepas semua ini ya ….” Jefri memeluk Caroline dan memohon kepada Caroline agar membiarkan Jefri melepas semua ini.


“Tidak, aku ingin 5 orang yang mengatakan jika riasanku bagus!”


__ADS_2