
Apartemen Caroline.
Setelah mengantarkan Alex pergi ke sekolah, Caroline pergi ke apartemennya untuk mengambil semua barang-barangnya dan juga kedua putranya.
Caroline memutuskan untuk pergi dari negara ini, karena Caroline merasa tempat ini sudah tidak nyaman lagi untuknya dan juga untuk kedua anaknya.
Cepat atau lambat Jefri pasti akan menemukan kedua putranya jika, Caroline terus tinggal di negara yang sama dengan Jefri.
Caroline mengemas semua barang-barangnya bersama dengan Carzol yang mana membantu Caroline untuk mengepak barang.
Caroline berencana untuk pergi ke Indonesia, karena di sana tidak ada Cabang dari perusahaan Jefri sehingga meminimalisir pertemuan yang mungkin akan terjadi.
Caroline mempersiapkan semua barang-barang yang mana memang perlu dibawa untuk keberangkatan yang direncanakan akan terbang besok pagi. Dan akan disusul oleh Carzol dua Minggu kemudian, karena Carzol masih memiliki pekerjaan yang harus diurus di sini.
Di cabang perusahaan Al Zero
Singapore
Jefri duduk di kursi CEO kursi yang ia dapat dari hasil kerja kerasnya. Dengan pandangannya yang fokus ke arah laptopnya, tangannya yang saling terkait satu sama lain dan menjadi tumpuan dagunya.
Jefri sangat serius menonton apa yang sedang ada di layar laptopnya dengan berkata, "Untuk apa Caroline keluar dari apartemen membawa begitu banyak barang?" gumam Jefri.
Ya, Jefri sedang memantau Caroline, melalui kamera CCTV yang dia pasang di depan kamar Caroline. Dan saat ini Jefri menemukan jika Caroline berada di apartemen miliknya, dan keluar membawa begitu banyak barang.
"Apa jangan-jangan Caroline ingin pergi lagi dariku?" ucap Jefri menerka-nerka.
"Tapi, siapa pria yang ada di sampingnya itu?" ucapnya saat melihat Carzol yang keluar apartemen menyusul Caroline untuk membantu membawa barangnya.
Jefri langsung saja menekan tombol merah yang ada di belakang kursinya, yang mana akan langsung terhubung ke dalam ruangan Miko.
Tok tok tok
Tak lama kemudian Miko datang, dan masuk ke dalam ruangan Jefri dengan membenarkan dasinya dan pakaiannya.
__ADS_1
"Apa kau habis bermain wanita di kantor lagi?" Jefri menaikan sebelah alisnya yang mengetahui bagaimana kebiasaan kawannya yang satu ini.
Miko sangat suka bermain wanita, tetapi wanita itu hanya akan menjadi mainannya dan setelah digunakan akan dibuang begitu saja.
Miko yang di tanya seperti itu hanya menggaruk kepalanya bagian belakangnya yang tidak gatal dan memperlihatkan giginya yang terlihat rapi dan putih.
Jefri hanya menggelengkan kepalanya dan berkata, "Jangan sampai kau mengalami hal yang sama denganku dan menyesal suatu hari nanti," ucap Jefri memperingati.
"Iya iya … ada apa kau memanggilku?" Tanya Miko.
"Kau cari informasi tentang orang yang ada di dalam rekaman ini." Jefri mulai membuka kembali laptopnya dan menunjukan rekaman CCTV itu.
"Baik Tuan," ucap Miko, "Tuan … apa kau akan membiarkan Nona Caroline pergi lagi?"
Jefri mengerutkan keningnya dan menjawab, "Tentu saja tidak, dia hanya aja. Menjadi milikku dan tidak boleh ada seorang pun yang menyentuhnya."
"Lalu … kenapa Anda masih diam di sini, sedangkan Nona sudah akan pergi …." Miko memutar matanya, yang pastinya sudah tau jika Caroline akan pergi lagi.
Baru saja Miko akan memutar kepalanya ke arah belakang, ternyata Jefri sudah tidak ada di dalam ruangan.
Setengah jam kemudian, Jefri sampai di apartemen Caroline dan melihat semua barang-barang Caroline sudah masuk ke dalam mobil Carzol.
Saat Caroline akan menaiki mobil Carzol, tiba-tiba saja pergelangan tangannya digenggam.
Caroline memutar kepalanya dan melihat Jefri yang mencekram pergelangan tangan Caroline, dengan wajah yang sangat menyeramkan.
Jefri segera menarik tangan Caroline, sampai membuat Caroline jatuh ke dalam pelukannya. Dan Carzol yang melihat hal itu, turun dari mobil dan, menemukan Caroline yang jatuh dalam pelukan Jefri.
“Apa yang kau lakukan! Lepas!” Bentak Caroline, berusaha lepas dari pelukan Jefri.
“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi!” Dengan wajah yang merah, Antara karena terkena sinar matahari atau marah.
“Siapa kau yang berani mengatur kehidupanku? Kau bukan siapa-siapaku, Kau hanya orang di masa lalu yang memberikan kenangan buruk!” Bentak Caroline dengan menatap mata Jefri dengan tajam.
__ADS_1
Jefri tertegun mendengar perkataan Caroline. Dia mengakui bahwa dirinya memang salah di masa lalu, tapi Apa dirinya sudah melukai hati Caroline begitu dalam sampai-sampai membuatnya tidak bisa memaafkannya?
“Aku tau aku salah, tapi percayalah … aku tidak bermaksud untuk melukaimu, awalnya aku mengira, jika kau adalah istri Jek, karena kau berada di kamarnya,” ucap Jefri menunjukan wajah sedihnya, karena rasa bersalah.
Caroline benar-benar sudah mengubah sang singa jantan yang dingin dan kejam ini, tunduk kepadanya. Sampai-sampai di mana singa yang tidak pernah mau merendah dan menundukan kepalanya, Kali ini sangat-sangat merendahkan dirinya dihadapan Caroline.
Caroline tertegun, mendengar itu. Akhirnya dirinya tau kenapa dulu saat menjadi ‘tawanan Jefri’ jefri sering mengatakan ‘suamimu’
Dan menyiksa dirinya habis-habisan. Tetapi walau sudah mengetahui kebenarannya bukan berarti Caroline dengan mudah untuk jatuh ke dalam pelukan Jefri. Caroline masih mempermasalahkan sikap Jefri yang kejam itu. Karena Caroline tidak ingin kedua putranya tumbuh di dalam lingkungan yang keras.
Caroline ingin mereka tumbuh di lingkungan yang mana tidak akan mempengaruhi masa kanak-kanak mereka.
“Itu tidak akan mengubah keputusanku! Aku hanya ingin hidup dengan tenang. Tidak ada bayang-bayangmu sedikit pun.” Tatapan yang Caroline berikan kepada Jefri semakin tajam.
‘Dia benar-benar tidak berubah, hanya kucing betinaku yang bisa menatapku seperti ini, tidak ada rasa takut dalam dirinya terhadap diriku seperti orang lain.’
“Tidak, kau harus ikut denganku. aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku. Apa kau tau saat aku merasakan kesepian tanpamu? aku merindukanmu, aku mencintaimu, dan itu aku sadari saat kau sudah pergi dariku. aku mohon … maafkan aku. aku akan melakukan apa pun supaya kau mau memaafkanku.” Jefri berlutut di depan Caroline, dan tanpa disadarinya air matanya menetes,dengan mata yang menatap ke arah Caroline. Berharap Caroline akan luluh.
Melihat hl itu, Caroline bukannya lulu, tetapi ia ternyata semakin marah. “Tidak usah menunjukan air mata palsumu itu di depanku. Aku mengenalmu, kau bukanlah pria yang mudah mengeluarkan air mata. jadi hapuslah air mata itu. Dan tidak usah menunjukkan wajah palsumu itu.” Hati Caroline sudah tertutup, Bagaimana pun kedua putranya adalah prioritasnya.
Wajah Jefri semakin merah karena marah. ia tidak terima, permintaan maafnya yang sangat tulus dari lubuk harinya, malah dianggap sebagai wajah palsu oleh Caroline.
Tanpa aba-aba Jefri dengan langkahnya yang sangat cepat menggendong Caroline dan hendak membawanya pergi.
Tetapi sebelum itu terjadi, Carzol yang sedari tadi hanya menonton, mulai bergerak saat melihat Jefri menggendong Caroline.
“Tuan, lepaskan dia,” ucap Carzol memegang bahu jefri.
Jefri merilik kebelakang, dan dengan sangat cepat melempar Carzol yang bobot tubuhnya terbilang besar, ke arah mobil sampai membuat Carzol tak sadarkan diri.
“Carzoll …,” teriak Caroline dan hendak turun dari gendongan Jefri.
“Diam, jika tidak kedua anakmu tidak akan selamat!” bisiknya.
__ADS_1
Hallo, maaf baru up. kegiatan mulai padat. Jadi gak bisa up cepet. Klo ada yang udah gak sabar sama lanjutannya, bisa baca di hot buku y. di sana sudah lumayan. terimakasih