Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
95.


__ADS_3

Jefri tanpa ampun langsung menghajar Ronald membabi buta. Bahkan Ronald yang sudah terjatuh di tanah tidak diberi jeda oleh Jefri, untuk bernafa ataupun melawan sedikit pun. Caroline kaget melihat kedatangan Jefri yang langsung menghajar Ronald membabi buta.


"Sayang … sudah, jangan memukul lagi!" teriak Caroline ada rasa takut hatinya melihat sisi Jefri yang seperti ini


Jefri tetap tidak menghiraukan teriakan Caroline, telinganya seakan tuli dan terus memukuli Ronald. Tak lama kemudian Caroline terjatuh ke tanah dan terdengar suara teriakan anak-anak mereka.


"Mama …," teriak Alex, Axel, Amar, Zamar, dan Aulia yang berada di ambang gerbang sekolah.


Mendengar teriakan itu, membuat Jefri menghentikan gerakan tangannya dan


melihat kebelakang. Matanya melotot saat melihat Caroline yang pingsang. Jefri berlari menuju Caroline dan berkata, "Sayang … Sayang bangun, Sayang …."


Jefri panik seluruh badannya mulai bergetar, sampai sebuah suara menyadarkannya. "Pi … kita bawa ibu ke rumah sakit, Pi." Suara Axel membuat Jefri tersadar dan menggendong Caroline menuju mobil mereka, diikuti oleh anak-anak Jefri.


Ronald yang melihat Caroline pingsan pun ikut panik, tetapi ia tidak bisa berbuat apa pun. Ronald tidak memiliki kemampuan untuk melawan Jefri, ia hanya bisa melihat dan menyaksikan bagaimana Caroline yang pingsan dibawa masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil menuju rumah sakit, Jefri terus menggenggam tangan Caroline. Wajahnya menggambarkan sebuah kekhawatiran yang sangat besar. Bahkan sesekali Jefri menghapus air matanya dengan mencium tangan sang istri.


Alex, Axel, Amar, Zamar dan Aulia. Mereka tidak bisa berbuat apa pun selain hanya menatapi Jefri dan Caroline. "Om Jin, lebih cepat lagi!" ucal Aulia.


Semua yang mendengar itu menatap Aulia. "Kenapa semuanya menatap Lia?" tanya Aulia dengan menggaruk tengkuknya.


"Siapa yang kamu panggil Om Jin, Nak?" Jefri mulai bisa mengontrol rasa khawatirnya dan bertanya kepada putrinya yang selalu bertingkah.


"Itu, yang sedang nyetir mobil, Pa," jawab Aulia dengan menunjuk kepada Pak Luxio yang sedang menyetir mobil.


"Maaf, Nona … nama saya bukan Jin, nama saya Luxio," jawab Pak Luxio dengan sopan.

__ADS_1


"Nama Om gak cocok, Om. Nama Luxio itu cocok untuk artis tampar yang berisi rambut, tapi Om botak, itu glowingnya keliatan Pak," ucap Aulia dengan menunjuk kepala botak Pak Luxio.


"Whahah …." Seisi mobil tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aulia.


"Loh, memangnya Lia salah?" tanya Aulia dengan wajah polosnya dan menunjuk dirinya.


"Kamu gak salah sayang … dia memang Om Jin, yang selalu Papi bawa dan rawat hahh …." Tawa Jefri pecah saat mendengar lelucon putrinya.


Aulia tersenyum karena dapat membuat sang papi tertawa. Aulia memang khawatir dengan Caroline, tapi ia tidak bisa melihat kesedihan di wajah papinya. Alex yang menyadari hal itu pun hanya tersenyum dengan tangannya yang dilipat di depan dada.


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit, Jefri bergegas membawa Caroline masuk ke dalam ruangan UGD. Walaupun sebenarnya Caroline tidak perlu di bawa ke UGD hanya saja Jefri yang terlalu berlebihan sehingga harus dibawa ke UGD untuk diperiksa lebih lanjut.


Di luar Jefri menunggu tampak cemas melihat ke arah pintu ruangan UGD. "Pi, tadi kenapa Papi bisa ada di sekolah? Bukanya mami bilang hanya akan menjemput kita sendiri?" tanya Axel dengan dagunya yang bertopang pada kedua tangannya dan pandangannya yang lurus ke depan.


"Tadi memang Papi tidak ingin ikut menjemput kalian … karena ada klien yang harus Papi tangani. Tapi ternyata urusan dengan klien selesai lebih awal jadi Papi ingin menjemput kalian bersama Mami. Tapi malah Papi melihat perlakuan bejat lelaki itu," ucap Jefri dengan tangannya yang terkepal kuat.


"Bagaimana keadaan Caroline/Mami?" tanya Jefri, Alex dan Axel bersamaan.


Zail hanya menghembuskan nafasnya kasar dan berkata, "Caroline baik-baik saja dia hanya syok dan membuat tekanan darahnya tinggi sedikit dan membuatnya pingsan."


"Sekarang di mana dia?" tanya Jefri saat mencuri-curi pandang melihat ke dalam ruangan. Namun, di sana terlihat kosong dan membuat hati Jefri gundah.


"Tenanglah … Caroline sudah dipindahkan ke ruangan sebelah," ucap Zail menepuk sebelah pundak Jefri.


Jefri langsung berlari ke ruangan sebelah dan melihat Caroline yang sedang terbaring lemah.


***

__ADS_1


Sementara di kediaman Orlando, Ronald sedari tadi tidak berhenti menatap layar laptopnya. Yang mana di camera laptop itu menampilkan Caroline yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Dari mana Ronald mengetahui keberadaan Caroline? Kenapa Ronald bisa melihat Caroline melalui laptopnya?


Jawabannya saat tadi Ronald menyentuh tangan Caroline, tanpa diketahui oleh Caroline jika Ronald menanam alat pelacak pada pergelangan tangan Caroline dan juga alat penyadap suara untuk mengetahui percakapan Caroline. Caroline tidak mengetahui itu karena alat itu seperti bunglon dia berbentuk tipis kecil dan akan menyerupai warna yang sesuai dengan benda yang ada di sekitarnya.


"Andai aku bisa berada di sisimu. Aku akan selalu menjagamu … sabar sayang aku akan merebutmu darinya," gumam Ronald dengan pandangan matanya yang tidak kepada dari Caroline.


Brakkk


Ronald mengalihkan pandangannya dari laptop dan beralih menatap ke arah suara itu. Dilihatnya dari arah pintu sang kekasih datang dengan marah, Zikia adalah kekasih Ronald yang sangat tergila-gila dengannya. Buhkan Zikia sampai gila saat Ronald meninggalkannya dan tidak ingin menerimanya. Namun, sang bunda Ronald membujuk Ronald untuk menerima Zikia dan membuatnya mau menerima Zikia.


"Kenapa kau meninggalkanku sayang …," ucap Zikia dengan manja dan bergelayut pada lengan Ronald.


"Aku sudah mengatakan jika aku akan pergi, tapi kau masih di sana," ucap Ronald cuek.


"Tapi setidaknya kau menungguku!" ucap Zikia dengan nada yang sedikit meninggi.


Ronald melotot ke arah Zikia dan menghembuskan nafasnya kasar. Ronald kembali menatap laptopnya yang mana memperlihatkan Caroline yang di temali kelima anak-anaknya beserta Jefri. Zikia melihat wanita yang ada di layar laptop kekasihnya pun merasa hatinya terbakar.


"Siapa wanita itu sayang?" tanya Zikia yang mana sudah terbakar emosi saat melihat kekasihnya tersenyum saat melihat Caroline.


"Calon istriku," jawabnya spontan.


Mendengar itu Zikia melotot dan membentak Ronald, "Tidak bisa! Hanya aku yang boleh menjadi suamimu, dia tidak pantas. Apa kau lihat dia sedang hamil dan sedang bersama suaminya!"


Zikia menunjuk ke arah laptop dengan emosi yang menggebu. Mendengar itu Ronald pun tersebut emosi dan berkata, "Aku tidak peduli mau dia hamil atau sudah menikah, dia harus tetap menjadi milikku, dan kau kau hanya istri pilihan mama dan tidak bisa memiliki hatiku!"


Mendengar itu membuat Zikia semakin emosi dan membuat Zikia menaruh dendam pada Caroline. "Awas saja kau, aku akan menemukanmu di mana pun kau berada. Aku akan membuatmu lenyap dari muka bumi ini karena sudah berani merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!"

__ADS_1


author mohon maaf sebesar besarnya y ... karena baru bisa up. belakangan sering sakit karena hujan badai jadi masuk angin terus gak bisa nambah bab. author mohon maaf sama pembawa Tawanan Tuan Jefri yang udah nunggu bab selanjutnya kelamaan ya author up? sekali lagi maaf ya.


__ADS_2