Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
12. Mengetahui siapa sebenarnya Caroline


__ADS_3

‘Semua penghuni mansion ini sama saja dengan tuannya, sama-sama tidak memiliki hati nurani!’ Batin Caroline yang sangat kesal dengan apa yang dilakukan pelayan Jefri kepadanya.


Caroline masih berusaha untuk menarik tubuhnya dengan tangannya yang bertumpu dengan lantai. Hanya tinggal sedikit lagi Caroline sampai pada pintu kamar Jefri. 


Caroline langsung membuka pintu dengan susah payah, akhirnya bisa terbuka. Begitu pintu terbuka, Caroline melihat makanannya berada di lantai, walaupun sudah beralaskan piring tetapi bagi Caroline itu sama saja sudah terkontaminasi dengan kuman.


Melihat itu Caroline sangat ingin marah kepada maid yang mengantar makanannya, tetapi apalah daya, dirinya hanya seorang tawanan di mansion ini, walaupun dia marah maka itu hanya akan dianggap angin lalu oleh maid di sini.


Caroline membuang nafasnya kasar dan mengambil makanan yang tergeletak di lantai, dan membawanya masuk ke dalam kamar dengan mengesot.


‘Astagaaa … butuh berapa hari supaya aku bisa pulih? bahkan saat ini aku tidak memiliki tenaga untuk jalan bagaimana aku kabur dari mansion ini?’ Batin caroline bertanya kepada dirinya sendiri.


Caroline berjalan menuju arah sofa dan menaruh piring makanannya di atas meja yang ada di depan sofa. Dengan susah payah Caroline bisa naik ke atas sofa dan mengambil makanannya yang ada  di atas meja. Akhirnya Caroline bisa makan dengan tenang.


setelah selesai makan, Caroline merebahkan tubuhnya di atas sofa dan mulai memejamkan matanya.


Sedangkan di lantai bawah, Jefri baru saja pulang dari perusahaan dan di sambut oleh kepala pelayan yang ada di mansion Jefri. “Di mana wanita itu?” tanya Jefri tanpa melihat ke arah kepala pelayan tersebut yang tak lain adalah Pak Zidan.


“Masih di kamar Anda, Tuan,” jawab Pak Zidan dengan membantu Jefri melepaskan jas yang melekat pada tubuhnya.


Jefri tidak berkata apa pun lagi dan segera berjalan menuju ke arah kamarnya.


Pak Zidan mengikuti dari belakang Jefri. Sesampainya di depan pintu kamar miliknya, Jefri membuka pintu dan masuk ke dalam kamar dengan Pak Zidan yang menunggu di luar kamar menunggu perintah selanjutnya dari atasannya.


Sedangkan Jefri yang berada di dalam kamar melihat ranjangnya masih berantakan, Jefri mengalihkan pandangannya ke arah sofa dan melihat Caroline yang tidur dengan sangat nyenyak.


Jefri tersenyum melihat keindahan ciptaan tuhan yang ada di depanya. Kulit putih, mata sayu, pinggang yang ramping serta bagian dada dan bokong yang berisi membuat setiap kaum hawa yang melihatnya pasti terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Caroline.


‘Aku sangat berharap semoga kau tidak ada sangkut pautnya dengan Jek, tidak memiliki hubungan apa pun dengan bajingan itu.’ Batin Jefri berkata dengan berharap. dengan mengusap dahi Caroline.


Jefri kemudian berjalan keluar dari kamarnya dan berkata, “Kau siapkan kamar untukku, dan perintahkan maid untuk membersihkan kamarku!” ucap Jefri dan berjalan menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Tiga hari berlalu


Perusahaan Al Zero


Jefri yang berada di dalam ruangan meeting, membuat semua petinggi perusahan merinding. Aura membunuh yang menyebar di seluruh ruangan membuat semua yang hadir di dalam ruangan meeting merinding.


“Apa hanya ini yang bisa kalian hasilkan, hah!” teriak Jefri kepada seluruh petinggi perusahaan. 


seluruh petinggi perusahaan yang mendengar teriakan Jefri menjadi gemetar ketakutan. semua petinggi perusahaan menundukan kepalanya takut. 


Brrraaaakkk


“Apa kalian semua tuli, hah?” teriak Jefri lagi.


“Aku menyuruh kalian untuk menjelaskan apa masalahnya, Apa kalian semua sudah bosan hidup!” teriak Jefri lagi dengan wajahnya yang merah padam.


semua yang ada di dalam ruangan itu gemetar, mereka semua mengenal siapa Jefri. Jefri tidak pernah   main-main dengan ucapanya, bahkan sudah banyak petinggi perusahaan yang melakukan kesalahan menjadi menderita sampai saat ini. 


Sudah beberapa orang yang mendatangi Jefri ingin mendekatinya, walau hanya berbincang saja, tetapi sebelum mereka berbicara yang di luar jalur bisnis mereka sudah diusir oleh Miko terlebih dahulu. 


"Jika tidak ada yang membuka mulut dan ingin menjelaskannya maka aku akan mengeluarkan kalian dari negara ini!" ucap Jefri tegas dengan aura yang menakutkan melekat pada dirinya. 


Mendengar apa yang dikatakan Jefri dengan cepat salah satu dari mereka membuka suara.


"Tuan, kami akan berusaha lebih keras lagi, Tuan, tolong berikan kami kesempatan," ucap salah satu petinggi perusahaan itu, yang duduk di kursi nomor 2 dari depan. 


"Aku akan memberikan kalian waktu satu hari, jika kalian tidak memiliki ide yang lebih cemerlang dari ini maka kalian akan di pecat," ucap Jefri dengan tegas. 


Gluk 


"Tapi-" 

__ADS_1


"Tuannn …," teriakan seseorang membuat salah satu ucapan petinggi perusahaan itu terhenti. 


Siapa lagi jika bukan Miko yang berani berteriak memanggil Jefri dengan sangat keras dan tidak sopan. 


"Aku tidak tuli, kau tidak perlu berteriak!" bentak Jefri kepada Miko dengan menatapnya tajam. 


"Kau jangan mengurusi yang tidak penting dulu, ini lebih penting ini mengenai calon istriku," ucap Miko menyerahkan sebuah documen kepada Jefri. 


"Masalah calon istrimu apa urusannya denganku?" ucap Jefri bingung dengan sebelah alisnya yang naik. 


"Ya jelas ada, calon istriku masih kau jadikan tawanan di mansionmu, aku sedang menunggumu untuk melepaskannya setelah itu aku akan mengawininya," ucap Miko dengan membayangkan body Caroline yang sangat bohay.


Jefri menatap Miko dengan tatapan tajam dan berkata, "Aku akan memotong gajimu jika kau berbicara sekali lagi." 


Miko dengan cepat menutup mulutnya rapat-rapat. Jefri mulai membuka documen itu dan saat membaca awal kalimat dari documen  itu dengan cepat Jefri berkata, "Rapat kali ini selesai bubar semuanya." 


Jefri kembali melanjutkan membaca documen itu setelah semua petinggi perusahaan itu keluar dari ruangan rapat. 


Wajahnya yang terlihat sangat serius saat membaca isi dari documen itu.


Caroline adalah anak Carol Atmaja dan Jeslin Atmaja. Pendiri dari perusahaan Atmaja group, walau perusahaan itu tidak memiliki pendapatan yang besar tetapi perusahaan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. 


Sampai suatu saat, orang tua Caroline meninggal dalam suatu kecelakaan tragis, dan semua perusahaan dan harta warisan yang seharusnya menjadi milik Caroline diambil oleh paman dan bibinya. 


Dan Caroline semenjak SMA sudah tinggal sendiri dan bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan biaya sekolahnya. 


Sampai pada saat Perusahaan orang tua Caroline dan semua harta warisan Caroline hangus begitu saja di tangan paman dan bibinya yang menggunakan semua uang itu untuk berfoya-foya. 


Paman dan bibi Caroline menjual Caroline kepada seorang mafia yang bernama Jek, untuk menutupi semua hutang hutang mereka dan mereka hidup foya-foya dari hasil menjual Caroline bersama dengan anak mereka yang selalu merasa iri dengan Caroline karena bodynya yang sangat bagus, yang bernama Marcell. 


Braaakkk 

__ADS_1


__ADS_2