
“Hai, Nona … bolehkah aku berkenalan denganmu?” Tanya pria muda itu. pria itu tidak lain adalah Ronald.
Jefri melihat seorang pria yang ingin mendekati istrinya langsung menyembunyikan Caroline di belakangnya. Sorot mata Jefri berubah tajam saat itu juga, ia sangat tak suka seorang pria mendekati istrinya dengan tatapan lapar. Padahal terlihat sangat jelas jika perut Caroline sudah mulai membesar terlihat buncit. Namun pria bernama Ronald itu tetap saja menghampirinya.
“Hmm … tuan, bisakah kau menyingkir aku ingin berkenalan dengan wanita cantik di belakang Anda.” Entah pria itu buta atau ada masalah dengan matanya. Saat ini dia tidak tau saja jika dia sudah membangunkan singa tidur.
Wajah Jefri terlihat merah karena menahan amarah yang luar biasa dalam hatinya. Tangannya sudah terkepal dengan gerakan cepat Jefri langsung melayangkan sebuah tinju ke arah Ronald.
Bhuggg
Caroline tidak berbuat apa pun. Ia hanya dengan wajahnya yang datar menonton apa yang dilakukan suaminya itu. Dengan tangannya yang berusaha menutupi perutnya, ia takut jika anaknya yang masih di dalam kandungan melihat adegan ini makan akan membawa dampak pada anaknya.
Setelah Jefri puas menghajar Ronald, Jefri berbalik dan melihat Caroline menutup perutnya dengan kedua tangannya. Jefri melihat itu cemas, ia mengira Caroline syok melihatnya yang menghajar Ronald dengan membabi buta. Jefri berlari menghampiri sang istri dan bertanya dengan nada khawatir, "Sayang … apa ada yang sakit? Apa kau terkejut?"
Caroline menjawab dengan menggelengkan kepalanya, dan mulai melepaskan tangannya dari perutnya yang mulai membuncit. Walau belum besar karena usia kehamilan Caroline baru menginjak 3 bulan. Jika Jefri melihat dari ekspresi wajah Caroline, maka Jefri akan mengetahui jika Caroline baik-baik saja.
"Lalu kenapa kau menutup perutmu, Sayang?" tanya Jefri yang sudah mulai merasa lega.
"Aku takut anakku melihatmu yang seperti itu," ucap Caroline, yang mana hal itu membuat Jefri melongo. Bagaimana tidak? Seharusnya Caroline menutup matanya jika ingin anaknya tidak melihat adegan tadi kenapa malah perutnya?
Saat Jefri sedang asik berbicara dengan Caroline. Terlihat Ronald sudah bisa mulai bangun, Ronald ingin memukul Jefri. Namun, Jefri lebih dulu mendengar suara langkah kaki Ronal sehingga membuat Jefri dapat menangkis serangan Ronald dan membuatnya terjatuh kembali.
"Masih mau lawan?" Jefri menaikan sebelah alisnya. Ia sudah sangat emosi karena Ronald tidak kapok juga setelah di hajar olehnya.
__ADS_1
"Apa kau masih ingin mengganggu istriku? Jika kau masih ingin mengganggu istriku aku akan memberikanmu pelajaran lebih dari ini!" ucap Jefri dengan kedua tangannya yang terlipat di dada dan juga matanya yang memancarkan amarah.
Caroline melihat amarah suaminya mulai tak terkontrol pun mulai berjalan mendekat, dan mengelus pelan lengan suaminya. Jefri menatap ke arah Caroline dan manik mata mereka bertatapan satu sama lain. Jefri tau jika Caroline takut melihat amaranya.
Karena itu Jefri mencoba meredamnya dengan mencium kening Caroline. Jefri juga mengelus kepala Caroline dengan sayang. Ronal menatap tak suka kepada Jefri.
Ia merasa sangat dipermalukan oleh Jefri. Ronal adalah anak dari pemilik perusahaan Orlando group. Sebelumnya dia tidak ada yang pernah berani memukulnya bahkan semuanya menghormatinya. Karena semuanya mengetahui jika Ronald adalah pewaris Orlando group.
Namun, hal itu tidak untuk Jefri. Ia tidak peduli siapa Ronald, jika pria itu berani melirik istrinya maka tidak akan segan Jefri memberikan bogem. Rasa dendam mulai tumbuh di hati Ronald dan juga obsesinya untuk merebut Caroline semakin menjadi setelah melihat bagaimana body Caroline saat dari dekat.
Ya, Caroline memang memiliki body yang sangat bagus. Dia terlihat sangat seksi, bahkan belakangan semua semakin bertambah besar. Dapat dilihat dari baju yang Caroline gunakan sudah mulai ketat.
Jefri dan Caroline bergegas berjalan memasuki sekolah. Jefri merasa risih saat semua mata menatap mereka dan menonton pertunjukan yang tadi ia buat. Namun, saat langkahnya ingin memasuki gerbang sekolah kelima anak-anaknya itu berjalan beriringan mengarah mereka.
Caroline tersenyum mendengar itu dan mengusap lembut kepala Aulia dan berkata, "Ya sudah … ayok pulang, Mami akan masak untuk kalian."
***
Saat mereka sampai di mansion, sebelum makan siang yang dibuat oleh Caroline selesai. Jefri memanggil Alex dan Axel ke dalam ruang kerjanya. Di sinilah Alex dan Axel sekarang mereka sedang duduk manis di kursi depan meja kerja Jefri.
Mereka sedang menunggu Jefri untuk mengatakan tujuannya sebenarnya Jefri memanggil mereka. Setelah sekian lama Jefri menatap layar laptopnya. Akhirnya, Alex merasa bosan dan bertanya lebih dulu, "Pi, ada apa Papi memanggil kita ke sini?" tanya Alex saat ia sudah sangat bosan melihat Papanya yang selalu menatap layar laptopnya.
Jefri mulai melihat ke arah Alex dan Axel dan berkata, "Oooo … papi hanya ingin mengatakan. Kalian hanya akan belajar untuk berlatih senjata dan bela diri di hari libur, ala kalian setuju? Papi tidak ingin sekolah kalian juga terganggu."
__ADS_1
Alex dan Axel tampak seperti memikirkan apa yang dikatakan oleh Jefri. Mereka saling pandang satu sama lain, dan tak lama kemudian mereka melihat Jefri dan menganggukan kepalanya.
"Tapi ada syarat, Pi." Mendengar itu Jefri menaikan sebelah alisnya mendengar ucapan Alex.
"Apa?" tanya Jefri, dengan tangannya yang mulai menutup laptopnya dan menatap kedua putranya yang ada di depannya.
"Kita ingin jika libur kita akan di markas papi sampai kita kembali sekolah dan kita hanya akan pulang malam hari. Bagaimana?" ucap Alex melakukan penawaran kepada Jefri.
Terlihat Jefri berpikir dan jawaban yang sama dengan jawaban Alex dan Axel pun keluar dari mulut Jefri. Yang mana hal itu membuat Alex dan Axel mengulum senyumnya senang.
***
Malam hari. Jefri terbangun dari tidur nyenyaknya, ia tiba-tiba saja mengingat tentang Mona dan Marcell. Ia harus segera menyelesaikan masalah kedua nenek Lampir itu. Jefri tidak akan tenang sebelum kedua orang itu menghilang dari sini. Ia yakin jika mereka tidak akan berhenti sebelum hari mereka puas.
Akhirnya, Jefri pun memutuskan untuk ke markas. Jefri hanya bisa ke markas saat malam hari, ia takut jika ke markas siang hari akan membuat istrinya khawatir. Karena jika Jefri ke markas sudah pasti akan berurusan dengan darah.
Tak lama kemudian Jefri sudah siap dengan menggunakan jaket kulit dan celana yang sangat senada dengan warna jaketnya.
***
Tak lama kemudian Jefri sampai, dengan di sambut oleh beberapa penjaga yang masih terjaga menunggu kedatangan Jefri. Dengan sorot mata yang dingin Jefri pun bertanya, "Di mana mereka?"
"Mereka sedang sekarat, Tuan …," ucap bodyguard itu dengan menunduk.
__ADS_1