
"Aku tidak apa-apa, biarkan saja. Nanti juga hilang," ucap Zaki yang bingung bagaimana menanggapi Rodbi.
Rodbi hanya menganggukan kepalanya, ia tidak bisa memasak temannya jika sudah mengatakan tidak.
***
Di dalam kamar yang mana sangat sedikit pencahayaan. Aulia terbangun, ia melihat Amar dan Zamar sudah tertidur pulas.
Aulia tidak ingin mengganggu tidur kakaknya, dan Aulia pun berjalan menuju pintu yang ada di samping tempat tidur mereka, yang mana pintu itu menghubungkan ke kamar Alex dan Axel.
Mereka tidur berpisah, bukan berarti Caroline dan Jefri membeda-bedakan mereka. Itu semua sesuai dengan kesepakatan yang mereka rundingkan.
Amar, Zamar dan Aulia, mereka memilih tidur bersama karena mereka takut jika salah satu dari mereka terjadi sesuatu maka akan mereka bisa saling membantu satu sama lain. Mereka sangat mengenali bagaimana watak saudara mereka saat ini.
Sedangkan Alex dan Axel mereka ingin tidur bersama karena ingin berunding jika ada masalah dengan saudara kembarnya ataupun ada sesuatu yang mengganggu mereka. Jadi mereka bisa saling memberi pendapat.
Awalnya mereka ingin untuk tidur berlima bersama-sama, tapi Jefri menyarankan untuk pisah. Karena jika terlalu banyak akan terasa sumpek, akhir Jefri membagi mereka menjadi dua tapi walau begitu kamar mereka akan saling terhubung satu sama lain.
Alex dan Axel yang masih berada di depan layar komputer mereka, menoleh ke arah pintu dan melihat Aulia yang masuk ke dalam kamar mereka.
Aulia tau jika Axel dan Alex tidak pernah tidur jika belum, menunjukan pukul 3 malam, maka mereka tidak dapat tidur.
Yap, itu semua karena kejadian saat mereka dikurung oleh Jek di ruangan gelap dan membuat mereka memiliki insomnia. Mereka akan selalu takut jika sudah mulai menutup matanya, mereka takut akan ada lagi yang menculik mereka.
Yang mengetahui tentang hal ini, hanya Aulia, Amar dan Zamar. Namun Aulia, Amar dan Zamar tidak bisa mengatakan itu kepada Caroline ataupun kepada Jefri. Alex dan axel sudah membuat mereka bersumpah tidak akan mengatakannya kepada Caroline dan Jefri.
"Aulia?" gumam Axel, turun dari kursinya dan menghampiri Aulia.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Axel, ia memegang bahu Aulia.
"Kak, Lia lapar … apa tidak ada makanan di dapur yang bisa mengisi perut Lia?" Lia, begitulah mereka memanggil Aulia dengan menggunakan nama kecilnya.
"Hmm … jika itu kakak tidak tau, bagaimana jika kita priksa?" ucap Axel mengusulkan pendapatnya dan diangguki oleh Aulia.
__ADS_1
"Kak, aku antar Aulia cari makan ya …," ucap Axel santai dan mengajak Aulia untuk ke dapur.
Dalam hal ini Axel mulai terlihat dewasa, Axel tidak ingin menjadi lemah dan hanya akan bergantung pada kakak, mama dan papanya.
Ia sangat mengingat kejadian di mana ia dikurung oleh Jek. Dia sangat kelaparan, dan hanya Alex yang bisa membawakan makanan untuknya dengan mencuri sedikit demi sedikit roti dari penjaga bawah tanah itu.
Setelah selamat, Axel memutuskan untuk berubah dan bersikap lebih dewasa dari sebelumnya. Sekarang sudah terlihat bagaimana dewasanya Axel, ia lebih terlihat mirip seperti sang kakak.
"Hmm … ambilkan aku juga," ucap Alex dan Axel hanya mengangkat jempolnya jasa sebagai bawaban.
"Kak, kenapa sangat gelap? Biasanya juga banyak lampu, kenapa sekarang seperti sarang hantu?" ucap Aulia dengan suara yang terdengar kecil.
Axel tertawa mendengar celotehan Aulia.
"Namanya juga lampunya dimatikan, Lia ya pasti akan gelaplah." Axel berjalan ke arah saklar lampu.
Tak
Axel menghidupkan lampunya dan seketika ruangan itu menjadi terang benderang.
"Sudah, kak sekarang kita ke dapur." Aulia menarik pergelangan tangan Axel dan Axel hanya bisa pasrah mengikuti Aulia.
Saat membuka kulkas, wajah Aulia menjadi cemberut melihat kulkas yang mana isinya hanya ada daging mentah, buah dan saru.
"Ke mana perginya makanan Lia? Gak mungkin ada maling ambil 'kan kak?" ucap aulia dengan menunjukan wajah imutnya.
"Whahah … Lia, Lia, mana ada maling cuman mengambil makanan. Maling kalau masuk rumah sudah pasti yang diambil itu emas, berlian dan uang," ucap Axel dengan mengusap kepala Aulia.
"Lalu, sekarang Lia akan makan apa, Kak? Lia lapar …," ucapnya dengan memonyongkan mulutnya itu. Namun hal itu membuat Axel gemas pada adik angkatnya ini dan mencubit pipi Lia dengan gemas.
Sebenarnya di dalam kamar mereka ada kulkas, setiap kamar di dalam mansion pasti ada kulkas dan berisikan Snack. Namun semua makanan yang ada di kulkas kamar Lia, sudah habis Lia makan sendiri, sedangkan kulkas kamar Axel dan Alex hanya berisikan makanan sehat seperti buah dan sayur.
"Hmmm … bagaimana jika kakak yang masak?" Mendengar usulan yang Axel berikan membuat Aulia sedikit ragu.
__ADS_1
"Memang, Kakak bisa masak? Kenapa Lia tidak pernah tau hal itu?" Auli menaikan sebelah alisnya.
"Hmm … tidak." Axel hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan memperlihatkan giginya yang putih bersih.
"Jika tidak bisa untuk apa menawarkan diri, yang ada nanti gosong, Kak, nafsu Lia jadi ilang," ucap Aulia sedikit kesal kepada Axel.
"Tidak ada salahnya jika di coba, 'kan bisa lihat di google," Axel memperlihatkan tablet yang ia bawa sedari tadi.
"Sejak kapan kakak bawa tablate? Apa kakak punya kantong ajaib?" tanya Aulia mengelilingi Axel.
"Hehehe … ini kakak bawa dari tadi, kamu saja yang tidak lihat," ucapan Axel terdengar sangat jutek dan judes tetapi liat tidak menganggap seperti itu. Lia malah menganggap ucapan Axel seperti candaan.
Axel segera berjalan ke arah bar mini dan duduk di atas kursi tinggi. Axel meletakan tabletnya di samping kompor dan mencari resep makanan.
Axel mencari resep spaghetti untuk Aulia.
Dengan sekali lihat axel merasa sudah dapat mengingat semua apa saja yang di perlukan.
"Lia, pegang ini untuk kakak." Axel menyerahkan tablet itu kepada Aulia yang berada di samping kursi itu.
"Apa kakak yakin bisa mengingat semua resep itu," tanyanya ragu, Lia tidak mungkin percaya jika Axel bisa mengingat hanya dengan sekali baca.
"Kau meragukan kemampuan kakak?" ucap Axel dengan nada sedikit menantang kepada adiknya itu.
Aulia menutup mulutnya dan berkata, "Upsss … aku tidak berani, Kak."
Ucapan yang Aulia katakan dan isi hatinya tidak sesuai, Axel tahu itu, Aulia pasti saat ini sedang meremehkan kemampuan mengingatnya.
'hehhe kakakku terlalu sombong, kita lihat apa kakak akan ingat tanpa bertanya pada, Lia, Lia tidak akan memberi izin jika kakak ingin bertanya," batin lia.
Aulia duduk di bar mini milik jefri dengan bersenandung ria, sedangkan Axel masih terlihat fokus dengan masakannya.
Tak selang beberapa jam kemudian, Makanan. Axel sudah selesai dan menghidangkannya ke dalam piring, tidak lupa menyiapkannya h tuk sang kakak juga.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"
Suara itu membuat Axel dan Aulia menjadi terperanjat kaget. Bahkan Sendok yang awalnya berada di atas piring jatuh karena Axel yang datang tiba-tiba.