
Caroline dan Jefri duduk di kursi tepat di depan putra-putri mereka bermain saat ini. Jefri tidak bisa memperhatikan putra-putrinya. ia hanya bisa fokus menjaga bumil yang saat ini sedang memegang sangat banyak makanan di tangannya.
Yap, saat melihat berbagai jenis makanan yang ada di sana Caroline langsung berlari menghampiri sekian banyaknya warung yang menjual makanan di sana. bahkan tidak sesekali Caroline asal comot makanan dan membuat penjual makanan itu kelabakan menghadapi Caroline saking banyaknya makanan yang Caroline ambil.
Untung saja Caroline istri sultan, jika tidak penjaga warung itu sudah pasti berpikir akan rugi banyak karena Caroline langsung memakannya saat itu juga. Jefri jela tidak akan peduli dengan uang yang ia keluarkan jika itu memang bisa membuat keluarganya bahagia. Jefri tidak ragu untuk mengeluarkan uang 2 milyar hanya untuk jajanan pasar.
Pedagang jajan itu jelas senang sekaligus kaget. Karena pendapatannya kali ini jauh lebih besar dari modalnya jualan. Bahkan ia sempat mengira jika itu mimpi.
“Mama …,” teriak Alex yang datang menghampiri Caroline dan Jefri dengan kedua tangannya yang penuh dengan banyak barang.
“Apa ini, Sayang?” Jefri dan Caroline kaget saat melihat Alex yang datang dengan membawa begitu banyak barang di tangannya. Bahkan bukan hanya Alex. Namun, dua bodyguard yang bertugas menjaga Alex juga membawa begitu banyak barang.
“Ini Barang-barang yang aku menangkan dari bermain itu, Pi,” ucap Alex dengan menunjuk warung yang seperti sudah bangkrut itu.
Siapa lagi pelakunya jika bukan Alex. Alex memilih permainan yang menurutnya menghasilkan dan menguntungkan dirinya, seperti main tembak botol yang mana seseorang yang mengenai botol yang bertumpuk tiga itu dan berhasil membuatnya roboh maka akan mendapatkan hadiah.
Permainan yang seperti itulah yang Alex mainkan. Karena menurut Alex permainan itu lebih menguntungkan dibandingkan dengan permainan yang lainnya yang mana menurutnya itu permainan anak-anak.
“Aku memainkan permainan yang orang itu buat sampai kedai miliknya bangkrut, Pi.” Alex merasa senang karena sudah memenangkan begitu banyak benda hari ini dan juga pulang tidak dengan tangan kosong.
Bahkan sepertinya tidak ada raut wajah bersalah di wajah pria kecil itu karena sudah membuat orang itu bangkrut karena ulahnya. Bukan hanya satu kedai yang Alex buat bangkrut melainkan lima kedai sekaligus, dapat dilihat jika kelima pemilik kedai itu sedang menangis karena modalnya tidak berputar.
“Hebat putraku,” ucap Caroline merasa bangga dengan putranya.
Sedangkan Jefri memberikan kode melalui tangannya untuk mengganti semua kerugian yang dialami oleh kelima pedagang itu. Tak lama kemudian Alex dan Amar datang menghampiri mereka karena melihat Alex yang membawa begitu banyak barang
__ADS_1
"Wahh … ini semua Kakak menangkan?" Mata axel berbinar kala melihat banyak benda-benda kesukaannya.
Apa lagi jika bukan mobil-mobilan dan dron. Axel langsung sama mengambil benda itu dari kardus yang di bawa oleh anak buah Jefri.
"Sudah taruh barangnya di sini," perintah Jefri saat melihat Axel yang tampak kesulitan mengambil barang. Karena kardus itu terlalu tinggi untuk tubuh kecilnya.
Axel langsung berlari menuju kursi dan mengambil barang yang ia inginkan. Bukan hanya Axel melainkan, Amar, Zamar dan Aulia pun berlari mengambil barang-barang yang mereka inginkan.
"Sayangg … aku ingin kau main juga, aku ingin kau mengambil pancingan ikan." Caroline tiba-tiba saja bersikap manja dan itu membuat jefri semakin senang.
"Hanya itu saja?" ucap Jefri dengan nada terdengar sombong.
"Aku ingin kau menangkap ikan di dalam kolam itu," ucap Caroline menunjuk ke arah yang banyak bola-bolanya.
Sudah pasti itu akan menjatuhkan wibawa seorang Jefri di depan banyak orang. Namun, yang membuat kedua bodyguard itu tambah kaget, jefri malah mengiyakan apa permintaan Caroline. 'Owh my god!!! Ada apa dengan dunia hari ini?' pekik kedua bodyguard itu dalam hati. Pasalnya Jefri bahkan tidak pernah mendengarkan perintah orang lain selama hidupnya.
Caroline kegirangan melihat Jefri yang sudah menangkap begitu banyak ikan di dalam kolam mandi bola itu. Walau cukup sulit baginya tapi apa pun akan Jefri lakukan demi Caroline.
***
Waktu menunjukan pukul 12. 00 AM.
Jefri dan keluarga kecilnya sampai di mansion. Setelah puas bermain berbagai wahan dan permainan mereka kelelahan dan memilih pulang. Namun, siapa sangka dalam perjalanan pulang Caroline ingin melihat monyet dan yang lebih lucunya lagi yang menjadi monyet itu harus Jefri. Hal itu jelas mengundang gelak tawa seluruh orang dalam mobil.
Jefri tidak bisa membantah. Akhirnya, Jefri pun mengiyakan keinginan Caroline dan berlaga seperti monyet di depannya dengan menggunakan kostum monyet yang ia beli di pasar malam tadi.
__ADS_1
Saat ini Jefri sedang menggendong bumil itu dengan sangat hati-hati. Bahkan ketiga anaknya yang tidak lain Amar, Zamar dan Aulia sudah tertidur dengan pulas di dalam mobil.
Jefri memerintahkan anak buahnya untuk mengangkat anak-anaknya dan ia berjalan menuju kamarnya. Jefri meletakan Caroline dengan sangat hati-hati di atas ranjang, sebelum jefri turun.
Jefri memandangi wajah Caroline dan berkata, "Maaf, selama ini aku sibuk dengan orang yang selalu berniat jahat kepada kita. Sampai-sampai aku melupakan kalian, aku janji akan memperbaiki semuanya dan akan berusaha menjagamu dan anak-anak kita dengan nyawaku."
Setelah berkata begitu, Jefri pun berjalan ke bawah. Niatnya kali ini Jefri akan, mengurus masalah Mona dan Marcell karena Jefri yakin jika keluarga Snack itu di hipnotis oleh seseorang.
Ia tidak percaya jika yang menghipnotis itu adalah Mona ataupun Marcell. Ia tau jika bibi Caroline itu tidak bisa menggunakan ilmu seperti itu.
Namun, dahinya berkerut saat pandangannya tertuju pada dua pria kecil yang tampan sedang bermain dengan tablet mereka. Siapa lagi jika bukan Axel dan Alex, kedua bocah itu sedang menunggu Jefri karena mereka ingin menagih janji kepada Jefri.
"Kenapa kalian belum tidur, hmm?" tanya Jefri dengan mengusap rambut Axel dan Alex.
"Kita ingin menagih janjimu, Pa …," ucapan Alex terdengar serius membuat kening Jefri mengerut.
"Janji?" gumam jefri yang sepertinya melupakannya.
Axel menghentak-hentakan kakinya ke lantai kesal. Jefri sudah berjanji pada mereka akan mengajari cara menggunakan alat-alat yang ada di ruangannya.
Dengan rasa kesal yang membuncah di hatinya, Axel pun menjawab, "Papa kan sudah janji akan mengajari kita cara menggunakan semua senjata yang ada di ruangan rahasia Papa."
Axel kesal begitu juga dengan Alex. Saudara kembar itu sudah berharap jika Jefri akan mengajak mereka ke markasnya malam ini. Tapi, apa yang mereka dapat? Jefri malah melupakan janjinya dan membuat mereka marah.
Mendengar ucapan Axel, Jefri pun mengingatnya. Namun, kali ini ia sedikit kebingungan bagaimana caranya membujuk kedua putranya itu. Tidak mungkin jika Jefri mengatakan ia ingin menghilangkan hipnotis keluarga Snack.
__ADS_1