Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
85.


__ADS_3

Perusahaan Al Zero.


Di Ruangan CEO, terlihat Jefri sedang duduk di kursi kekuasaannya dengan memijat tulang hidungnya.


Ia merasa sakit kepala karena melihat documen yang ada di atas mejanya bertumpuk-tumpuk.


"Kenapa bisa sebanyak ini?" tanya Jefri, pusing saat melihat berkasnya yang masih tidak berkurang.


Miko menaikan sebelah alisnya, mendengar pertanyaan Jefri dan berkata, "ini semua pekerjaan menumpuk karena kau yang belakangan ini hanya mengurus masalah mafia. Jadi yang di perusahaan semuanya belum terurus."


"Kau kan bisa kerjakan beberapa, kenapa kau tidak mengerjakannya," ucap Jefri dengan nada sedikit meninggi.


"Apa kau lupa? Kau yang menyuruhku membantu pekerjaan Jose … dan kau juga yang melarangku untuk mengerjakan pekerjaan kantor," ucap Miko mengingatkan kembali Jefri dengan ucapannya saat itu.


"Haiiss … ya sudah, baiklah. Buatkan aku kopi," perintah Jefri, mulai mengambil berkas itu dengan malas.


"Baik," jawab Miko dan baru saja akan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, lagi-lagi Jefri pun memanggilnya.


"Tunggu," ucap Jefri dengan menunjuk Miko dengan jari telunjuknya, "apa Zail sudah mengirim hasil otopsinya? Aku ingin hari ini juga ada di atas mejaku."


Terdengar suara penuh penekanan, dari mulut Jefri, dan itu membuat Miko tak berani berkata apa-apa selain menjawab 'Iya'


"Kenapa masalah datang sangat banyak. Semuanya datang bertubi-tubi tanpa jeda. Itu membuatku pusing," ucap Jefri masih memijat pelipisnya.


"Tidak, aku harus membagi semuanya. Jika tidak semuanya tidak akan selesai dan salah satu akan terbuang terbengkalai." Wajah Jefri mulai terlihat semangat dan pandangannya yang menatap lurus ke depan. Jefri mengambil laptopnya dan mulai mengetik pada keyboardnya.

__ADS_1


Namun, tak lama kemudian terdengar pintu ruangan Jefri kembali diketuk oleh seseorang dan Miko kembali muncul di balik pintu itu.


Miko berjalan masuk ke dalam ruangan, dan bertanya, "Bagaimana dengan masalah keluarga Snack? Kita masih belum menemukan jejak di mana keberadaan Mona dan Marcell."


"Itu bisa kita untuk dulu, kita utamakan dulu masalah makanan beracun itu dan juga masalah kantor," ucap Jefri dengan tangannya yang sudah mulai kembali mengambil berkas-berkas itu.


Miko menganggukan kepalanya dan pergi meninggalkan ruangan Jefri. Tidak lama kemudian pintu ruangan Jefri kembali terbuka. Tanpa terdengar suara ketukan pintu sama sekali, seorang wanita dengan pakaian serba ketat masuk dan meletakan kopinya di samping Jefri.


Saat mata Jefri tidak sengaja melihat wanita itu, tiba-tiba ia merasa jijik dan Jefri melempar kopi yang ada di tangannya saat ini. Wanita yang terlihat seperti office girl itu kaget bukan main, bahkan ia sampai sedikit meloncat.


"Keluar …," teriak Jefri. Wajah jefri saat ini sudah merah padam.


Bahkan Miko yang ruangan berada di sebelah Jefri pun dapat mendengar teriakan Jefri. Bukan hanya Miko, sekretaris Jefri yang berada di depan pintu antara ruangan Jefri dan Miko juga dapat mendengar teriakan Jefri.


Miko, dan sekretaris Jefri pun berlari masuk melihat apa yang sedang terjadi. Dan mereka melihat banyak pecahan gelas yang berserakan dan juga seorang wanita yang sedang berdiri dengan menggunakan pakaian seksi di depan Jefri.


Sekretaris Jefri yang bernama Lucy itu segera menghampiri office girl itu dan menuntunnya untuk keluar dari ruangan Jefri. Namun, wanita itu berontak dan malah berniat mencari perhatian di depan Jefri dengan memegang kakinya.


"Tuan … mohon maafkan aku, Tuan," ucapnya dengan memegang kaki Jefri.


Jefri justru merasa jijik dengan wanita itu. Dengan sekuat tenaga Jefri menghempaskan tubuh wanita itu dengan keras menggunakan kakinya hingga membuatnya terlempar ke tembok.


Lucy yang melihat itu segera berlari menghampiri office girl itu, sebelum Jefri kembali melakukan sesuatu yang lebih buruk.


"Bisa-bisanya kau mempekerjakan wanita macam itu!" Suara Jefri terdengar menakutkan bahkan hawa dingin mulai menyelimuti ruangan itu.

__ADS_1


"Ok … aku akan memecatnya." Miko berusaha untuk tidak terlihat takut, walau ia tau jika sahabatnya ini sudah mengetahui jika dia sedang ketakutan.


***


Tiga jam pun berlalu, akhirnya Zail datang dengan membawa hasil dari tes otopsi yang sudah ia lakukan.


Zail menaruh semua berkas itu di atas meja Jefri. Jefri yang tidak mengerti itu berkas apa pun mengerutkan keningnya.


Zail seakan mengerti arti tatapan Jefri, ia pun berkata, "Ini hasil laporan otopsi bodyguard lo yang mati itu."


"Bacakan," ucal Jefri. Namun, pemandangannya masih terfokus dengan document di tangannya.


Zail mendengar itu pun mengerutkan keningnya, pasalnya Jefri yang masih membaca document. Membuat Zail ragu jika Jefri akan menyaring semua yang ia baca nanti.


"Lo 'kan lagi baca document. Apa lo yakin bisa menyaring apa yang gue baca?" Zail menaikan sebelah alisnya, ia merasa tidak yakin jika Jefri dapat menyaring apa yang akan ia katakan nanti.


"Baca!" Suara Jefri terdengar sedikit meninggi hingga membuat Zail terperanjat dan segera membacakan isi document itu.


Jefri jelas tidak masalah dengan hal itu. Karena selama ini Jefri bisa membagi fokusnya. Saat ia sedang membaca document dan juga mendengarkan apa yang orang katakan, itu dapat secara lengkap Jefri tangkap. Karena ini adalah salah satu kelebihan Jefri, yang bisa membuatnya cerdas dan berjaya sampai sekarang.


"Menurut dari hasil otopsi … mayat itu memang sudah meninggal sejak dua hari lalu, dan kemungkinan dia meninggal karena pukulan di bagian belakang kepalanya cukup keras. Aku lihat jika di belakang kepalanya itu ada bekas pukulan yang sangat keras, seperti pukulan kayu atau besi. Tapi menurutku itu besi karena hasil pukulan itu masih halus." Zail menerangkan semua hasil dari otopsi yang sudah ia lakukan tanpa membaca document. Karena ia masih ingat apa hasilnya yang ia temukan.


Mendengar ucapan Zail, itu membuat Jefri merasa jika saat ini adalah kondisi genting. Segera ia mengotak-atik handphone miliknya dan itu membuat zail yang sedang berdiri di depan meja Jefri hanya memiringkan kepalanya bingung.


Tak lama kemudian Jefri kembali mengerutkan keningnya dan itu membuat Zail semakin heran. Zail sudah duduk di sofa karena ia merasa pegal harus beristirahat.

__ADS_1


"Kenapa wajah orang ini sangat mirip dengan bodyguard yang mati itu?" ucal Jefri bingung saat melihat rekaman CCTV yang diletakan di dinding tembok dan tidak ada yang tau tentang hal itu.


Zail merasa bingung dengan ucapan Jefri dan mendekat ke arah Jefri, ia melihat jika ada rekaman kamera CCTV di handphone Jefri yang entah itu rekaman dari CCTV yang mana. Karena Jefri tidak memberi tau tentang CCTV di depan rumah.


__ADS_2