
Marcell yang khawatir saat mendengar teriakan mamanya, langsung saja menggerakan kursi rodanya menggunakan tangannya.
Saat sampai di depan pintu loteng Marcell berteriak, “Ma … ada apa?!”
Mona yang ada di dalam loteng tak mampu mengeluarkan suara. Kakinya gemetar dan perlahan ia terduduk di lantai.
Bagaimana tidak. di dalam loteng itu, yang mana seharusnya ada tawanan mereka tetapi tawanan itu tidak ada sama sekali di sana. Tapi yang ada di sana adalah seekor ular besar yang besarnya hampir menyamai paha Mona, dan panjangnya mencapai 8 meter.
Tidak heran jika ada ular di loteng rumah mereka. loteng itu terlihat kotor dan banyak sangrang tikus dan burung di sana. terlebih lagi dengan atap kaca yang pecah. Membuat ular itu bisa masuk ke dalam loteng. Apa lagi dengan posisi rumah mereka yang berada di depan hutan dan tidak tingkat membuat ular itu dengan mudahnya masuk ke dalam loteng.
‘Kenapa bisa ada ular? Lalu ke mana perginya bocah kecil itu? Apa dia yang membuat lubang itu? Sekarang apa yang harus aku lakukan?’ batinya.
tanggg
Saat ekor ular itu secara tidak sengaja menyenggol sebuah kaleng, dan membuat suara yang keras. itu membuat Mona tersadar, Mona segera bangun dan berlari keluar, tetapi sepertinya ular itu melihat mona dan mengejarnya sampai ke lantai bawah.
Melihat seekor ular besar mengikuti mona turun, Marcell langsung dengan cepat menggerakan kursi rodanya keluar dari rumah. Tetapi walau begitu, ular itu tidak berhenti mengejar mereka. Tak lama mereka berlari, ular itu sudah tidak mengejar mereka. Tetapi mereka melihat anak yang mereka sekap berada dengan Jefri.
Mona langsung mendorong kursi roda putrinya untuk mencari tempat bersembunyi, “Bagaimana bisa bocah itu bersama dengan Jefri?” gumam Marcell
“Bagaimana bisa kau berada di sini dengan kondisi begini? Di mana orang yang menyiksamu?” tanya Jefri pada anak itu.
Saat Jefri selesai memberi hukuman kepada Jek, Jefri langsung menyuruh Miko untuk mencari tau siapa saja yang terlibat dalam kasus itu.
Begitu ditemukan, Jefri langsung bergegas membawa beberapa orang bersamanya untuk menuju lokasi, tetapi di tengah jalan ia melihat seorang anak yang berlari dengan banyak darah di sekitar tubuhnya. Setelah diperhatikan lebih jelas lagi, ternyata anak itu sama seperti di foto yang Miko berikan, anak itu adalah adik anak adopsinya.
Jefri pun turun melihat kondisi anak itu yang sangat memprihatinkan. Dimana terdapat banyak luka goresan kaca di sekitar tubuhnya.
“Om siapa?” tanya anak itu ketakutan.
“Om, Papa angkat kamu, kedua kakakmu sudah menjadi anakku, jadi kau juga sama,” ucap Jefri dengan tegas, sampai-sampai anak itu menjadi takut.
__ADS_1
Anak itu tidak berani mengeluarkan sepatah katapun, badannya bergetar ketakutan.
“Hei, aku bertanya padamu! kenapa kau diam?” Bentak Jefri yang mana membuat anak itu semakin ketakutan.
Miko menepuk jidatnya melihat hal it, bagaimana bodohnya atasanya ini. “Bukan begitu caranya, bodoh.”
Miko mendorong Jefri sedikit kebelakang dan menggantikan tempat Jefri, Miko menyemkan tinggi badanya dengan anak itu, dan mengelus punggung anak itu dengan lembut lalu berkata, “Adek, apa kau baik-baik saja?” tanya Miko.
Anak itu mulai meresponnya dengan menggelengkan kepalanya. Miko tersenyum melihat anak kecil itu yang terlihat menggemaskan di matanya, “Apa, kakak boleh bertanya?”
Anak itu mulai terlihat santai dan menganggukan kepalanya.
“Apa tadi kau di sekap seseorang?” tanya Miko.
Anak itu memberanikan diri mengeluarkan suaranya dan berkata, “Iya ….”
“Lalu di mana mereka? Dan kenapa, Adek bisa banyak luka seperti ini? Apa mereka yang melakukannya?” Miko yang bertanya dengan lembut membuat anak itu mulai berani menjawab pertanyaan Miko dengan lancar.
“Iya, tadi aku memang disekap, Kak-”
“Bisakah kau diam?” Miko kesal karena tadi anak itu sudah akan menjawab. Tetapi terpotong karena Jefri yang menyela Pembicaraan.
Jefri tidak bisa menyala karena di sini dirinyalah yang salah. Jefri pun diam membiarkan Miko yang menangani hal ini.
“Adek bisa lanjutkan yang tadi?”
Anak itu menganggukan kepalanya dan berkata, “Aku memang disekap, tapi tadi aku kabur dengan memecahkan kaca loteng mereka, sampai semua badanku berisi darah,” ucap anak itu seakan tidak menyadari jika darah yang ada di tubuhnya itu adalah darah miliknya.
Miko dan Jefri mengerutkan keningnya dan saling pandang satu sama lain. “Adek, darah ini adalah darahmu, kau terluka, apa kau tidak merasakan sakit.”
Miko dengan sengaja menekan bagian yang terluka, tetapi sepertinya anak itu tidak merasa sakit. “Sepertinya dia mati rasa,” ucap Jefri dan diangguki oleh miko.
__ADS_1
“Adek … adek, ikut dengan om yang ada di dalam mobil itu ya. Dia akan mengantarmu kepada kedua kakakmu.” Miko dengan lembut mengusap rambut anak itu yang terasa halus.
“Benarkah?” tanyanya dengan antusias dan matanya yang berbinar terang.
Miko hanya menganggukan kepalanya.
Anak itu berlari masuk ke dalam mobil tanpa merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya, sedangkan beberapa anak buah Jefri sudah merinding melihat anak itu yang berlatih dengan tampak sehat tanpa merasakan sakit pada luka-luka yang ada di tubuhnya.
Miko dan Jefri kembali melanjutkan pencarian mereka untuk menangkap Mona dan Marcell.
Sedangkan di balik semak-semak itu, Marcell dan Mona, mendengar semua percakapan mereka. Saat sudah memastikan Miko dan Jefri pergi menjauh. Mercell dan Mona pun keluar.
Dengan rasa bahagia yang menyelimuti hatinya. “Hahahaha … mereka tidak akan bertahan jika mereka pergi ke sana.”
“Bagaimana jika kita ke sana untuk menonton?” ucap Mona memberi usulan.
“Jangan, jika ular itu melihat kita juga, ular itu akan memangsa kita juga, sebaiknya kita pergi dari sini secepatnya,” ucap Marcel.
“Iya juga, benar juga katamu, ayolah!” Mona mendorong kursi roda Marcell.
“Tunggu, Ma. Kita akn pergi ke mana. Kita tidak membawa apa pun. masak kita harus jadi gelandangan tinggal di pinggir jalan,” ucap Marcell, begitu teringat jika mereka tidak membawa apa-apa.
“Iya juga, bagaimana jika kita numpang dirumah teman, Mama dulu?” ucap Mona menanyakan pendapat.
Karena memang tidak memiliki jalan keluar lain, akhirnya Marcel hanya bisa mengiyakan perkataan mamanya.
***
Sedangkan di sisi lainnya, Jefri yang baru saja sampai di rumah yang milik MOna dan Marcell. mereka dikejutkan karena adanya ular besar yang melilit Miko saat ia masuk ke dalam rumah.
Mereka semua kaget dan serempak menjauh dari ular itu. Miko terlihat kesakitan karena lilitan ular itu cukup kuat. Bahkan tangannya yang keluar dari celah-celah lilitan itu sudah membiru.
__ADS_1
“Cepat, ambil obor!” Teriak Jefri memberikan perintah kepada Anak buahnya.
“tuan, di sekitar sini tidak ada ayu bakar!” ucap salah satu dari mereka.