Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
76.


__ADS_3

Di meja makan keluarga Al Zero, semuanya sudah tidak sabar ingin merasakan hidangan spesial yang Caroline buat khusus hari ini.


Caroline dengan dibantu oleh beberapa maid, mendorong troli yang berisikan makanan ke arah meja makan.


Caroline mengisi piring anak-anaknya dan juga suaminya. Mata Axel terlihat berbinar begitu melihat makanan di depannya.


"Tanghuluuu …," pekik amar saat melihat makanan kesukaannya ada di atas meja.


Amar langsung mengambilnya dan memakannya dengan lahap.


Jefri melihat itu pun bertanya, "Apa kau pernah makan tanghulu sebelumnya?"


"Pernah, Pa. Dulu saat mama dan papa kandung kita masih hidup, kami tinggal di China selama 3 tahun lamanya," ucap Amar, dengan tangannya yang tidak berhenti mengambil tanghulu yang masih ada di atas meja.


Caroline hanya tersenyum melihat Amar yang sangat lahap memakan tanghulu yang ada di atas meja.


Semua orang terlihat sangat bahagia di atas meja kecuali Aulia. Melihat itu Caroline menghampiri Aulia, mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu dan bertanya, "Lia … ada apa, Sayang? Kenapa kau terlihat tidak senang?"


Perlahan gadis itu mulai mengangkat kepalanya dan setetes air mata pun jatuh dari matanya.


"Heii … ada apa sayang … kenapa kau menangis," tanya Caroline begitu melihat Aulia menangis.


"Huwaa … mami." Tangis Aulia langsung pecah saat Caroline mengusap kepalanya.


"Kenapa sayang?" Tanya Caroline lagi melihat putri imutnya itu tiba-tiba menangis.


"Mami, Lia akan nikah dengan lantai … Lia tidak ingin menikah dengan lantai Mi." Tangis Aulia langsung pecah.


Semua orang yang ada di meja makan itu ternganga mendengar ucapan Aulia. "Hahaha … siapa yang akan menikahkanmu dengan lantai?" tanya Caroline dengan memegangi perutnya.


"Kemarin Lia mengalami spot jantung, Mi seperti papi. Kata kak Axel spot jantung itu, jantung kita berdetak lebih kencang dari biasanya. Kata teman Lia kalau jantung kita berdetak lebih kencang itu artinya kita sedang jatuh cinta, dan kemarin jantung Lia berdetak kencang saat melihat lantai, Huaaaa …." Begitu Aulia selesai menjelaskan panjang lebar.


Semua yang ada di sana tidak berhenti tertawa, mendengar apa yang dikatakan Aulia.


"Hahaha … sayang … jantung kita berdetak lebih kencang belum tentu kita jatuh cinta sayang, bisa jadi karena Lia kemarin lari sampai jantung Lia berdetak kencang," ucap Caroline memberi pengertian kepada putrinya yang masih sangat polos dan lugu.


"Hahaha … lagi kamu, Dek. Masih kecil sudah bicara jatuh cinta, kayak kau tau aja apa itu cinta." Axel mengejek Aulia yang masih sangat polos.

__ADS_1


Aulia menghapus sisa air matanya dan berkata, "Lia tau, Kak cinta itu dia orang yang akan menikah."


Semua orang menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Aulia.


"Sudah, sudah … kalian ini, masih kecil sudah bicara cinta. Axel jangan ajarkan adikmu yang bukan-bukan," ucal Jefri menatap mata Axel.


Keluarga itu saat ini terlihat bahagia, Jefri sudah mulai menerima kehadiran Amar, Zamar dan Aulia. Begitu juga dengan Amar, Zamar dan Aulia, mereka juga sudah terbiasa dengan keluarga angkatnya saat ini, sudah seperti keluarga sendiri, tidak ada lagi kata canggung atau semacamnya di antara mereka.


Axel dan Alex jangan ditanya, kalian lihat sendiri keakraban mereka, tidak terlihat seperti orang asing. Malah mereka terlihat sangat akrab saat ini, terutama Axel dan Aulia.


"Sudah, kalian cepat habiskan makanan kalian, nanti kalian telat, kena hukum lo," ucap Caroline.


***


Setelah Caroline mengantar, suami dan anak anaknya sampai depan mansion, Caroline kembali masuk ke dalam masion, untuk melihat semua barang-barang kebutuhan dapur sudah lengkap.


"Bi, aku ingin melihat Miko," ucap Caroline kepada Bi Michu yang sedang mencuci semua sayur dan buah-buahan.


"Untuk apa nyonya?" tanya Bi Michu menaikan sebelah alisnya.


Mendengar itu membuat BI Michu menganga. "Tapi nyonya saat ini Tuan Miko sedang bekerja di kantor bersama tuan Jefri."


"I don't care," ucal Caroline aduh tak acuh meninggalkan Bi Michi begitu saja.


"Haiss … sepertinya nyonya saat ini sedang mengidam, sekarang bagaimana aku akan mengatakannya pada tuan," gumam Bi Michu.


Bi Michu mengeluarkan handphone miliknya dan mengirim pesan kepada Miko.


[Tuan, nyonya ingin Anda datang ke mansion, dan jangan lupa bawa seekor kucing] Bi Michu.


Sedangkan di gedung perusahaan Al Zero, Miko menatap bingung pada pesan Bi Michu.


"Untuk apa Caroline memintaku untuk datang ke mansion dengan membawa kucing?" gumam Miko.


Akhirnya, Miko keluar dari gedung pencakar langit itu tanpa izin dari Jefri terlebih dahulu, ia mengira Jefri sudah mengetahui akan hal ini.


Ditengah perjalanan menuju mansion Al Zero, Miko menyempatkan diri untuk mampir ke toko kucing dan membeli salah satu kucing di sana.

__ADS_1


***


Di sekolah Axel, Alex, Amar, Zamar dan Aulia sedang berkumpul di kantin sekolah.


"Kak, kita jalan-jalan, yuk," ucap Aulia kepada keempat kakaknya yang sedang makan bekal yang disiapkan oleh Caroline.


"Kita izin dulu, ya sama papa," ucap Zamar. Baru saja Zamar mengeluarkan handphone miliknya tapi tangannya sudah ditahan lebih dulu oleh Aulia.


"Jangan beritahu papa, Kak. Jika beritahu papa, pasti papa akan memerintahkan bodyguard untuk menemani kita," ucap Aulia.


"Tapi, jika tidak dalam pengawasan kita akan bahaya, Dek apa lagi sekarang masih jam sekolah kita," ucap Amar.


"Ayolah, Kak, kita hanya jalan-jalan ke taman saja, aku risih jika setiap hari ke mana-mana harus di kawal. Kita bisa bolos saja hanya untuk sehari … saya. Ya?" ucap Aulia dengan binar mata yang penuh dengan harapan. Membuat keempat kakaknya tidak dapat menolak permintaan adiknya.


"Baiklah … hanya untuk hari ini, tapi ingat kau harus patuh," ucap Axel memperingati kepada adik perempuannya.


Aulia menganggukan kepalanya dengan penuh semangat.


"Kau bagaimana Lex?" tanya zamar saat melihat Alex hanya diam saja.


"Ikut kalian saja," ucap Alex dengan ekspresi datar.


"Hore … mainnnn …." Aulia sangat senang karena akhirnya ia bisa lepas dari pengawasan Jefri.


Sesaat kemudian, kelima bersaudara itu sudah selesai makan. Mereka segera berjalan mengendap-endap ke belakang halaman sekolah.


"Apa kalian yakin ingin keluar tanpa memberitahu papa?" tanya Zamar, ia masih ragu dengan keputusannya untuk mengikuti keempat saudaranya.


"Sudahlah, kak … jarang-jarang kita bisa keluar dengan leluasa seperti ini," ucap Aulia, yang menjadi pusat untuk mempengaruhi saudaranya.


"Lagi tanggung juga kau Bali. Jika kau balik sekarang bodyguard papa pasti akan bertanya-tanya," ucap Axel.


"Baiklah," ucap Zamar yang terdengar penuh paksaan.


Selama ini seluruh keluarga Al Zero jika ingin keluar selalu didampingi oleh bodyguard. Bahkan putra dan putri Jefri jika keluar harus menggunakan masker dan topi untuk menutupi wajah mereka.


Bukan tanpa alasan Jefri membuat pengawasan begitu ketat kepada keluarganya. Jefri hanya takut keluarganya berada dalam bahaya, mengingat di luar sana sangat banyak bahaya, dari lawan bisnis maupun dunia bawah yang ingin menjatuhkan ya.

__ADS_1


__ADS_2