Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
96.


__ADS_3

Di rumah sakit. Jefri masih setia menunggu Caroline sadar. Saat tak sengaja mata Jefri melihat pergelangan tangan Caroline Jefri tersenyum dan mengecup pergelangan tangan Caroline. 


"Aku akan menjagamu sampai kapan pun itu Sayang …." Jefri menaruh tangan cari di pipinya dan saat ia akan memejamkan matanya. Terdengar suara lenguhan dari bibir Caroline. 


"Euhhggg …." 


"Sayang kamu sudah bangun?" Air mata Jefri jatuh saat itu juga. Saat melihat Caroline yang sudah membuatnya khawatir setengah mati. 


"Bentar Sayang … aku akan memanggil Zail dulu," ucap Jefri dan menekan tombol yang berada di samping tempat tidur Caroline. 


Tak lama kemudian Zail datang dengan mengenakan jas putih dan stetoskop yang 


Menggantung di lehernya. "Ada apa?" tanya Zail begitu ia berada di ruangan Caroline. 


"Cepat periksa istriku!" perintah Jefri yang mana terdengar kekhawatiran di dalam suaranya. 


Zail segera memeriksa keadaan Caroline yang terlihat masih sangat lemas dan berkata, "Dia sudah tidak apa-apa …," ucap Zail. 


Namun, saat Zail akan berbalik Zail melihat kelima bocah yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh. Membuat Zail menaikan salah satu alisnya dan bertanya, "Ada apa?" 


"Paman kenapa orang-orang itu mengikutimu? Bisakah suruh mereka keluar?" ucap Alex dengan wajah dingin dan tegasnya. 


Terlihat semua suster mengikutinya dengan tatapan kagum. Karena ini adalah kali pertama Zail melakukan kerjasama dengan rumah sakit tempat Caroline di rawat. Itu semua adalah perintah dari Jefri yang mana membuat Zail mau tak mau harus melakukan kontrak kerja dengan rumah sakit itu. 

__ADS_1


"Baiklah … ponakan-ponakan uncle yang cantik dan ganteng," ucap Zail dan mengusap kepala Alex. 


Zail keluar dari ruangan Caroline dengan memarahi semua suster yang mengikuti dirinya. Hal itu membuat elima bocah yang tadinya komplain kepada Zai pun merasa senang. 


***


Hari-hari terus berlalu. Sampai saat ini usia kandungan caroline sudah menginjak lima bulan dan usia kandungan Aurora sudah menginjak 6,5 bulan. Namun, perut Caroline terlihat lebih besar daripada perut Aurora karena Caroline yang mengandung kembar 3 sekaligus. 


Saat ini Caroline sedang bersama dengan Aurora di ruangan keluarga dan Jefri berada di ruangan kerjanya bersama dengan Zail. Yap, setelah sekian lama mereka tidak bertemu hari ini mereka berkumpul untuk melepas rindu. Di tengah-tengah obrolan Zail dan Jefri, ruangan kerja Jefri di Ketut oleh seseorang dan membuat obroan mereka terhenti. 


"Masuk!" 


Terlihat bi Michu yang masuk dengan membawa sebuah amplop yang berisikan surat. "Apa ini Bi?" tanya Jefri. 


"Bibi juga tidak tau, Tuan. Surat ini tadi dikirimkan dari kediaman tuan Jose," jawab BI Michu dan pamit undur diri kepada Jefri dan Zail. 


"Aku masih tidak percaya ternyata manusia es sepertinya bisa menikah,” ucap Jefri yang mana membuat Zail mengangkat sebelah alisnya. 


“Lalu kau bagaimana? Bukankah kau juga sama sepertinya?” ucap Zail sedikit menyindir.


“Aku berbeda … Aku istimewa dan dia tidak,” ucap Jefri membanggakan dirinya. Zail yang mendengar ucapan Jefri pun memutar bola matanya.


***

__ADS_1


Hari pernikahan Jose pun tiba. Banyak pebisnis dan juga orang pemerintahan datang ke acara pernikahan Jose karena Jose adalah anak dari seorang pebisnis yang disegani di kota itu. Mama Jose pun adalah bagian dari pemerintahan yang mana menjabat sebagai Wakil presiden. 


Saat mobil Jefri datang semu tamu undangan merasa senang. Karena mereka bisa memiliki kesempatan untuk memiliki kerjasama dengan perusahaan Jefri. Perusahaan Jefri adalah perusahaan besar, tidak ada yang mampu menandingi kejayaan dari Al Zero Group dan lagi kekayaan yang Jefri miliki adalah kekayaan tunggal. Tanpa adanya campur tangan siapa pun karena itu tidak ada yang bisa memerintah atau pun menekan Jefri. 


Jika salah satu dari mereka mampu melakukan kerja sama dengan perusahaan Al Zero, maka sudah pasti dijamin jika negara maupun perusahaan mereka akan maju. Saat Jefri keluar dari mobilnya, semua kaum hawa terpesona dengan Jefri, Bahkan ada yang mengatakan dengan terus terang jika Jefri akan menjadi miliknya. Namun, sesaat kemudian, Jefri membukakan pintu mobilnya dengan sedikit menunduk.


Hal itu tentu saja membuat mereka kaget, seorang Jefri Al Zaro menundukan kepalanya kepada seorang yang berada di dalam mobil. Karena memang pernikahan Jefri dan Caroline masih belum dipublikasikan kepada dunia, Jefri hanya ingin orang-orang mengetahuinya seiring berjalannya waktu. 


Mereka bahkan lebih kaget lagi saat melihat yang keluar dari dalam mobil itu adalah seorang wanita hamil yang mana perutnya terlihat seperti orang yang sudah hamil 8 bulan. Padahal usia kandungan Caroline baru menginjak 5 bulan.  Itu semua karena Caroline yang hamil kembar tiga, sehingga membuat perutnya tampak lebih besar.


Dari sudut ruangan terlihat seorang wanita menatap tak suka ke arah Caroline, dan mengepalkan tangannya erat. “Awas saja kau, kali ini kau tidak akan lepas dariku!” ucap wanita itu menatap Caroline dengan amarah. 


Acara pun dimulai. Acara yang mana seharusnya yang menjadi pemeran utama kali ini adalah Jose dan Thasiko. Namun, yang menjadi pemeran utama kali ini adalah Caroline dan Jefri yang berada di kursi paling depan, yang mana mereka terlihat sangat romantis. Bahkan Jefri sampai terus menyuapkan bubur dan juga pizza kepada Caroline, tanpa memperhatikan acara pernikahan sahabatnya. 


Namun tiba-tiba saja seorang wanita mengganggu kemesraan pasangan itu. “Tuan, Bolehkan saya duduk di sini?” tanya seorang gadis cantik dengan wajah putih seperti salju dan mata indah begitu juga dengan buah dadanya yang menyembul ke depan yang sengaja diperlihatkan untuk menggoda Jefri.  


 


“Iya, boleh Nona.” Bukan Jefri yang menjawab melainkan Caroline. Caroline sendiri tau jika Jefri tidak ingin meladeni wanita itu, walau Caroline mengetahui maksud dari wanita itu tapi Caroline tetap diam, dia berusaha untuk bersikap baik. 


Wanita itu merasa kesal karena jefri yang mengabaikan dirinya. Namun, wanita itu tetap menunjukan sebuah senyuman kepada Caroline. ‘Sial, kenapa dia tidak melirik?’ batin Wanita itu.


Wanita itu semakin tersenyum, ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan pura-pura tertidur. Semakin lama kepala Wanita itu semakin akan jatuh ke bahu Jefri. Namun, sebelum kepala wanita itu  jatuh ke bahu Jefri, Jefri lebih dulu meminta Caroline untuk bertukar posisi.

__ADS_1


Saat wanita itu merasa kepalanya sudah berada di bahu Jefri, dalam hati wanita itu bersorak senang. Karena bisa mendekati Jefri walau hanya menyentuh bahunya seperti ini.  Akan tetapi, wanita itu merasa aneh saat merasakan bahu Jefri lebih pendek dari yang ia lihat tadi. 


Di sisi lain …terlihat seseorang mengarahkan pistol ke arah Caroline. Di wajahnya tergambar dengan jelas senyum ketidaksukaannya kepada Caroline. “Sebentar lagi kau akan tiada dada …,” ucap orang tersebut seraya melepaskan tembakan pistol tersebut dan Dorrr


__ADS_2