Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
8. Hukuman kurung


__ADS_3

Caroline sangat hafal besar tangan Jefri dan bisa merasakan hawanya yang ada di sekitarnya. 


"Lepaskan aku …," teriak Caroline. 


"Diam! Jika tidak aku tidak segan untuk membunuhmu, aku akan membuat semua yang kau miliki hancur," bentak Jefri dengan mengancam Caroline. 


'tidak aku tidak bisa meninggalkan dunia ini sekarang, aku belum membalas apa yang dilakukan nenek sihir itu padaku' batin Caroline berbicara. 


Jefri menyerahkan tangan Caroline kepada Jose. "Seret dia ke ruang eksekusi!" ucap Jefri dengan tegas. 


Jose mengangguk dan mulai menarik Caroline dengan paksa. Dan Caroline mau tidak mau hanya misa mengikuti langkah Jose dengan tertatih-tatih karena paha dan in*inya yang masih sakit. 


Carolin masuk ke dalam ruangan eksekusi tangan yang di borgol dan juga kaki di ikat. Jose ingin segera mencambuk Caroline tetapi sebuah suara yang begitu nyaring menghentikan gerakan tangannya. 


"Jangan mencambuknya," ucap Jefri yang baru saja memasuki ruangan eksekusi. 


Jose yang mendengar itu menaikan sebelah alisnya bingung karena biasanya sang tuan selalu mencambuk orang yang ada di ruangan eksekusi. 


"Kurung saja dia di sini selama seminggu dan jangan beri dia makan," ucap Jefri menyeringai. 


"Hah!" Jose melongo mendengar perkataan Jefri, baru kali ini sang tuan membuat hukuman baru untuk tawanannya, tidak seperti biasanya yang selalu mencambuk seseorang tanpa ampun jika salah satu anak buahnya yang melakukan kesalahan. 


"Apa kau tidak ingin melaksanakan perintahku?" ucap Jefri dengan suara sedikit meninggi. 


"Tidak, Tuan, baiklah saya akan melakukan apa yang anda katakan," ucap Jose dan keluar dari ruangan eksekusi dan mengunci ruangan itu. 


"astaga … dia sangat tau bagaimana cara menyiksa seseorang, dia pasti sengaja tidak mencambukku, dia ingin aku memohon untuk meminta makan kepadanya, huh, jangan harap aku akan memohon kepadamu," gumam Caroline. 


Caroline sendiri bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Jefri karena sudah terlihat jelas dengan otak Caroline yang cukup cerdas. 


Dengan ruangan yang tidak ada fentilasi, itu akan membuatnya  merasa kedinginan dan juga akan membuatnya kelaparan. 


Tetapi Caroline akan berusaha sekuat mungkin untuk tidak memohon kepada Jefri. 


*


*


*


Tida hari sudah berlalu dan Caroline sama sekali tidak memakan apa pun semnjak itu, Caroline meringkuk kedinginan di pojokan ruangan. 


"Dingin banget, apa aku akan kuat seperti ini terus? Aahhh … perutku lapar, apa yang harus aku lakukan?" gumam Caroline. 

__ADS_1


"Apa iya, aku harus memohon kepada bajingan itu?" gumam Carolin lagi. 


"Tidak, tidak, tidak, aku tidak bisa melakukan itu, aku harus bertahan," gumam Caroline


*


*


*


Sedangkan di sisi lain tepatnya di perusahaan Al Zero, Jefri tersenyum miring saat mendengar kabar jika Carolin masih keras kepala dan belum mau memohon kepadanya. 


"Heh, masih keras kepala juga ini perempuan, kita lihat saja, siapa yang akan menang nanti," ucap Jefri tersenyum miring. 


Jefri kembali membolak-balik buku yang ia baca tetapi pikiranya menjadi kalut, pikirannya tertuju pada tubuh Caroline yang mo*tok dan bo*ay. 


Tetapi Jefri berusaha sekuat tenaga untuk kembali mencoba mengalihakan pikiranya dari tubuh Caroline, tetapi semakin ia mengalihkan pikiranya, semakin menjadi pula hasras yang ada dalam dirinya. 


"Sial, kenapa pikiranku selalu tertuju kepadanya? Aarrhh … tidak aku tidak boleh seperti ini," gumam Jefri dan bangun dari duduknya. 


Dan saat yang bersamaan pula sesuatu di balik celana yang Jefri gunakan bangun dan menonjol dengan sangat kencang. 'Sial, apa yang kau lakukan soonn … jika di lihat orang mau taruh di mana mukaku nanti' Batin Jefri kesal. 


Milik ya yang panjang dan besar dapat dengan mudah mendorong boxer ketat miliknya, sehingga dapat terlihat dengan jelas terbentuk di celananya. 


Suara ketukan pintu itu membuat Jefri dengan cepat duduk dan menyilangkan kakinya, yang mana kaki kanan berada di atas kaki kiri, dan berkata, "Siapa pun itu jangan ada yang masuk ataupun menggeser sedikit saja pintu itu!" teriak Jefri. 


Dan detik kemudian tidak terdengar lagi suara ketukan pintu ataupun suara pintu terbuka. 


*


*


*


Sedangkan di luar ruangan Jefri Miko yang mengetuk pintu bingung, "Apa aku harus menurutinya? Tapi kenapa Jefri tumbenan seperti ini? Apa yang sedang dia lakukan? Ya sudahlah aku temui dia nanti saja," ucap Miko dan pergi meninggalkan ruangan Jefri. 


Sedangkan di dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan Jefri, Jefri sedang mandi air dingin untuk meredakan gairahnya. 


*


*


*

__ADS_1


Sedangkan di rumah sakit, Zail sedang berusaha untuk menangani kondisi auren yang tiba-tiba semakin lemah. 


Sedari tadi Zail sudah menelepon Jefri tetapi tidak di angkat olehnya, akhirnya Zail mengambil tindakan sendiri dari pada dirinya harus kehilangan wanita yang selama ini dia cintai. 


Sudah sejak SMP, sejak pertemuan pertama mereka di mansion almarhum orang tua Jefri, dan pada saat pandangan pertama Zail sudah mencintai Aurel, tetapi sampai sekarang Zail tidak berani mengungkapkan perasaannya.


Dia takut jika Aurel akan menolaknya. Sedangkan Zail mengetahui bagaimana pria idaman Aurel selama ini. 


Aurel menyukai pria yang seperti bintang model dan juga berperawakan besar seperti bodyguard. Dan itu tidak ada di dalam diri Zail. 


Walau Zail tampan dan berotot tetapi postur tubuhnya kecil dan tidak begitu tinggi.  Dan lagi dia tidak bekerja sebagai model itu membuatnya takut untuk mengungkapkan perasaannya. 


*


*


*


Jefri baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ruang ganti yang ada di dalam ruangannya. Jefri keluar dari ruang ganti dengan menggunakan kemeja berwarna biru muda dengan jas dan celana yang berwarna biru Dongker, membuatnya terlihat sangat gagah dan tampan. 


Jefri duduk kembali di kursi meja kerjanya akan tetapi secara tak sengaja Jefri melihat ada lesan masuk dari Zail. Jefri segera mengambil handphonenya dan membuka pesan Zail. 


Jefri melotot kala membaca pesan itu, dengan cepat Jefri berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangannya dengan membawa handphone dan kunci mobilnya saja. 


Dengan perasaan yang sangat khawatir, Jefri mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sehingga membuatnya sampai lebih cepat dari biasanya. 


Saat berada di ruangan tunggu pribadi miliknya, saat itu juga Zail sedang melakukan pemeriksaan dan penanganan yang terbaik untuk menangani Aurel. 


Jefri bolak-balik dengan cemas di depan pintu ruangan Aurel. Dan kemudian Jefri duduk dengan masing-masing sikunya bertumpu di masing-masing kakinya. 


Dan tak lama kemudian pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan Zail yang keluar dan mengarahkan para suster untuk mendorong ranjang Aurel dengan benar menuju UGD. 


"Apa yang terjadi Zail? Kenapa Aurel di keluarkan?" tanya Jefri kepada sahabatnya yaitu Zail sendiri. 


"Nafas Aurel tiba-tiba kejang-kejang dan harus dibawa ke UGD," ucap Zail yang terlihat panik.


Jefri dengan khawatir menunggu adik kesayangannya itu, di luar ruangan. Perasaannya sangat gelisah, bagaimana tidak, Aurel adalah satu-satunya keluarga yang tersisa, selain Aurel Jefri tidak memiliki siapa-siapa lagi. Karena itu Jefri sekali menjaga dan merawat Aurel sebaik-baiknya. 


Dia tidak ingin Aurel mengalami kejadian yang sama seperti orang tuanya. Jika terjadi sesuatu pada Aurel, Jefri akan menjadi sebatang kara, tidak memiliki siapa-siapa lagi dalam hidupnya. 


Ditengah lamunannya tiba-tiba handphonenya berdering. Jefri mengangkatnya dan menunggu seseorang di sebrang sana untuk mengatakan sesuatu. 


"Tuan, wanita ini sudah menyerah dia sudah memohon kepada Anda."

__ADS_1


hay semuanya. maaf ini adalah novel yang sempat author hapus, Karrena harus revisi banyak dan sekarang novelnya author lanjut ya makasih


__ADS_2