Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
39. Pembalasa Tak Bedarah


__ADS_3

Pembalasan tak berdarah.


"Aaa …," teriak para tamu, yang melihat seseorang jatuh dari lantai 2. 


Para tamu bergumul mendengar jeritan dari beberapa tamu lainnya, dan melihat Marcell yang jatuh dengan tangan kanan yang tak teratur bentuknya, bahkan Marcell sudah tak sadarkan diri. 


Ya, yang jatuh adalah Marcell, karena saat Marcell akan mendorong Caroline, Caroline sudah merasa ada yang salah dan saat itu juga memutar kepalanya ke belakang. 


Saat melihat aksi Marcell yang akan mendorongnya, dengan cepat Caroline menghindar. Marcell melotot dan saat itu juga Marcell tidak dapat menghentikan langkah kakinya, yang mana membuatnya terjatuh ke lantai bawah. 


Mona yang melihat hal itu, berteriak histeris. Dan berlari menuju Marcell yang sudah tak sadarkan diri. 


Mona mengangkat kepala Marcell dan meminta bantuan orang-orang untuk membantu mengangkatnya ke dalam mobil. 


Sedangkan di sisi lain, Jefri melihat kejadian itu  segera berlari menuju Caroline, dan saat Jefri sampai di dekat Caroline, Jefri dengan cepat membenamkan kepala Caroline di dadanya.


Caroline dapat merasakan ada getaran dalam pelukan Jefri. Caroline mendongakan kepalanya dan melihat Jefri yang memeluknya dengan menutup matanya erat. 


Caroline mengusap lembut lengan Jefri, yang mana membuat Jefri membuka matanya dan menatap Caroline dengan lembut. 


"Ada apa? Kenapa kau gemetaran?" tanya Caroline. 


"Jangan tinggalkan aku. Aku tak akan membiarkan orang lain menyakitimu," ucap Jefri memeluk Caroline dengan erat. 


Mendengar apa yang Jefri katakan, Caroline mengerti, jika Jefri melihat kejadian tadi dan membuat Jefri ketakutan. 


"Sudah … aku tidak apa-apa, semua baik-baik saja." Caroline membenamkan wajah Jefri di dalam dadanya dan itu membuat Jefri merasa sangat nyaman. 


"Sayang …." Mendengar suara serak dan berat itu membuat Caroline tersadar dan langsung menjauhkan kepala Jefri dari dadanya yang besar dan berisi itu. 


Dengan wajah yang sudah merah padam Caroline berjalan menjauh dari Jefri. 


Jefri tersenyum tipis melihat Caroline yang malu, dan dengan cepat mengejar Caroline. 


"Sayang … jangan berada jauh dariku!" Jefri menggenggam pergelangan tangan Caroline. 


Caroline membalik badannya dan bertanya, "Kenapa?" 

__ADS_1


"Aku ingin kau membantumu membalas apa yang Marcell lakukan kepadamu, aku ingin kau yang menentukan hukuman untuknya." Pandangan Jefri sudah terkabut oleh amarah. 


Saat Jefri hendak menarik pergelangan tangan Caroline, Caroline menahannya dengan halus dan menggelengkan kepalanya. 


"Jangan, ini adalah masalahku, biarkan aku yang menyelesaikannya. Aku akan membalas semua kekejaman yang mereka lakukan padaku. Ini adalah dendam pribadi!" Pandangan Caroline lurus ke depan. Terdapat amarah dalam pandangannya. 


Jefri tersenyum dan mengusap pelan kepala Caroline, "Baiklah … aku akan menuruti semua perintahmu tuan putri." 


Sedangkan di sisi lain, Mona dengan panik menunggu Marcell di depan ruangan UGD. Hanya dengan harapan anak semata wayangnya akan selamat, Mona terus-menerus menggosokan kedua tangannya. 


"Aku akan membalaskan semua yang kau lakukan pada Marcell Caroline. Aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan aman," ucapnya dengan rasa marah di dalam hatinya. 


Cklek 


Suara pintu terbuka, dan memperlihatkan seorang dokter yang keluar dengan sangat gagah dari ruangan Marcell. Mona yang melihat dokter itu terpana akan ketampanannya. 


"Maaf, siapa keluarga pasien?" tanya sang dokter, tetapi Mona tidak merespon apa pun. 


Mona masih terpukau oleh ketampanan dokter itu. Dokter menyadari hal itu, dengan aura dingin dokter itu berkata, "Nyonya …." 


Mona tersadar dan bertanya, "Ya, Dok, apa anak saya baik-baik saja?" 


"Semua ini karena Caroline! Aku kan membuat kau kehilangan kemewahan yang kau miliki, akan kubuat kau tidak memiliki apa pun." Tangan Mona mengepal dengan meremas kertas yang mana itu adalah kertas berisi nomor telepon Jefri. 


"Caroline …," gumam dokter yang mendengar nama Caroline di sebutkan. 


Mona mendengar gumaman sang dokter pun menoleh dan bertanya, "Apa Anda mengenal wanita ******, itu?" 


"Ya, aku tidak menyukainya." 


Seulas senyuman terbit di bibir Mona saat mendengar hal itu dan berkata, "bagaimana jika kita bekerja sama?" dokter itu menganggukan kepalanya. 


Setelah acara pernikahan Aurel dan Zail selesai, Caroline dan Jefri kembali ke mansion mereka. 


"Sayang …." Caroline mencakup kedua tangannya di depan Jefri yang sedang duduk menonton TV. 


"Ganteng …." Lagi dan lagi Caroline berusaha untuk membujuk Jefri, agar Jefri mengizinkan dirinya bekerja di kantor Al Zero group. 

__ADS_1


"Ma, sudahlah, Ma … lagian untuk apa mama bekerja. Kan ada papa yang akan membiayai semua kehidupan mama." ucap Alex yang jengah melihat mamanya yang terus memohon kepada Jefri. 


"Benar, kata Alex, kau tidak perlu bekerja semua kebutuhanmu akan aku penuhi," ucal Jefri. 


Wajah Caroline tiba-tiba berubah menjadi lesu dan berkata dengan tidak semangat, "Mama hanya ingin bekerja, ingin bangga dengan uang yang mama hasilkan. Mama ingin supaya kemampuan mama berguna dan mendapat penghasilan menggunakan itu," cicit Caroline. 


Axel yang melihat wajah sendu Caroline merasakan adanya tanda bahaya. Dengan cepat Axel turun dari sofa dan berjalan menuju Carolline. 


"Iya, Mama … mama boleh melakukan semuanya. Mama adalah Mama terbaik, Mama adalah putri kerajaan, dan Mama bisa melakukan apapun," ucap Axel, berakting di depan sang Mama. 


"Ya, aku ingin bekerja di Al Zero group, jika kau masih tidak mengizinkannya maka kau tidak boleh menyentuhku. Dan Alex uang jajan dan barang gadgetmu itu akan aku jual!" ucap Caroline dengan pandangan mata melotot ke arah Jefri dan Alex. 


Jefri dan Alex tercekat, saat mendengar ancaman Caroline. "Sayang … jangan gitu ya, aku mohon." Jefri berlutut di bawah kaki Caroline yang sedang berdiri. 


"Tidak!" ucap Caroline dengan tegas dan berjalan keluar dari ruangan keluarga. 


Jefri dengan cepat memikirkan cara untuk membujuk Caroline, dan hanya satu cara yang terpikirkan olehnya. 


Dengan cepat Jefri menggendong Caroline menuju kamar mereka. 


"Ehh … Jefri turunkan aku!" ucap Caroline dengan sakras. 


Sesampainya di kamar mereka, Jefri langsung ******* bibir Caroline, yang mana membuat Caroline kehabisan nafas dan memukul punggung Jefri dengan sangat keras. 


"Bagaimana sayang … apa pelayananku kurang?" tanya Jefri yang mana membuat Caroline tersipu malu. 


Caroline memalingkan wajahnya ke samping sehingga membuat leher jenjangnya terlihat indah. Jefri memainkan lidahnya dengan sangat lihati di sana dan membuat beberapa tanda kepemilikan di sana. 


******* Caroline yang merdu membuat Jefri tak mampu untuk menahannya. 


Dengan sangat cekatan Jefri bawa Caroline menuju kasur king zise dan merebahkan badan Caroline di atasnya. 


Jefri melihat pakaian Caroline sudah berantakan dan juga kumuh. Tetapi di balik pakaian yang Caroline gunakan, Jefri dapat melihat gunung indah yang sangat padat dan berisi itu. 


Jefri meremas buah besar itu, dan mainkan gunung indah Caroline yang besar itu. 


Jefri sudah tidak tahan, dengan membuka yang ada di tubuhnya begitu juga dengan pakaian Caroline 

__ADS_1


Jefri sangat puas sampai-sampai sang empu mendesah nikmat. 


Caroline merasa seperti ada listrik yang mengalir dalam tubuhnya. Caroline mengangkat pinggulnya yang mana membuatnya merasakan sebuah kayu. 


__ADS_2