
Semua orang saat ini hadir di rumah sakit. Di mana Aurel melakukan pengecekan kandungan.
Caroline dan Jefri datang mengunjungi Aurel untuk melihat kondisi Aurel saat ini.
"Sayang, kapan kita akan menyusul?" ucap Jefri dengan bersikap manja kepada Caroline.
Caroline menaikan sebelah alisnya dan berkata, "Bukankah kita sudah mempunyai dia putra!"
"Kurang ayang … aku ingin anak perempuan. Kita buat lagi satu y?" Jefri dengan matanya yang berbinar menatap mata Caroline.
"No," jawab Caroline tegas dan membuat senyum Jefri menghilang.
Hari-hari berlalu dan saat ini hari pertama Caroline bekerja di perusahaan Al Zero. Caroline dan Jefri sengaja berangkat menggunakan kendaraan berbeda agar tidak ada yang mengetahui identitas Caroline.
Caroline berangkat dengan menggunakan motor matic miliknya sedangkan Jefri, seperti biasanya ia selalu berangkat menggunakan mobil mewahnya.
Caroline berjalan dengan anggunnya ingin memasuki gedung pencakar langit itu.
Brukkkk
Caroline tanpa sengaja menabrak seseorang saat mendongakan kepalanya Caroline terpana akan ketampanan pria itu. Dokumen yang pria itu bawa terjatuh dan pria itu membungkukkan badannya mulai mengambil dokumen miliknya.
"Maaf, Tuan." Caroline membungkukkan badannya ke arah pria itu.
Tetapi pria itu segera mengangkat badan Caroline untuk tidak membungkuk dan berkata, "Tidak apa-apa nona. Saya juga salah karena tidak melihat jalan."
Seorang wanita dengan proporsi badan yang ideal datang menghampiri mereka dan berkata, "Nona Caroline."
"Iya saya," Caroline langsung menoleh ke arah wanita itu.
"Ikut saya!" ucapnya dan berjalan dengan anggun menuju ruangannya.
"Kamu berada di bagian keuangan, berada di lantai lima," ucap wanita itu terlihat datar.
"Baik Nona." Caroline membungkukkan badannya permisi untuk keluar dari ruangan wanita itu yang mana bernama Sarla.
__ADS_1
Sarla merasa iri dengan Caroline karena ia merasa Presdir lebih memperhatikannya. Bahkan Presdir menyuruhnya untuk menjemput Caroline.
Saat Caroline masuk ke dalam divisi keuangan Caroline bertemu kembali dengan orang yang ia tabrak di pintu tadi.
"Ehh … ternyata Nona orang baru, ya." Pria bernama Marco itu terlihat, melihat ke arah belakang Caroline mencari seseorang.
"Mencari siapa Tuan?" tanya Caroline melihat kebelakangnya.
"Apa Anda datang sendiri Nona?" Caroline menganggukan kepalanya.
“Apa Nona Sarla tidak mengantar Anda kemari?” tanya Marco, karena seharusnya Sarla mengantar orang baru ke tempatnya dan mengenalkannya kepada yang lain.
“Tidak, Tuan … mungkin Nona Sarla sedang sibuk.” Caroline tersenyum ramah.
“Ooo … jika begitu mari, ikut saya.” Marco menuntun jalan untuk Caroline, dan saat Marco dan Caroline sudah berada di dalam ruangan. Marco pun mulaimempekenalkan Caroline.
“Semuanya, mohon perhaiannya sebentar! Perkenalka, ini adalah Caroline Karyawan baru yang akan berada di devisi ini, bersama kita,” Marco berucap dengan merangkul pundak Caroline, yang mana hal itu membuat Caroline merasa risih.
Terlihat di antara mereka semua kebanyakan para kaum adam yang menatap Caroline dengan tatapan penuh nafsu. Karena body Caroline yang terbilang sangat bagus dan indah. Sedangkan para wanita, sebagian dari mereka menatap isi dan tak suka kepada Caroline.
“Haii, semuanya,” ucap Caroline tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah semua orang.
Tak lama kemudian Caroline di persilakan duduk oleh Marco. Dengan senyum canggung Caroline berjalan menuju tempat duduknya.
“Haaii … Waoo aku tidak sangka jika anak baru di perusahaan kita akan secantik dirimu.” Suara cempreng dari seseorang di sampingnya membuat perhatian caroline terfokus ke arahnya.
“Oh, ya. Perkenalkan namaku Hansel, semoga kau betah duduk di sebelahku,” ucappnya dengan senyuman.
Mendapat perlakuan seperti itu, tentu membuat Caroline merasa nyaman dan berkata, “Hihihi … tentu aku akan nyaman duduk di sebelah orang lucu dan menggemaskan sepertimu.”
“Benarkah?” tanyanya antusias.
“Biasanya orang di devisi ini, akan risih dengan sikapku yang cempreng dan Ceplas-ceplos jadi sebagian dari mereka akan menjauh dariku.” Hansel menunjukan gigi putihnya.
Caroline tidak bisa menjawab apa-apa ia hanya tersenyum.
__ADS_1
Derrtt
Handphone milik Caroline yang berada di atas meja bergetar, melihat nama pada layar handpnonenya membuat Caroline langsung mengangkat panggilan itu.
[Sayang … bagaimana? Apa kau nyaman di posisi itu?] Yap, siapa lagi jika bukan Jefri. Sang suami yang sangat khawatir jika ada yang melukai istrinya.
Caroline menghembuskan nafasnya dan berkata, [Aku tidak apa-apa. Semuanya aman terkendali, dan sekarang adalh waktunya bekerja jika kau menelponku terus, maka aku akan kena marah sebentar lagi.]
[Tenang, Sayang … ini adalah perusahaan suamimu. Jika ada yang menindasmu maka katakan padaku aku akan segere membereskanya,] ucap Jefri dengan bangga.
Caroline memutar bola matanya, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Caroline langsung mematikan panggilan teleponnya.
“Apa itu pacarmu?” tanya Hansel yang terlihat binar di matanya.
“Bukan, dia hanya orang tak punya kerjaan.” Hansel membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘O’
Bukannya Caroline tidak ingin mengakui Jefri, tetapi ia tidak ingin Hansel bertanya lebih lanjut tentang Jefri. Dan membuatnya tepojok tidak bisa menjawabnya.
Suasana gelap sangat mendominasi di ruangan itu, tedengar suara besi yang saling bergesekan. Membuat siapa saja yang mendengarkan akan merasakan ngilu. Dua orang bocah, yang sedang diikat dengan rantai besi membuat suara itu.
“Apa yang kalian lakukan! Sebaiknya kalian diam, kalian tidak akan bisa pergi dari sini. Jika kalian masih membuat keributan lagi aku akan melukai kalian!” Bentak penjaga yang berjaga di depan ruangan tempat Axel dan Alex dikurung.
Siapa lagi jika bukan Alex dan Axel yang masik tetap berusaha untuk kabur dari tempat itu. Saat ini penjagaan mereka menjadi semakin ketat, Bahkan mereka diikat menggunakan rantai besi yang beratnya mencapai 50kg.
Bahkan Alex dan Axel sampai tidak bisa berdiri saking beratnya besi itu. Alex masih berusaha untuk bisa melepaskan rantai itu sedangkan Axel sudah lems tak bberdaya.
“Bagaimana? Apa mereka maih belum menyerah juga?” Fahzan datang memasuki ruang bawah tanah itu dengan tangannya yang memegang obor.
“Salah satu dari mereka sudah lemas, Tuan. tetapi yang satunya masih terus beruaha untuk melepaskan diri.” penjaga itu menundukan badannya.
Fahzan berjalan lebih dekat ke dalam ruangan itu, ruangan yang sangar gelap hampir tiak terdapat cahaya di sana.
Fahzan mencengkram dagu Alex dan mendekatkan wajahnya denga wajah Alex. “Percuma saja kau berusaha keras melepaskan rantai itu. karena kuncinya berada di tanganku.”
Senyum menyeramkan terukir di wajah Fazan dan membuang kasar wajah Alex.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan Fahzan membuat Alex tersadar.
‘Betul apa yang dia katakan. Percuma saja aku mencoba melepaskan rantai ini, sebaiknya aku menyimpa tenaga dan berikir caranya mengambil kunci itu darinya.’ Batin Alex berkata.