
Caroline, Alex dan Axel segera berlari menuju dapur melihat apa yang sedang terjadi. Namun, baru juga mereka sampai di pintu dapur, mereka sudah di hadang oleh Jefri dengan semua pakaiannya yang penuh dengan kecap dan saos. Bahkan Alex dan Axel juga kaget, melihat penampakan Jefri yang amburadul.
"Aman … sayang aman …," ucap Jefri dengan menahan Caroline, Alex dan Axel untuk masuk ke dapur.
"Papa habis di perkosa?" Suara itu membuat semua orang menoleh ke arah asal suara.
Ternyata itu adalah Aulia. Putri mereka yang satu ini memang selalu langganan makan malam hari. Bahkan hampir setiap hari Aulia bangun tengah malam hanya untuk makan. Untung saja di kulkas selalu tersedia makanan, jadi Aulia bisa makan apa yang ada.
Jefri melotot mendengar penuturan putrinya itu dan berkata, "Dari mana Aulia mempelajari bahasa itu? Jangan keluarkan kata-kata itu sayang."
"Memang kenapa Pi? Bukannya orang di per**sa itu seperti Papi saat ini? Lihat dari atas wajah Papi cemong dan rambut Papi berisi pasir seperti orang di pe***sa di pinggir jalan," ucap Aulia.
Jafri yang mendengar penuturan sang putri mengenai pe***sa dibuat melongo mendengarnya. Rupanya pengertian putrinya tentang pe***sa sangat berbeda dengan yang Jefri pahami. Hal itu membuat Jefri lega, dia pikir putrinya menonton hal yang tidak-tidak.
"Sayang … jangan katakan hal itu kepada orang lain ya?" ucap Jefri.
"Kenapa, Pi?" tanya Aulia dengan polosnya.
"Hmm … kata-kata itu jangan di keluarkan ya, Lia bisa ganti kata 'per**sa' itu dengan 'pengemis' okey?" ucap Jefri berusaha membuat putrinya ini mengerti. Bahaya jika Aulia bertanya lebih panjang lagi.
"Okey. Tapi Papi belum jawab pertanyaan Lia," ucap Aulia sedikit cemberut.
Mendengar pertanyaan putrinya membuat Jefri bingung harus menjawab apa. Sementara kedua putranya dan juga istrinya sedang menahan tawa di belakang Jefri. Mereka tau apa yang terjadi dan mereka juga tau Jefri sangat gengsi untuk mengakui kegagalannya.
__ADS_1
"Lia mau apa malam-malam begini di dapur sayang?" tanya Jefri berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
Aulia langsung menepuk dahinya dan berlari menuju kulkas di dalam dapur. Jefri ingin menghentikan Aulia, tetapi terlambat Aulia sudah lebih dulu, memasuki dapur. Namun, langkahnya terhenti saat melihat kondisi dapur yang terlihat seperti kapal pecah.
“Mami …,” teriak Aulia memekikan telinga.
Caroline langsung berlari ke dalam dapur saat mendengar teriakan memekik dari Aulia. Reaksi Caroline juga sama seperti Aulia saat melihat dapur yang seperti kapal pecah, Ia memang mengetahui jika Jefri sudah mengacaukan dapur karena gagal memasak. Tapi Caroline tidak pernah menyangka jika kondisi dapur sampai seperti ini.
Dalam hitungan detik terdengar suara Caroline yang memanggil Jefri, “Sayang ….”
“Ya, sayang.” Jefri dalam waktu singkat langsung berada di samping Caroline yang masih melihat ke depan.
“Apa yang kau lakukan pada dapurku!” Caroline menatap Jefri tajam, meminta penjelasan.
“Bohong itu, Mi … yang ada dapur mami bakal hancur.” Axel berusaha untuk memanas-manasi Caroline.
Jefri langsung melotot ke arah putra keduanya. “Tenang Sayang … aku tidak akan membuatnya hancur okey. Katanya baby ingin makan masakan Deddynya.”
“Awes, hancur lagi. Kau tidak akan mendapat jatah bulan ini.” Setelah mengatakan itu Carolline langsung pergi meninggalkan Jefri begitu saja.
“Yang enak ya, Pi …,” ucap Axel dengan senyum mengejek ke arah Jefri saat Axel berada di ambang pintu.
Jefri melotot ke arah Axel dan melihat putranya itu berlari keluar dari dapur. Jefri menggelengkan kepalanya melihat tingkah Axel, semenjak Axel dan Alex di culik kedua bocah itu menjadi lebih dewasa jika Alex mungkin sudah biasa, tetapi Axel juga ikut berubah, apalagi kurangnya perhatian Jefri dan Caroline setelah kejadian itu. Namun, saat menyadari perubahan dari kedua anak kembarnya itu, Jefri dan Caroline langsung memberikan perhatian berlimpah kepada putra kembarnya itu. Bahkan sampai membuat waktu yang mana digunakan Jefri untuk berduaan dengan Caroline berkurang.
__ADS_1
Namun, mereka senang karena Axel secara perlahan kembali seperti semula. Sifat ceria Axel kembali seperti dulu. hanya sikap Alex yang masih utuh seperti pria dewasa.
Jefri kembali melakukan perintah sang istri membuat makanan untuknya. Sudah beberapa kali Jefri berusaha untuk membuat. namun hasilnya tetap sama yaitu gosong. Untungnya masakan Jefri yang terakhir tidak gosong dan jefri menghabiskan waktu tiga jam untuk memasak. Saat Jefri keluar dari dapur Jefri melihat Caroline,Alex dan Axel sudah tertidur di atas meja.
Aulia? Putri kecil itu sudah lebih dulu masuk ke kamarnya karena merasa sangat mengantuk. Jefri hanya tersenyum melihat pemandangan itu dan berjalan mendekat ke arah meja makan. Jefri menggendong Caroline menuju kamar, setelah itu Jefri kembali dengan menggendong kedua putranya itu menuju kamar mereka.
***
Pagi hari, di sebuah mall terbesar negara itu. Ronald duduk di sebuah kursi yang berada tidak jauh dari toko tempat pacarnya itu berbelanja. Ronald masih teringat tentang wanita yang ia temui di sekolah adiknya saat itu.
Wanita itu tidak lain adalah Caroline. Wajah Caroline selalu saja menghantui pikiran Ronald, pria itu sangat terobsesi dengan Caroline. Padahal ia tau sendiri Caroline sudah bersuami dan sedang hamil. Ronald melihat dengan jelas perut Caroline yang mulai buncit, tetapi itu tidak menghilangkan pesona Caroline di mata Ronald justru Ronald makin suka dengan Caroline.
“Sungguh wanita yang sangat cantik, aku harus mendapatkannya, membayangkannya saja sudah membuatku Aaarggg …,” umpat Ronald saat merasakan sesuatu dibawah sana mulai bangun. Saat ia membayangkan wajah Caroline.
Ronald meninggalkan kekasihnya yang sedang berbelanja di toko baju begitu saja. Ia memilih untuk menuju toilet menenangkan sesuatu dibawah sana yang mulai berdiri. Cukup lama pria itu berada di dalam toilet.
Namun, Pintu toilet di sebelah Ronald terbuka dan memperlihatkan Zaki yang berjalan keluar dari sana. Tanpa sengaja Zaki mendengar suara ******* Ronald yang mana menyebut nama Caroline. Zaki pun menempelkan telinganya pada pintu toilet untuk memastikan.
“Wahhh … sepertinya aku mendapatkan mangsa yang bagus, nih.” Zaki tersenyum licik.
“Tidak kusangka keponakan kecilku itu banyak yang menyukainya jika tau begini, akan aku peralat dia dari dulu untuk memancing ikan. Haaahhh … nasibku memang sial sekarang dia sudah membenciku … tidak mungkin dia akan memaafkanku lagian kedokku sudah terbongkar.” Ada rasa penyesalan di hati Zaki. Namun itu bukan rasa penyesalan simpati, Zaki hanya menyesal ia tidak memanfaatkan kecantikan Caroline sedari dulu untuk memancing ikan besar seperti Jefri.
“Tunggu saja pembalasanku keponakan tersayang ….”
__ADS_1