
Jek sangat tidak terima diperlakukan seperti itu, ia ingin menampar dan memukul Caroline.
Tetapi gerakan tangannya lagi-lagi terhenti, saat pandangannya melihat ke arah daratan tinggi milik Caroline.
Seketika pandangannya tidak dapat teralihkan, bahkan anak buahnya yang datang ingin melapor pun tidak ia hiraukan, karena pandangan itu.
Sedangkan Caroline, ia masih terengah-engah. Kontrol jantungnya masih belum cukup untuk mengendalikan rasa takutnya saat ini.
'Aku tidak bisa jika hanya berdiam diri, seperti ini. Aku harus mencari cara lain untuk lepas dan kabur dari sini.'
"Kalian keluar dulu!" perintah ya dengan mengibaskan tangannya ke belakang.
Mendengar hal itu Caroline semakin panik, ia mulai melihat sekelilingnya untuk mencari benda yang bisa ia gunakan untuk keluar dari tempat ini.
"Kau melihat apa, Sayang … kau tidak akan menemukan apa pun di sini." Jek tersenyum dengan sangat menyeramkan.
Jek melangkah maju dan ingin menyentuh sesuatu yang sedari tadi ia pandang. Namun itu gagal karena Caroline yang dengan cepat memukul Jek, dan berlari ke arah pintu.
Tetapi pintu itu ternyata di kunci dan membuat Carolin panik. Jek langsung memeluk Caroline dari belakang dan meremas apa yang ia lihat sedari dari.
Dengan menggunakan sikunya, Caroline ingin menyikut Jek, tetapi pergerakan tangannya kalah cepat dengan Jek.
Jek lebih dulu menangkap tangan Caroline dan mengikatnya dengan tali yang ada di kantongnya, begitu juga dengan kaki Caroline.
"Sekarang kau tidak bisa melakukan apa-apa, Sayang … mari kita bersenang-senang," Jek mengelap walajnya yang terasa kotor dan menatap mesum ke arah Caroline.
**
Sedangkan di sisi lain, Jefri sedang dalam perjalanan menuju lokasi di mana Jek menyekap Caroline.
Dan Jefri juga sudah menyuruh anak buahnya untuk membawa Alex dan Axel palsu ke markas mereka.
"Heh, jika kau ingin mati, mati saja sendiri jangan mengajak aku! Aku masih belum melihat anakku lahir," teriak Zail dengan tangannya yang berpegangan erat pada pintu mobil.
Tetapi Jefri tidak menghiraukan hal itu, dia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yang ada di pikirannya kali ini hanyalah keselamatan Caroline.
__ADS_1
Tak lama kemudian Jefri sampai di gedung terbengkalai itu, dan dengan cepat keluar dari mobilnya berlari ke dalam gedung. Sedangkan Zail memerintahkan semua anak buah Jefri yang mengikuti mereka untuk mengepung bangunan itu dengan beberapa dari mereka masuk ke dalam.
Brakk
Setelah sekian ruangan ia masuki, akhirnya Jefri bisa menemukan ruangan tempat Caroline di sekap. Dan matanya melotot saat melihat apa yang terjadi di ruangan itu.
Tanpa banyak basa-basi, Jefri langsung menarik Jek, yang berada di atas Caroline. Dengan wajahnya yang sudah merah Jefri pada akibat amarahnya yang sudah berada di ubun-ubun.
Bagaimana tidak, dengan mata kepalanya sendiri. Jefri melihat Jek berada di atas Caroline yang mana kedua tangannya di ikat dan begitu juga dengan kakinya.
Selain itu bajunya yang sudah tidak pada tempatnya, dan memperlihatkan bagian atasnya. Dengan Caroline yang menangis tersedu-sedu.
Dengan sadisnya Jefri, langsung menembakan peluru ke arah kayu milik Jefri. Yang mana membuatnya berteriak kesakitan.
Jek sudah tidak dapat melakukan apa pun lagi, karena dia sudah tidak bisa berdiri sebab rasa sakit luar biasa yang mulai ia rasakan.
Jefri tidak puas, melakukan itu, lagi dan lagi dia meninggalkan bekas luka di wajahnya.
"Aku akan membuatmu merasakan apa itu neraka di dunia ini. Aku tidak akan membiarkanmu mati, sampai kah merasakan apa itu neraka yang aku buat."
Jefri berjalan ke arah Caroline dan menutupi tubuhnya dengan jas miliknya.
Lalu Jefri tepuk tangan dua kali dan tak lama kemudian anak buah Jefri datang dan membawa Jek menuju markas mereka.
Jefri memalingkan wajahnya melihat kembali melihat Caroline, dengan matanya yang merah akibat menangis, dan pakaiannya yang sudah setengah badan.
"Aku kotor," gumam Caroline saat berada dalam pelukan Jefri.
Jefri terus mengusap kepala Caroline dan mencoba menenangkannya. Tetapi Caroline masih terlihat sangat terpuruk.
"Kau tidak kotor sayang … dia belum sempat melakukan itu. Ada aku di sini jadi tidak perlu takut." Ucap Jefri mengusap rambut Caroline dengan penuh kasih sayang.
Tetapi itu tidak mempan, Caroline masih tetap menangis dalam pelukannya. "Tenang sayang … kau akan tetap jadi milikku," ucap Jefri dengan sebuah usapan di kening, dan pelukan tangan Jefri yang erat pada pinggang Caroline membuatnya nyaman.
Caroline akhirnya terdiam, dan Jefri pun menggendongnya menuju mobilnya.
__ADS_1
Dengan Zail yang menjadi sopir di sana, Jefri dan Caroline dengan leluasa berduaan dengan saling cium satu sama lain.
Caroline yang awalnya bersedih karena hal itu menjadi lupa, karena rasa nyaman
Yang Jefri berikan.
'Dasar pasangan Bi***p kalian saling cium dan bermesraan di sana, lalu aku hanya bisa diam dan melirik saja. Aurel aku merindukanmu,' batin Jefri meratapi nasibnya.
Saat sampai di mansion, Caroline sudah tertidur dalam pelukan Jefri. Dan menggendong Caroline menuju kamar mereka.
Saat sampai di kamar, Jefri mengelap bagian tubuh Caroline yang sudah di jamah oleh Jek, dengan menggunakan handuk dan air panas, dan tak lupa Jefri mengoleskan cream, yang akan menyegarkan kembali tubuh Caroline.
Saat Jefri akan melangkahkan kakinya menjauh dari ranjang, Caroline menggenggam pergelangan tangannya dan berkata, "Tolong aku … aku kotor, hiks."
Jefri yang melihat itu pun merasa kasihan, ia takut jika Caroline terkena serangan mental akibat kejadian itu. Akhirnya Jefri menelepon Zail yang baru saja sampai di mansionnya.
[Datang ke mansionku segera!] Begitu sambunga tersambung, Jefri berkata dengan nadanya yang dingin.
[Gila, aku baru menginjakan kaki di mansionku dan kau kembali menyuruhku ke mansionmu?!] ucap Zail menahan geram, jika bukan atasan dan juga kakak iparnya, mungkin Zail sudah mengeluarkan perkataan yang ia tahan di benak hatinya.
Jefri mematikan panggilannya dan mengusap kepala Caroline dengan penuh kasih sayang.
"Maaf sayang … itu salahku tidak bisa menjagamu," ucapnya penuh dengan penyesalan, saat melihat wajah Caroline yang pucat.
Jefri keluar dari kamar mereka dan masuk ke dalam kamar anak-anaknya.
"Sayang … bagaimana? Apa kalian ada yang terluka?" Begitu Jefri masuk ke dalam kamar kedua putranya Jefri bertanya dengan wajahnya yang terlihat seperti tembok.
"Tidak Pi, paman Zail menyelamatkan kami tepat waktu," jawab Axel dengan antusias.
Tetapi tidak dengan Alex, ada rasa kecewa besar yang terdapat di dalam hatinya. Jefri melihat raut wajah Alex pun menghirup putranya itu.
Tetapi Jefri mengerutkan keningnya saat melihat Alex yang menjauhinya.
"Ada apa sayang? Kenapa kau menjauhi, Papa?" tanya Jefri dengan perlahan yang muli kembali mendekati Alex.
__ADS_1
"Jangan mendekatiku! Aku kecewa dengan Papa dan Mama!" Alex berteriak kepada Jefri dan berlari keluar dari kamarnya