
Jefri menaikan salah satu alisnya dan berteriak, "Apa kau bodoh! Aku bertanya di mana mereka, bukan kondisi mereka!"
Mendengar bentakan itu membuat penjaga di sana gemetar ketakutan. "Me-mereka sedang berada di ruangan bawah tanah, Tuan …," ucap salah satu dari mereka gemetar ketakutan.
Jefri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan bawah tanah. Jefri sampai pada ruangan yang sangat gelap dan lembab itu. Bahkan di sana tidak terdapat ventilasi udara sama sekali. Dengan tangan satunya yang memegang senter Jefri melangkahkan kakinya menuju jeruji di mana Marcell dan Mona di kurung.
Jefri tersenyum saat ia sampai tepat di depan penjara tempat Marcell dan Mona di kurung. Mereka terlihat sangat mengenaskan, dengan seluruh bagian kulit yang lebam dan juga terdapat luka di mana-mana. Tidak hanya itu, bahkan rambut mereka sudah botak karena ulah Jose yang geram dengan rengekan-rengekan kedua wanita itu.
"Hahahah … kalian pantas mendapatkan ini. Kalian sendiri yang mencari masalah denganku, dan aku tidak akan mengampuni kalian lagi," ucap Jefri dengan ekspresi wajahnya yang dingin.
Marcell dan Mona sudah pasrah. Mereka sudah berkali-kali di siksa oleh anak buah Jefri, walau mereka meminta untuk membunuh mereka saja, tetapi mereka malah disiksa semakin menjadi. Bahkan mental marcell saat ini sudah mulai gila.
"Lakukan!" perintah Jefri tanpa melihat anak buahnya sedikit pun, dan keluar dari sana.
***
Di mansion, Caroline meraba-raba ranjang bagian di mana Jefri tidur biasanya. Namun, ia merasa tidak menemukan apa yang ia cari. Caroline pun membuka matanya, Caroline mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dan tidak menemukan keberadaan suami tercintanya.
Caroline hanya melihat Alex dan Axel yang tidur dengan saling memeluk satu sama lain. Caroline tidak ingin membangunkan keduanya itu. Ia berjalan dengan sangat hati-hati turun dari ranjang. Caroline tidak ingin mengganggu tidur nyenyak kedua putranya itu. Caroline mencari keberadaan Jefri di seluruh ruangan. Namun ia tidak menemukan di mana keberadaan Jefri.
Caroline mulai terisak saat ia tidak menemukan Jefri, matanya pun mulai merah. Perlahan air mata itu jatuh membasahi pipinya. "Sayang … kamu di mana?
"Nyonya? Kenapa Anda di sini?" Saat Bi Michu baru saja menghidupkan lampunya, ia melihat Caroline yang sedang duduk di dapur entah apa yang dilakukannya. Karena Bi Michu belum melihat air mata yang jatuh dari sudut matanya.
Bi Michu berjalan mendekat, dan ia kaget saat melihat Caroline yang menangis. Bi Michu berjalan mendekat menghampiri Caroline dan berkata, "Nyonya … kenapa Anda menangis?"
"Hisk … Jefri mana Bi … kenapa dia tidak ada, Hisk," ucapnya dengan terisak tangis.
"Tenang, Nyonya … mungkin tuan sedang keluar membeli sesuatu," ucap Bi Michu berusaha untuk menenangkan Caroline.
"Tapi, kenapa dia tidak membangunkanku Bi … hisk." Caroline terus saja mengusap air matanya agar tidak keluar sampai-sampai, tanpa ia sadari matanya mulai terluka.
__ADS_1
"Nyonya, jangan digosok lagi, itu sudah luka Nyonya," ucap Bi Michu panik, saat melihat mata Carolin yang luka.
"Mama, Mama kenapa?" Axel dan Alex menghampiri Caroline. Alex dan Axel tadi panik, saat tidak mendapati Caroline berada di samping mereka. Membuat Alex dan Axel terbangun.
"Alex, Axel. Kenapa kalian bangun Sayang?" ucap Caroline berusaha menahan tangisnya saat melihat kedua putranya itu menghampiri dirinya.
"Kita mencari, Mami tadi Mami tidak ada di kamar jadi kita turun ke bawah," jelas Axel.
"Mami kenapa menangis?" pertanyaan itu kembali ditanyakan Alex karena belum mendapatkan jawaban dari sang Mami.
"Mami, mencari papi kalian, hiks." Mengingat Jefri membuat tangis Caroline kembali pecah.
Alex yang melihat itu pun mulai mengetahui apa yang terjadi. Alex berjalan ke pojok ruangan dan menelpon seseorang yang tak lain adalah Jefri.
[Hallo, boy,] ucap Jefri begitu ia mengangkat panggilan teleponnya.
[Papi di mana?] tanya Alex to the poin.
[Mami sedang mencari Papi, dan matanya sudah luka karena menangis,] ucap Alex yang mampu membuat Jefri panik saat itu juga.
[Apa? Papi akan pulang sekarang, Boy. Tolong jaga mamimu untuk Papi dan jangan biarkan dia menangis, tolong hibur dia boy,] ucapnya yang terdengar nada panik dalam suaranya.
[Hemmm …,] jawab Alex dingin dan mematikan sambungan teleponnya.
***
Suara mobil Jefri terdengar, dan itu langsung membuat Caroline memekik girang. Seperti anak kecil yang mendapat mainan. Caroline langsung berlari keluar tanpa menghiraukan dirinya yang sedang hamil tiga bulan.
Jefri yang baru saja keluar dari mobilnya melotot saat melihat sang istri yang berlari menujunya. Jefri bukan takut jika Caroline akan menabrak dan memeluknya, melainkan yang pria itu takutkan adalah jika Caroline jatuh. Mengingat kondisi sang istri yang saat ini yang sedang hamil, membuat Jefri harus serba waspada dan siaga.
"Sayang … jangan berlarian begitu," ucap Jefri panik. Ia segera menghampiri Caroline sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.
__ADS_1
"Kamu dari mana … hisk, aku ingin makan," ucap Caroline yang mana membuat semuanya melongo mendengar ucapan Caroline.
Bagaimana tidak? Mereka sedari tadi panik, dan berusaha untuk menghubungi Caroline. Ternyata Caroline hanya ingin makan. Bahkan bi Michu pun bisa membuatkan makanan kenapa harus Jefri?
"Hhh … ternyata hanya itu, kenapa tidak minta buatkan BI Michu? Aku kan tidak bisa memasak," ucap Jefri saat mengetahui keinginan istrinya.
"Tidak enak," jawab Caroline singkat.
Mereka tambah melongo mendengar itu. Caroline mengatakan tidak enak, lalu siapa yang pagi-pagi menambah sampai empat piring?
Saat Jefri masih melongo dengan jawaban sang istri. Ia tersadar saat melihat perut Caroline yang sudah mulai buncit. Ternyata istrinya ini sedang ngidam.
"Baiklah … aku akan memenuhinya, ini adalah ngidam pertama bagiku dan aku tidak ingin membuat Caroline sedih," batin Jefri.
"Sabar ya, Sayang … aku akan berusaha sebisa mungkin," bisik Jefri dan mencium bibir Caroline di depan anak-anak dan juga Bi Michu.
"Kak … apa yang kau lakukan?" pekik Axel saat Alex menutup matanya dengan tangannya.
Mendengar itu membuat kedua pasangan itu tersadar jika ada orang lain di sana. Wajah mereka seketika menjadi merah dan berkata, "Maaf … papi lupa."
"Papi lain kali liat tempat!" ucal Alex melepaskan tangannya dari mata Axel dan pergi meninggalkan semua orang.
Axel sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi. Sampai Alex harus menutup kedua matanya. Axel segera menyusul kakaknya yang sudah berjalan jauh dari mereka.
Jefri mengajak istrinya menuju ruangan makan dan meminta Caroline dan kedua putranya itu untuk menunggu di meja makan. Jefri pun segera menuju dapur dan membuka google. Jujur saja ia tidak yakin akan berhasil, karena pernah Jefri belajar memasak dan alhasil Jefri membakar satu dapur itu.
"Astaga … apa iya aku akan berhasil? Bagaimana jika makanannya tidak layak makan?" gumam Jefri bingung harus melakukan apa.
"Sudahlah, aku coba dulu," gumamnya dan mulai mengambil semua bahan-bahan makanan.
Dummm
__ADS_1
Belum lama Jefri berada di dapur terdengar suara ledakan keras. Yang mana membuat semuanya panik dan kaget.