Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
41. Kemenangan Sesaat


__ADS_3

Caroline tersenyum samar, saat melihat foto yang ditunjukan oleh Martha. “Apa kau yakin jika kau melihatku sedang bermesraan dengan mereka di waktu yang berbeda?” Caroline menaikan sebelah alisnya.


Martha terheran-heran melihat ekspresi Caroline yang terlihat biasa saja. ‘Kenapa wanita ini masih diam saja. Ini bukanlah ekspresi yang aku inginkan.’ batin Martha.


“Apa kau tidak melihat, di sana Kakak dan mereka sama sama bermesraan, yang satu berpegangan tangan, sedangkan yang satu pria itu mengurungmu dengan tubuhnya di dinding.” Martha dengan sangat yakin menunjukan foto itu kepada Caroline yang mana membuat semua orang dapat melihat dengan jelas wajah yang ada di dalam foto tersebut.


“Sepertinya foto yang ada di tangan kirinya itu adalah tuan Jefri.”


“Yang ada di tangan kanannya adalah Tuan Corzel, Pemimpin negeri singa.”


“Iya, sepertinya tidak mungkin jika mereka merebutkan wanita ini.”


begitulah bisik-bisik Karyawan yang berkumpul mengerumuni Caroline dan Martha.


“Apa itu sudah jelas nona Martha?” Caroline tersenyum dengan penuh kemenangan.


“Mereka mungkin tidak akan mau denganmu tetapi bagaimana jika kau menggoda mereka dan merayunya?” Martha berbicara dengan suara yang terdengar cukup keras, yang mana berniat untuk mempermalukan Caroline di depan umum.


Caroline tersenyum dan berkata, “Owhhh … apa kau yakin jika mereka tidak menginginkanku?”


“Kakak … apa kau sampai begitu gilanya dengan harta sampai kau menggoda mereka dan tidak mengakuinya?” Martha mengeluarkan air mata buayanya.


“Sepertinya memang tidak ada cara lain untuk membuktikannya kepadamu, tadinya aku masih ingin menyembunyikan identitasku. tapi melihat kau yang tidak percaya kepadaku maka aku hanya bisa membuktikannya dengan ini.” Caroline tersenyum dan mengeluarkan handphone miliknya.


Martha tidak mengerti dengan apa yang Caroline katakan, Dia hanya terus berfikir positif jika rencananya ini akan berhasil dan embuat Caroline merasa malu.


[Hallo, Sayang ….] Ucap Caroline dengan suara selembut mungkin. Siapa lagi jika bukan Jefri yang Carolline telepon.


[Iya, Sayang ada apa? Hmm …?] Jefri yang sebenarnya di sana juga sedang menonton apa yang sedang istrinya lakukan saat ini, di layar laptopnya yang terhubung dengan rekaman CCTV yang ada di tempat Caroline berada.


[Bisakah, kau ke lorong dekat kantin sekarang?] caroline tersenyum. Tetapi di dalam hatinya terdapat sedikit rasa takut, jika Jefri menolak untuk datang.


Jefri tersenyum dan menjawab [Baiklah … kau tunggu aku di sana.]

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Jefri langsung mematikan sambungan teleponnya dan turun menuju tempat di mana Caroline berada saat ini.


“Apa kalian semua mengenali suara siapa itu?” Caroline tersenyum setelah mendengar jawaban Jefri, Caroline menjadi tenang.


“Iya … itu suara tuan Jefri.”


“Gawat jika kita sampai menyinggungnya. Bagaimana jika kita dipecat nantinya?”


“Apa sebaiknya kita pergi saja dari sini? Dari pada kita terkena juga.” Begitulah apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menonton perdebatan mereka.


Bukan hanya karyawan yang menonton mereka, tetapi Mereka yang mendengar percakapan telepon Caroline dan Jefri pun juga sangat kaget.


‘Tidak- tidak mungkin wanita murahan ini memiliki hubungan Dengan Tuan Jefri. Jika pun ia Caroline paling hanya akan menjadi simpanannya saja.’ Batin Martha.


Martha menetralkan ekspresinya dan tersenyum samar, lalu kembali memulai aktingnya. “Kakak … kenapa kau selalu berbohong. Sekarang kau malah mengarang Cerita. Dari kecil kau memang tidak berubah, itu pasti adalah suara tiruan ‘kan”


“Kita lihat saja nanti siapa yang mengarang cerita. Aku tau kau,” Caroline tersamar.


Tak lama kemudian Jefri datang dengan gagahnya beserta dengan Jose dan juga Miko yang mengikuti Jefri dari belakang.


Marth kaget melihat kedatangan Jefri dengan tiba-tiba. Badan yang tinggi 182 cm dan kulit putih serta jakun yang menonjol, yang mana terlihat sangat seksi di mana para wanita.


Bahkan Martha sendiri tak dapat berkedip dibuahnya.


“Sayang ….” Caroline berlari dengan maja ke arah Jefri dan memeluk erat pinggang gagah Jefri. Dan Jefri dengan senang hati membalas pelukan Caroline Bahan mencium bibir Caroline di depan hal layaknya umum.


“Tuan … apa Anda menjadikan kakak saya sebagai Simpanan? Saya mohon, Tuan tolong lepaskan kakak saya.” ucap Martha dengan menunjukan Akting palsunya.


Mata Jefri menggelap endegar apa yang Martha katakan. Dan Jefri bisa melihat dengan jelas niatan Martha yang ingin menggodanya dengan menyembulkan ***********.


Brakkkk


Jefri mendorong Martha hingga punggungnya membentur kursi yang ada di dekat lorong. “Beraninya kau mengatakan ‘ISTRIKU’ sebagai simpanan?!” Wajah jefri sudah mulai merah, Ia sudah lama menahan Amarahnya terhadap Marcel, Mona dan Martha.

__ADS_1


Martha kaget mendengar kata ISTRI. Bukan hanya Martha, tetapi seluruh Karyawan yang berada di sekitar sana juga sama kagetnya. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba saja pria idaman seluruh kantor memiliki seorang istri.


Bahkan berita tentang pernikahan mereka saja tidak ada bagaimana bisa tiba-tiba mempunyai seorang istri.


‘Sialan, Kenapa wanita ****** ini bisa seberuntung ini? tidak. aku tidak boleh membiarkan ini terjadi. Aku tidak akan membiarkan Wanita ****** ini memiliki status yang lebih tinggi dariku.’ Batin Martha tak terima dengan kenyataan yang ada.


“Tuan … kau pasti salah memilih istri.” ucap Martha yang ingin menyentuh Jefri.


tetapi sebelum Martha berhasil menyentuh Jefri, Caroline sudah lebih dulu maju satu langkah dan menjambak rambut Martha.


“Jika kau berani secuil saja menyentuh suamiku aku pastikan kedua tanganmu itu tidak ada pada tempatnya saat itu juga!” Ancam Caroline dengan tangannya yang menjambak Martha lebih kuat.


“Ahhh … Dasar ******!” teriak Martha dan ingin menusuk Caroline dengan pisau.


Tetapi Jefri bergerak dengan cepat dan berhasil membuat Martha terpental dengan tendangannya.


“Beraninya kau menyakiti ISTRIKU!” ucap Jefri dengan suara yang terdengar tegas.


“Tidak tuuan dia bukan istri anda! Dia sudah menikah dengan orang lain. Dulu mama menjualnya kepada seorang mafia tua, dan mereka pasti sudah tidur bersama.” ucap Martha ang keceplosan mengungkapkan sebuah rahasia.


Caroline tersenyum dan berkata, “Akhirnya kau mengatakannya juga. Sudah saatnya kalian menanggung apa yang aku rasakan selama ini. aku tidak akan membuat kalian hidup dengan tenang.


Martha sudah takut lebih dulu. ia takut jika Caroline melaporkan hal itu ke polisi dan membuatnya masuk penjara.


“Tidak, kau tidak akan bisa memenjarakanku! Aku yang akan membuatmu menderita!” Martha berusaha untuk berdiri di sisa-sisa tenaganya.


“Tangkap dia!” suara Jefri menggema dan jose dan Miko dengan Cepat meringkus Martha.


“Mama ….” Suara Axel yang terdengar sangat gembira dan berlari menuju Caroline.


Sedangkan tak jauh dari Caroline Berada Martha terus memberontak dalam pegangan Jose dan Miko Sehingga membuatnya terlepas da mengarahkan pisau ke arah Caroline.


“Mama awas ….”

__ADS_1


Jleb


mendengar teriakan itu semua orang menoleh ke arah Caroline.


__ADS_2