Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
33. kembali ditahan


__ADS_3

Carilone Kaget saat mendengar Jefri, yang mengancam dirinya dengan menggunakan kedua anaknya. 


"Anak?" gumam Caroline 'Berarti apa dia sudah mengetahui tentang Alex dan Axel? Tidak-tidak … ini tidak boleh terjadi. Aku lebih baik ikut dengannya terlebih dahulu' pikir Caroline. 


Jefri menggendong Caroline masuk ke dalam mobilnya, dengan kecepatan yang sangat tinggi Jefri melajukan mobilnya. 


Di dalam perjalanan, Caroline merasa khawatir dengan keadaan Carzol. "Tuan … apa saya mohon … lepaskan saya," ucap Caroline dengan tatapan mata yang mana masih menyisakan air mata di sana. 


"Tidak, aku tidak akan melepaskannya! Kau adalah milikku sampai kapan pun itu, kau milikku hanya aku yang boleh menyentuhmu!" Jefri berbicara dengan sorot mata yang tegas dan nada yang sedikit membentak. 


"Tuan … saya mohon, setidaknya kau menyuruh orang untuk membawa teman saya ke rumah sakit …," ucap Caroline yang mana lagi-lagi memohon kepada Jefri. 


Api cemburu mulai membakar Jefri saat mendengar jika Caroline mengkhawatirkan pria lain.  


Jefri perlahan melihat ke arah Caroline dengan sorot mata yang tajam, yang mana akan membuat orang-orang merinding tetapi tidak dengan Caroline yang memiliki keberanian berganda-ganda. 


“Apa kau mengkhawatirkannya?” ucap Jefri dengan suara bergetar. Sedangkan Caroline diam tidak menjawab. “Jawab!” Bentak Jefri. 


“Iya … iya aku mengkhawatirkannya. aku tidak ingin dia terluka! Saat kau menyakitiku, Dia yang ada di sisiku! Puas kau, puas kau dengan Jawabanku!” Bentak Caroline tak kalah dari bentakan jefri. 


Jefri memukul stir mobil dengan keras, sampai-sampai membuat tangannya mengeluarkan darah. 


Jefri memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, dia menoleh melihat ke arah Caroline  dan mencengkram pipi Caroline dengan kasar. 


"Kau tidak boleh mengkhawatirkan orang lain, kau hanya boleh mengkhawatirkanku, kau milikku," ucap Jefri setengah berteriak. 


Caroline tidak bergeming. Jefri yang sadar jika dia sudah menyakiti Caroline pun melepaskan cengkraman tangannya pada pipi Caroline. 


Jefri mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sampai-sampai Caroline harus berpegangan pada Gagang pintu. 


Sesampainya di apartemen, Jefri menggendong Caroline menuju kamarnya. Dan membaringkan Caroline di kasur king size miliknya dan meremas gundukan kenyal yang ada di dada Caroline walau masih terbungkus kain. 


"Aahh …," *******, Caroline akhirnya lolos dari bibirnya. 


Jefri langsung melepas pakaian yang melekat pada tubuhnya, dan mengurung Caroline di bawahnya. 


“A-A-apa yang akan kau lakukan?” ucap Caroline tergagap. 


Jefri tersenyum miring mendengar suara Caroline yang tergagap seperti itu dan berkata, “Heh, akhirnya aku bisa membuat kucing liarku ini ketakutan.” 

__ADS_1


“Berhenti.” Caroline menutup mulut Jefri yang mana akan menciumnya dan kakinya bersiap akan menendang adik Jefri. 


Tetapi Jefri dengan cepat menangkap kaki Caroline. 


“Kau tidak akan menang jika menggunakan dua trik yang sama terhadapku, Sayang …,” ucap Jefri dan langsung mengunci kedua tangan Caroline ke atas kepalanya dan mencium bibirnya dengan rakus. 


Tidak sampai disitu, tangan Jefri menjelajah masuk ke dalam kaos yang Caroline gunakan dan melepas pengait kaca mata kuda Caroline. 


Caroline masih terus memberontak tapi semua usahanya sia-sia karena tenaga yang dimiliki Jefri lebih besar dibandingkan dengan Caroline. 


Jefri meremas gundukan kenyal yang mana tidak cukup dalam genggaman tangannya. Tetapi Jefri terus bermain di sana. Sedangkan Caroline yang mendapatkan listrik saat itu juga mendesah nikmat. 


Jefri melepaskan pakaian Caroline dan memperlihatkan benda bulat dan kenyal yang berukuran besar itu. 


Air mata Caroline mengalir deras keluar dari sudut matanya. Lagi dan lagi Caroline tak bisa melawan saat diperlakukan tak pantas oleh Jefri. 


3 jam kemudian Jefri selesai dengan permainannya dengan Caroline dan menggunakan kembali  pakaiannya. Jefri melihat Caroline sudah tertidur, Jefri menyelimuti tubuh Caroline. Dan berjalan keluar dari kamarnya. 


Jefri menghampiri Miko dan Jose yang ada di ruang tamu. "Di mana anak-anak?" tanya Jefri dingin. 


"Mereka ada dikamar, kau tenang saja semua beres," ucap Miko bangga. 


Jefri tanpa menjawab langsung berjalan ke arah kamar. 


Bug 


"Auuu," ringis Miko, karena Jefri yang melemparkan sandalnya yang mahal ke arah Miko. 


Sesampainya di kamar kedua putranya, Jefri kaget saat melihat Axel yang menangis di dalam pelukan Alex. Dan Alex yang sedang berusaha menenangkan adiknya. 


"Sayang … ada apa ini? Kenapa Axel menangis?" tanya Jefri dengan suara yang sangat lembut. 


Alex yang mendengar suara Jefri kaget, dan mengalihkan pandangannya ke arah Jefri. Sedangkan Axel dia menoleh dan berlari menuju Jefri. 


"Papa … hiks." Axel berlari ke dalam pelukan Jefri. 


"Apa Papa di sini untuk menyelamatkan kita?" tanya Axel dengan wajah polos miliknya. 


Jefri mendengar itu akhirnya mengerti. "Kalian tidak diculik … kalian berada di rumah Papa," ucap Jefri dengan lembut. 

__ADS_1


"Benarkah, itu?" tanya Axel dengan wajah polosnya. 


Jefri menganggukan kepalanya dan berkata, “Iya, dan mama ada di kamar papa sedang tidur, sebaiknya kalian juga tidur dulu, Okey, ini sudah malam.”


Axel menganggukan kepalanya dan naik ke atas ranjang. Tetapi berbeda dengan Alex yang menatap Jefri dengan tajam.


‘Apa Alex masih marah kepadaku?’ Pikir Jefri. 


“Apa Alex masih marah, dengan Papa?” jefri mengulurkan tangannya ingin mengelus rambut Alex tetapi Alex mundur beberapa langkah. 


“Aku tidak akan memaafkanmu sebelum aku mendengarnya sendiri dari mama!” Alex melipat kedua tangannya di depan dada. 


Jefri yang melihat tingkah putranya yang seperti itu bingung, apakah dia harus ketawa atau sedih. 


“Iya boy, Papa tau papa salah … tapi papa mohon biarkan papa menebus semua kesalahan papa dulu. Papa akan mencoba sebisa mungkin membuat Mamamu untuk memaafkan Papa, Tapi, papa tidak akan membiarkan jika ada laki-laki lain yang mendekati mamamu, mama kalian adalah milik papa selamanya,” ucap Jefri dengan sangat tegas. 


“Kak … Kenapa kau bertengkar dengan Papa? Bukankah mama selalu mengajarkan kita untuk bersikap sopan kepada orang yang lebih tua?” Axel hanya ingin menasehati kakaknya. Sebenarnya Axel sendiri juga bingung Kenapa Alex yang biasanya selalu menghormati orang yang lebih tua kali ini malah berperilaku tidak sopan kepada papa mereka.


“Kau hanya anak kecil, jangan ikut campur urusan orang dewasa.” Alex naik ke atas ranjang yang ukuranya sangat luas itu, dan tidur memunggungi Axel. 


Jefri hanya bisa membuang nafasnya kasar, dia menyesal karena tidak mencari tahu terlebih dahulu identitas Caroline.


Saat melihat putra sulungnya yang masih menolak kehadirannya, membuat hatinya sebagai seorang ayah terluka.


Sinar matahari menyinari Gedung apartemen Jefri,  Dan sinar itu masuk dari celah-celah jendela yang ada di apartemen Jefri, hingga menyinari dua orang yang masih setia dengan tidur nyenyaknya. 


Siapa lagi kalau bukan Caroline dan Jefri. Jefri mengerjapkan matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah Carolline yang masih tertidur nyenyak di balik selimut.   


Jefri mencium kening Caroline dan berkata, ‘Kau sangat cantik saat sedang tidur’ 


Jefri turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Saat Jefri sudah masuk dan mengunci pintu kamar mandi, Caroline membuka matanya. air matanya mengalir dari sudut matanya.


“Mamaa ….” Suara Axel yang melengking membuat Caroline buru-buru menghapus air matanya. 


“Sayang kenapa kalian di sini?” Caroline sangat kaget saat melihat kedua putranya yang juga ada di apartemen Jefri. 


‘Tidak, Alex dan Axel tidak boleh ada di sini, Jika Jefri melihatnya,dia tidak akan melepaskan mereka’ 


“Iya, Ma … kemarin pa-” ucapan Axel terhenti karena Alex yang langsung dengan cepat membekap bibir Axel. 

__ADS_1


“Paman itu membawa kita ke sini Ma …,” ucap Alex. 


“Kalian harus pergi dari sini.” 


__ADS_2