
Jek menatap seluruh kota melalui jendela, dari pandanganya tergambar jelas dendam yang ada di hatinya. Jek tak lain adalah Marco, Jek melakukan operasi plastik sedemikian rupa untuk bisa merubah wajahnya.
Dan wajah itulah, yang akan Jek gunakan untuk bisa memisahkan CAroline dan Jefri.
***
Hari mulai berganti, Aurel mengerjapkan matanya, mulai melihat sekelilingnya. Pandangannya terarah ke sampingnya. Di mana biasanya tempat itu adalah tempat Zail biasanya tidur.
Aurel bangun dan terduduk di atas ranjang. Melihat ada surat di atas ranjangnya, Aurel mengambil surat itu dan membacanya.
{Sayang … Kamu baik-baik di rumah, ya. Aku pergi selamatkan Axel dan Alex dulu. Jangan marah dulu, aku sengaja tidak memberitahu kanmu soal ini. Aku takut jika kau ikut, itu akan berimbas pada anak kita dan aku tidak ingin mengambil resiko ini. Dari suami tercintamu Zail}
Aurel tersenyum membaca isi surat itu, entah kenapa ada rasa bahagia yang menggelitik hatinya, saat melihat perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh suaminya. Sungguh, hanya sebuah perhatian kecil yang Zail berikan itu sudah membuat dunia Aurel menjadi berbunga.
Dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya, Aurel melangkah menuju kamar mandi.
***
Zail bersama dengan sebagian anak buahnya yang ia miliki, Zail mulai memasuki mansion Fahzan. Dan menginstruksikan anak buahnya untuk mulai mengepung mansion itu. Zail pun perlahan mulai masuk ke dalam mansion di mana tempat Alex dan Axel di kurung.
Saat Zaiil sudah berada di dalam ruangan bawah tanah, Zail membatin, ‘Astaga … bila Jefri mengetahui anaknya dikurung di tempat seperti ini, pasti akan membuat nya murka tujuh keliling.’
Karena ruangan yang gelap membuat Zail sulit untuk melihat Jalan, Akhirnya Zail mengeluarkan senter mini, yang mana cahayanya hanya akan terfokus kepada satu titik saja, jadi tidak akan mudah ketahuan oleh penjaga yang berjaga di sekitar sana.
Saat Zail mendengar suara langkah kaki, Zail segera bersembunyi di balik tangga dan mematikan lampunya.
“Tuan ….” Kedua penjaga yang berjaga di pintu ruangan bawah tanah itu pun menundukan kepalanya.
“Bagaimana dengan kedua bocah itu?” tanya Fahzan dengan tangannya, mengambil obor yang diberikan salah satu penjaga ruangan bawah tanah.
“Mereka ada di dalam, Tuan. Dan sepertinya Axel sudah memiliki tenaga lagi. dia terlihat sudah normal,” ucap penjaga itu, menceritakan detailnya kepada Fahzan.
__ADS_1
Fahzan terlihat menaikan sedikit sudut alisnya dan bergumam, “Sepertinya ada yang tidak beres.”
Fahzan melangkahkan kakinya menuju tempat axel dan Alex di kurung.
Saat sampai di depan jerujji besi itu, Fahzan mengerutkan dahinya saat melihat Alex dan Axel yang tertidur. “Apakah mereka tidur? Atau mereka tiada?” gumam Fahzan.
Fahzan memasukan tangannya ke dalam jeruji besi itu, dan menaruh jari telunjuknya tepat di bawah hidung Axel. Fahzan mengerutkan dahinya saat merasakan jika nafas Axel normal, karena baru kemarin ia mendapat kabar dari anak buahnya jika Axel mengalami dehidrasi.
Dan Fahzan yang notabenya adalah seorang dokter, sangat mengetahui, sangat tidak mungkin untuk menyembuhkan dehidrasi jika tidak memberikan minum kepada mereka.
‘Apa ada yang berkhianat di sini?’ batin Fahzan.
tang
Suara besi yang terdengar sangat jelas membuat perhatian Fahzan teralihkan, dan melihat ke arah Asal suara, tetapi ternyata di sana tidak ada siapa pun. Fahzan pun mulai berjalan ke arah tangga, dengan langkah kakinya yang tidak bersuara sama sekali.
Pang
Zail melempar seng besi ke arah Fahzan dan membuat hidung dan pipi Fahzan terluka. “Biadap!” umpat Fahzan dengan menutupi hidung dan pipinya yang mengeluarkan darah.
“Tangkap dia!” Fahzan menunjuk ke arah Zail yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya.
Zail dengan cepat lari melewati Fahzan, dan tangannya dengan sangat cekatan mengambil kunci yang ada di pinggang Fahzan. Dan melemparnya ke dalam jeruji besi tempat Alex dan Axel dikurung.
“Ke mana yang lainnya? Kenapa hanya kau saja? tangkap dia cepat!” Fahzan berteriak dengan menyuruh Kall untuk menangkap Zail yang sedang berlari menuju pintu keluar.
Dengan menggunakan sebuah Mic yang mana akan terhubung langsung kepada anak buahnya. tetapi sayangnya tidak ada yang menjawab panggilan itu. Fahzan pun murka, dengan wajahnya yang masih terus mengeluarkan darah.
Sedangkan Alex dan Axel yang mendengar suara keributan pun terbangun, dan saat menggerakan tangannya ia merasa seperti menyentuk sesuatu. Saaat Alex membuka matanya Alangkah kagetnya jika itu adalah kunci penjaranya.
Alex kembali mengarahkan matanya ke arah sekitarnya dan melihat Zail yang sedang bermain kejar-kejaran dengan penjaga ruangan bawah tanah.
__ADS_1
Alex segera menarik Axel dan membuka gembok penjara itu. dengan cepat Alex menarik Axel untuk berlari mengikuti Zail. Fahzan pun di buat kelimpungan dengan hal itu, ia berlari dan ikut mengejar Alex dan Axel.
Tetapi hal itu berakhir dengan gagal, karena kelincahan dan kegesitan mereka. Sedangkan dari dari arah berlawanan salah dari anak buah Fahzan datang dan memberitahu jika saat ini mansion mereka sedang dikepung.
Jelas saja hal itu membuat mereka panik dan kelimpungan, Zail, Alex dan Axel baru saja lolos dari genggaman mereka, dan saat ini dia Mansion sedang dikepung oleh Zail.
Zail Alex dan Axel sudah berhasil sampai di mobil mereka, dan Zail memerintahkan anak buahnya untuk mundur.
“Paman kenapa kau memerintahkan mereka mundur? Seharusnya kau membunuh mereka saja.” ucap Axel dengan suara anak kecil yang kembali seperti semula.
Zail tersenyum dan mengusap kepala mereka, lalu berkata, “ Di rumah bibi kalian sedang mengandung, dan jika Paman membunuh mereka, Paman takut jika itu akan berdampak dengan anak Paman nantinya.”
Senyum di wajah Axel pun terpancarkan dengan sangat indah, dan berkata, “Apa itu artinya aku akan memiliki adik?”
“Iya …,” ucap Zail.
Sedangkan Alex ia terlihat murung dan berkata, “Apa, mama dan papa tidak tahu tentang hal ini?”
Zail melihat wajah murung Alex, tetapi ia tidak mengerti apa yang menjadi permasalahan Alex.
“Tidak, karena Paman takut jika kalian mendapat masalah lebih besar lagi jika papa kalian tahu masalah ini.” Zail menjelaskan dengan melihat wajah Axel yang murung.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Dengan mengangkat salah satu alisnya Zail bertanya.
Tetapi Alex dengan cepat menggelengkan kepalanya, dan melihat keluar jendela.
Zail tidak bisa melakukan apa pun untuk membujuknya, karena Zail bukanlah orang yang dekat dengan anak-anak.
***
Sedangkan di perusahaan Al Zero, Caroline sedang menunggu jemputan dari sopir Jefri, karena Jefri tidak membiarkan Caroline lepas dari pengawasannya walaupun saat dia sedang marah kepada Caroline.
__ADS_1
“Manusia itu jika sudah marah pasti akan lama, aku harus bagaimana untuk membukanya?” gumam Caroline, yang mulai menyadari jika jefri marah kepadanya.
Sembari berfikir, Caroline melihat Mobil yang biasanya menjemputnya sudah sampai, dan segera Caroline masuk ke dalam. Tetapi saat baru saja menutup pintu mobil, Caroline disekap mulutnya dan pingsan.