
[Sayang, makan siang di ruanganku!] Chat Jefri kepada Caroline.
Ting
Caroline yang sedang fokus dengan layar komputernya pun melihat ke arah handphon miliknya.
[Tidak, nanti ada yang melihat aku masuk ke dalam ruanganmu] Caroline
[Kalau begitu kita makan di restoran. Temui aku di tempat parkir biasa.] Jefri.
[Hmm ….] Caroline.
12.30
Waktu jam istirahat pun tiba. Caroline sedang mengemas barang-barangnya ingin pergi menuju parkiran tempat mobil Jefri.
Tetapi baru saja Caroline memegang gagang pintu divisi keuangan, tiba-tiba dari arah belakang ada yang memanggil namanya.
Caroline menoleh ke belakang, dan melihat Marco yang berlari ke arahnya dengan salah satu tangannya yang melambai ke atas.
“Ya, ada apa Tuan?” tanya Caroline.
“Jangan panggil aku Tuan Marco?” tanya Carroline dengan membaca name tag yang ada di dada sebelah kanan.
“Jangan memanggilku dengan embel-embel ‘Tuan’ panggil aku Marco!” tegasnya.
“Iya, Marco ada apa?” Caroline mengulanginya lagi.
“Apa kau ingin makan siang? Jika begitu, bisakah kita makan bersama?” tanya Marco dengan kedua tangannya yang saling bertautan satu sama lain.
“Ehmmm … maaf, aku sudah punya janji.” Caroline berusaha sebisa mungkin untuk menolak dengan ramah.
“Siapa? Apa itu pacarmu?” Wajah Marco terlihat lesu, saat mendengar apa yang Caroline ucapkan.
“Hmmm, bisa dibilang begitu sih,” ucap Caroline dengan memperlihatkan gigi putinya.
Marco terlihat lesu, membuang nafasnya kasar dan berkata, “Jika begitu … bolehkah aku mengantarmu sampai depan?”
Marco menawarkan diri, dengan tangannya yang bercakup di depan dada.
Caroline tidak bisa menolaknya dan hanya bisa membuang nafasnya kasar. “Baiklah.”
__ADS_1
Caroline melenggang pergi meninggalkan ruangan divisi keuangan.
‘Astaga, ya tuhan. bagaimana jika Jefri melihatnya, atau dia melihat Jefri. apa yang harus aku katakan?’
Carolin merasa cemas, dalam hati ia bingung harus menjawab apa jika ada pertanyaan salah satu dari mereka.
Saat mereka sampai di parkiran, Caroline berkata, “Sudah, sampai sini saja Marco. Sebentar lagi dia juga akan datang.”
Caroline tersenyum dengan paksa di hadapan Marco.
“Tidak, aku akan tetap menemanimu di sini.” Marco merangkul pinggang Caroline dan itu membuat Caroline merasa risih.
Dari dalam parkiran, terlihat Jefri menatap tajam ke arah Caroline. tangannya menggenggam erat stir mobil. Jefri ingin segera turun dari dalam mobil, tetapi melihat tanda yang diberikan Caroline kepadanya membuatnya mengurungkan niatnya.
Jefri mengambil handphone miliknya dan memotret Marco yang mana saat ini sedang merangkul pinggang Caroline.
[Hanguskan orang ini segera!] perintahnya kepada Miko.
Caroline terlihat menyingkirkan tangan Mirco dari pinggangnya dan berkata, “Tidak perlu, Sebentar lagi dia akan datang.”
Caroline berusaha untuk bersikap ramah kepada Marco. Karena masih berusaha untuk menghormati Marco yang mana notabenenya adalah seniornya.
Marco menganggukan kepalanya, dan pergi meninggalkan Caroline. Tak lama kemudian, mobil Jefri berada di depan Caroline dan Caroline pun naik ke dalam mobil.
Jefri tidak mendengarkan apa yang Caroline katakan, dan tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
‘Astaga, dia jika sudah marah akan sulit dibujuk. aku harus memutar otak kembali, nih.’
Caroline berusaha tenang, dan bergelayut manja pada Jefri. “Sayang … bukanya aku, sengaja membiarkan diriku disentuh seperti itu. Tapi aku tidak ingin mencari masalah, karena aku hanyalah anak baru,”
Caroline melihat jika hal itu tidak mempan, dan kali ini ia akan menggunakan senjata yang memang sangat ampuh untuk meredakan amarah Jefri. Caroline mengedipkan matanya dan berkata, “Hmmm, Bagaimana jika aku menggantinya nanti malam.”
Laju mobil Jefri seketika itu mulai melambat dan Jefri menoleh ke arah Caroline. “Janji?”
terlihat binar kebahagian di mata Jefri, dan Caroline menganggukan kepalanya.
***
Sepasang pasutri sedang berada di atas ranjang, saling peluk satu sama lain.
“Zail, apa kau merasakan sikap Alex dan Axel yang belakangan ini berbeda?” tanya Aurel dengan mendongakkan kepalanya melihat wajah Zail yang sedang fokus dengan Acara Tv yang mereka tonton.
__ADS_1
“Hmmm, entah aku tidak pernah menemui mereka setelah Jefri hilang saat itu.” Zail masih terlihat fokus kepada Acara TV-nya.
Mendengar jawaban dari suaminya, membuat Aurel terlihat sedih.
Zail yang melihat ekspresi itu di wajah Istrinya membuat Zail bertanya kepada Aurel.
“Ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu cemberut seperti karpet gulung?” Zail menoel pipi Aurel.
Aurel mendongak melihat ke arah Zail, “Aku melihat jika tingkah mereka belakangan ini sangat berbeda jauh. Alex yang biasanya dingin kali ini lebih bersikap periang. dan itu pun sikap mereka berubah dalam waktu singkat.”
Zail mengerutkan keningnya mendengar cerita sang istri dan berkata, “Mungkin dia hanya ingin bersikap normal seperti anak-anak pada umumnya.”
“Tidak, bukan hanya itu. Axel juga berubah ia, menjadi lebih boros. Padahal setiap kali kita belanja Axel tidak pernah boros. ia bahkan selalu mengirit uang saku yang kakak berikan padanya. Dan lagi aku menaruh kamera pada jam tangan mereka dan dua hari lalu aku melihat jika mereka bertemu dengan seorang pria yang tidak dikenal.” Aurel menceritakan semua hal yang ia ketahui tentang Alex dan Axel.
“Baiklah, nanti akan aku selidiki. sekarang jangan memikirkan itu dulu! Ingat kau tidak boleh terlalu stres saat ini kau sedang membawa seseorang di dalam sini.” Zail mengusap lembut perut Aurel dan mencium keningnya.
Aurel terlihat menganggukan kepalanya dan berkata, “Tapi Jangan beritahu kakak soal hl ini. Tunggu setelah kita menemukan masalahnya barulah kita beritahu mereka.”
“Baiklah tuan putri.” Zail mengacak-acak rambut Aurel.
***
“Kau ingin ke mana sayang?” Jefri mencekal tangan CAroline, yang ingin beranjak ddari tempatnya.
“Ya kembali kekantorlah, ini sudah satu jam. jika lebih lama lagi aku bisa kena marah.” Caroline menatap Jefri dengan sebelah alisnya yang terangkat.
“Duduk! Aku akan menangani hal ini,” Jefri berkata dengan tegas. Setelah melihat Caroline yang mulai duduk kembali, Jefri mengeluarkan handphonenya. Terlihat Jefri seperti sedang mengetik sesuatu pada layar handphone miliknya.
Ting
Terdapat pesan notifikasi di handphone Caroline, dan menatap curiga kepada Jefri.
Tetapi Jefri terlihat cuek, dan melanjutkan memasukan makanan ke dalam mulutnya dengan santai.
[Waktu istirahat untuk hari ini 4 jam] terlihat pesan dari grup DIVISI KEUANGAN.
“Apa ini ulahmu?” tannya Caroline dengan penuh intimidasi.
“Hmmm, ku masih ingin waktu berduaan denganmu,” ucap Jefri dengan menyantap makanan di depannya.
Caroline hanya bisa menghembuskan nafasnya. ‘Orang kaya bisa berbuat sesuka hati, begitulah. Hanya bisa mengikuti kemauannya’
__ADS_1
“Caroline ….” Seorang pria berjalan ke arah Jefri dan Caroline.
Pria itu tanpa permisi langsung duduk di samping Caroline dan mengambil makanan yang ada di tangan Caroline dan memasukkannya ke dalam mulutnya.