
Caroline berjalan menjauh dari Jefri. Dengan tatapan mata yang lurus ke depan.
“Aaaa ….”
“Apa yang kau lakukan? turunkan aku!” ucap Caroline yang berada di dalam gendongan Jefri.
Dengan amarah yang sudah menggebu di dalam hatinya, Jefri menggendong Caroline dan membawanya ke turun ke area parkir.
Sang sopir yang melihat Jefri turun dengan menggendong seorang wanita langsung saja membuka pintu mobil. Disamping itu sang sopir yang bekerja cukup lama dengan jefri kaget melihat Jefri turun dengan menggendong seorang wanita, pasalnya selama ini, Jefri tidak pernah dekat dengan wanita mana pun.
Jefri melemparkan tubuh Caroline ke dalam mobil dengan kasar.
Brakkk
Jefri menutup pintu mobil dengan sangat keras, dan masuk ke dalam mobil dengan pintu di seberangnya. Disusul dengan sang sopir yang masuk melalui pintu di dekat setir.
“Tuan kita akan ke mana?” sang sopir bertanya dengan tangannya yang memasangkan sabuk pengaman.
“Mansion,” jawab Jefri dengan tangannya yang langsung memegang kedua pergelangan tangan Caroline.
“Baik Tuan.”
“Apa yang akan kau lakukan turunkan aku!” teriak Caroline berusaha melepaskan genggaman tangan Jefri.
“Diam!” Bentak Jefri, tetapi Caroline masih sama seperti dulu, ia tidak ada takut-takutnya seberapa keras pun Jefri memarahinya.
Caroline masih terus berusaha melepaskan genggaman tangan Jefri dari pergelangan tangannya. Sampai Jefri melepaskan genggaman tangannya.
Dan Caroline dengan cepat membuka pintu mobil dan melompat keluar mobil.
“Caroline …,” teriak Jefri panik, kala melihat Caroline yang nekat melompat keluar dari pintu mobil.
Caroline berguling di atas aspal sehingga membuat tangannya terluka, tetapi untungnya saat itu jalanan masih sepi.
Caroline berdiri dan berlari berlawanan arah dari mobil Jefri.
sedangkan Jefri yang melihat hal itu mencoba memastikan keadaan Caroline baik-baik saja. Jefri mengejar Caroline dari belakang, tetapi Caroline masih tetap berlari menjauh dari Jefri.
Sampai saat Caroline menemukan pangkalan taksi dan naik ke dalam salah satu taksi yang ada di sana, lalu taksi itu melaju dengan cepat menuju apartemen Caroline.
__ADS_1
Sedangkan Jefri yang melihat itu, menghentikan langkahnya dan kembali masuk ke dalam mobil. Dengan perasaan marah dan kesal, Jefri mengusap kasar wajahnya dan mengacak-acak rambutnya.
Saat Caroline sampai di apartemennya, Carzol yang kebetulan saat itu sedang mengantar Alex dan Axel pulang, melihat Caroline yang pulang dengan wajah yang tidak baik.
Carzol mengikuti Caroline sampai ke dalam kamar dan bertanya, "Ada apa denganmu Caroline, kenapa wajahmu seperti itu?"
"Hiks … hiks, aku-aku bertemu dengan ayahnya anak-anak," ucap Caroline sesegukan.
"Apa? Apa yang dia lakukan? Apa dia melukaimu?" tanya Carzol bertubi-tubi.
Caroline menggelengkan kepalanya dengan wajahnya yang masih cemberut. "Aku, hanya takut jika dia mengetahui tentang anak-anak, dia akan melukai mereka, hiks … hiks," ucap Caroline menangis sesegukan.
"Itu tidak akan terjadi, aku akan selalu menjaga mereka, aku tidak akan membiarkan mereka terluka. Kau tenang saja," ucal Carzol menenangkan Caroline.
Caroline hanya bisa menganggukan kepalanya, ia pikir tidak bisa meminta tolong pada yang lainnya. Dia hanya bisa meminta bantuan kepada Carzol.
Suasana pagi begitu sunyi, seluruh ruangan yang ada di apartemen Caroline sepi. Bahkan di ruang makan yang mana semua orang berkumpul saat ini, tidak terdengar adanya suara sedikit pun, hanya ada dentingan sendok saja.
"Hmmm … Ma, hari ini kita akan ada kelas tambahan, jadi kita akan pulang terlambat hari ini, Ma," ucap Alex menatap sang Mama dalam-dalam.
Caroline yang mendengar itu memicingkan matanya ke arah Alex dan Axel. "Kelas tambahan apa itu?" tanya Carolin karena kurang mempercayai anak-anaknya.
Mendengar itu Caroline menghembuskan nafasnya kasar dan berkata, "iya, tapi hati-hati ya!"
Alex yang mendengar itu mengembangkan senyumnya dan melanjutkan makan makanan yang ada di atas meja.
Alex dan Axel mulai menjalankan rencananya. Mereka sudah menaiki taksi menuju cabang perusahaan Al Zero.
Tak lama kemudian mereka sampai di cabang perusahaan Al Zero. Alex dan Axel terpukau dengan kemegahan gedung pencakar langit yang ada di depannya itu.
Tetapi tak lama kemudian mereka tersadar dan berjalan masuk menuju gerbang besar yang ada di depan mereka. Satpam yang berjaga di pos satpam melihat dua orang anak kecil akan masuk ke dalam perusahaan, dan menghentikan Alex dan Axel.
"Maaf, Dek, anak kecil tidak diperbolehkan memasuki area ini," ucap sang satpam dengan sangat lembut.
"Tapi paman, kita ingin menemui ayah kita," ucap Axel dengan wajahnya yang dibuat seimut mungkin.
“Apa paman tidak melihatnya, jika wajah kami sangat mirip dengan pemilik perusahaan ini?” Sambung Alex dengan ekspresinya yang datar.
mendengar ucapan Alex, satpam tersebut mulai lebih memperhatikan kembali wajah Alex dan Axel.
__ADS_1
‘Apa yang dikatakan anak ini memang benar, tapi aku tidak pernah mendengar jika Tuan Jefri memiliki anak, menikah saja belum, lalu dari mana datangnya anak kembar ini? Apa aku harus mempercayai mereka?’ Satpam itu mengusap dagunya dengan ibu jarinya dan memperhatikan wajah Alex dan Axel dengan teliti.
‘Apa sebaiknya aku membiarkan mereka masuk saja, ya? Jika mereka benar anak Tuan Jefri dan aku mengusirnya maka akan jadi masalah besar bagiku.’ Batin sang satpam.
“Baiklah kalian bisa masuk,” ucap satpam tersebut dan mengantar Alex dan Axel masuk ke dalam lobi perusahaan.
Sesampainya mereka di lobi perusahaan, sang satpam pergi meninggalkan mereka dan kembali ke pos depan. Tetapi sebelum satpam itu pergi satpam itu memberitahu Alex cara untuk masuk.
“Paman hanya bisa mengantar kalian sampai di sini, setelah itu kalian berjalan ke meja resepsionis dan katakan tujuan kalian.” Pesan sang satpam sebelum ia meninggalkan Alex dan Axel.
Alex dan Axel berjalan menuju meja resepsionis, dan melakukan sesuai dengan perintah sang satpam tadi.
“Kakak cantik, aku ingin bertemu ayah, boleh, ya?” Axel dengan wajahnya yang dibuat selimut mungkin berusaha membuat resepsionis itu terpukau dan hilang fokus.
“Wahh … anak siapa ini, sangat imut …,” ucap sang resepsionis mulai termakan jebakan Axel.
Axel tersenyum miring dan kembali menjalankan aksinya. “Kakak, apa aku bisa bertemu dengan ayahku?”
“Tentu manis, siapa nama ayahmu?” tanya resepsionis itu, merasa sangat gemas melihat tingkah Axel.
‘Hihihi … masuk perangkap.’ Batin Axel.
“Nama ayahku adalah Jefri Al Zero, ada di mana dia Kakak cantik?”
Alex yang melihat aksi sang adik hanya bisa geleng-geleng kepala. ‘Dari mana bocah ini belajar hal seperti itu?’
Sedangkan sang resepsionis masih saja terpukau dengan wajah menggemaskan milik Axel, yang mana membuat resepsionis itu hilang fokus dan berkata, “Tuan Jefri berada di ruangannya di lantai 45, dan setelah sampai di lantai 45 adek imut bisa tanyakan kepada tante sekretaris yang ada di samping ruangan yang bertuliskan ‘CEO’,” ucap sang resepsionis yang masih tidak sadar dengan apa yang telah ia katakan.
“Baik Kakak cantik, terimakasih,” ucap Axel dan berjalan masuk ke dalam lift.
“Aaa … anak yang imut, seandainya aku memiliki anak seperti itu, aku pasti akan sangat memanjakannya,” gumam resepsionis itu.
Ting
Alex dan Axel tiba di lantai 45 dan berjalan keluar dari lift.
Brruuukkk
“Mama.”
__ADS_1