Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
28. Gagal Menaklukan Caroline


__ADS_3

Ke esokan paginya, Caroline bangun dalam keadaan yang tidak menggunakan busana. 


Caroline teringat tentang apa yang terjadi semalam, air matanya mulai mengalir dari sudut matanya. Rasa sakit lagi dan lagi Caroline rasakan karena tidak bisa melawan Jefri. 


Hatinya sakit karena dirinya tidak bisa berbuat apa-apa saat Jefri melakukan hal itu kepadanya. 


Caroline menghapus air matanya dan berusaha untuk berhenti menangis. Sebisa mungkin Caroline menggerakan kakinya, melangkah untuk turun dari ranjang besar milik Jefri. 


Caroline merasakan sakit pada bagian intinya, ini bahkan lebih menyakitkan dari pada saat Jefri sesuatu yang berharga. 


Tetapi Caroline berusaha untuk menahan rasa sakit itu, Caroline tidak ingin bertemu lagi dengan Jefri yang mana membuatnya harus tinggal lagi di sini. 


Dengan sisa tenaganya Caroline menggerakan kakinya dan memungut baju yang berserakan di lantai.


Cabang Perusahaan Al Zero 


Seorang pria tinggi dengan perawakan yang gagah wajah tampan kulit putih bersih dan rambut berwarna pirang dan lebat. 


Pria itu berdiri dengan menghadap pada dinding kaca yang ada di perusahaan, aura dingin terpancar dari dirinya, dengan memandangi pemandangan Singapura dari atas sana. Gedung tersebut adalah gedung tertinggi yang ada di Singapura, dari atas sana sudah bisa melihat seluruh Singapura. 


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar sangat jelas di telinganya. Ia sudah mengetahui siapa yang akan masuk ke ruangannya. Ia tidak membuka mulutnya, terus melihat ke arah kaca pembatas itu dengan pikiran yang masih bekerja tetapi aura yang mematikan. 


Yang masuk itu tak lain adalah Jose tangan kanan Jefri. Jefri sendiri yang meneleponnya saat masih di mansion tadi dan menyuruhnya untuk datang ke perusahaan. 


"Tuan … ada yang bisa saya bantu?" tanya Jose dengan kepala menunduk. 


Jose sangat berbeda dengan Miko yang berbicara seperti seorang sahabat kepada Jefri. Tetapi berbeda dengan Jose dia merasa rendah diri karena latar belakang keluarganya yg jauh lebih di bawah, Jefri, Miko dan Zail.


Tetapi walau begitu, mereka tidak pernah mempermasalahkan latar belakang Jose. Mereka tetap menganggapnya sahabat. Walau terkadang saat Jefri sedang serius dia masih tidak memperdulikan rasa sahabatnya terhadap Jose, Miko dan Zail. 


"Kau perketat keamanan kedua anakku!" ucap Jefri dengan nada dinginnya tanpa melihat ke arah belakangnya. 


Jose yang mendengar kata 'Anak' sangat terkejut, karena Jose tidak mendapat info apa pun tentang Jefri yang menemukan Caroline. 


"Anak? Sejak kapan Anda memiliki anak? Anak yang mana?" tanya Jose bingung. 


Jefri perlahan membalikan badannya dan dengan sangat berwibawa Jefri berjalan ke arah kursi kebesarannya dan meletakan dua buah foto di atas meja. 


Jose yang melihat itu melototkan matanya dan berkata, "Anak dari mana ini? Sebelumnya aku tidak pernah tahu kau mempunyai anak kembar, bahkan kau tidak menyentuh wanita, bagaimana bisa tiba-tiba muncul dua orang anak kembar?"


Baru kali ini Jose berbicara sebagai seorang sahabat di saat waktu bekerjanya kepada Jefri. 

__ADS_1


"Mereka adalah anakku dengan Caroline, setelah sekian lama aku menemukannya kembali," ucapnya dengan tersenyum tipis.  


Dan hal itu bisa terlihat sangat jelas di mata Jose, seorang Jefri bisa tersenyum saat menyebutkan nama wanita, berarti wanita itu bukanlah wanita biasa, wanita itu sudah sangat penting di hati Jefri. 


Tanpa bertanya lebih banyak lagi Jose sudah mengerti dan menjawab, "Baik Tuan."  


Sedangkan di sisi lain …


Caroline sudah menggunakan pakaian lengkap, dan saat ini sedang menunggu kedatangan Corzel yang akan menjemput dirinya. Dengan berdiri di depan gerbang apartemen Jefri.


Karena tadi Caroline sempat  menelepon Carzol dan meminta tolong untuk menjemputnya dengan mengirim keberadaannya saat ini dengan google maps. untung saja handphone miliknya ada di dalam kantongnya.


Setelah 40 menit menunggu akhirnya Carzol datang dan memberhentikan mobilnya tepat di depan Caroline. 


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Caroline langsung masuk ke dalam mobil Carzol. 


Di tengah perjalanan Caroline terlihat sangat murung dengan melihat ke arah ke luar jendela. 


Carzol yang melihat hal itu mengangkat sebelah alisnya dan bertanya, “Ada apa denganmu, setelah kau ke luar dari apartemen itu kau selalu terlihat murung?”


Pertanyaan Carzol membuat Caroline tersadar dan segera menjawab, “Hm … apakah aku  boleh tinggal sementara di apartemenmu?” 


Corzel yang mendengar itu menaikan sebelah alisnya dan berkata, "Kenapa kau bertanya lagi? Apartemenku kau bisa masuki kapan saja kau mau, tidak perlu bertanya." 


"Tadi itu apartemen siapa?" tanya Carzol karena memang sedari tadi Caroline  tidak mengatakan siapa pemilik apartemen itu. 


Carzol yang tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, menoleh melihat ke arah Caroline. Dilihatnya Caroline dengan pandangan kosong menatap ke arah jendela mobil. 


“Caroline …,” panggilan sekali masih tidak didengar oleh Caroline. 


“Carolin …,” panggilnya lagi dengan nada yang lebih tinggi, dan hal itu membuat Caroline tersadar dari lamunannya. 


“I … iya?” jawabnya kaget, dan spontan membalik badannya ke arah Carzol.


“ye … dipanggil juga dari tadi!” Carzol kembali melihat ke arah jalanan setelah Caroline tersadar dari lamunannya. 


“Iya, iya … ada apa?” tanya Caroline.


“Tadi itu apartemen siapa?” tanya Carzol.


“Ayahnya anak-anak,” jawab Caroline menundukan kepalanya. 


Ciiitttt

__ADS_1


Tiba-tiba saja Carzol mengerem mendadak dan pengemudi di belakang langsung membunyikan kelaksonnya dengan keras, sebagai tanda perotes. 


Carzol yang mendengar suara kelakson itu langsung kembali menjalankan mobilnya. 


“Kau ini apa-apaan, jika tertabrak bagaimana!” Caroline melotot ke arah Carzol. 


Carzol menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal dan berkata, “Iya, iya maaf ….”


“Lalu, apa yang pria itu katakan? Apa dia menyakitimu?” tanya Carzol yang mana memang sudah mengetahui masa lalu Caroline, dari cerita yang Caroline ceritakan kepadanya.


“Dia tidak melakukan apa-apa, Cuman dia mengatakan tidak akan membiarkanku pergi,” ucap Caroline berusaha menutupi sebagian cerita yang terjadi, karena tidak mungkin baginya menceritakan hal yang menjadi aib baginya. 


“Kau tenang saja, aku sudah menutupi semua informasi yang bisa ia lacak tentangmu, dan sekarang sebaiknya kita tinggalkan negara ini supaya dia tidak mencelakai anak-anak.” Selama ini yang membuat Jefri tidak bisa menemukan tentang informasi Caroline adalah Carzol.


“Iya …,” ucapnya tanpa berpikir lebih panjang lagi. 


Apartemen Jefri


Jefri baru saja sampai di apartemennya dan melangkah kakinya untuk masuk ke dalam apartemen miliknya. 


Saat membuka pintu apartemennya, senyuman muncul di wajahnya dengan berkata, "Kucingku memang susah untuk di taklukan."


Jefri melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar, melihat kamarnya yang masih berantakan bekas percintaan mereka semalam. Seulas senyuman terukir di wajah Jefri. 


Jefri sengaja untuk tidak membiarkan pelayan membersihkan kamarnya, karena semua bekas percintaannya dengan Caroline akan ia simpan secara pribadi.


Sesuai dengan dugaannya, Caroline akan langsung pergi meninggalkan apartemen miliknya. Tanpa mengambil ataupun meninggalkan miliknya. 


“Ternyata memang tidak mudah untuk menaklukan kucing liarku,” ucapnya dengan sebuah senyuman yang terukir di wajahnya. 


“Tapi cara apa pun yang kau gunakan, kau tidak akan bisa lari dariku sayang … karena kau sudah menjadi milikku seutuhnya.”


Caroline sampai di apartemen Carzol dengan wajahnya yang terlihat tidak enak dipandang. Alex dan Axel yang melihat hal itu langsung menghampiri sang mama.


Alex dan Axel sudah terbiasa di titipkan di apartemen Carzol jika caroline sedang tidak ada di rumah, setidaknya ada yang mengawasi anak-anaknya sehingga membuat hatinya bisa tenang saat melakukan aktivitas di luar sana. 


“Mama, kenapa wajah mama kelihatan sedih seperti itu?” tanya alex. 


Mendengar suara sang putra Caroline segera menoleh ke asal suara, dan melihat putranya yang berdiri di sampingnya. 


“Tidak apa-apa sayang Mama hanya capek,” ucapnya beralasan. 


“Kalau begitu Mama istirahat dulu, sini Axel antar Mama ke dalam kamar,” ucap Axel menggenggam tangan Caroline menuju kamar tamu. 

__ADS_1


Tetapi tidak dengan Alex yang masih tetap berdiri di tempat semula merasa aneh dengan jawaban  mamanya.


 


__ADS_2