Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
65.


__ADS_3

“Caroline?” pekik Jefri, saat ia membalikan badannya dan melihat Caroline ada di balik tembok melihat apa yang ia lakukan.


“Apa yang kau lakukan Jefri! Jangan lukai mereka, mereka masih anak-anak, aku yakin mereka melakukan itu pasti Jek mengancam mereka.” Caroline berjalan menghampiri Jefri.


“Sayang, kenapa kau ada di sini?” Teriakan jefri yang memanggil anak buahnya menggema sampai di gerbang depan. Membuat beberapa dari mereka terbangun.


Yap, itu adalah markas Dragon Black. Di malam hari tentunya tidak akan ada pengawal yang berjaga, karena sekarang adalah zaman teknologi, yang mana tempat itu sudah dilengkapi dengan berbagai macam teknologi canggih yang akan aktif pada malam hari.


Alarm dan laser tembak akan aktif jika orang-orang yang tidak ada fotonya dalam sistem, masuk ke dalam markas ataupun menyelinap, maka alarm akan otomatis berbunyi dan berbagai robot pembunuh akan aktif.


Alarm itu juga yang akan membangunkan semua anak buah Jefri nantinya, dan Caroline juga sudah terdaftar ke dalam sistem, sehingga membuatnya aman saat masuk ke dalam markas.


“Aku mengikutimu, tadi aku mencariku kau tidak ada di sampingku saat aku keluar aku melihatmu keluar dari mansion. Ya sudah aku ikuti sampai sini.” Caroline berbicara dengan sangat enteng, dia tidak tau saja tempat itu adalah tempat berbahaya dari luar saja sudah terlihat begitu menyeramkan.


“Tapi, Sayang ini bukan tempat yang aman untukmu …,” ucap Jefri berusaha untuk memberikan pengertian.


Caroline mulai kesal, ia berkacak pinggang dan berkata, “Oooo, jadi aku harus diam saja saat melihatmu, melukai anak-anak ini?”


Mata Caroline menatap tajam ke arah Jefri dan membuat Jefri menelan salivanya kasar. ‘Sebaiknya aku diam, jika tidak aku tidak akan mendapat jatah nanti.’


Caroline mengarahkan matanya ke arah dua bocah yang sedang terikat pada sebuah tiang. “Nak, bisakah kalian memberitahu tante, kenapa kalian melakukan ini?”


Caroline menyetarakan tinggi badannya dengan kedua bocah itu, dan mengusap darah yang mengalir dari pipinya, walau itu hanya luka gores kecil tetapi darahnya tetap saja mengalir.


“Jefri ambilkan aku P3K!” perintah Caroline.


Jefri hanya bisa mengikuti perintah istrinya dan membangunkan salah satu anak buahnya dengan menekan tombol merah yang ada di dekat sana. Tak lama kemudian anak buah Jefri datang dengan tampilan yang terlihat berantakan.


“Ada yang bisa dibantu, Tuan?” tanyanya sopan.


“Ambilkan P3K!” perintahnya.


“Baik, Tuan.” Anak buah Jefri berlalu dari sana dan kembali dengan membawa kotak obat lengkap.


“Ini tuan,” ucapnya dengan menyerahkan kotak P3K yang terlihat sangat lengkap. Jefri pun mengambilnya dan memberikannya kepada Caroline.

__ADS_1


Caroline mengambil kotak P3K itu dan mengobati pipi dua bocah itu, “Ah … maaf, aku belum membuka ikatan talinya.”


“Terima Kasih, Nyonya,” ucap mereka tersenyum manis.


“Sekarang bisakah kalian memberitahuku, kenapa kalian mau melakukan hal itu?” ucap Caroline dengan sangat lembut.


‘’Waooo, Nyonya seperti malaikat. dia sangat perhatian dan penuh kasih sayang,” gumam anak buah Jefri yang melihat bagaimana sabarnya Caroline meminta jawaban dari kedua anak itu.


Kedua bocah itu menundukan kepalanya, dengan wajahnya yang terlihat cemberut mereka berkata, “Mereka membunuh kedua orang tua kami. Mereka juga menyekap adik ketiga kita, untuk mengancam kita jika kita tidak melakukan perintah mereka, maka mereka akan membunuhnya sama seperti orang tua kita.”


Mereka berdua menangis, sesenggukan saat menceritakan kisah sedih yang mereka alami. Caroline langsung memeluk mereka, Caroline sendiri tau bagaimana rasanya kehilangan orang tua.


Caroline berjalan ke arah Jefri dan membawa Jefri menjauh dari kedua bocah itu. “Sayang, apa kita boleh mengadopsi mereka?” Caroline mengeluarkan jurus andalannya dengan membuat mata berbinar.


Jefri tidak bisa menolak apa permintaan istrinya da Akhirnya hanya bisa mengiyakannya saja. “Tapi dengan satu syarat, saat mereka besar nanti, mereka akan menjadi bawahan Alex dan Axel. Mereka harus setia kepada Alex dan Axel.”


Mendengar persyaratan itu, Caroline terlihat seperti sedang menimbangnya, dan beberapa saat kemudian. Caroline menganggukan kepalanya menyetujui persyaratan itu.


“Sayang … apa kalian mau tinggal bersama bibi?” tannya Caroline berlutut di depan kedua bocah itu.


Sampai akhirnya mereka menganggukan kepalanya.


“Lalu, bagaimana dengan adik kami bi?” tanya Salah satu dari mereka.


“Nanti aku yang akan mencarinya. Tapi ingat, saat besar nanti kalian harus setia kepada keluarga kami. Terutama dengan Alex dan Axel,” ucap Jefri memperingati.


Dengan ekspresi senang mereka menganggukan kepalanya dan berkata, “Terimakasih, Tuan.”


“Jangan panggil, ‘tuan ataupun nyonya’ panggil ‘papa dan mama’ okey?” Caroline menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya sampai mereka menganggukan kepalanya.


“Iya, Ma,” ucap mereka serempak.


“Kaian pulanglah dulu, masih ada yang harus aku urus.” ucap Jefri tegas.


Caroline membawa kedua bocah itu pergi meninggalkan markas.

__ADS_1


Setelah melihat Caroline meninggalkan markas, Jefri bergegas berjalan menuju ruangan penjara Jek, di sana terlihat Jek dan juga Fahzan sedang terkurung. Jek yang ditangkap oleh Jefri sedangkan Fahzan yang ditangkap oleh Zail.


Dengan sekali perintah mutlak yang keluar dari mulut Jefri, itu membuat Jek tersadar dan ketakutan. Jek sudah tidak dapat berbicara, karena Jefri yang sudah menyuntikan obat bisu ke dalam tubuhnya.


“Kuliti dia!” ucap Jefri dan langsung meninggalkan markasnya.


“Baik, Tuan.”


***


Sedangkan di sisi lain, Mona sedang mengemasi barang barangnya bersama dengan Marcell yang baru saja sembuh, tetapi luka di tubuhnya tidak bisa di hilangkan dan juga ia mengalami cacat permanen di bagian kakinya.


Mereka panik saat mendapat kabar jika rencana yang mereka buat semuanya hancur. Dan mereka saat ini tau jika akan menjadi buronan karena cepat atau lambat merek akan ketahuan.


“Ma, kita akan pergi ke mana? Aku tidak mau tinggal di desa yang kumuh dan menjijikan itu,” ucap Marcell yang masih tak tobat juga.


“Tapi, kita tidak memiliki tempat lain lagi. perusahaan papamu sudah bangkrut. kita tidak memiliki apa pun lagi. Apa kau mau masuk penjara!” ucap Mona dengan nada sedikit membentak.


Yap, perusahaan yang dipimpin oleh paman Caroline yaitu, Zaki sudah hancur, tanpa sepengetahuan Caroline Jefri menghancurkan perusahaan itu untuk membalaskan dendam Caroline.


Marcell menundukan kepalanya dan menggelengkan kepalanya dengan muka tak suka.


Saat mereka sedang membereskan semua barang-barangnya. tiba-tiba saja mereka teringan dengan tawanan mereka yang ada di loteng. “Ooooh, ya mama lupa dengan bocah itu. nanti ingatkan mama untuk membawanya bisa bahaya jika kita tinggalkan bocah itu di sini. dia bisa membongkar semuanya.”


Marcell hanya menganggukan kepalanya dan kembali menata semua barang keperluannya.


Namun, suara gaduh yang terdengar dari loteng membuat mereka terperanjat kaget, dan Mona segera berlari keluar dari sana.


Saat mereka sampai di loteng, merek kaget melihat apa yang terjadi. “Aaaa ….”


Suara teriakan itu membuat Marcel penasaran dan segera menyusul mona.


haiii ... maaf yup cuman segini, moga kalian puas.


author lagi fokus sama novel di fizzo. jika ada yang berkenan kalian bisa mampir judulnya 'Istri kedua dari daratan kuno'

__ADS_1


__ADS_2