Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
19. Alex Dan Axel


__ADS_3

Zail yang melihat Jefri pingsan segera melakukan penanganan. Sedangkan Miko menunggu di luar ruangan Jefri dengan Khawatir.


Tak berselang lama Zail keluar dari ruangan Jefri, dan berkata, "Tenang saja dia baik-baik saja, hanya karena memuntahkan semua isi perutnya membuatnya tidak memiliki tenaga dan pingsan," jelas Zail.


Miko bernafas dengan lega setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Zail.


Miko berjalan masuk ke dalam ruangan Jefri.


Tujuh tahun kemudian


Dua orang bocah, sedang menunggu jemputan orang tua mereka tepat di depan sekolah.


Kedua anak kembar itu menunggu dengan sabar. Mata yang besar dan pipi cabi membuat siapa saja yang melihat mereka akan merasa gemas.


Sang kakak berdiri di depan menghalangi sinar matahari yang mengenai sang adik.


"Kak, kapan mama akan datang, aku haus," ucap Axel kepada sang kakak dengan kepala yang menunduk.


"Jangan manja, kamu itu laki-laki dan ingat jangan di biasakan sikap manjamu itu," ucap Alex dengan nada yang terdengar sangat dingin.


Alex lebih mendominasi sifat sang ayah, yang dingin dewasa. Alex dewasa lebih cepat dibandingkan dengan anak lainnya. Karena keadaan ekonomi mereka yang terbilang sedikit kekurangan membuat Alex menjadi dewasa lebih cepat karena ingin melindungi sang mama.


Sedangkan Axel memiliki wajah yang hampir sama persis dengan sang ayah, tetapi sifat yang mendominasi adalah sifat sang mama. Sifat manja dan kekanak-kanakan. Tetapi walau bersifat manja, Axel juga bisa mengerti akan keadaan keluarga mereka dan membuat Axel mau tak mau harus berusaha menghilangkan sifat manjanya.


Tak lama kemudian seorang wanita dengan mengendarai motor matic berhenti di depan mereka dan berkata, "Maafkan mama sayang … mama tadi ada kerjaan jadi terlambat untuk menjemput kalian."


"Iya Ma, Alex dan Axel tidak masalah," ucap Alex dengan wajahnya yang datar.


"Iya Ma, betul kata kakak," ucal Axel dengan senyuman mengembang di wajah Axel dan mengulurkan kedua tangannya ke arah Caroline meminta untuk di gendong.


"Anak-anak Mama, memang pintar, Mama bangga pada kalian," ucap Caroline dengan menciumi leher Axel.


"Aaa … Mama hentikan, Ma, Axel geli, hahah …," ucap bocah berusia 6 tahun itu tertawa cekikikan karena merasakan geli saat Caroline menciumnya.


Sedangkan sang kakak hanya melihat dengan wajah datarnya saja tanpa ekspresi sama sekali.

__ADS_1


"Apa Kakak juga mau?" tanya Carolin dengan mengulurkan tangannya kepada Alex, berharap Alex akan menerima uluran tangannya dan mau di cium olehnya.


"No Ma, Alex sudah besar, tidak perlu ciuman," ucapnya dengan memalingkan wajahnya dan jari telunjuk yang bergerak ke kanan dan ke kiri.


Caroline menunjukan wajah cemberutnya, putra pertamanya ini sangat-sangat dingin, tidak seperti anak-anak seusianya. Yang sangat senang bercanda.


Alex melihat guratan wajah sedih di wajah sang mama, membuang nafasnya kasar dan berkata, "Baiklah, Mama bisa menciumku," ucap Alex demi menghibur sang mama dan menghilangkan rautan wajah sedih dari wajah mamanya.


Caroline mendengar itu seketika wajahnya cerah kembali dan langsung menggendong putra pertamanya itu dengan tangan yang satunya dan menciumnya sepuas-puasnya.


Sedangkan Alex hanya bisa memalingkan wajahnya dan membiarkan sang mama mencium pipinya yang chabi.


"Sudah Ma … turunkan aku, aku berat Ma," ucap Alex.


"Kau tidak berat sayang, mama masih bisa menggendong kalian," ucap Caroline berusaha untuk terlihat kuat di depan kedua putranya.


"Wah … Mama hebat, aku bangga mempunyai mama yang hebat seperti Mama," ucap Axel yang tidak menyadari kebenaranya.


Tetapi beda dengan sang kakak, yang memasang wajah datar, dan mengetahui jika sang nenek sebetulnya sudah merasa keberatan dengan adanya mereka di gendongan Caroline.


Membuat Alex mengetahui jika sang mama sedang merasa keberatan.


"Tidak Ma, aku ingin turun!" ucap Alex. Caroline menurunkan Alex dengan perlahan begitu juga dengan Axel.


"Ayo, sayang-sayang Mama, Mama antar kalian ke rumah paman Corzel dulu ya," ucap Caroline dengan suaranya yang sangat lembut khas seperti seorang ibu.


"Ote, Ma, tapi Axel ingin makan es krim dulu, Ma," ucap Axel yang sengaja membuat suaranya seperti orang cadel.


"Baiklah sayang, Mama akan belikan nanti ya, di supermarket terdekat," ucap Caroline dengan mengusap kepala putranya.


"Okey Mamaku yang cantik," ucap Axel dengan menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya.


Sedangkan Alex sedari tadi sudah naik ke motor dan berdiri di depan stir motor. Caroline menggendong Axel naik di tempat duduk di depan di belakang Alex.


Tak berselang lama, mereka sampai di supermarket, sesuai janjinya Caroline akan membalikan es krim seperti yang diinginkan putranya itu.

__ADS_1


"Ma, aku ingin ke toilet," ucap Axel meminta izin kepada sang Mama.


"Baiklah sayang … Alex temani adikmu ya, sayang," ucap sang Mama tersenyum ke arah Alex.


"Iya," jawab Alex simpel.


Alex dan Axel masuk ke dalam supermarket itu dan berjalan menuju kamar mandi sedangkan Caroline membeli es krim seperti yang diinginkan putranya.


Sedangkan di sisi lain, Jefri yang juga berada di Singapura sedang menunggu Miko yang sedang berbelanja di supermarket, membuatnya kesal karena Miko sangat lama.


Jefri turun dari mobil dan masuk ke dalam supermarket dengan gagahnya, tetapi baru saja melangkah memasuki supermarket tersebut Jefri merasa ingin buang air kecil.


Jefri berjalan menuju toilet dan berjalan menuju toilet, seorang anak kecil secara tidak sengaja menabrak Jefri.


Jefri yang sebenarnya tidak menyukai anak-anak merasa ingin marah tetapi, entah kenapa saat melihat wajah anak yang menabraknya membuat Jefri tidak jadi mengeluarkan amarahnya.


"Maaf paman, aku tidak sengaja menabrakmu, aku sangat buru-buru paman, aku takut Mama memilih es krim yang salah nanti," ucap Axel tanpa melihat ke arah Jefri.


Jefri merasa seperti pernah melihat wajah anak kecil yang menabraknya itu tapi ia tidak tahu di mana, Jefri dengan cepat menepis pikiran itu, karena merasa itu tidak penting.


Sedangkan di sisi lain, Axel dan Alex sudah bertemu dengan sang mama, dan berkata, "Mama, aku tidak ingin rasa coklat, aku ingin rasa strawberry," ucap Axel yang berlari terbirit-birit menuju Caroline.


Sedangkan Alex hanya mengikuti dari belakang dengan wajah datar dan santia mengikuti sang adik.


"Jangan lari-lari, nak, nanti jatuh," ucap Caroline, saat Axel berada di dekatnya.


"Iya, Ma, aku hanya takut Mama salah memilih rasa es krim yang aku inginkan," ucapnya dengan matanya yang besar yang mana membuatnya terlihat sangat imut.


"Baiklah anak Mama yang tampan," ucap Caroline dengan senyuman di wajahnya.


Setelah mengambil es krim yang diinginkan oleh putranya, Caroline membayarnya ke kasir dan setelah itu keluar dari supermarket dan menuju parkir.


Caroline melajukan motornya menuju rumah Corzel.


Dan di saat yang bersamaan Jefri keluar dari supermarket dan melihat motor Caroline melintas tepat di depannya.

__ADS_1


__ADS_2