
Caroline dengan cemas menunggu di ruang tunggu, yang mana memang khusu disiapkan untuk keluarga Al Zero.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan Jefri. “Dok, bagaimana keadaan Jefri?”
Zail meneliti Caroline dari atas sampai bawah. ‘Apa ini wanita yang membuat Jefri seorang seperti orang gila?’
“Dok?” panggil Caroline lagi, yang mana membuat Zail tersadar.
“Iya, Nyonya, ada apa?” tanya Zail.
“Bagaimana keadaan Jefri?” tanya Caroline lagi yang masih terlihat khawatir.
“Anda tidak perlu khawatir Nyonya … Jefri baik-baik saja, dia sudah sering mengalami hal ini, jadi tidak perlu cemas,” ucap Zail.
“Apakah papa sering bertarung?” tanya Axel dengan wajah polosnya.
Zail melihat ke arah Axel dan kembali meneliti Axel. “Paman?”
“Waooo … Nak, Kalian terlihat seperti duplikat Jefri saat kecil!” seru Zail saat melihat Axel dan Alex.
“Hehehe … Terimakaih, Paman.” Axel menunjukan senyum manisnya, yang mana membuat Zail sampai terpesona akan senyuman itu.
“Apa aku boleh melihat papa?” tanya Alex dengan suara yang terdengar dingin dan ekspresi datar.
“Boleh, Nak, kau sangat mirip dengan papamu. kau dingin dan datar.” ucap Zail.
“Jika begitu kami masuk dulu, ya Dok, permisi …,” ucapnya dengan senyum canggung.
Saat Caroline membuka pintu, Caroline cukup kaget melihat Jefri yang sudah tersadar, padahal Caroline ingat jika peluru itu tertanam cukup dalam di punggung Jefri.
“Papa …,” teriak Axel yang mana berlari menuju Jefri.
“Apa kau sudah baik-baik saja?” tanya Caroline dan mendudukan bokongnya di sofa yang berada tak cukup jauh dari ranjang.
“Aku tidak apa-apa sayang …,” Jefri beranjak dari ranajng.
“Jangan bangun kau belum sehat betul,” ucap Caroline menghampiri Jefri.
Jefri tersenyum dan berkata, “Apa kau sudah mulai menerimaku, Sayang?”
Caroline memalingkan wajahnya, ia masih belum bisa mengatakannya dengan pasti.
“Jika kau diam, aku akan menganggapmu menerimaku.” Jefri tersenyum samar.
__ADS_1
“Tidak-”
“Tidak ada kata tidak, kau tidak menjawabnya tepat waktu berarti kau sudah menerimaku.” Jefri memeluk Caroline secara terang-terangan sedangkan Alex dan Axel memutar bola mata mereka.
“Bisakah, kalian jangan melakukan itu di depan anak-anak seperti kami,” ucap Alex dengan aura dingin yang sangat pekat.
Caroline dengan rasa malu yang meluap, mendorong badan Jefri sebisa mungkin.
"Hayolah boy, kau ini mengganggu kesenangan Papa saja." Jefri menatap tajam ke arah sang putra.
Tetapi Alex tak menghiraukan hal itu.
Tok tok tok.
Zail masuk, dengan membawa Aurel. "Kak, apa yang terjadi? Zail mengatakan jika kau masuk rumah sakit lagi!"
Aurel dengan cemas bertanya pada Jefri. Tetapi saat Aurel sudah berada di dalam ruangan, ia baru saja menyadarinya jika yang ada di sana bukan hanya Jefri.
Aurel melihat Caroline, Alex dan Axel dengan sangat intens.
Caroline yang di tatap seperti itu merasa tak nyaman dan berkata, "Hallo nona, perkenalkan saya Caroline."
Masih terdapat rasa sungkan dan Tek enak dalam hati Caroline yang dapat Aurel lihat dengan jelas.
Sepersekian detik kemudian Aurel bersorak dan berkata, "Waoooo … inikah kakak ipar yang kau katakan itu?"
Yang mana membuat Caroline tercengang melihat tingkah Aurel yang lebih terlihat seperti anak kecil.
"Bukan … saya hanya pengangguran." Caroline tersenyum dengan lembut, yang mana menunjukan aura ke ibuan yangi a miliki.
"CK, tidak seharusnya kau menjadi pengangguran, Kak, jika kau menjadi model, sudah pasti kau akan memiliki banyak penggemar," ucap Aurel, "tanpa menggunakan koneksi kakakku pun kau sudah akan terkenal dan bisa mendunia."
"Sudah, jangan dekat-dekat!" Jefri mendorong Aurel untuk menjauh dari Caroline, sebelum adiknya yang satu ini berbincang panjang dan lebar yang akan menyita waktunya dengan Caroline.
"Kau ini, aku tidak berbicara denganku aku berbicara dengan kakak ipar." Aurel melipat kedua tangannya di dadanya.
Saat kepalanya menoleh ke samping sedikit saja, ia melotot sangat kaget saat melihat Alex dan Axel.
"Waaaoo … apakah aku benar-benar bermimpi kali ini!" serunya, dengan mengucek-ucek matanya berulang kali.
Jefri memutar bola matanya. 'Hadehh … dia pasti akan lama jika begini. Jika bukan adik satu-satunya sudah kutendang juga dia.'
"Waooo … paras yang sangat luar biasa, kalian berdua seperti duplikat Jefri saat kecil! Mata, hidung, dagu, dan alis. Semuanya sama persis seperti Kakak." Tetapi setelah mengucapkan itu, Aurel mendadak terdiam dan berbisik, "tapi kalian jangan mengikuti sikapnya. Dia sulit mendapat pasangan dan es batu adalah saudaranya," bisik Aurel dengan mata yang melirik ke arah Jefri.
__ADS_1
Alex dan Axel hanya tersenyum tipis, melihat bibi mereka yang seperti anak kecil.
"Apa katamu?!" Jefri mulai jengkel dengan Aurel dan melemparkan bantal ke arah Aurel.
"Jefri, kurangi bergerak! Itu akan membuat lukamu kembali terbuka, jika kau terlalu banyak gerak," ucap Zail dan kembali memeriksa luka Jefri.
"Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil," ucap Jefri dengan wajah yang Santi.
"Bagimu luka kecil, tapi saat aku harus menjahit lukamu itu menguras tenagaku, dan aku malas jika melakukannya berkali-kali," ucap Zail membuang muka.
"Kenapa kau tidak resain saja paman?" Alex berkata dengan wajah yang datar dan berjalan ke arah sofa.
"Bocah tengil, kau sangat mirip dengan Deddymu. Mulutmu sangat tak bisa di kunci jika bicara."
Tok tok tok.
Miko dan Jose menampakkan wajah mereka di balik pintu.
"Waooo … kalian sedang berkumpul tidak mengajakku," seru Miko yang berjalan masuk di ikuti oleh Jose dengan tampang datar dan dinginnya.
"Waooo … Carolineku, akhirnya kau kembali …," seru Miko lagi saat ia melihat Caroline dan ingin memeluknya.
Ya, begitulah Miko. Melihat yang bening dikit langsung nyosor tanpa melihat itu milik siapa.
Bughh
"Jangan sekali-kali kau menyentuhnya walau seujung kuku pun." Tatapan tajam dan aura mengintimidasi Jefri, mampu membuat Miko menciut.
"Waooo … tenang Ding broww, santai-santai." Miko merendahkan tinggi badannya saat melihat tatapan tajam Jefri.
"Aku ke sini ingin mengatakan sesuatu. Orang yang kau inginkan sudah ada di markas!" ucap Miko, tetapi tatapan matanya terarah kepada Alex dan Axel.
"Paman … aku tau kamu mirip seperti, Papa, tampan dan pintar juga pastinya. Tapi bisakah kau tidak menatap kami seperti itu?" ucap Alex dengan sangat percaya diri. Sangat jarang Alex mengeluarkan sikap seperti ini di depan orang-orang. Biasanya Alex hanya menunjukan wajah datar dan dingin.
"Bocah, kau memang duplikat Papamu. Kau itu menyebalkan."
"Tuan, maaf menyela. Tapi saya ada hal penting yang harus di bicarakan sekarang." Wajah Jose yang terlihat sangat serius membuat Jefri dengan cepat menganggukan kepalanya.
"Tunggu aku di ruangan sebelah," ucapnya datar.
"Kalian tunggu di sini okey? Papa akan ke sebelah dulu." Jefri mengacak-ngacak rambut kedua putranya.
"Tunggu aku ya, Sayang." Jefri mengusap lembut kepala Caroline.
__ADS_1
"Ada apa?" Wajah Jefri kembali datar dan dingin saat sudah berada di ruangan sebelah.
"Tuan, saya menemukan jika identitas Carzol yang sebenarnya dan sangat berhubungan dengan Nyonya."