
Makan siang itu berjalan dengan lancar, tanpa adanya drama dan lain-lain.
Saat ini Caroline dan anak-anaknya sedang bermain di taman belakang mansion Jefri. Bersama dengan Amar, Zamar dan Aulia.
Sebuah senyuman terbit di bibir Caroline saat melihat putra dan putrinya itu bermain. Namun, perhatian Caroline teralih saat melihat Alex yang hanya duduk diam dan membaca bukunya.
"Kenapa tidak ikut main bersama, Kak?" tanya Caroline menghampiri Alex yang duduk di gazebo yang sedang fokus dengan buku bacaannya.
"Permainan anak kecil," jawab Alex dan kembali menatap bukunya yang ada di tangan Alex.
Caroline terkekeh mendengar jawaban Alex dan kembali bertanya, "Emang, kamu bukan anak kecil, Kak?"
Caroline mendudukkan badannya di samping Alex, menatap putranya yang memiliki tubuh anak-anak. Namun, sifatnya sudah seperti orang dewasa.
"Bukan, Alex bukan anak kecil Alex sudah dewasa. Alex akan melindungi anak kecil seperti mereka dan juga dedek bayi di perut Mami," ucap Alex mengelus perut Caroline yang masih terlihat datar.
"Apa kau hanya akan melindungi saudaramu saja? Lalu bagaimana dengan Mami?" tanya Caroline menunjuk dirinya dengan jari telunjuknya.
"Mami 'kan ada papi yang melindungi Mami. Jika papi tidak melindungi Mami, Alex akan bawa Mami pergi jauh dari papi," ucap Alex, dengan tangannya yang sesekali mengambil cemilan yang ada di atas meja gazebo itu.
"Putra Mami memang yang terbaik …," Caroline memeluk Alex dan di sambut Alex dengan pelukan hangat dengan mata mereka yang melihat ke arah Amar, Zamar, Aulia dan Axel yang sedang bermain kejar-kejaran.
***
Sedangkan di dalam markas Dragon Black, semua bawahan Jefri gemetar ketakutan.
Semua pelayan, koki dan bodyguard yang berjaga di mansion sedang berlutut di depan sang penguasa.
Wajah Jefri terlihat sangat menyeramkan, bahkan Miko, Jose dan Zail yang berada di sana tidak berani membuka mulut. Jika mereka bersuara sedikit saja makan bisa saja nyawanya menjadi taruhannya.
__ADS_1
"Apa kalian masih tidak ada yang mau mengaku, siapa yang menaruh racun dalam bahan makanan itu? Apa kalian pikir semua bahan makanan itu bisa berjalan sendiri masuk ke dalam mansion?!" Suara bentakan Jefri terdengar menggema di seluruh ruangan.
Flashback on
Jefri sudah selesai dengan ritual mandinya, ia sedang menuruni tangga dengan wajahnya yang bersinar terang. Seperti sinar dan raut kebahagiaan itu tidak akan sirnah dari wajahnya.
"Sayangg … apa kau sudah selesai?" Jefri dengan gembira melangkah ke arah dapur. Bahkan pelayan dan juga Bi Michu yang melihat tingkah Jefri tersenyum senang.
Sebelum adanya Caroline di rumah ini, hidup Jefri hanya bagaikan mayat hidup. Tidak ada canda tawa dalam hidup Jefri, yang ada hanya amarah dan juga aura kekejaman Jefri.
Namun, semenjak Caroline ada semua itu hilang. Mansion ini terasa seperti berwarna semenjak Caroline, Axel dan Alex memasuki mansion ini.
Saat Jefri masuk ke dapur ia tidak menemukan keberadaan Caroline, Jefri masuk lebih dalam lagi. Namun, saat Jefri melewati tong sampah Jefri melihat sesuatu yang janggal di sana.
Jefri melihat banyak semut yang mati setelah memakan sisa bahan yang Caroline buang ketong sampah. Jefri masih menatapi semut-semut yang belum mati dan sedang menggigit sisa bahan yang Caroline buang. Namun, tak lama kemudian semut itu juga ikut mati sama halnya dengan semut yang lain.
Melihat hal itu Jefri dengan cepat merogoh saku celananya, ia mengambil handphone miliknya dan mengirim pesan kepada Miko untuk segera membelikan makanan yang sama persis seperti yang Caroline masak.
Miko yang mendapatkan pesan seperti itu, tentu saja membuatnya kelabakan. Sesegera mungkin Miko mencari semua makanan itu, dan untungnya saat itu ia sedang berada di restoran dekat dengan mansion Jefri.
Sedangkan makanan yang Caroline masak, Jefri meminta maid untuk memasukkannya ke dalam sebuah plastik dan memberikannya kepada Zail.
Bahkan piring yang digunakan untuk menghidangkan makanan itu juga Jefri buang. Dalam waktu 15 menit, Miko datang dengan membawa semua makanan yang Jefri minta.
Jefri meminta Bi Michu untuk menaruh semua makanan yang dibawa Miko ke dalam piring. Sama persis seperti saat Caroline membuat hidangan tadi.
Sebelum Jefri keluar dari dapur, Jefri sempat menanyakan keberadaan Caroline kepada Bi Michu, dan ternyata Caroline sedang mandi setelah ia selesai menyiapkan hidangan itu.
"Mami …," teriakan Axel dari arah tangga terdengar hingga ke dapur, membuat Jefri dengan cepat meninggalkan dapur dan duduk di meja makan.
__ADS_1
Tak lupa Jefri menyuruh Bi Michu untuk merapikan semua supaya tidak membuat siapa pun curiga.
Saat Alex dan Axel melewati meja makan Jefri berkata, "Mami sedang mandi, jadi kita tunggu di sini dulu."
Alex dan Axel menganggukan kepalanya. Namun, saat di meja makan mereka melihat wajah Jefri yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Papi kenapa?" pertanyaan Alex membuyarkan semua lamunan Jefri. Jefri gelagapan menjawab pertanyaan Alex dan Axel.
"Ah … tidak, Papi hanya memikirkan bagaimana cara untuk menjaga keselamatan kalian tanpa melarang kalian keluar dari mansion. Kalian tau 'kan musuh Papi sangat banyak," jawab Jefri. Hanya itu yang terpikirkan dalam otaknya dan semoga itu bisa membuat kedua putranya percaya dan tidak bertanya lebih lanjut.
"Tenang, Pi aku bisa menjaga mereka," jawab Alex dengan sangat percaya diri.
"Menjaga siapa, Sayang?" Suara Caroline membuat semua mata tertuju ke arah Caroline.
"Tidak ada, Sayang … aku yang akan menjaga kalian semua. Cup," ucap Jefri menghampiri istrinya dan memberi kecupan singkat di kening Caroline.
"Ada anak-anak ih." Caroline merasa kesal, karena suaminya ini tidak bisa melihat adanya anak kecil di sekitar mereka.
Jefri hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan memperlihatkan senyum manisnya.
"Mami, ambil makanannya dulu, ya … kalian tunggu sebentar," ucap Caroline dan melenggang pergi menuju dapur.
Flashback off
Aura semakin mencekam, wajah Jefri semakin menggelap dan juga aura dingin dan kejamnya kembali menyelimuti ruangan itu.
"Jika diantara kalian tidak ada yang mengaku, maka aku akan membuat kalian semua mendapat hukumannya!" Ancam Jefri yang tidak akan main-main dengan ucapannya.
Siapa yang tidak kenal Jefri, pria kejam dan dingin yang tidak pernah iba dan kasihan melihat orang terbunuh di depan matanya.
__ADS_1
Bahkan saat ini ia mengancam bawahannya yang bekerja di mansion Jefri karena sudah lalai dalam bekerja.
"Aku mohon jangan, Tuan. Saat itu bi Michu memberikan bahan makanan dalam bentuk paper bag kepada Ziki dan memintanya untuk menaruh di di dapur."