Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
73.


__ADS_3

'Ternyata dia sangat cantik, kenapa bisa aku baru menyadarinya?' batin Jose, saat ia menggandeng tangan Thasiko dan memandangnya.


"Tuan … tuan …," panggil Thasiko saat Jose tidak merespon panggilannya dari tadi.


"Eh … iya?" ucap Jose saat Thasiko menepuk pundak Jose.


"Kita sudah sampai di depan rumah saya, Tuan." Thasiko berbicara dengan rasa hormatnya, dan itu membuat hati Jose yang mendengarnya menjadi tak suka.


"Ohhh … hmm … apa kau tidak mempersilakanku untuk mampir dulu?" tanya Jose, tetapi pertanyaan itu tak berarti apa-apa. Karena Jose yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban dari sang pemilik rumah.


Thasiko pun mengejar Jose yang sudah masuk ke dalam pekarangan rumahnya yang sangat kecil.


Thasiko membuka pintu rumahnya dan mempersilah Jose untuk masuk ke dalam rumahnya.


Begitu Jose masuk ke dalam rumah Thasiko, Jose mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah.


"Maaf Tuan, rumah saya kecil jadi tolong dimaklumi jika terlihat usang. Apa, Tuan ingin minum teh atau kopi?" tanya Thasiko.


"Tidak, apa-apa," ucap Jose melihat ke arah Thasiko, "Teh saja."


Thasiko hanya menganggukan kepalanya dan berjalan ke dapur untuk membuat teh, untuk Jose.


Tak lama kemudian, Thasiko datang dengan membawa nampan yang berisikan secangkir teh.


Thasiko pun menyajikan teh tersebut di depan Jose.


"Kenapa kau betah tinggal di sini?" tanya Jose.


"Karena hanya ini tempat bernaung aku dan ibu, Tuan."


***


Malam hari pun tiba, saat ini di gedung mansion kediaman keluarga Al Zero.


Semua kurcaci sedang duduk di meja makan, begitu juga dengan Jefri yang masih anteng duduk di kursi dengan jari-jari tangannya yang fokus pada keyboard laptop.


Tak lama kemudian Caroline datang dengan membawa troli yang berisikan begitu banyak makanan.


Dengan bantuan para maid, Caroline menyajikan semua makanan itu, dan saat akan menyajikan makanan di piring Jefri. Caroline mengerutkan keningnya saat melihat fokus Jefri masih kepada laptopnya.


Caroline pun dengan ganasnya menarik laptop Jefri dengan kasar dan menatap Jefri tajam.


"Sayang … kenapa kau mengambilnya? Aku masih belum selesai," ucap Jefri ingin mengambil laptopnya dari tangan Caroline.

__ADS_1


"Laptop ini akan aku sita, sebelum kau menghabiskan makananmu kau tidak akan bisa mengambil laptop ini," ucap Caroline dengan tangannya yang bekerja menyajikan makanan.


Jefri menganggukan kepalanya dan patuh mengikuti perintah sang ratu.


"Mi,masakanmu memang yang paling enak," ucap Axel mengacungkan jempolnya.


"Iya, Ma. Ini sangat enak," ucap Amar.


"Jika enak, kalian habiskan yah …,"


"Siap, Mi," ucap mereka serempak dengan dengan ibu jari dan jari telunjuk menyatu.


***


Sedangkan di gerbang mansion milik Jefri.


Brakkk


"Suara apa itu?" gumam penjaga gerbang saat mendengar suara dari luar gerbang.


Penjaga itu pun berjalan keluar gerbang, saat sudah di luar gerbang ia tidak melihat apa pun.


Tanpa disadari penjaga itu, dari arah belakang seseorang sedang berjalan ke arahnya dengan sangat hati-hati.


Bhuggg


Pria itu adalah Zaki paman Caroline. Zaki langsung menyeret penjaga gerbang itu ke tempat sepi.


Dia menukar pakaian yang digunakan oleh penjaga itu dengan pakaiannya, dan juga wajah Zaki kali ini terlihat sama persis seperti penjaga gerbang itu.


Karena Zaki sudah melakukan operasi plastik, yang mana akan sangat memudahkan rencananya.


Begitu Zaki sudah mengganti semua pakaiannya, zaki langsung masuk ke dalam mansion. Zaki masuk dengan sangat aman. Karena Zaki yang sudah mengubah wajahnya menjadi wajah penjaga gerbang, sehingga membuat alat pendeteksi wajah itu tidak membunyikan alaramnya.


"Oii … Ziki, kau ingin ke mana?" tanya teman Ziki.


"Hmm … aku ingin ke kamar mandi," jawabnya asal.


Teman Zaki yang bernama Robdi, menaikan sebelah alisnya dan berkata, "Bukankah, kamar mandi ada di dalam pos penjaga? Untuk apa kau masuk hanya untuk mencari kamar mandi?"


Robdi menunjuk ke arah bangunan yang lumayan besar untuk sebuah pos penjaga. "Ooohhh … iya, aku lupa," ucapnya dan segera berlari terbirit-birit ke kamar mandi.


***

__ADS_1


Tengah malam.


Jefri terbangun dari tidurnya. Jefri berjalan menuju kamar mandi, ia membersihkan tubuhnya. Tak berselang lama Jefri keluar dengan menggunakan pakaian serba hitam.


Jefri melihat ke arah ranjang dan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Caroline, untuk memastikan jika Caroline benar-benar sudah tertidur.


Setelah dipastikan jika Caroline sudah tertidur, Jefri mengecup pelan kening Caroline dan berkata, "tidur yang nyenyak ya, sayang … aku hanya akan pergi sebentar membasmi hama."


Setelahnya Jefri pergi ke luar dari kamar dan berjalan menuju garasi mobil. Jefri menjalankan mobilnya menuju markas.


Tepat saat Jefri ingin memasuki kamar bersama dengan Caroline tadi, Miko mengirim pesan jika ia sudah menemukan di mana Mona dan Marcell berada.


Tetapi terdapat satu masalah yang mana menunda Miko untuk menangkap Mona dan Marcell.


Mona dan Marcell saat ini dilindungi oleh kelompok Snack, kelompok Snack adalah salah satu kumpulan mafia yang mana kekuatannya cukup kuat, walau tidak sekuat Dragon Black.


Namun, mereka tidak bisa asal-asalan membawa orang tanpa izin begitu saja. Bahkan Miko sudah mengatakan kepada mereka jika Miko akan mengambil orang yang berbuat salah kepada kelompok mereka tapi mereka tidak mau.


Mau tak mau Jefri hanya bisa menggunakan jalur perang. Dengan itu ia bisa mengambil Marcell dan Mona untuk membalaskan dendam sang isteri


Sedangkan di gerbang mansion. Saat melihat mobil milik Jefri pergi meninggalkan mansion, hal itu membuat Zaki bertanya-tanya.


"Kenapa dia pergi larut malam begini?" gumamnya, tapi tanpa di sadari Zaki, dari belakang salah satu penjaga mendengar apa yang Zaki ucapkan.


"Sudah jangan banyak tanya, kita kerjakan saja tugas kita, jika terlalu banyak tau nanti akan terkena masalah." Teman Ziki itu, merasa aneh dengan sikap Ziki yang seperti berbeda dari biasanya.


Zaki hanya mengangguk saja, ia takut jika salah satu dari teman Ziki akan merasakan sesuatu yang berbeda darinya.


'Nanti saja aku cari tau itu. Sekarang aku harus memikirkan cara bagaimana caranya agar aku bisa mencari tau di mana kamar Caroline.' Batin Zaki.


Zaki melihat sekelilingnya dan ia melihat semua penjaga sudah tertidur, terkecuali dia dan Robdi.


"Kenapa kau tidak tidur?" pertanyaan itu tentu saja membuat Rodbi merasa bingung.


'Ada apa dengan Ziki? Bukankah di tau jika Tuan Jefri memerintahkan untuk setiap dua orang berjaga bergantian?' Bantin Rodbi merasa ada yang aneh dengan temannya.


"Woiii, kenapa malah melamun? Kan aku tanya tadi," ucap Zaki dengan mengibaskan tangannya di depan wajah Rodbi.


"Bukankah, kau tau jika tuan sedari awal selalu memerintahkan jika setiap dua orang akan bergantian untuk berjaga?" ucap Rodbi memperhatikan gelagat Ziki.


Zaki yang mendengar itu berusaha setenang mungkin dan menjawab, "Ahhh …," Zaki mendesah panjang, "sepertinya ini semua karena aku terbentur besi tadi sampai membuatku menjadi pelupa seperti ini."


"Di mana kau terbentur besi? Tidak ada yang luka 'kan?" tanya Rodbi, ia melihat Rodbi dengan teliti.

__ADS_1


"Tidak … hanya saja masih terasa sakit," ucap Rodbi memegang kepalanya.


"Kenapa kau tidak katakan kepada bang Jose? Supaya bang Jose bisa memberitahu Tuan Jefri dan membiarkanmu ke rumah sakit," ucap Rodbi.


__ADS_2