
Dendam Caroline
"Astaga … Marcell tanganmu berdarah!" ucap Caroline berteriak, sehingga semua orang memperhatikan tangan Marcell.
"Tunggu, aku membawa kotak P3K." Caroline menurunkan tas yang ia bawa, dengan tersenyum samar.
Marcell melotot saat Caroline mengeluarkan kotak P3K. "Kenapa kau melotot seperti itu, Marcell?"
"Eh, tidak … jariku hanya terasa semakin sakit," ucap Marcell dengan tersenyum paksa.
'Awas saja kau. Akan kubalas kau nanti.'
Setelah Caroline selesai mengobati jari Marcell, Caroline pergi dari toko itu dengan senyum kemenangan. "Ini baru awal, Marcell, aku akan membuat kau merasakan apa yang kau perbuat," gumam Caroline.
"Mama …." Axel berlari menuju Caroline, dan Caroline merentangkan kedua tangannya menyambut Axel.
"Kenapa kalian sangat lama? Hmm …," Caroline mencubit hidung Axel pelan.
"Tadi papa membelikan ini, bagus tidak, Ma?" Axel menunjukan mainan rumah sakit yang Jefri belikan.
"Iya, bagus. Tapi kenapa Alex tidak?" tanya Caroline saat melihat tangan Alex kosong.
"Alex sudah besar, Ma, itu hanya untuk anak kecil," ucap Alex dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
Mendengar itu Axel menatap kakaknya dengan tatapan tajam. "Iya, aku memang anak kecil dan kau kakek-kakek tua!"
"Sudah jangan bertengkar." Caroline menurunkan Axel yang ada dalam gendongannya.
Jefri berjalan mendekat ke arah Caroline dan berbisik, "kau hebat sayang."
Caroline melihat ke arah Jefri. Dan memandang Jefri dengan mata menyipit.
Namun tak lama kemudian Caroline menyadari, jika Jefri mengetahui apa yang terjadi di toko pakaian tadi.
Jelas saja Jefri akan tau, karena di mana pun keluarga Jefri berada, pasti ada pengawal Jefri yang memantau dari jarak jauh.
"Kau kenapa, Sayang … kenapa wajahmu tak enak dipandang seperti itu?" Mona menghampiri putrinya, dan menuntun Marcell untuk duduk di sofa ruang tengah.
"Apa yang terjadi dengan jarimu, Sayang?" Mona kaget saat tak sengaja menyentuh jari Marcell yang mana terbalut perban.
__ADS_1
"Ini semua karena keponakan papa yang tidak tau diri itu. Apa Mama tau? Tadi aku bertemu dengannya di Mall Intercul, dan ternyata sekarang dia bekerja di perusahaan Al Zero! Dan itu di bagian administrasi, aku sangat tidak terima itu, Ma, gaji administrasi di sana bisa mencapai jutaan pound lebih perbulannya. Dan itu bahkan melebihi pendapatan Arcel, aku tidak terima itu, Ma." Pandangan Marcell lurus ke depan dengan dahi yang mengkerut.
"Apa? Bagaimana bisa?! Bukankah aku sudah menjualnya kepada mafia tua itu? Bagaimana dia bisa menjadi karyawan Al Zero?" Mona berdiri dari duduknya, dan membalik badannya melihat ke arah Marcell.
"Kau tidak boleh kalah darinya, Marcell, kau harus bisa mendapat pekerjaan yang gajinya lebih besar dari itu!" Dengan tangan yang terkepal, Mona berbolak-balik di depan Marcell.
"Mama akan berusaha untuk, mencari kenalan yang bisa membawamu masuk ke dalam Al Zero group."
"Makasih, Ma …," Marcell bergelayut manja pada lengan Mona.
1 Minggu kemudian.
Sesuai dengan permintaan Jefri saat itu, hari ini adalah hari pernikahan Zail dan Aurel.
Dengan hiasan yang mewah dan gedung yang megah membuat semua, tamu yang datang menganga melihat itu semua.
Bahkan Caroline pun tak henti-henti terkagum-kagum dengan kemewahan yang ada di sana.
"Pernikahan kita, nanti akan lebih mewah dari ini sayang," ucap Jefri dengan memeluk Caroline dari belakang dan menaruh dagunya di bahu Carolin.
"Jangan seperti ini, banyak yang lihat." ucap Caroline yang merasa tak enak dengan orang-orang yang membicarakan mereka.
Cup
Jefri mengecup pipi Caroline, yang mana membuat wajah Caroline memerah dan langsung membalik badannya dan membenamkan wajahnya di dada Jefri.
"Kenapa, Sayang …, aku hanya mencium istriku sendiri, kenapa kau malu hmm?" ucapnya menggoda Caroline.
Caroline membalik badannya dan pergi meninggalkan Jefri.
Dari kejauhan, seorang wanita yang sudah berumur melihat Caroline dengan tatapan tak suka.
"Kenapa wanita itu bisa ada di sini?" ucap Mona dengan tatapan tak suka. Matanya terus menatap ke arah Caroline dengan tajam.
"Ma, ada apa?" Marcell menepuk pundak Mona, yang mana membuat Mona tersadar dan melihat ke arah Caroline.
"Kau lihat itu, kenapa bisa wanita itu masuk ke sini?" dengan tangan yang menunjuk ke arah Caroline membuat Marcell penasaran.
Tatapan penuh dengan amarah, sepenuhnya tertuju kepada Caroline yang sedang berbincang dengan orang lain.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Caroline permisi untuk pergi ke kamar mandi.
"Sebaiknya kita ikuti wanita itu, aku masih sangat penasaran kenapa dia bisa masuk ke sini." Marcell menarik tangan Mona untuk mengikuti Caroline.
"Oooo, apa pria bayaran itu sangat memanjakanmu?" Mona berucap dengan senyum mengejek.
"Ya … sudah pastilah, Ma, dia pasti masuk ke dalam sini juga dengan menggunakan koneksi pria tua itu." Marcell tersenyum licik.
Caroline tak terkejut lagi melihat adanya Marcell dan Mona di dalam pesta pernikahan calon adik iparnya.
Mona pasti mencari informasi kenalan keluarga Aku Zero, sehingga bisa membuatnya masuk ke dalam pesta ini.
Caroline tersenyum samar. 'Heh, mereka pasti ingin. Menggoda Jefri, Baiklah … aku akan mengikuti permainan kalian.'
"Terserah. Dan semua yang kalian bicarakan itu tak ada hubungannya denganku!" Caroline meninggalkan Marcell dan Mona dan berjalan dengan sangat anggun.
Marcell dan Mona mengepalkan tangannya erat, wajah Marcell sudah merah akibat marah. Marcell berlari menuju Caroline, dan saat tangan Marcell ingin menarik rambut Caroline.
Dengan cepat Caroline menahan tangan Marcell dan mendorongnya, sampai terjerumus ke lantai.
"Auuuuhhhh …," jeritan Marcell yang sangat keras membuat orang-orang yang ada disana berkumpul.
"Kak, aku tau aku salah. Tapi aku minta maaf, aku tidak sengaja menarik rambutmu," ucap Marcell yang mana menunjukan bakar aktingnya di depan semua orang.
Semua para tamu yang bergumul di sana, berbisik-bisik dan menjelekkan Carolin. Marcell tersenyum senang saat setengah rencananya berjalan lancar.
"Ohhh … maaf, Marcell tadi aku reflek, dan tidak sengaja menepis tanganmu hingga kau terjatuh." Tanpa disangka-sangka, Caroline juga memiliki bakat akting yang sangat bagus.
Dia membalas akting Marcell, hanya dengan sekali tepuk. Caroline tersenyum penuh kemenangan dan mengulurkan tangannya berniat untuk membantu Marcell berdiri.
Marcell melihat jika di sana ada besi pembatas, yang mana besi itu berfungsi untuk tidak membuat seseorang jatuh dari lantai 2 ke lantai 1.
Sebuah ide licik muncul di otak Marcell. Ia menerima uluran tangan Caroline dan berkata, "ia kakak, aku tidak apa-apa."
Marcell berbisik di telinga Caroline, "Kakak, sebentar lagi aku akan menikah dengan pria kaya dan mengalahkanmu."
Bisiknya tersenyum licik seraya menarik tangan Caroline menuju besi pembatas. Dan Caroline pun mengikuti tanpa adanya rasa curiga sedikitpun.
"Kau lihat pria itu?" ucap Marce seraya menunjuk Jefri, "dia akan segera menjadi milikku."
__ADS_1
Setelah Marcell mengatakan itu, Marcell berjalan dua langkah menjauh dari besi, dan berakting seolah dirinya secara tidak sengaja terpeleset, dan membuatnya mencorong Caroline.