
Saat ini Jefri sudah berada di markas Dragon Black. Tepat tengah malam saat Desti dan anak-anak sedang tidur, terkecuali Alex dan Axel.
Yap, Alex dan Axel ngotot ingin ikut bersama dengannya saat Jefri ketahuan keluarga tengah malam.
Saat ini disinilah mereka, di ruangan yang sangat luas dan megah. Yaitu ruangan Jefri, Alex dan Axel kagum melihat interior ruangan.
"Pa, kenapa ruangannya tidak seperti di novel yang Axel baca? Seram berdarah dan banyak suara jeritan kesakitan," ucap Axel dengan jari telunjuknya yang diletakan di dagu.
"Kau terlalu banyak membaca novel," jawab Alex cepat.
Alex sudah duduk di atas sofa dengan mengambil salah satu buku yang terdapat pada rak buku itu.
Jefri terkekeh dan berkata, "Tidak sayang … ini ruangan khusus untuk papi beristirahat, jadi semuanya bersih," ucap Jefri mengusap rambut Axel.
Axel terlihat menganggukan kepalanya.
"Ya sudah kalian diam di sini baik-baik, ya. Jangan lupa tidur! Nanti jika sudah akan pulang papi bangunkan dan jika ada yang kalian butuhkan tinggal tekan tombol hijau nanti akan ada orang yang datang." Jefri memperlihatkan sebuah tombol yang berada di balik buku yang ada di salah satu rak buku.
"Waooo … keren." Mata Axel dan Alex berbinar saat melihat benda yang ditunjukan Jefri.
Jefri juga tidak tau, jika kedua putranya itu memiliki insomnia. Tadi saat Jefri ingin markas, Alex dan Axel mengatakan jika mereka habis menonton film hantu dan membuat mereka tidak bisa tidur.
Karena, itu Jefri mengizinkan mereka, tetapi dengan syarat Alex dan axle harus tidur ketika mereka sampai di markas.
***
Di ruangan sebelah, ruangan yang berdampingan dengan ruangan Jefri. Jefri saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya dengan kaki menyilang.
"Apa yang kalian temukan? Bukankah kemarin kita sudah mengalahkan ya dan menangkap mereka? Lalu kenapa mereka tidak memberi tahu alasannya? Tidak mungkin keluarga Snack sebodoh itu mempertahankan orang lain yang tidak berguna seperti Marcell dan Mona." Jefri berdiri dari duduknya, dengan berkacak pinggang Jefri berjalan bolak-balik di depan Miko dan Jose.
"Kita juga tidak tau, sebenarnya apa yang mereka pakai sampai-sampai membuat seluruh keluarga Snack sangat menutupi keberadaannya yang mana dia hanyalah orang luar dalam keluarga itu," ucap Jefri. Pikirannya mulai berfikir dengan cepat untuk menemukan apa yang terjadi.
"Tapi aku merasa aneh, saat aku sedang bertarung melawan sekeluarga itu, aku melihat kekosongan dalam tatapan mata mereka. Apa yang terjadi dengan mereka?" ucap Jose bertanya-tanya, dan mengingat kembali apa yang terjadi saat itu.
__ADS_1
Jefri mengerutkan keningnya dan bertanya, "kosong bagaimana?"
"Tatapan mata mereka kosong, saat aku melawan mereka, mereka memang melawanku. Namun, tatapan mereka terlihat kosong dan tidak banyak bicara," ucap Jose menjelaskan kepada Jefri.
Jefri terlihat sedang memikirkan apa yang Jose katakan dan sedetik kemudian Jefri berkata, "Mungkinkah mereka terhipnotis?"
Mendengar perkataan Jefri membuat Miko tersadar dan berkata, "Mungkinkah Mona mempelajari ilmu itu? Tapi jika dia mempelajarinya kenapa dia harus capek-capek lari, bukankah dia bisa menghipnotis kita?"
"Apa kau lupa, jika aku juga mempelajari ilmu itu?" Jefri menaikan sebelah alisnya.
Mungkin temannya yang satu ini lupa siapa dirinya, Jefri memiliki keturunan yang pernah mempelajari ilmu-ilmu semacamnya, dan Jefri pernah juga mempelajari itu dari kakeknya.
"Oooo … aku hampir lupa jika kau memiliki keturunan seperti itu," ucap Miko dan Jose.
"Lalu, sekarang kita bagaimana?" tanya Jose.
"Di mana mereka biar aku yang menangani," ucap Jefri berdiri dari duduknya.
"Di ruangan-"
Terdengar suara benda jatuh dari ruangan sebelah. Jefri pun segera berlari terbirit-birit melihat apa yang terjadi.
Saat membuka pintu, Jefri melihat lemari buku yang sebenarnya adalah pintu ruangan rahasia terbuka dan tak lama kemudian terdengar teriakan Axel dari dalam.
"Axel …," teriak Jefri berlari ke dalam melihat keadaan putranya.
"Iya, Pa?" Axel dan Alex membalik badan mereka, saat itu mereka sedang memegang sebuah senjata api yang sangat besar membuat mereka terjatuh karena berat senjata itu tidak sebanding dengan mereka.
"Astaga … apa yang kalian lakukan, ini bahaya sayang. Kalian bisa terluka." Terdengar nada khawatir dari ucapan Jefri, pria yang sudah menginjak kepala tiga itu berjalan ke arah kedua putranya.
"Papi, Alex ingin belajar semua ini," ucap Alex tanpa menatap lawan bicaranya.
"No, Papi tidak ingin putra papi masuk ke dalam dunia bawah. Kalian tau dunia bawah ini sangat berbahaya, dan juga Mami kalian pasti akan marah jika tau kalian mengikuti jajak Papi," ucap Jefri, mengambil senjata yang dipegang oleh Alex.
__ADS_1
Mendengar Jefri menolak permintaannya membuat Alex memicingkan matanya ke arah Jefri.
"Kalau Papi tidak ingin mengajari aku, tidak apa. Aku bisa belajar sendiri tanpa Papi, aku bisa membangun kelompok mafia sendiri," ucap Alex.
Flashback on
Axel melihat sebuah buku yang terdapat bulu merak, Axel terpukau melihat sehelai bulu merak yang menutupnya indah, Axel ingin mengambil buku itu untuk bisa mengambil buku merak yang tertancap di atasnya. Namun, tempatnya terlalu tinggi untuk ia capai. Akhirnya, Axel pun berusaha memanjat rak buku yang terbuat dari kayu itu.
Satu per satu buku jatuh karena Axel yang memanjat rak buku itu. Saat tangan Axel dapat menggapai buku itu, Axel tidak dapat mengambilnya karena sangat sulit untuk di tarik. Akhirnya, buku itu jatuh bersamaan dengan Axel yang jatuh hingga suaranya terdengar ke ruangan sebelah dan rak buku itu perlahan-lahan terbuka.
Alex yang melihat itu pun penasaran dan masuk ke dalam ruangan, sedangkan Axel ia merasakan sakit pada bagian punggungnya. Axel berusaha bangun ia mengikuti abangnya ke dalam ruangan dengan mengusap punggungnya yang masih terasa sedikit sakit.
Saat Alex dan Axel masuk ke dalam ruangan, mata mereka berbinar-binar melihat banyaknya jenis senjata yang ada di dalam sana.
Bahkan senjata yang tidak dimiliki oleh mafia lainnya ada di dalam ruangan itu. Seketika itu, Alex menjadi bertekad ingin mencoba semua senjata itu dan ingin belajar bertarung.
Axel, berjalan ke arah senjata besar yang tergantung di tembok. Senjata itu hanya ada satu, berbeda dengan senjata lainnya yang ada banyak jumlahnya.
Axel mengambil senjata itu, namun sayangnya berat senjata itu lebih berat darinya sehingga membuatnya berteriak. Karena tidak sanggup memegangnya.
Flashback off
Jefri menghela nafasnya kasar. Tidak ada pilihan lain selain, mengajari putranya ini, jika ia membiarkan Alex mempelajarinya sendiri ia takut itu akan menjadi lebih berbahaya.
"Baiklah … kau boleh mempelajarinya. Tapi kalian berdua janji pada papi, kalau kalian tidak boleh memberitahu hal ini pada Mami." Jefri menunjukkan Jari kelingkingnya ke arah Alex dan Axel.
Axel dan Axel saling tatap satu sama lain dan mereka menautkan kelingking mereka dengan kelingking Jefri dan berkata, "Okey."
Jefri tersenyum dan mengusap kepala kedua putranya.
Namun, tiba-tiba pikiran Jefri merasa aneh, kenapa kedua putranya ini tidak tidur? Bukankah sekarang sudah menunjukan pukul 3 pagi?
Jefri merasa ada yang ditutupi kedua putranya itu pun bertanya, "Alex … Axel … kenapa kalian jam segini masih belum tidur? Apa ada yang kalian sembunyikan dari papi?"
__ADS_1
Jefri menatap kedua putranya itu dengan intens.